The Dawn of First March (Bab 19)

HANYA SEORANG YANG SEUNGHO

Kak Seungho yang aku rindukan,

Maaf aku baru mengirimkan surat balasan. Paman Kang sudah lama tidak menemani majikannya bertugas di Jepang, sehingga aku tidak tahu kepada siapa surat ini harus aku titipkan. Untunglah ada serombongan sarjana dari desa kita yang hendak bertolak ke Tokyo jadi aku berikan saja surat ini ke dia.

Kak, tiga bulan lalu Ibu akhirnya menikah dengan Takashi-sensei. Kami sekeluarga sekarang tinggal di rumah Takashi-sensei. Dia memperlakukan Ibu, aku, dan Youmi dengan baik. Takashi-sensei sudah pensiun dari tugasnya sebagai asisten dokter. Ternyata usia tua dan masa pensiun tidak membuat seseorang menjadi bijaksana dalam sekejap ya, Kak? Setiap ada pasien datang kepadanya untuk berobat, selalu ia layani dengan tidak sabar dan lekas menggerutu. Tetapi mau bagaimana lagi, Kak? Warga di tempat kita tidak punya pilihan, dokter tidak ada, sehingga satu-satunya pilihan adalah berobat ke Takashi-sensei.

Kak Seungho, sebelum aku lupa aku ingin berterimakasih atas kiriman uang darimu. Kali ini jumlahnya banyak sekali, berbeda dari biasanya. Aku dan Youmi sampai sempat kewalahan bagaimana agar uang sebanyak itu tidak ketahuan oleh Ibu atau Takashi-sensei.
Dengan segala hormat, apa yang Kak Seungho kerjakan sehingga menghasilkan uang sebanyak itu? Aku harap bukan suatu pekerjaan yang buruk. Apabila yang terjadi adalah sebaliknya, sebelum semuanya terlambat, maka alangkah baiknya bila Kak Seungho berhenti.

Sekian dulu surat dariku ini. Jaga dirimu baik-baik di sana, aku pun di sini akan menjaga keluarga kita baik-baik.

Dari adikmu,

Yang Ha-Eun

***

Sinar matahari menyelinap melalui sela-sela jendela. Musim dingin tahun ini datang agak terlambat. Di pertengahan mendekati penghujung Desember, cuaca belum terlalu menggigit tulang. Jung Ah menyibak anak-anak rambut yang menempel di wajahnya selama ia tidur. Ia gerakkan sedikit kepalanya ke kiri dan ke kanan lalu ia menarik napas dalam-dalam. Disingkirkannya selimut yang membekap tubuh polosnya dari semalam.

Laki-laki yang tidur di sebelahnya mengeluarkan suara gumaman orang tidur.

Ohayou, Changmin…” bisik Jung Ah di telinga laki-laki yang menemani tidurnya semalam.

Changmin membuka matanya dengan malas. “Masih ngantuk ya? Capek semalam? Dingiinnnn?” goda Jung Ah.

Secara cepat, Changmin bangkit dan menggaruk-garuk rambutnya. “Aku ambilkan air ya?” tawar Jung Ah dengan manis. Changmin yang tampaknya belum sepenuhnya sadar hanya mengangguk pasrah. Jung Ah melangkah sebentar ke sebuah meja di ujung kamar dan menuangkan air dari sebuah teko ke gelas keramik kecil.

“Ini, diminum dulu…”

Changmin menerima gelas itu lalu meminumnya. Agak terburu-buru hingga ia agak tersedak dan terbatuk-batuk. Jung Ah mengambil gelas tersebut dari Changmin dan menjauhkannya. Ia biarkan Changmin terbatuk sedikit lagi sebelum ia mengusap-usap punggungnya.

“Changmin, apakah kamu bahagia?”

“Bahagia bagaimana?”

“Bahagia karena…..” putus Jung Ah.

Changmin menunggu sambungannya.

“Bahagia karena kenal sama aku.”

“Jung Ah sudahlah. Selama ini hubungan kita selalu mudah-mudah saja, tidak pernah kamu pikirkan yang berat-berat macam itu. Begini saja, kau dan aku, itu sudah cukup buatku.”

“Tentu, karena hati kamu selalu buat dia!” bantah Jung Ah.

“Aku kan sudah bilang jangan ingatkan aku tentang dia. Tak perlu cinta-cintaan. Cinta itu merepotkan segala hal!”

“Ne, Changmin, ne…” Jung Ah menggosok-gosokkan ujung rambutnya ke leher Changmin.

“Jung Ah…..” Changmin masih terlihat kesal.

“Kenapa kamu selalu pilih kasih sama aku sih?! Kamu mudah sekali uring-uringan seperti ini, yang mana aku rasa kamu gak akan seperti ini terhadap perempuan-perempuan kamu yang lain!” Jung Ah membuang muka yang membuat Changmin harus beringsut sedikit untuk membujuknya. Untuk beberapa saat, Changmin hanya menonton Jung Ah yang membuang muka darinya. Ingin Changmin mempertahankan ego laki-lakinya di depan perempuan angkuh dan penakluk tersebut. Ia pejamkan mata sebentar, kemudian ia memilih untuk mengesampingkan hal tersebut.

“Aku gak kenapa-kenapa. Jangan marah ya… Aku minta maaf…” Changmin menggenggam tangan Jung Ah. Tak lama, Jung Ah mulai melunak.

“Oh ya, kamu gak lupa kan? Aku jadi diundang di makan malam dengan gubernur jenderal Jepang di Seoul dalam kunjungannya lusa? Aku sudah bawa beberapa agenda yang aku akan bicarakan dengan beliau,” kata Changmin mencoba memutar arah pembicaraan.

“Jadi. Tapi ada syaratnya…” Jung Ah memutar-mutar jari telunjuknya. Dengan sigap, Changmin menangkapnya.

“Tanpa kamu bilang apa syaratnya, aku sudah tahu…” ujar Changmin sembari mendorong Jung Ah kembali ke atas bantal dan menindih tubuhnya.

***

“Badanmu sedikit panas…” Seungho menempelkan punggung tangannya ke dahi Seungyeon.

“Sudah dua hari,” jawab Seungyeon lemah.

Seungho menyingkirkan tiga buah buku di pangkuan Seungyeon. “Sakit gigi memang bisa menyebabkan demam, Seungyeon…” Seungho berdesis. Setiap membicarakan tentang penyakit dan pengobatan, ingatannya melayang kepada sosok mantri Takashi yang kini mengidap post power syndrome dan menjadi ayah tirinya.

Ibunya dan mantri Takashi mulai dekat semenjak adik bungsu Seungho mengidap gangguan pencernaan yang membuat adik Seungho pada waktu itu muntah-muntah selama dua minggu. Tentunya tak bisa hilang dari memori Seungho saat ibunya mulai menunjukkan tanda-tanda ketertarikan dan kegenitannya kepada mantri Takashi, pria Jepang tegap berwajah kotak lebar yang pernah mengenyam pendidikan militer itu, mengingat ayah kandung Seungho kini tengah mendekam di penjara karena sebuah kasus penggelapan dana, begitu kata orang-orang di sekitarnya dan kata polisi yang mengusut kasus ayahnya tersebut.

“Masih sakit? Kamu bisa jalan? Aku antar kamu ke dokter gigi ya…” ajak Seungho.

Seungho membawa Seungyeon ke sebuah tempat praktik dokter gigi di dekat sekolah perwira militer di daerah Meguro. Sebuah rumah kecil di mana hanya terdapat satu buah kursi di ruang tunggu yang diduduki oleh Seungho selama Seungyeon menjalankan proses pengobatan giginya yang sakit. Seumur hidup, Seungho tidak memiliki bayangan tentang bagaimana tempat praktik dokter gigi, apa saja perkakas yang sang dokter gunakan, atau obat seperti apa yang akan sang dokter buatkan. Ia menatap lekat-lekat pintu ruang praktik sang dokter seolah menerawang apa yang sedang terjadi di dalam.

Mendadak, sekelebat kenangan membawanya kembali ke masa lalu saat ayah Seungho memberikan dua siung bawang putih untuk Seungho kunyah saat giginya sakit.
“Seungho, kamu harus kuliah. Jadilah kebanggaan keluarga kita karena Ayah sudah terbukti gagal dalam mengurus keluarga ini.”
“Seungho, memar-memar di tubuh Ayah ini tidak berbahaya. Di penjara ini hal biasa. Apalagi untuk penghuni baru seperti Ayah. Ini bukan karena mereka jahat. Yah, lebih baik kamu anggap saja ini sebagai bentuk perhatian dan bagaimana sesama penghuni penjara dan sipir bergaul.”
“Seungho, tolong sampaikan ini ke paman-pamanmu, Ayah pinjam uang mereka dahulu. Ayah terkena giliran jatah ‘perjamuan agung’. Begitu mereka menyebutnya. Jumlahnya setara dengan uang makan keluarga kita selama setahun.”
“Bilang sama ibumu, kalau Ayah rela dia bersama dengan laki-laki siapapun yang ia sukai. Asalkan laki-laki tersebut tidak menyakiti ibumu, terutama kedua adik perempuanmu.”

***

“Dokter bilang apa?” tanya Seungho di sepanjang perjalanan mereka kembali ke kampus.

Seungyeon tersenyum. Seungho balas tersenyum. Senyuman khas Seungyeon yang selalu ia tebarkan sebagai tanda ia mengapresiasi setiap perhatian yang Seungho berikan.

“Ternyata bukan sakit gigi yang parah. Hanya saja gigi geraham bungsuku sedang tumbuh,” jawab Seungyeon.

“Oh, syukurlah…”

“Seungyeon, ini…” Seungho mengeluarkan sesuatu dari balik saku mantelnya. Sebuah bangau kertas.

“Tadi sembari aku menunggumu di dokter, aku iseng lihat ada koran bekas di ruang tunggu, jadi aku ambil saja selembar dan aku lipat-lipat jadi bangau ini.”

Domo arigatou gozaimasu…” Seungyeon menerimanya dengan takjub.

“Maaf ya, tidak sempat waktunya kalau harus aku buatkan seribu bangau kertas. Satu saja ini dulu ya… Cepat sembuh, Seungyeon…”

Seungyeon mendekatkan bangau kertas itu ke ujung hidungnya. Menguar aroma khas kertas koran dan tintanya. Iseng, Seungyeon coba tusuk ujung hidungnya dengan paruh bangau kertas itu. Paruh bangau kertas itu terbang turun dengan bantuan tangan Seungyeon dan kini lekat dengan kedua bibir Seungyeon yang mengatup.

“Begini saja. Bagaimana kalau setiap hari aku buatkan kamu satu bangau kertas hingga jumlahnya sampai seribu?” Seungho melontarkan gagasannya.

“Kamu yakin? Berarti selama 999 hari ke depan aku akan dapat satu bangau kertas dari kamu?”

Seungho mengangguk.

“Aku belum bisa bayangkan apa yang akan terjadi selama 999 hari ke depan,” Seungyeon menerawang.

“Tidak ada yang pernah tahu. Esok hari itu adalah misteri, Seungyeon. Apakah selama 999 hari ke depan kamu sudah akan lulus kuliah, ataukah kita masih harus terus bertahan di negara ini, apakah negara kita sudah akan merdeka, apakah bunga sakura masih akan mekar di bulan April, apakah orang Jepang masih tidak boleh menatap wajah kaisarnya secara langsung, apakah kita masih bisa berdua seperti sekarang…” ujar Seungho lirih.

“Aku jadi lebih suka membayangkan bahwa 999 bangau kertas yang akan kamu berikan ke aku akan menjadi pengingat pada detik, hari, dan momen di mana aku memperolehnya.”

“Kau jadikan saja semacam catatan harian,” kata Seungho.

“Catatan harian?” tanya Seungyeon.

“Ya, catatan harian dalam bentuk bangau kertas. Setiap kamu lihat salah satu dari bangau kertas itu kamu akan selalu teringat apa yang sedang terjadi di saat itu dan apa yang sedang kamu rasakan.”

“Semoga tidak merepotkanmu. Lalu, kamu sendiri mau apa dariku, Seungho?”

“Kamu tidak perlu memberikan imbalan apa-apa. Aku hanya mau meluangkan waktuku beberapa menit di setiap hari dalam hidupku membuatkanmu satu bangau kertas. Ini janjiku kepada diriku sendiri.”

***

Yang Ha-Eun adikku yang cantik,

Senang rasanya mendengar Ibu dan kalian baik-baik saja. Ah, ingin cepat-cepat rasanya aku menuntaskan pendidikanku lalu kembali ke rumah, pulang. Bertemu kamu, bertemu Youmi, juga menjenguk Ayah di penjara. Tidak kangenkah kamu dengan Ayah? Aku sebenarnya ingin mengingatkan kamu jika kalau punya waktu, kunjungilah Ayah di penjara, walaupun aku pun khawatir karena penjara bukan tempat bermain atau perpustakaan, terutama karena dirimu seorang perempuan. Aku tahu kamu mungkin masih malu dengan kenyataan bahwa kita punya ayah yang dipenjara. Andai pada waktu itu kamu dengar bahwa Ayah bilang bahwa 8 dari 10 penghuni penjara adalah orang-orang yang tidak bersalah, setidaknya tidak merasa atau tidak pernah mengaku kalau mereka bersalah.

Masalah aku-mengaku, nampaknya aku juga harus berterus-terang tentang uang dalam jumlah besar yang aku berikan kepadamu beberapa bulan lalu. Uang itu aku dapatkan dari pekerjaanku membantu seorang temanku yang kaya-raya, tapi hei ……

Rupanya aku tetap saja tidak lihai berbohong di depanmu, Ha-Eun. Hidupmu dan hatimu yang lurus membuatku tak sampai hati membohongimu. Hanya kepada Ibu aku berani ingkar janji, janjiku untuk rajin belajar dan tidak berkelahi. Ya, salah sendiri dia tidak setia terhadap Ayah dan lebih memilih kawin dengan mantri yang pintarnya nanggung itu? Di sini aku sering sekali berkelahi dan jarang masuk kelas, bahkan berkali-kali diancam diculik atau dibunuh oleh Jepang-jepang sialan yang merasa terusik dengan keberadaan kami mahasiswa-mahasiswa Korea di negaranya.

Uang itu aku dapatkan dari hasil berjudi. Sebenarnya hanya ingin sedikit menguji keberuntunganku dalam main dadu dan rupanya aku menang besar di hari itu. Namun seorang temanku di jurusan matematika mengingatkan bahwa kemenangan memanglah milik seorang penjudi pemula. Kedua kali dan kali berikutnya seseorang kembali ke meja judi, kekalahan lah yang siap memerangkapnya.

Ha-Eun, sudah dulu ya suratku kali ini. Aku ingat hari ini aku belum membuatkan bangau kertas untuk Seungyeon. Aku ada janji dengannya membuatkan 1000 bangau kertas yang aku cicil setiap hari satu. Ini baru sampai di bangau kertas kedua, masih banyak hari yang harus kulewatkan sebelum menyelesaikannya. Mudah-mudahan bangau kertas yang keseribu bisa aku tuntaskan di Korea nanti.

Dari kakakmu yang selalu rindu untuk pulang,
Yang Seungho

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on March 5, 2013, in Fanfiction, The Dawn of First March. Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. Hatiku pecah *krompyang!!!!!* bagai piring yang jatuh ke lantai karena keteledoran seorang pembantu dengan katarak yang tak terobati waktu gue tahu si Seungho ternyata… gitu. Tapi, at the same time, part ini bikin semua orang yang ternyata fine-fine aja ternyata ada saja sisi gelapnya.

    Disini Changmin karakternya sangat … tidak likeable ya. Well, tapi cocok sih berhubung yang cocok mengemban image smart,young,fun, sociable dan playboy yang bisa sampai menggoda tante kaya macam Jungah(yang juga smart dan desirable) kayaknya di kpop cuma dia. Itu Changmin sama JungAh sudah lama atau baru akhir-akhir ini karena Changminnya ada keperluan?

    Saya gak akan komen banyak kak. Disini selaku penggemar fenfik ini… saya hanya berharap agar kakak tetap melanjutkan fenfik ini… kalau bisa… secepatnya.

    • Hello Cha, one of my loyal reader…

      Kenapa kamu bisa berasumsi awalnya bahwa hidup Seungho baik-baik saja? Hehehehe, aku senang kalau kamu pun terkejut.

      Changmin sama Jung Ah sebenarnya menjalani hubungan seru-seruan aja, semacam “friends with benefit”, di mana salah satu pihak membutuhkan sesuatu dari yang lain, sex and lust are their currency.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: