The Dawn of First March (Bab 18)

WAKTUNYA DUA HARI

Malam yang tenang dengan bulan separuh yang sedang dinikmati oleh penghuni rumah Jung Ah itu terusik dengan angin malam musim semi yang tiba-tiba datang.

“Cepat tutup jendelanya!” perintah Jung Ah kepada siapapun yang ada di dalam rumah dan yang bersedia menutup jendela. Seorang pria muda akhirnya bersukarela untuk melaksanakan perintah Jung Ah itu sebelum celoteh Jung Ah menjadi berkepanjangan.

“Mengganggu musik saja,” omel Jung Ah kepada gemerisik angin yang tadi sekian detik sempat mendistorsi alunan lagu yang sedang ia mainkan melalui gramofon. Musik Amerika. Walaupun tidak semua penghuni rumah mengerti tentang musik yang diperdengarkan tersebut, tidak ada yang pernah protes, malahan mereka kini terbiasa. Kata Jung Ah, agar di waktu malam hari yang sepi akan suara, indera pendengaran kita tetap diberi makanan yang bergizi. Ia kini kembali menghadapi koran yang tadi dibacanya dengan serius.

Jung Ah dan Nana menunggu Eunjung dengan gelisah. Di dalam kepala masing-masing mereka sibuk merangkai kata-kata untuk menjelaskan keadaan yang akan dihadapi oleh Eunjung tentang Yoobin. Seungyeon berkeras dengan sikapnya, ia menolak untuk turut campur lebih jauh. Seungyeon pun juga sudah mengingatkan Jung Ah untuk tidak terlalu turun tangan dalam masalah yang sebenarnya tidak perlu dibuat rumit seperti ini.

Tepatnya ketika angin di luar sana mereda kencangnya, Eunjung menyanggupi panggilan dari Jung Ah. Pembicaraan tersebut sudah diatur bahwa hanya akan ada Jung Ah dan Eunjung. Nana menyingkir ke ruang tamu sementara mereka berdua akan berdialog di dapur.

Jung Ah menawarkan secangkir teh hangat sebagai pembuka pembicaraan. Dengan halus, Eunjung menampiknya. Cangkir teh itu akhirnya hanya diisi setengahnya saja, itu pun sudah hampir direguk semua oleh Jung Ah. Dengan lembut dan membujuk, Jung Ah berusaha meyakinkan Eunjung untuk bekerja sama merelakan Tamaki agar Yoobin dapat pulang ke Seoul bersama kakak dan adiknya.

“Jawabannya jelas. Saya tidak mau, Kak. Maaf, bukannya saya jahat. Tetapi tidak seharusnya kita memanjakan Yoobin seperti ini.”

“Kamu kan mengerti sendiri bagaimana Yoobin. Kamu masih bisa cari yang lain, sementara Yoobin mungkin akan selamanya hanya akan memberikan cintanya untuk Tamaki.”

“Lantas apa? Ini permintaan konyol. Ini sebetulnya urusan keluarga Yoobin kenapa kita harus ikut campur? Lagipula, Kak, saya akan memperjuangkan cinta saya. Saya dan Tamaki saling sayang, gak ada yang bisa merusak hubungan kami berdua,” tegas Eunjung.

Eunjung lalu bertutur mengapa ia bersikeras akan mempertahankan Tamaki. Matanya menerawang. Lalu ia menyebut nama seorang pria lain. Nama mantan kekasihnya. Sementara itu dari arah ruang tamu, gramofon menyuarakan suara penyanyi wanita bersuara serak sedang merintih melatari pembicaraan mereka.

“Ia seorang tentara Jepang di Seoul, Kak. Pacarku saat sekolah menengah. Ia gagah, tegap, sigap, juga cerdas. Orang tuaku suka dengannya, aku pun merasa aman dan nyaman di dekatnya. Tetapi kemudian beberapa minggu kami hilang kontak. Teman-temannya tak ada yang tahu keberadaannya. Setahuku ia hanya sedang dikirim ke luar kota. Saat ia kembali ke Seoul, ia menangis-nangis minta maaf berlutut di hadapanku dan mengucapkan selamat tinggal. Selamat tinggal karena ia telah dijodohkan dengan anak perempuan jenderalnya. Sebuah tawaran yang tak bisa ia tolak.”

“Kamu bisa duga apa yang akan terjadi kalau Yoobin tidak dapat apa yang dia inginkan?”

“Itu bukan urusan saya. Bukan juga urusan Kak Jung Ah. Maaf Kak, saya bukan orang suci yang sanggup mengorbankan apa yang disenanginya untuk orang lain,” Eunjung berdiri dan memutar badan berbalik. “Kak, aku tidak mau jadi pihak yang ditindas dan dirampas lagi. Untuk Tamaki, aku akan egois, aku akan pergunakan keuntungan yang aku miliki. Memang paling enak menjadi orang yang berkuasa, yang punya segalanya.”

Eunjung meninggalkan dapur dan keluar menuju tangga naik ke kamarnya. Saat melewati ruang tamu, ia menatap Nana sekilas. Nana juga menatap Eunjung. Dari tatapan mata Eunjung, Nana paham bahwa Jung Ah telah kalah.

***

“Hari ini kita akan menjalankan hukuman untuk kamu,” kata Changmin di kantor Manseh.

“Aku siap,” balas Seungyeon.

“Bagus. Kita berangkat sekarang. Kamu jalan duluan. Kita ketemu di depan gerbang merah. Ingat, tidak ada yang boleh tahu ke mana kita akan pergi. Kamu paham?” instruksi Changmin setengah berbisik.

Seungyeon memberikan isyarat tanda mengerti dengan kedua matanya. Seolah tidak terjadi apa-apa, Seungyeon membawa tasnya dan meninggalkan kantor Manseh. Setelah dirasakan Seungyeon telah berjalan cukup jauh, Changmin mengikutinya. Ia meninggalkan kode untuk Youngbae dan Sungmin yang sedang ada di kantor bekerja dengan rekan lainnya. Hanya mereka berdua yang tahu ke mana pemimpin mereka dan anak baru itu pergi.

Mereka sampai di sebuah kantor polisi tempat Giri ditahan. Di sana mereka sudah disambut oleh seorang polisi yang sudah janjian dengan Changmin untuk mengantar mereka ke sel Giri.

“Seungyeon, kenalkan ini Sersan Izumi. Beliau pernah jadi narasumber untuk Manseh. Dia akan bantu kita untuk ketemu Giri.”

Onegaishimasu(mohon bimbingannya),” Seungyeon membungkukkan badan di depan Sersan Izumi. Pria tegap berahang tegas namun bermulut mungil itu tersenyum singkat.

“Setelah ini saya antar kalian sampai tangga menuju lantai bawah. Di sanalah sel Giri dan kalian akan diberikan satu ruangan untuk mewawancarai dia. Harap memanfaatkan waktu sebaik-baiknya,” ujar Sersan Izumi.

“Siap!” balas Changmin.

***

“Saya antar kalian sampai sini. Saya tidak bisa menemani kalian di bawah, bisa menimbulkan kecurigaan atasan saya,” mereka kini ada di depan sebuah pintu berangka besi dengan tangga menuju ke bawah. Sersan Izumi membukakan pintu itu untuk mereka berdua dan Changmin serta Seungyeon bergegas turun.

“Kamu jangan jauh-jauh dari aku, polisi penjaga di bawah suka kurang ajar,” bisik Changmin. Seungyeon mendengarkannya dengan patuh.

Tepat setelah menginjak anak tangga terakhir, seorang polisi menghadang dan membentak mereka.

“Siapa yang beri izin masuk? Hendak bertemu siapa?”

“Sersan Izumi bolehkan kami masuk. Kami wartawan, hendak mewawancarai Giri,” jawab Changmin tenang.

“Sersan Izumi?!”

Hai, Junsabuchou Izumi(Ya, Sersan Izumi). Sekarang boleh kami masuk?”

Polisi muda sok jagoan itu menyingkir lalu memberikan jalan untuk Changmin dan Seungyeon masuk. Pelan-pelan mereka berjalan di tengah-tengah lorong gelap dan lembab dengan sel-sel tahanan di kiri dan kanan. Beberapa pasang mata polisi mengawasi terus gerak-gerik mereka. Seungyeon dapat merasakan jantungnya berdebar-debar. Ia menoleh

“Nanti kamu berhenti di sel kedua dari kanan sebelum sel yang paling ujung,” kata Changmin sambil menjaga Seungyeon yang sengaja ia minta untuk berjalan di depannya.

Kankoku (Korea)!” seorang polisi yang entah dari mana asalnya tiba-tiba muncul dan mengacungkan tongkatnya setelah mendengar Changmin berbicara dengan Seungyeon dalam bahasa Korea.

Seungyeon berteriak ketakutan dan secara refleks Changmin menarik tangan Seungyeon agar merapat di sampingnya. Bentakan tersebut dilanjutkan dengan perintah agar mereka menggunakan bahasa Jepang.

“Kamu tenang ya…” bisik Changmin. Changmin memilih tidak membalas perkataan polisi tersebut. Ia menatap tajam polisi itu dan polisi itu juga balik menatap Changmin dengan tongkatnya yang masih terangkat dan terkepal erat hingga seorang rekan polisi yang lain datang tergopoh-gopoh dan menjelaskan bahwa kedua orang Korea di depannya ini dapat masuk dengan seizin Sersan Izumi, atasan mereka. Polisi itu lalu menurunkan tongkatnya walaupun dengan wajah dongkol. Rekan polisi tersebut kemudian mengantarkan Changmin dan Seungyeon ke sebuah ruangan yang telah menunggu Giri di dalam sana.

***

Changmin sengaja menunggui dan mengawasi Seungyeon dan Giri dari luar. Ruangan tersebut tidak tertutup rapat, hanya disekat oleh teralis besi yang rapat-rapat jarak antar teralisnya. Seungyeon telah duduk berhadapan dengan Giri di dalam sana. Kepala Giri masih tertunduk, dengan kedua tangannya yang terkatup dan tertutup erat. Sedari tadi wajahnya masih terhalang oleh rambutnya yang mulai gondrong dan awut-awutan.

Seungyeon melirik sebentar ke arah Changmin berdiri. Changmin hanya mengangguk dan memberikan isyarat dengan tangannya agar Seungyeon memulai wawancara. Seungyeon menoleh kembali ke arah narasumbernya yang masih bertahan di posisi duduk yang sama.

“Giri…” panggil Seungyeon.

Mendengar namanya dipanggil, napas Giri terdengar menjadi semakin cepat dan terengah-engah. Seungyeon memahami ketakutan Giri. Mungkin sekali ia trauma. Bisa jadi fitnah yang ditujukan kepadanya dan perlakuan polisi-polisi di tahanan.

Seungyeon menarik napas. Ia memutuskan tidak untuk langsung bertanya tentang apa yang ia ingin ketahui. “Giri, saya Seungyeon, dari Universitas Tokyo. Wartawan koran kampus Manseh yang berbahasa Korea. Anata wa genki desuka (Giri, kamu sehat?)?” tanyanya lembut.

Perlahan, Giri mengangkat kepalanya dan menyingkirkan helai-helai rambut yang menutupi matanya. Ia tersenyum getir. “Sehat badan saya, tetapi tidak jiwa saya…”

Seungyeon menghela napas sekali lagi. Aroma pengap dan lembab dengan debu-debu dari tembok-tembok yang mulai rontok. “Bagaimana kabar keluarga kamu? Mereka aman?”

“Karena saya ada di sini, maka mereka bisa aman. Tidak diganggu atau diteror oleh anak jenderal pengecut itu. Mereka yang sudah membunuh anak Korea itu. Siapa namanya itu? Seungri?”

“Ya. Namanya Seungri. Kebetulan saya juga sedang menonton pertandingan bisbol di hari itu. Dan saya dan teman-teman melarikan diri saat lapangan mulai rusuh,” Seungyeon mengenang kejadian naas hari itu.

“Bagus kalau kamu selamat. Kenapa kamu ingin mewawancarai saya? Apa pentingnya saya diwartakan untuk orang Korea? Sampai-sampai beberapa hari lalu Sersan Izumi menyempatkan diri masuk ke tahanan saya dan membuatkan janji hari ini. Serasa saya ini orang penting…”

“Tidak peduli orang Jepang atau orang Korea atau orang Amerika, kamu itu kunci kebenaran. Kamu tidak bersalah dalam kasus ini. Kami percaya itu, dan kami akan menyuarakan kebenaran itu. Kebenaran itu tidak pernah memihak!” seru Seungyeon.

Giri menanggapinya dengan dingin. “Saya hargai semangat kamu. Tetapi sebaiknya kamu tidak usah buang-buang waktu. Berita yang akan kamu tulis nanti tidak akan mengubah keputusan hakim. Saya pastinya akan dihukum juga. Kita sama-sama tahu siapa yang sedang kita hadapi.”

“Apa kamu takut?” selidik Seungyeon.

“Tidak. Saya tidak akan pernah takut,” jawab Giri tegas.

“Oleh sebab itu, biarkan kami mencatat keberanian kamu dan biarkan orang-orang di luar sana memilih mana yang benar dan salah. Raga kamu boleh terkurung, tetapi tidak dengan pemikiran dan kebenaran yang kamu miliki. Jangan sampai ada Giri-giri yang lain.”

Sampai di sini, Giri mulai tergugah dan dengan lancar bercerita tentang bagaimana selongsong senapan berburu yang tergolek di rumahnya tanpa tedeng aling-aling dijadikan barang bukti senjata pembunuh Seungri.

“Polisi tentunya tidak bodoh. Jelas-jelas mereka paham perbedaan peluru senapan dan peluru yang ditembakkan di tubuh Seungri. Peluru yang ditembakkan ke Seungri ada peluru pistol Nambu yang lancip di ujung.”

“Benarkah ada imbalan sejumlah uang dalam jumlah besar untuk keluarga kamu?”

“Hahahahahaha, semua orang bisa bilang. Yang jelas tidak ada orang yang ingin mengotori tangannya sendiri. Di kampus saya bukan siapa-siapa, bukan orang yang memiliki pengaruh, bukan mahasiswa pintar, kaya, atau aktivis. Saya yang diseret ke dalam kasus ini karena anak jenderal itu punya sangkutan dengan saya sebelum kejadian itu terjadi. Dia …..” kalimat Giri terputus sesaat setelah terdengar suara deheman dari seorang polisi yang meminta agar wawancara segera diakhiri karena sudah melewati batas waktu. Polisi tersebut mengeluarkan kunci gembok untuk mengantarkan kembali Giri ke selnya.

“Seungyeon!” Changmin memberikan aba-aba dengan melambaikan tangannya agar ia tetap menggali jawaban dari Giri.

“Giri, beberapa kata saja. Apa sangkutan anak jenderal itu ke kamu?”

“Yang jelas, Seungri melewati daerah kerusuhan itu bukan karena kebetulan. Ada yang memintanya lewat sana untuk membuatnya mati. Teman sebangsanya tentu saja. Orang Korea.”

Seungyeon terkesiap mendengarnya. “Apa maksud kamu?”

Namun, Giri mengabaikan pertanyaan itu dan perhatiannya terpecah kepada polisi yang sudah berjalan ke arahnya dan meringkus tangannya dan langsung dibawanya Giri meninggalkan sel itu. Seungyeon juga diminta untuk segera keluar dari ruangan tersebut.

Dengan kecewa, Seungyeon menghampiri Changmin yang sedari tadi berdiri mengawasinya. “Kita pulang ya…”

***

Langit sudah mulai berwarna jingga saat Changmin dan Seungyeon berpisah ke arah mereka pulang masing-masing. Jalanan dari kantor polisi menuju rumah Jung Ah sepi. Hanya satu atau dua sepeda yang melintas dengan kecepatan sedang menuju tinggi. Seekor burung terbang rendah di depan Seungyeon sebelum akhirnya terbang tinggi menukik membuat Seungyeon tanpa sadar mundur beberapa langkah dan tepat sepasang tangan kuat mencengkeram bahunya dan membanting punggungnya ke dinding.

Seungyeon meronta-ronta dan menggerak-gerakkan tangannya seolah hendak menampar wajah sang penyerang.

“Seungyeon! Buka mata kamu, ini aku!” seru sang penyerang.

Seungyeon yang mengenal suara itu langsung membuka matanya. “Seungho?!” Seungyeon pun kaget.

“Dari mana kamu?!” bentak Seungho.

“Aku dari kampus!” balas Seungyeon.

“Bohong kamu!” Seungho mempererat cengkeramannya di bahu Seungyeon.

“Seungho, lepas!”

“Tidak! Karena aku tahu kamu bohong! Aku tahu kamu baru dari mana! Kamu gak bisa bohongi aku!”

Seungyeon melihat kilat dan bias kemarahan di mata Seungho. Seungho benar-benar marah kepadanya kali ini. Rasa-rasanya kebohongan kecil Seungyeon ini bukanlah pemantik murkanya Seungho sekarang. Ada sesuatu yang lain yang membakar.

“Kamu pergi sama Changmin ke penjara untuk menengok anjing buduk Jepang itu kan? IYA KAN?!”

“Seungho! Jangan bicara kasar! Seung…” Seungho lalu membekap mulut Seungyeon dengan telapak tangannya.

“Sudah aku bilang aku gak suka kamu ikut campur terlalu dalam di kasus ini. Itu urusan mereka sebagai sesama orang Jepang. Pertentangan kelas antara anak jenderal yang pengecut dengan anak udik yang gak punya kuasa dan akhirnya jadi korban fitnah. Ini kasus berbahaya, Seungyeon. Ini konspirasi tingkat tinggi. Aku sudah peringatkan kamu…”

Beberapa detik kemudian, Seungho melepaskan telapak tangannya dari mulut Seungyeon. “Seungri, Seungho! Seungri! Kamu yang sendiri melihat bagaimana kondisi jenazahnya saat ditemukan. Seungri belum bisa beristirahat dengan tenang di sana. Kamu jahat, Seungho! Kamu gak bisa pegang omongan kamu! Kamu bicara keadilan, tetapi kamu sendiri gak bisa menempatkan diri kamu secara adil di kasus ini. Kita manusia, Giri juga manusia. Giri korban ketidakadilan. Aku dan Manseh akan terus membantunya mendapatkan keadilan!” bantah Seungyeon dengan rahang yang gemetar menahan amarah.

“Itu pasti omongan Changmin. Orang itu lama-lama terlalu banyak mimpi. Kebanyakan baca sastra dia!”

“Omong kosong, Seungho! Omong kosong. Aku kecewa denganmu…”

Perlahan Seungho mundur dari hadapan Seungyeon, memberikan ruang bagi Seungyeon apabila ia ingin pergi atau lari. “Lebih baik kamu pulang sekarang…” suara Seungho merendah. Ia menelan ludah. Tanpa berpikir lama, Seungyeon berjalan menuju arah pulang sambil membuang mukanya dari Seungho. Dan di langit, beberapa ekor burung terbang berisik menuju sarangnya.

***

“KAMU YANG GAK BISA JAGA DIA! Kamu kan seharusnya bisa cegah dia pergi dong!”

Baru saja Seungyeon berjalan dua langkah ke dalam rumah, sudah terdengar suara ribut-ribut lagi. Seungyeon menengadahkan kepalanya pasrah ke atas. Sudah tiga kali hari ini ia mendengar suara bentakan dan dampratan. Di penjara, Seungho, dan kini di dalam rumah di mana ia pikir bisa beristirahat dengan nyaman terdengar pula suara yang tidak mengenakkan.

“Aku sudah cegah dia sekuat tenaga untuk tidak pergi, Kak. Tapi ternyata dia memutuskan untuk kabur juga. Bahkan dia lebih nekat lagi, dia tidak bawa tas berisi barang-barangnya yang memang sudah ia persiapkan sebelumnya!”

“Ada apa ini?” tanya Seungyeon dengan tatapan kosong saat mendekati sumber suara ribut-ribut.

Jung Ah dan Francis menoleh ke arah orang ketiga yang menghampiri mereka itu.

“Seungyeon, Eunjung kabur dari rumah!” jawab Jung Ah cepat.

“Itu bukan salahku, Seungyeon. Aku sudah bilang baik-baik ke dia dan supaya dia gak emosi. Tetapi ternyata nyalinya Eunjung lebih besar dari yang kukira,” Francis membela diri.

“Kalau dia butuh, dia juga akan balik lagi ke sini,” ujar Seungyeon.

“Tidak!” kata Jung Ah dan Francis berbarengan.

“Paling dia kabur ke tempat pacarnya, Tamaki-san,” sambung Seungyeon.

“Justru karena ia kabur ke tempatnya pacarnya itulah yang membuat kita yakin Eunjung enggak akan kembali lagi.”

“Kenapa sih sepertinya kalian sudah tahu kalau ini akan terjadi?” selidik Seungyeon.

“Yah… kamu… Kamu lihatlah sendiri ke atas,” kata Jung Ah sembari mengayunkan tangannya.

Di dua anak tangga terakhir, Seungyeon dapat mendengar tangisan meraung-raung dari sebuah kamar. Mendengar itu, Seungyeon mempercepat langkahnya untuk menghampiri. Di depan kamar itu, ia buka pintunya dengan kasar. Terpampanglah sebuah pemandangan kamar berantakan seperti kapal pecah. Robekan kertas berserakan di lantai, beberapa bahkan ternoda oleh tinta yang sengaja dijatuhkan atau ditumpahkan. Di tempat tidur ia melihat Nana sedang memangku kepala Yoobin yang sedang menangis.

“Nana, kenapa Yoobin?” tanya Seungyeon hati-hati.

Nana menyeka air mata dengan ibu jari kirinya. “Buruk, Seungyeon. Eunjung tadi mengamuk di kamar Yoobin. Ia teriak-teriak di depan Yoobin bagaimana ia tidak akan melepaskan Tamaki untuk Yoobin.”

“Cih, berlebihan…” sergah Seungyeon.

“Memang. Aku sudah berusaha menyeretnya keluar dari kamar Yoobin untuk kutenangkan. Francis juga bantu, bahkan ia sempat mengejar Eunjung yang sempat kabur untuk kembali ke rumah sebelum akhirnya Eunjung benar-benar melarikan diri,” tutur Nana.

“Tak usah dipusingkan. Ke mana lagi Eunjung pergi kalau bukan ke tempat pujaan hatinya? Besok kita seret Tamaki dan Eunjung ke sini,” balas Seungyeon sinis.

“Bukan Eunjung yang aku khawatirkan, tetapi Yoobin. Dari tadi ia menangis terus. Ia sangat ketakutan dan kaget sekali. Apa yang harus kita pertanggungjawabkan nanti di depan kakak dan adiknya? Kita kecolongan gak bisa jaga Yoobin,” Nana masih juga membelai-belai rambut Yoobin.

“Kita memang gak bisa memaksa Eunjung melakukan sesuatu untuk membantu Yoobin agar bisa dipulangkan. Eunjung benar. Dia bukan orang suci yang sanggup mengorbankan hal yang dicintainya untuk orang lain. Kita pun begitu kalau jadi Eunjung kan? Tak perlu kita menghakimi Eunjung berlebihan. Ah, ayolah, kubantu membereskan kamar Yoobin kalau begitu…” Seungyeon melunak.

***

Dua hari kemudian, berita tentang wawancara dengan Giri terbit di koran Manseh dan mencuri perhatian dan menimbulkan pro-kontra di kalangan orang Jepang serta Korea. Manseh pun sempat mendapat teguran dari pihak Universitas Tokyo agar tidak terlalu mengangkat isu sensitif semacam ini. Changmin yang dipanggil oleh pihak universitas hanya mengiyakan saja dan tidak membantah dengan argumen-argumen yang tidak perlu. Kurang lebih seminggu, arus pemberitaan itu mereda.

Seungyeon duduk di kamar menatap kertas-kertas di atas meja tulisnya. Pertama adalah guntingan artikel tentang wawancara Giri dari koran Manseh. Dengan mata nanar dibacanya artikel itu untuk kesekian kalinya. Kali ini terasa berbeda setelah kemarin Changmin membawa kabar berita.

“Seungyeon, maafkan aku. Kita kalah…”

Kemarin Changmin mengabarkan dengan napasnya yang terengah-engah karena berlari dari depan kampus ke kantor Manseh agar cepat sampai berita itu ke telinga Seungyeon. Seungyeon memahami maksudnya. Giri akhirnya divonis bersalah oleh pengadilan dan dijatuhi hukuman penjara.

Ditariknya laci di mejanya, ia simpan artikel tersebut dengan posisi telungkup. Seungyeon lalu mengangkat kertas lain di mejanya. Koran lima tahun silam berbahasa Rusia yang menampilkan sebuah kapal pesiar yang sangat besar. Berdasarkan cerita Changmin, kapal itu bernama Titanic, kapal pesiar termegah dan termewah yang pernah dibuat oleh manusia yang mengangkut orang-orang kaya yang hendak berlayar dari Inggris menuju Amerika Serikat. Namun, di tengah pelayaran di Samudra Atlantik, Titanic menabrak sebuah gunung es dan akhirnya karam. Pada waktu itu tahun 1912. Saat Changmin bercerita itu, Seungyeon ingat dirinya sangat takjub dengan cara Changmin bertutur seolah-olah ia sendiri pernah mengalami kecelakaan maut tersebut. Changmin yang selalu membukakan dunia bagi Seungyeon.

Kertas berikutnya. Seungyeon sudah tahu kertas apa itu. Ia tinggalkan kertas itu dan ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju jendela. Di dekat jendela, ia meletakkan bunga pemberian Seungho beberapa hari lalu. Bunga permintaan maaf katanya. Saat memberikan bunga itu, Seungho sampai berlutut dan bersujud-sujud di depan Seungyeon tentang tindakan kerasnya waktu itu. “Aku sudah paham sifat kamu,” jawab Seungyeon lalu menerima bunga itu dan menciumnya.

Dari balik jendela, Seungyeon melihat bahwa di beranda rumah, Yoobin sudah bersiap untuk pulang ke Korea ditemani Yoochun dan Kai yang membawakan barang-barangnya. Di bawah, ada Jung Ah dan teman-teman lain yang mengantarkan dan bersiap melepas kepergian mereka. Lama Seungyeon menatap pemandangan itu.

Sekelebat kemudian, Seungyeon melihat Yoobin menengok ke arah jendelanya. Mata mereka berdua saling lekat beberapa saat. Seungyeon lalu membalikkan badannya dan berlari turun menuju beranda.

“Yoobin!” panggil Seungyeon dari pintu depan dan menyeruak kerumunan penghuni rumah. Saat jaraknya dan Yoobin semakin dekat, didekapnya Yoobin erat. Seungyeon terisak di pundak Yoobin.

“Kak, peluk Kak Seungyeon…” Kai membantu meletakkan kedua tangan Yoobin dengan posisi memeluk Seungyeon.

“Seungyeon…” kata Yoobin.

“Yoobin, untuk Eunjung, aku minta maaf ya…” bisik Seungyeon di telinga Yoobin.

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on April 21, 2012, in Fanfiction, The Dawn of First March. Bookmark the permalink. 6 Comments.

  1. Yang ditunggu2 akhirnya muncul juga…

    Mahasiswa = Idealis. Lulus kuliah idealisnya luntur #soktau

    “Eunjung benar. Dia bukan orang suci yang sanggup mengorbankan hal yang dicintainya untuk orang lain. Kita pun begitu kalau jadi Eunjung kan?” quote of the fic

    Overall udah makin kebaca ceritanya, tapi ada yg kurang tapi gatau apaan😦

  2. Oke kak…. Kenapa ya saya nangkep ini sebagai filler part saja? Btw, kakak pengen ngebahas lebih dalam kasus Seungri-Giri-etc,ya? So far, menurut saya kalau emang mau ditekanin disitu, harus dikasih penekanan lagi, soalnya selama ini saya nangkep dan paling ingetnya sama relation antar karakter-karakternya…. Udah itu aja. Saya masih menunggu chapter berikutnya, semoga seru🙂

    • Kasus Seungri dan Giri gak akan jadi fokus utama, karena cuma dibuat untuk pembakar konflik Seungyeon dan Seungho aja. Ceritanya gak akan melenceng kok, akan masih tetap di track yang kamu bilang, relation antar karakter.

      BTW, di chapter ini cerita tahun 1917 ditutup. Chapter berikutnya waktunya udah bergulir ke 2 tahun kemudian, yakni tahun 1919.

  3. Yak baru sempat baca sekarang… -.- kemarin-kemarin baca sepotong2 mulu, soalnya kalau mau baca fic ini hr cari tempat sepi… Personal spot biar tenggelam dalam cerita…

    Waaa… Saya masih dipenjara… dan penjara penuh debu… Saya orangnya alergi debu… Pasti sdh bersin-bersin disana…

    Overall ada satu kalimat dari si Giri disana yg sebetulnya mirip2 ma diri gw…

    “Apa kamu takut?”
    “Tidak saya tidak takut!”

    Gw juga begitu… Kalo memang tidak salah buat apa takut… Hhe…

  4. anyeong oppa aldi, aduh saya sok akrab banget😀
    saya reader baru yang nyasar kesini, mau bca dulu oppa *bow*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: