The Dawn of First March (Bab 20)

ANAK MUSIM PANAS

Mobil merah itu melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi, seperti terburu-buru mengejar sesuatu. Di dalamnya, Changmin yang mengemudikan mobil itu terlihat cemas.

“Kamu yakin kita akan tepat waktu sampai di sana?” tanya Changmin kepada orang di sebelahnya.

“Kita hanya terlambat sedikit, Changmin, dan sekarang kau menyetir mobil ini seperti hendak balapan supaya kau tidak tenggelam karena tsunami yang ada di belakangmu. Kita pasti sampai tepat waktu kok,” tegas Jung Ah yang menumpang di dalam mobil itu.

Changmin melirik Jung Ah dengan tatapan sebal. Ia mendengus. “Ya, dan kita akan tidak akan pernah sampai kalau tiba-tiba Gunung Fuji pindah di jalanan di depan sana,” sindir Changmin.

“Dan tetap saja, walaupun kita datang tepat waktu, aku tetap harus merapikan dan menata kembali rambutku yang rusak tertiup angin karena cara menyetirmu itu,” bantah Jung Ah tidak mau kalah.

***

Changmin dan Jung Ah tiba di sebuah rumah di daerah Meguro untuk sebuah pertemuan politik dalam bentuk perjamuan makan. Rumah tersebut dahulu milik Saigo Tsugumichi, seorang politikus Jepang dan perwira angkatan laut. Rumah dua lantai tersebut memiliki balkon agak melingkar di lantai atasnya.

Tepat di pintu masuk, seorang pelayan menyambut dan menyapa mereka berdua. “Nona Jung Ah dan Tuan Shim Changmin dari Universitas Tokyo, selamat datang. Anda sudah ditunggu kedatangannya. Mari saya antar.”

Pelayan setengah baya tersebut mengantarkan mereka berdua masuk ke dalam rumah tersebut. Di ruang tamu, mereka melihat dua buah meja melingkar disusun berdempetan dengan empat kursi kayu melingkari meja tersebut. Changmin mengamati warna hijau dari tirai dan kursi kayu menguasai ruang tamu. Agak lebih ke dalam, di dekat rak buku, Changmin melihat sebuah alat pemutar piringan hitam.

Di belokan pertama di sebelah kiri ruang tamu, dua buah daun pintu terbuka ke dalam. Pelayan tersebut berjalan mendahului Changmin dan Jung Ah dan berhenti di depan pintu, menengadahkan tangannya dan mempersilakan mereka masuk ke ruang makan. Di dalam telah dipersiapkan sedemikian rupa meja makan beserta peralatan makan bergaya Eropa untuk acara hari ini.

Sedikit takjub Changmin dibuatnya. Sebuah meja makan bertaplak renda warna putih dihiasi tempat lilin dan serbet makan warna merah untuk setiap tamu. Delapan buah kursi makan dengan jok warna turquoise dengan ornamen warna emas dijajarkan dalam dua baris yang masing-masing terbagi empat kursi dan di ujung meja diletakkan dua kursi yang tampaknya akan diduduki oleh yang istimewa malam itu. Ketika semua undangan telah berkumpul di ruang makan, dimulailah acara sesungguhnya. Pelayan-pelayan mulai hilir mudik mengantarkan piring-piring berisi makanan ke atas meja.

Setelah acara makan selesai, para undangan dipersilakan berdiri dari kursinya masing-masing dan diminta untuk berdiri sementara pengaturan ruang makan diubah untuk acara selanjutnya. Meja makan dan kursi-kursi disingkirkan dan digantikan dengan kursi-kursi yang dijejer sedemikian rupa dan sebuah meja kayu panjang di tengah depan. Di dekat pintu masuk ruang makan, dua orang meletakkan sebuah mimbar.

Changmin berbisik kepada Jung Ah yang berdiri di sebelahnya. “Kamu yakin semua akan baik-baik saja? Kamu yakin aku bisa?”

“Aku sudah atur semuanya. Kau tinggal duduk manis dan kerjakan apa yang diperintahkan oleh atasanmu nanti,” Jung Ah memukul pundak Changmin dengan kipas yang digenggamnya sedari tadi.

“Auuwww…” Changmin berpura-pura sakit.

Semua undangan yang sedari tadi asyik bercakap-cakap sendiri tiba-tiba menjadi hening karena seorang laki-laki kharismatik dengan kumis baplang maju dan naik ke atas mimbar dan mulai berbicara.

“Saudara-saudaraku orang Korea sekalian, sesuai dengan amanat dari Gubernur Jenderal kita yang bertugas di Seoul, bahwa beliau telah menyetujui undang-undang pembentukan parlemen dan berkumpulnya kita di sini untuk mengukuhkan susunan dan komposisi parlemen yang untuk selanjutnya kita sebut sebagai dewan rakyat ini.”

Dewan rakyat yang dibentuk oleh pemerintah kolonial Jepang tersebut malam itu mengesahkan 39 orang menjadi anggotanya, di mana 15 orang anggotanya adalah orang Korea, termasuk Changmin di dalamnya mewakili elemen mahasiswa dan pemuda.

Setelah maju untuk menandatangani pakta pendirian, Changmin kembali ke tempat duduknya di mana Jung Ah duduk di sebelahnya sedari tadi.

“Selamat terpilih ya, Tuan Anggota Parlemen. Mulai besok semua yang ada dalam dirimu dari ujung rambut hingga ujung kaki akan terlihat lebih mengkilat…” desis Jung Ah.

“Sekarang kau tidak bisa bohongi aku lagi. Sekali kau ketahuan bohong, aku akan segera keluarkan mosi tidak percaya untukmu,” balas Changmin sambil melirik Jung Ah dengan ujung mata kirinya.

***

Seungho berjalan menuju kantor pos di dekat Universitas Tokyo, janji bertemu dengan seseorang di sana. Di depan papan pengumuman, Seungho berhenti sejenak, merogoh sebatang rokok di sakunya dan membakarnya.

Baru sampai di hisapan ketiga saat orang yang ditunggunya tiba.

“Teddy!” panggil Seungho kepada kakak Jung Ah tersebut.

Teddy alias Park Hong Jun melemparkan sesuatu kepada Seungho. “Ini. Ambil hasil kerja kerasmu. Kemarin barang yang kau dan teman-temanmu bawakan bagus sekali, jadi aku lebihkan buatmu.”

Dengan sigap Seungho menangkap amplop berisi uang tersebut. Ia jepit rokok yang masih terbakar itu di bibirnya sementara kedua tangannya mulai sibuk menghitung lembaran demi lembaran yen yang ada di dalam amplop.

“Teddy, terima kasih…” Seungho mengucapkan terima kasih seraya mengantongi amplop beserta isinya.

“Kerjamu bagus, Seungho. Otsukaresama deshita,” Teddy memuji pekerjaan Seungho dalam bahasa Jepang.

Seungho berdecak. “Ck, Teddy sudahlah. Kau terdengar menjijikkan, kau tahu? Oh ya, Teddy…”

“Ya?”

“Kau masih ingat penawaranku beberapa waktu lalu kan?”

Teddy melambai-lambaikan tangannya. “Sesungguhnya aku sama sekali tak tertarik perkara-perkara politik-politik perjuangan serta kebangsaan. Dengar, aku bukan Jung Ah. Aku tak peduli siapapun kau, Seungho. Mau kau orang radikal, kau orang liberal seperti yang orang-orang selalu sematkan kepada keluargaku, atau kau penganut Buddha atau Kristen yang taat. Aku tak mau mendanai rencana organisasi pergerakan radikalmu bukan karena aku ini liberal. Bukan karena aku bermusuhan denganmu secara ideologi. Tidak. Aku ini orang bebas, Seungho. Yang aku pedulikan hanya berapa uang yang harus kukeluarkan untuk satu hal dan berapa lama dan berapa banyak uangku akan kembali berlipat ganda. Jadi donatur politik tidak menarik untukku, setidaknya untuk sekarang ini.”

Teddy mengeluarkan pipa cangklongnya lalu mengisinya dengan bubuk tembakau lalu menyulutnya dengan api. Seungho masih berdiri menatap Teddy.

“Jadi, kau menolak tawaranku?”

“Aku tidak menolak. Aku hanya bilang tidak tertarik.”

“Apa bedanya?”

“Kalau aku menolak, beberapa saat sebelum aku nyatakan penolakanku aku akan memberimu sedikit harapan. Aku minta informasi darimu sedikit-sedikit, aku akan melontarkan pertanyaan basa-basi, kuputar-putar dulu pengetahuanmu, semacam itu. Aku tak melakukan hal tersebut kan, Seungho?”

“Ya, dan sebagai gantinya kau kuliahi aku barusan, bandit kapitalis…” ejek Seungho.

Mendengar itu, Teddy langsung menarik kerah Seungho dan menumpahkan kekesalannya hanya beberapa inci tepat di wajah Seungho. “Dengar, sebetulnya aktivis cengeng sok pintar seperti dirimu bukan levelku, Aku pertahankan kau karena memang kau mesin uangku sekarang. Jangan pernah berpikir kau sudah mengambil hatiku. Tidak. Tidak akan pernah. Seungho, ingat, kau sudah mulai mengotori tanganmu sendiri. Mulai sekarang, aku peringatkan kau untuk berhati-hati!”

Teddy melepaskan cengkeramannya di kerah Seungho dengan kasar. Seungho mengibas-ngibaskan bajunya yang kusut karenanya.

“Kau sudah dapat apa yang kau inginkan. Cepat pergilah sebelum aku berubah pikiran!”

“Saya minta maaf…” ujar Seungho.

Teddy mendengus. “Jangan terlalu merendahkan dirimu sendiri. Kau rendahkan dirimu, maka kau akan direndahkan. Lebih baik kau bersikap tinggi hati agar orang-orang tidak mudah menginjakmu.”

Seungho mematuhi perintah Teddy dan ia berlari menjauh menembus kegelapan malam.

***

Sebuah kehormatan bagi saya dapat dipilih dan terpilih mewakili aspirasi rakyat Korea di dalam sebuah parlemen menunjukkan bahwa Jepang sebagai penguasa Korea tidak memandang sebelah mata kemampuan bangsa ini. Parlemen adalah salah satu alat perjuangan dan wadah perjuangan kita mencapai tujuan kita untuk merdeka, oleh sebab itu izinkanlah kami, para aktivitis pergerakan nasional ini untuk menjadi penyambung lidah segenap rakyat semua di seluruh penjuru Korea.

Paragraf terakhir yang mencengangkan dari sebuah artikel yang ditulis oleh Changmin di sebuah koran berbahasa Jepang yang terbit di Korea itu cukup membuatnya menjadi orang yang menjadi buah bibir dan dicari-cari dalam dua minggu terakhir. Di baris terakhir kolom tersebut tercantum nama Changmin adalah anggota parlemen atau dewan rakyat yang dibentuk oleh gubernur jenderal Korea. Sebuah fakta yang membanggakan dan sekaligus melukai bagi beberapa pihak.

“Kamu udah baca ini, Seungyeon? Apa-apaan ini? Apa dia pikir jadi anggota parlemen itu buat mendongkrak citra dia untuk menarik perempuan-perempuan cantik? Kalimat-kalimatnya narsis dan menjijikkan!” Seungho membanting koran yang memuat kolom Changmin tersebut.

Demi menghormati Seungho, Seungyeon mengambil dan membuka koran tersebut tepat di halaman kolom tersebut berada, padahal sudah ia baca berulang-ulang selama dua minggu artikel tersebut.

Seungyeon menghela napas. Berada di tengah-tengah dua orang kawan berbeda ideologi seperti Seungho dan Changmin membuatnya seperti bola yang dioper ke sana kemari. Kedua orang itu adalah sosok yang sama-sama penting dalam hidup Seungyeon. Seungho adalah kekasihnya, Changmin adalah atasan, teman diskusi, guru, sekaligus kakak untuk Seungyeon. Sesaat setelah Changmin menyelesaikan kolom dan mengirimkannya lalu dimuat, ia lah orang pertama yang ditemui Changmin untuk Changmin bercerita panjang lebar tentang aktivitasnya di dewan rakyat. Setelah artikel tersebut menjadi kontroversi, Seungyeon pun menjadi orang pertama yang dicari Seungho untuk menjadi wadah tumpahnya kekesalan dan kebencian Seungho karena perbedaan ideologi yang runcing. Seungyeon sendiri tidak hendak menjadi seorang yang miring ke sudut tertentu, ia lebih memilih tidak terikat ke mana-mana.

Seungho dan Changmin adalah dua orang dengan berbeda watak dan pembawaan. Seungho yang bersumbu pendek dan berapi-api sedangkan Changmin tenang dan penuh simpatik. Mereka sering bertemu dan dalam setiap kesempatan tak ada yang pernah terlewatkan untuk beradu argumentasi. Mereka mengeluarkan satu suara tentang anti penindasan, namun berbeda tafsir mengenai kemerdekaan.

“Rakyat harus pintar dahulu lewat pendidikan, barulah kita bisa merdeka,” pendapat Changmin.

“Tidak! Merdeka dulu. Setelah itu baru kita bisa menempuh pendidikan dengan tenang!” Seungho ngotot.

“Kalau kita ikuti pendapatmu, Korea baru merdeka kalau sudah kiamat,” sambung Seungho.

***

Selepas perkuliahan, Seungyeon melihat orang-orang berkerumun di sekitar kantor Manseh. Seungyeon dapat merasakan sesuatu buruk terjadi di sana. Maka, ia menyeruak kerumunan orang itu dan pemandangan di dalam kantor membuatnya terkesiap.

Kantor Manseh porak-poranda. Kertas-kertas bertebaran di berbagai sudut, beberapa tergolek di lantai dan dapat terlihat bekas injakan sepatu. Meja dan kursi dijungkirbalikkan dalam berbagai posisi. Benda-benda yang disimpan di dalam rak dan lemari keluar dan terpisah jauh dari tempatnya semula.

Seungyeon masuk dengan mulut ternganga. Dengan perasaan yang risau, ia berkeliling memeriksa seisi kantor. Meja kerja Changmin adalah yang mengalami hal terburuk. Beberapa laci yang terkunci dirusak paksa untuk memperoleh isi di dalamnya.

“Sepertinya tujuan utama mereka adalah dokumen-dokumen milik Changmin,” jelas Youngbae yang berdiri di belakang Seungyeon dan pelan-pelan bersama yang lain mulai membereskan kantor mereka kembali. Dipungutnya kertas-kertas dan dikembalikan ke tempat yang seharusnya.

“Siapa mereka itu yang datang ke sini?” tanya Seungyeon.

Youngbae menghela napas dan mengangkat bahu. “Entahlah. Mereka bersenjata,” jawabnya pendek.

“Bersenjata?”

“Bersenjata api. Tadi mereka sempat menembak gembok laci Changmin untuk membuka paksa. Semua yang ada di meja Changmin dibersihkan oleh mereka. Tuntas, tak ada yang tersisa. Buku, kertas, semuanya, bahkan mungkin soal dan lembar ujian juga turut dibawa mereka,” Youngbae tersenyum getir.

Youngbae mengembalikan sejumlah buku ke dalam rak, sesaat ia lalu terbatuk-batuk. “Ada untungnya juga mereka mengacak-acak kantor kita, jadi ketahuan di mana letak debu-debu yang tersembunyi, sekaligus bersih-bersih,” ucap Youngbae sembari mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya.

Seungyeon melirik ke arah Youngbae. Nampak ia rasa sesuatu yang janggal.

“Ada apa ini?” Changmin datang menghampiri mereka.

“Oh biasa, mereka bantu kita bersih-bersihkan kantor kita serta mejamu,” jawab Youngbae sambil terkekeh.

“Oh…” jawab Changmin pendek.

Seungyeon mendelik. Mengapa semua yang ada di Manseh terlihat tenang dengan pengrusakan ini? Seolah-olah mereka sudah mengetahui bahwa hal ini akan terjadi atau ini adalah sesuatu yang sudah biasa datang.

“Changmin, mereka itu siapa?” tanya Seungyeon heran.

“Bukan siapa-siapa. Cuma sekumpulan orang-orang yang yah… butuh hiburan,” jawab Changmin sekenanya.

Jawaban itu sama sekali tidak memuaskan Seungyeon. Ia hendak mencecar Changmin lebih jauh, namun Changmin bergegas pergi dari ruangan itu.

“Changmin, tunggu…” panggil Seungyeon.

Changmin tidak mengindahkan Seungyeon yang memanggilnya, ia terlihat berjalan menuju suatu tempat di luar kampus dengan agak terburu-buru. Saat ia lihat Changmin mulai berjalan agak jauh, Seungyeon menguntitnya.

Di ujung jalan penghujung hutan kampus, Changmin menoleh.

“Seungyeon? Kau mengikutiku dari tadi?”

Seungyeon menghentikan langkahnya. Setelah berjalan agak jauh, Changmin baru menyadari bahwa ia dibuntuti. Satu hal yang aneh lagi bagi Seungyeon karena sedari tadi hanya mereka berdua lewat di jalan tersebut, tidak mungkin Changmin tidak tahu ada orang di belakangnya.

“Seungyeon, kemari…” Changmin melambaikan tangannya.

Seungyeon tidak mengerti.

“Ayo cepat, kau berjalan mendekat ke arahku,” ajak Changmin lagi. Ekspresi wajah Changmin mulai berubah.

“Seungyeon, ayo cepat! Seung…” belum selesai Changmin, dua orang laki-laki menyergapnya dari belakang dan memaksa Changmin berlutut di tanah. Dan dari belakang punggung Seungyeon, seorang laki-laki lagi dengan cepat mengayunkan kayu ke tubuh Changmin.

Changmin berontak. Ia berusaha melepaskan diri dari dua orang yang mencengkeram tangannya. Ia berhasil melepaskan diri dan mendorong seorang yang menyergapnya. Changmin menghajar orang satu lagi, namun sebuah tendangan mendarat di perutnya dari orang yang memukulnya dengan kayu.

Changmin terhuyung ke belakang lalu mengatur posisi berdirinya untuk membalas serangan. Pria bersenjatakan kayu itu hendak memukulkan kayu tersebut ke Changmin, namun dengan sigap Changmin menangkisnya dan membuat hidung pria tersebut mengeluarkan darah segar akibat Changmin menumbukkan kepalanya tepat ke batang hidung lawannya.

Seungyeon tertegun menonton adegan perkelahian itu beberapa langkah mundur dari tempatnya berdiri tadi. Changmin berusaha menangkap tatapan mata Seungyeon untuk memberikan isyarat agar Seungyeon segera meninggalkan tempat itu.

Ketiga orang tersebut yang sudah puas memukuli Changmin kemudian pergi meninggalkan tempat itu tanpa diusir atau disuruh. Seungyeon yang masih berdiri menyaksikan kejadian itu perlahan mendekati Changmin setelah dirasa keadaan aman setelah ketiga orang tersebut pergi.

“Changmin…” Seungyeon berusaha membantu Changmin yang masih tersungkur untuk bangkit.

“Tidak usah!” Changmin menyentak tangan Seungyeon dengan kasar, lalu susah payah berdiri dan ia berlari dengan sedikit terpincang-pincang meninggalkan Seungyeon.

Seungyeon terkejut bahwa pertolongannya akan ditolak mentah-mentah oleh Changmin. Bukan suatu hal yang biasa. Mungkin nanti malam Gunung Fuji akan meletus. Mungkin sebentar lagi Kaisar Jepang akan mangkat.

Seungyeon tidak mengerti dengan yang terjadi kurang dari tiga jam terakhir dalam hidupnya hari ini. Kantor Manseh yang diacak-acak oleh orang-orang tidak dikenal, Youngbae dan orang-orang di Manseh yang amat tenang menghadapi keadaan itu, Changmin yang tetiba dikeroyok oleh tiga orang pria misterius, dan Changmin yang baru saja menolak bantuannya. Seungyeon masih merasa semua rasa penasarannya itu hanya dapat terjawab oleh sang ketua Manseh. Oleh sebab itu, tanpa ragu Seungyeon mengikuti lagi ke mana Changmin pergi.

***

“Aku tidak mungkin salah…” batin Seungyeon dalam hati.

Penglihatannya akan ke mana arah Changmin pergi membawanya ke sebuah kuil Shinto. Tidak ada yang istimewa. Seperti kuil-kuil biasa yang ia lihat di Tokyo. Di balik gerbang torii (gerbang khas Sinto), ada sebuah undakan dari batu dengan lima anak tangga untuk mencapai kuil. Di sepanjang sandou alias jalan setapak menuju kuil terdapat deretan lampu taman berangka batu dan sebuah kolam kecil untuk para umat bersuci dengan air (chouzuya). Jika ia tidak salah lihat, Seungyeon melihat Changmin berlari ke belakang kuil, mungkin ada pintu atau tempat rahasia yang hanya ia seorang yang tahu.

Setelah berdiri menunggu dan mengamati beberapa saat dari balik pohon, Seungyeon memberanikan diri lebih mendekat ke halaman kuil. Ia berdiri sejenak di tengah-tengah halaman kuil, matanya menyatu dari sisi kiri kuil, ke tengah, lalu ke kanan, berharap ada secuil penampakan Changmin di sana.

“Nona, ada yang bisa saya bantu?” sebuah suara lembut menyapa Seungyeon dari belakang.

Seungyeon menengok ke asal suara. Seorang miko (perempuan muda penjaga kuil) menghampirinya. Sang miko yang Seungyeon terka bahwa usianya sebaya dengannya itu mengenakan hakama (celana panjang berpotongan longgar yang menutupi mata kaki) merah dan haori (jaket kimono) warna putih sebagai atasannya.

Seungyeon memaksakan diri untuk tersenyum dan beramah-tamah. “Maaf kalau saya lancang masuk ke kuil ini. Tetapi saya mencari teman saya. Kalau tidak salah saya tadi lihat ia masuk ke kuil ini, lewat belakang. Teman saya seorang laki-laki, tubuhnya sedang penuh luka akibat dipukuli orang,” terang Seungyeon.

Perempuan muda penjaga kuil itu tersenyum. Cantik, nilai Seungyeon. Sama sekali memupus anggapan Seungyeon bahwa miko adalah seorang pendeta perempuan Shinto yang kaku dan saklek.

“Saya rasa saya mengenali orang yang Anda cari. Mari saya antar ke dalam…” tawar miko tersebut dengan ramah. Miko itu memiliki bola mata bulat, bibir tipisnya selalu tersenyum ramah, dan rambut terurai hingga di bawah pundaknya.

“Berarti benar Changmin ada di dalam. Apa yang ia lakukan di sini…” Seungyeon mengikuti langkah sang miko ke dalam kuil. Di luar pintu, Seungyeon melepaskan sepatunya dan duduk bersila di sebuah bantal duduk yang disediakan tanpa miko tersebut mempersilakan. Salah satu adab bila memasuki kuil di Jepang.

Miko tersebut mengambil posisi duduk berhadapan dengan Seungyeon. “Kalau saya boleh tahu, nama Anda siapa dan Anda datang dari mana?” tanya miko tersebut.

“Nama saya Han Seungyeon. Saya mahasiswi Universitas Tokyo.”

“Ah, Han Sun Yon…” miko itu mencoba mengeja nama Seungyeon yang tampak asing di lidahnya.

Gomen ne, saya bukan orang Jepang. Saya orang Korea,” Seungyeon berusaha menetralisir kesulitan yang miko tersebut alami.

“Oh, baiklah. Saya mengerti, Seungyeon-san…”

Sebuah pintu di suatu ruangan di kuil tersebut perlahan terbuka.

“Nozomi…” suara laki-laki dari ruangan tersebut memanggil seseorang di sana. Seungyeon menoleh cepat ke suara yang akrab di telinganya tersebut.

“Changmin!” seru Seungyeon.

“Seungyeon!” Changmin kaget lalu tergugu. Kekagetannya mengunci mulutnya sejenak. “K…k…kamu bagaimana bisa ada di sini?” tunjuk Changmin.

Miko itu langsung berdiri dan berusaha memecah kebuntuan yang terjadi. Ia menghampiri Changmin dan memegang tangan Changmin lalu menuntunnya. “Changmin-san, luka Anda belum sembuh betul. Duduk saja di dalam, nanti saya obati lagi.”

“Nozomi, tidak usah. Ini cuma luka kecil.” Changmin dan miko bernama Nozomi pun nampak sudah akrab sekali, menambah deret keheranan Seungyeon hari ini.

“Changmin-san, ini ada teman Anda yang datang ke sini untuk mencari Anda. Namanya Seungyeon-san. Tadi aku bertemu dengannya di depan kuil,” jelas Nozomi.

“A…ada apa Seungyeon? Nampaknya ada hal penting sekali untuk kita bicarakan sampai kamu bisa menemukan aku di sini,” Changmin terlihat tidak nyaman dengan kehadiran Seungyeon.

“A…a… tidak. Tidak ada apa-apa. Aku cuma ingin tahu keadaan kamu saja setelah kamu berkelahi tadi,” Seungyeon pun bingung harus beralasan apa. “La… lagipula dengan keadaan luka dan berdarah-darah begini mengapa kau malah lari ke kuil? Bukankah kau malah jadi mengotori kesucian kuil?” sambung Seungyeon setelah menemukan kembali kata-katanya.

“Aku sudah bilang, ini cuma luka kecil,” Changmin mengulangi perkataannya tadi dengan nada tegas.

“Nozomi, tolong…” Changmin menunjuk ke arah ruangan tempat tadi ia keluar, memberikan isyarat kepada Nozomi untuk meminta tolong dengan amat sangat. Mendadak Changmin teringat akan sesuatu.

Hai…” dengan patuh Nozomi melaksanakan perintah Changmin.

Namun mendadak, seseorang lagi datang ke tempat mereka bertiga ada sekarang. “Rana-chan!” panggil Nozomi dengan nada terkejut. Seorang balita perempuan berkulit putih kemerahan dan bermata besar dengan kelopak mata tegas yang jalannya masih tertatih-tatih mendekati Changmin. Dengan sigap, Nozomi menggendong balita tersebut dan berusaha menjauhkannya dari Changmin.

Balita tersebut meronta di gendongan Nozomi dan mengeluarkan sebuah kata yang membuat Seungyeon bak tersambar petir.

“Ayah!” rengek balita itu.

“Nozomi! Bawa Rana kembali ke kamarnya!” suruh Changmin cepat.

Namun balita tersebut tetap tidak menurut. “Ayah, aku mau sama Ayah,” kata balita tersebut dengan perkataannya yang belum sempurna.

“Nozomi! Aku bilang bawa!” bentak Changmin.

Seungyeon yang sudah jebol kesabarannya berdiri dari duduk bersilanya dan menampar Changmin seketika.

“Changmin! Katakan apa yang sekarang sedang terjadi sesungguhnya!”

***

Tak lama setelah matahari terbenam, Seungyeon dan Changmin pergi meninggalkan kuil. Anak yang tadi menampakkan diri di kuil kini tertidur lelap dalam gendongan Changmin. Mereka bertiga berjalan kaki pulang.

“Akhirnya kamu mengetahui juga rahasia terbesarku…” ujar Changmin lirih.

“Aku … bisa jaga rahasia kamu itu, kok,” tawar Seungyeon.

Changmin tersenyum meringis. “Kalau kamu ingin tahu, atau aku beritahu saja satu hal. Kamu mau tahu siapa satu-satunya orang yang tahu bahwa aku sudah punya anak?” Changmin membelai lembut rambut anaknya.

Seungyeon bergeming.

“Sunye. Sunye satu-satunya orang yang tahu akan hal ini dan ia membuktikan janjinya untuk menjaga rahasia diriku ini. Ia pergi membawa serta rahasiaku dan kamu…” Changmin memotong kalimatnya sendiri sebelum kalimat-kalimatnya tentang Sunye menyinggung Seungyeon.

“Kalau kau tak keberatan, sebaiknya ceritakan nanti dengan jelas setelah kita sampai di rumahmu,” kata Seungyeon.

Rumah Changmin di daerah Hongo, Bunkyoku adalah sebuah rumah dua lantai berkonstruksi kayu yang lebih menyerupai sebuah toko daripada rumah.

“Dahulu bangunan ini milik seorang tukang cukur. Kios tukang cukurnya di lantai bawah, sedangkan di lantai atas tinggal seorang penyair yang kemudian mati muda. Aku menyewa rumah ini dua lantai. Ayo, ikut aku ke atas…” ajak Changmin ramah.

Di lantai dua rumah tersebut, digelar dua buah futon di atas tatami yang menjadi lantainya. Seungyeon menebak dua futon tersebut adalah alas tidur Changmin dan putri kecilnya. Di sudut kamar, Seungyeon melihat tumpukan kertas dan buku-buku tebal dan di sebelahnya ada sebuah meja tulis kecil.

“Seungyeon, silakan duduk. Tidak usah sungkan dan malu. Tidak ada siapa-siapa lagi di sini selain aku dan anakku.”

Changmin berjongkok sedikit lalu dengan lembut ia meletakkan kepala anaknya di atas bantal lalu ia rebahkan badan sang anak. Changmin menarik sedikit ujung selimut lalu menyelimuti tubuh anaknya. Changmin berdiri, berkacak pinggang, lalu menghembuskan napas.

“Ya, jadi Seungyeon, hmmm… kau pasti menunggu cerita dariku kan?” Changmin duduk di sebelah Seungyeon, matanya sendu menatap putrinya yang tidur dengan pulas.

“Itu anakku. Putri kandungku. Usianya 3 tahun, hampir sama dengan panjang waktu kuliah yang sedang kutempuh. Namanya Svetlana,” Changmin mengucapkan sebuah nama yang terdengar asing.

Seungyeon mencoba menirukan. “Wet-ra-na,” eja Seungyeon.

“Ikuti aku, wet-la-na,” Changmin mengucapkan nama dengan huruf ‘L’ itu dengan jelas dan tegas. “Dengan lidah orang Jepang wet-to-ra-na. Sial, mereka merusak nama indah putriku. Atau aku biasa menuliskan nama putriku dengan kanji musim panas, natsu, karena namanya memiliki kata ‘na’,” jelas Changmin. “Anakku, lahir di musim panas…”

Di tahun pertama kuliahnya di Jepang, Changmin bertemu dan berkenalan dengan seorang perempuan Rusia yang mengaku bekerja sebagai seorang peneliti. Dengannya, Changmin merasakan sambaran cinta pada pandangan pertama.

“Kau tahu Seungyeon, mata coklatnya yang dalam seperti menyetrumku dan mengajakku untuk selalu berdekatan dengannya…”

Rasa dingin menjalari Seungyeon dimulai dari kedua lengannya. Seungyeon mengingat kembali hari itu, hari di mana ia berjumpa dengan Seungho. Pada mulanya dingin, lalu merinding dan serasa dirasuki sebuah aliran aneh, pelan-pelan menghangat, bila diteruskan akan memanas. Seungyeon memahami yang dirasakan Changmin kala itu.

“Hubungan kami menjadi semakin dekat, hingga suatu hari ia bilang padaku kalau dia hamil,” suara Changmin terdengar parau.

“Kamu bisa bayangkan kekacauan dalam diriku waktu itu. Aku seorang mahasiswa tahun pertama yang merantau dari negeri asalku, tidak punya apa-apa, tidak kenal siapa-siapa, punya pacar seseorang dari bangsa lain dan sedang mengandung anakku,” Changmin mulai terisak.

Seungyeon terdiam mendengar cerita lelaki yang selalu dianggapnya tegar dan kuat itu.

“Hingga aku memberanikan diri untuk bercerita ke Sunye. Ya, dia satu-satunya orang yang bisa aku percaya untuk merahasiakan hal ini dari orang-orang di sekitar kami. Ternyata aku memperoleh lebih dari sekedar seseorang yang bersedia menampung rahasiaku. Sunye yang aktif di gereja bersedia membantu kelahiran anakku. Aku mendampinginya saat melahirkan Svetlana. Lalu keajaiban itu tiba. Bayi, Seungyeon, seorang bayi perempuan yang kemudian diletakkan di atas kedua lenganku. Kecil, lemah, namun memberiku segenap kekuatan. Seungyeon, itu adalah saat terbaik dalam hidupku. Percayalah, kau tidak akan bersedia menukar saat-saat tersebut dengan apapun itu.”

Seungyeon melihat beberapa tetes air mata mulai jatuh ke wajah Changmin. Ia hendak bertanya ke manakah perempuan Rusia itu sekarang.

“Ketika Svetlana berumur 4 bulan, ia kembali ke Rusia, pergi meninggalkan aku dan Svetlana. Setelah itu tak ada berita, tak ada kabar. Aku tak mengerti jalan pikirannya, seperti ia hendak menghapus dan mengubur masa lalunya denganku dan anak ini.”

“Ya, inilah aku, seorang pria muda bujang dengan satu orang anak,” Changmin memaksakan sebuah tawa sembari menyeka air matanya. Changmin membanting tubuhnya ke lantai. Dalam posisi terlentang, tangis Changmin pecah.

Seungyeon menggigit bibir bawahnya. Changmin tidak sekedar aktivis mahasiswa biasa, ia sudah melalui sebuah lompatan dan hempasan besar di dalam hidupnya, entah apakah himpitan patah hatinya sudah terlewati atau belum, tetapi kini Seungyeon sedang menyaksikan seorang pria penakluk wanita itu menangis karena seorang perempuan yang pergi meninggalkannya.

Perlahan, Seungyeon mengangkat kepala Changmin dan memindahkannya dari tatami ke pangkuannya. Changmin patuh dan tidak melawan. Ia menangis di pangkuan Seungyeon sepanjang separuh malam.

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on March 16, 2013, in Fanfiction, The Dawn of First March. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Kak, lanjutkan. *pose ala SBY*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: