The Dawn of First March (Bab 17)

MENJEMPUT

Dua orang tamu laki-laki berpakaian rapi duduk di ruang tengah rumah Jung Ah. Koper dan barang-barang bawaan mereka diletakkan begitu saja di lantai. Pria yang usianya tampak lebih muda terlihat duduk dengan gelisah dan tidak tenang, sedangkan pria satu lagi yang berusia lebih tua sesekali mencoba tertidur, ia terlihat cukup kelelahan.

“Bapak Park, silakan. Ini Nona Jung Ah, yang saya ceritakan tadi,” Francis turun dari lantai dua bersama dengan Jung Ah di sampingnya. Orang yang dipanggil Bapak Park tadi kontan berdiri, membungkukkan badan, dan menyebutkan namanya, diikuti oleh anak muda yang ikut bersamanya itu.

“Tinggal?” Francis mohon izin untuk meninggalkan Jung Ah bertiga dengan tamunya.

Jung Ah menggeleng. “Kau ikut saja duduk di di sini,” jawabnya.

“Baik,” jawab Francis manut.

Jung Ah tersenyum dan mempersilakan tamu-tamunya duduk kembali. “Selamat datang di rumah saya yang …. yah beginilah. Ini rumah kami bersama, rumah sesama perantau yang menuntut ilmu di Tokyo,” sambut Jung Ah.

“Rumah yang sangat megah sekali, Nona. Dan Anda sangat murah hati sekali bersedia membuka lebar-lebar pintu rumah Anda untuk adik-adik kita yang beruntung bisa kuliah di Tokyo,” puji Park.

“Sudah menjadi kewajiban bagi saya sebagai orang yang lebih tua…” timpal Jung Ah. “Jadi… Bapak Park Yoochun dan adiknya ini adalah saudara dari Yoobin ya?”

Park Yoochun mengangguk. “Ya. Tepat sekali. Adik saya ini, Kai,” Yoochun menepuk pelan pundak anak muda di sebelahnya. “Kai adalah adik kandung dari Kim Yoobin. Sementara saya adalah kakak tiri Yoobin,” lanjut Yoochun.

“Oh begitu ceritanya…” Jung Ah mengangguk-angguk dan mencoba memahami. Sedangkan Francis memajukan bibirnya dan mengangkat sebelah alisnya mencoba mencerna silsilah keluarga Yoobin yang diceritakan kakaknya.

Yoochun segera memahami kebingungan tersebut. “Kelihatannya kalian cukup bingung, ya. Ini hal biasa. Baiklah akan saya ceritakan banyak tentang keluarga kami.”

Yoochun, Yoobin, dan Kai adalah saudara satu ibu lain ayah. Ibu Yoobin pertama kali menikah dengan ayah Yoochun, kemudian mereka bercerai. Pernikahan kedua ibu mereka menghasilkan Yoobin dan Kai, di mana saat itu Yoochun juga diboyong untuk tinggal bersama suami kedua ibunya. Pernikahan keduanya pun kandas. Ibu mereka sekarang hidup dengan suami ketiganya yang menghasilkan dua anak lagi, dan tiga anak dari pernikahan-pernikahan sebelumnya juga tinggal satu atap dengan keluarga baru ini.

“Memang ada sesuatu yang salah dengan ibu kami,” Yoochun mengangkat bahu. “Beliau menjalani kehidupan pernikahan kawin-cerai seperti ini semata-mata demi materi. Demi uang tunjangan yang akan diberikan oleh mantan suami. Nenek kami, ibunya ibu kami adalah orang yang menyetirnya untuk menjadi seperti ini.”

Kai tertawa getir mendengarkan kakaknya. Yoochun melirik ke arah Kai lalu ditegurnya singkat. Kai diam dan Yoochun melanjutkan ceritanya.

“Yang lebih ajaib lagi, dulu kami sempat hidup bertujuh dalam satu rumah. Ibu, suami ketiganya, saya, Yoobin, Kai, dan dua anak dari pernikahan ketiga ibu kami. Ada tiga kamar. Kamar saya, kamar Yoobin dan Kai, kamar dua anak itu.”

Mereka terdiam sejenak. Lalu Jung Ah memecah keheningan dengan tertawa kecil. “Tunggu, tiga kamar? Setiap anak dipisahkan sesuai dengan jumlah suami? Satu kamar melambangkan satu suami?” terkanya.

“Anda tepat,” dan Yoochun pun ikut tertawa bersama juga pada akhirnya.

Ia mengangkat kedua tangannya dan lantas menepukkannya ke pahanya. “Ya, sampai akhirnya saya tumbuh dewasa dan punya pekerjaan yang layak dan bisa mandiri, keluar dari rumah tersebut dengan membawa serta Yoobin dan Kai.”

Walaupun tidak murni sedarah, sedari kecil Yoochun, Yoobin, dan Kai saling menyayangi satu sama lain. Yoochun diterima sangat baik oleh keluarga besar suami kedua ibunya yang menyebabkan rasa sayangnya pun tumbuh terhadap Yoobin dan Kai yang lahir kemudian, juga terhadap ayah tirinya.

“Saya betul-betul mengambil peran sebagai kakak paling besar untuk Yoobin dan Kai. Terutama menjaga Yoobin saat diketahui bahwa ia ternyata berbeda dari anak-anak normal pada umumnya, juga memberikan pengertian kepada Kai tentang keadaan Yoobin.”

“Kai ini… sangat sayang sekali dengan noona-nya. Waktu kecil, Kai memang sering protes ke saya dan ke orang tua kami, mengapa Yoobin tampaknya tidak peduli dengan kehadirannya, tidak mau diajak main bersama, juga mengapa Yoobin tidak mau dilihat matanya dan dipegang bagian-bagian tubuhnya, mengapa Yoobin sudah besar tetapi sulit berbicara, sulit bergaul, dan sebagainya. Tetapi setelah dia memahami kondisi Yoobin, Kai jadi anak yang manis sekali. Ia anak bungsu yang tidak manja dan kekanak-kanakan. Kai ini juga pandai masak. Ia suka buatkan kami jjinbbang (sejenis bakpao) untuk sarapan. Khusus untuk Yoobin, Kai membuatkan jjinbbang dengan kacang merah yang banyak. Kesukaan Yoobin,” Yoochun merangkul Kai dengan penuh kebanggaan.

“Maaf sebelumnya, apakah Yoobin merepotkan di sini? Yah, mengingat dia anak yang berbeda. Awalnya pun kami takut untuk melepasnya sekolah di luar negeri yang menyebabkan jauh dari pengawasan keluarga,” tanya Yoochun.

“Tidak, Yoochun, tidak. Untuk kami di sini sama sekali tidak merepotkan. Yah, walaupun di awal-awal memang teman-teman harus diberikan pengertian dan dimohon kesabarannya dalam menghadapi Yoobin, apalagi kita jauh dari rumah, dari keluarga, yang mana bila kita tinggal bersama di sini, berarti kita sudah jadi satu keluarga baru yang harus bisa menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing,” ujar Jung Ah.

“Saya sangat berterimakasih sekali karena Anda telah menjaga adik saya dengan sangat baik. Saya berutang sekali dengan Anda.”

“Anda berlebihan, Pak. Sekali lagi, ini sudah peran saya sebagai kakak dan ibu dari teman-teman di sini. Namun maaf, kalau boleh saya tahu, apa yang sebenarnya terjadi dengan Yoobin hingga demikian?”

Yoochun menghela napas. “Sebenarnya kami pun tidak tahu penyakit apa yang menimpa Yoobin. Gejala awalnya ditandai dengan Yoobin yang selalu berteriak tidak nyaman dan kesakitan setiap kali dipegang tubuhnya. Rasanya seperti satu sentuhan lembut saja bisa jadi sesuatu yang menyakitkan buat dia. Apalagi waktu ia masih kecil dan dicucikan rambutnya, wah, teriakan dan tangisan Yoobin itu bisa terdengar sampai rumah-rumah tetangga kami. Juga selalu menghindari kontak mata, serta kesulitan berbicara. Dokter pun angkat tangan tentang penyakit Yoobin ini. Yang jelas ini bukan gangguan kejiwaan. Hmmm, maksud saya, Yoobin tidak gila. Ia hanya seperti punya dunia sendiri di kehidupannya.”

“Begitu ya…” Jung Ah menopang dagunya.

“Dan, apakah kalian tahu kalau Yoobin itu hapal semua kanji pada tulisan China? Yah… berapa puluh ribu kanji itu…” tukas Yoochun.

“Yoobin hapal semua kanji China? Luar biasa!” Francis menganga terkejut.

“Memori fotografik. Betul kan, Yoochun?” tambah Jung Ah. Yoochun mengangguk. “Kurang lebih.”

“Sehingga tidak susah untuk Yoobin menghapalkan sekian banyak kanji China yang juga membantunya banyak saat belajar bahasa Jepang. Semua hal dapat terekam jelas dan utuh di dalam otaknya. Saya dengar, bahwa Yoobin sering dapat nilai tinggi di kampusnya. Ia akan jadi seorang sastrawan yang hebat,” Jung Ah bertepuk tangan.

“Kak Yoobin juga seorang yang sangat rapi. Saya di rumah terkenal paling malas untuk merawat dan menjaga barang-barang saya sendiri. Tapi, selama saya satu kamar dengan Kak Yoobin, mau tidak mau saya juga ikut rapi dan teratur. Semua pakaian-pakaiannya tersusun rapi selalu dalam susunan dan urutan yang sama, baik jenis pakaian maupun warna. Tidak ada yang boleh ganggu, kecuali Kak Yoobin sendiri,” Kai akhirnya bersuara.

“Kai ini adalah orang yang paling keras menangisnya sewaktu Yoobin hendak pergi ke Jepang,” Yoochun menggoda Kai.

***

Sampai malam hari, Yoochun dan Kai masih berada di rumah Jung Ah. Yoobin pulang ke rumah sore hari dan langsung dipertemukan dengan kakak dan adiknya. Sedari tadi hingga sekarang, Yoobin tidak juga lepas dari Kai. Yoobin berceloteh apa saja tidak jelas, sedangkan Kai meladeninya dengan baik dan sabar.

“Ya, mereka berdua itu amat sangat dekat. Kalau di rumah ya begitu keadaan mereka. Saya biasanya hanya mengawasi dari jauh saja,” jelas Yoochun setelah makan malam di rumah Jung Ah. “Makan malamnya enak sekali. Terima kasih banyak…” lanjut Yoochun.

“Tidak usah terlalu sungkan, Yoochun. Ini jamuan untuk sesama orang kita, apalagi Anda keluarga dari adik kami. Anda sudah seharian di sini, anggaplah rumah sendiri, apalagi kan malam ini Anda dan Kai akan menginap di sini,” kata Jung Ah.

Yoochun tersenyum sungkan. Dua pasang langkah kaki mendekati meja makan. Yoochun menengadah sedikit. Dilihatnya dua orang perempuan muda menghampiri Jung Ah.

“Ayo, mari duduk. Yoochun, ini Seungyeon dan Nana. Keduanya sahabat Yoobin di sini. Mereka banyak sekali bantu Yoobin dan Yoobin pun terlihat nyaman dengan mereka.”

Mereka bertiga pun saling beramah-tamah.

“Mana Eunjung?” tanya Jung Ah.

Seungyeon dan Nana saling bertatapan. “Oh itu… eh…” Nana gelagapan.

“Nana?” selidik Jung Ah.

“Eunjung belum pulang, Kak. Mungkin dia sedang pergi bersama pacarnya,” jawab Seungyeon yang langsung diiringi dengan cubitan di sikunya dengan Nana sebagai pelakunya.

“Seungyeon! Kita kan sudah janji…” bisik Nana sebal.

“Ya, ya, ya, ya sudah. Yang sedang berkencan biarkan…” potong Jung Ah. “Yoochun, maaf ya… sebenarnya ada satu orang lagi teman Yoobin yang ingin saya perkenalkan ke Anda, namun dianya belum pulang ke rumah.”

“Ah, tidak apa-apa. Urusan anak muda,” simpul Yoochun.

“Jadi benar, Yoobin hendak dijemput pulang ke Seoul?” tanya Nana.

“Ya benar. Ayah kandung saya beberapa bulan lalu meninggal. Ia meninggalkan sebuah wasiat yang salah satu intinya adalah ada sebagian dari hartanya yang diamanatkan untuk diserahkan kepada Yoobin. Ayah saya merasa sangat berutang budi dengan ayahnya Yoobin dan Kai. Saat saya tinggal bersama ayah Yoobin itulah waktu-waktu di mana ayah kandung saya dan keluarga besarnya dapat mengunjungi saya karena selama ini ibu melarang ayah kandung saya untuk bertemu saya. Selain itu juga balas budi karena sedikit banyak ayah Yoobin juga turut berperan dalam menafkahi dan mendidik saya seperti sekarang.”

Seungyeon dan Nana menyimak penuturan Yoochun dengan cermat. “Kalau dipikir, memang lucu ya, hubungan antara dua orang mantan suami dari wanita yang sama. Tapi begitulah adanya, ayah kandung saya dan ayah Yoobin akhirnya menjadi sahabat. Ayah saya sangat bersimpati dan berempati dengan keadaan Yoobin, mungkin itulah yang menyebabkan ada bagian warisan untuk Yoobin.”

“Apa Yoobin dijemput pulang berarti dia harus meninggalkan kuliahnya di sini?” tanya Seungyeon.

“Sayangnya begitu. Yoobin sepertinya harus meninggalkan kuliah. Ini sudah kami bicarakan. Kami maksudnya saya, Kai, dan ayah kandung Yoobin. Pertimbangannya banyak. Salah satunya agar benar warisan tersebut jadi milik Yoobin sepenuhnya, tidak diganggu oleh ibu kami, karena warisan untuk Yoobin berupa beberapa tanah dan rumah. Maksudnya agar Yoobin pulang dan bisa menempati rumah itu dan mengelola tanah warisan dibantu Kai dan ayahnya. Ia tidak perlu susah payah kuliah lagi kan jadinya. Kami pun lebih tenang karena ia ada di dekat kami.”

Seungyeon menunduk. Tidak, kali ini ia tidak sanggup menghadapi sebuah perpisahan kembali. Ini kali perpisahan yang terencana. Ia tidak mau kehilangan Yoobin yang sungguh telah melukis sebuah warna yang tak terlupakan di dalam kehidupan rumah ini. Ditangkapnya dengan ujung mata bahwa Nana menelan ludahnya dalam. Sepertinya Nana pun mulai merasakan hal yang sama dengannya.

“Tetapi bagaimana kalau Yoobin tidak mau meninggalkan kuliah?” Seungyeon berusaha mematahkan keputusan Yoochun.

“Yaa, sedapat mungkin kami akan bujuk supaya Yoobin mau ikut kami pulang,” jawab Yoochun sekenanya.

“Saya sendiri tidak setuju Yoobin sampai harus berhenti kuliah. Anda sebagai keluarganya harus mendukung penuh Yoobin. Anda tidak tahu kan bagaimana ia sangat berhasrat dan memiliki kemauan yang tinggi sekali untuk menyelesaikan kuliahnya?” suara Seungyeon menjadi cepat dan meninggi.

“Seungyeon, jangan tidak sopan begitu,” tegur Jung Ah.

Nana memegang tangan Seungyeon untuk meredakannya.

Yoochun mengangguk-angguk. “Baik, Nona, baiklah. Saya memahami bahwa kamu mungkin tidak siap untuk berpisah dengan Yoobin. Tetapi Seungyeon, ada beberapa hal yang tidak akan bisa kamu pahami. Ini lebih kepada masalah keluarga. Sebagai anggota keluarga pun Yoobin juga harus mematuhi permintaan dari keluarga kami, terutama dari ayah.”

“Maaf, saya harus mohon diri terlebih dahulu. Futon (kasur) belum saya angkat dari jemuran,” pamit Seungyeon.

Nana dan Jung Ah keheranan. Mengangkat futon dari jemuran, malam-malam begini?

Dengan sigap Nana menyusul Seungyeon ke arah lantai rumah teratas. “Seungyeon, hey!” panggil Nana saat Seungyeon dengan kedua tangannya berusaha mengangkat futon dari jemuran. “Kenapa juga kamu harus angkat futon malam-malam? Biarkan saja lah. Besok pagi kering!” dengus Nana.

Futon itu diturunkan ke lantai kayu dengan cara dibanting oleh Seungyeon. “Apapun! Asal aku bisa menghindar dari pembicaraan yang melelahkan di bawah itu dengan kakaknya Yoobin yang keras kepala itu,” Seungyeon terus menyeret futon ke dalam ruangan sambil terus meracau. Nana hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Seungyeon!” panggil Nana lagi.

Seungyeon menoleh dengan enggan.

“Yang kamu turunkan itu punyaku. Itu lihat futon-mu masih tergantung di jemuran!”

***

Seungyeon hanya menatap setumpuk koran bekas di atas meja rapat sembari tangan kanannya menggenggam pena. Rapat koordinasi Manseh untuk edisi berikutnya siang itu hanya permisi lewat ke dalam telinga dan pikirannya. Para anggota redaksi saling melontarkan pendapat-pendapat yang terkadang tidak bernas, hanya berusaha pamer bahwa telah berhasil mewawancarai sensei ini, mewawancarai kolonel itu, sukses mendapatkan gambar yang terbagus dari sebuah festival di luar kota, dan semacamnya. Berisik seperti burung-burung robin yang hinggap di sebuah dahan pohon saat waktu hampir menunjukkan jam 8 pagi.

Rapat mulai memasuki sesi yang membosankan bagi Seungyeon kala Changmin menengahi debat kusir tentang tata letak koran selama ini antara Youngbae dan Jaekyung. Pena yang sedari tadi hanya dikepalnya mulai ia jalankan fungsinya dengan membuat coretan asal di atas selembar koran bekas di hadapannya. Rupanya debat kusir itu tidak membuat Changmin yang duduk di ujung meja sebagai pimpinan lupa memperhatikan gerak-gerik tiap anggotanya. Beberapa saat dibiarkannya Youngbae dan Jaekyung berdebat ke sana kemari sembari Changmin memperhatikan Seungyeon yang malah asyik sendiri. Changmin sedang mencoba meraba apa yang ada di balik dinding yang melingkupi Seungyeon.

Rapat pun akhirnya selesai. Seungyeon yang duduk di ujung terlihat malas berdiri dan membiarkan teman-teman yang duduk di sebelahnya berdiri dan meninggalkan ruang rapat terlebih dahulu. Sebetulnya tidak tepat juga disebut ruang rapat, karena sebenarnya tempat rapat itu terbentuk dari sebuah celah yang cukup luar antara dinding kantor Manseh dan harabeoji (panggilan untuk Kakek dalam bahasa Korea) – demikianlah mereka menyebut sebuah rak buku raksasa dengan tinggi nyaris dua meter berusia sangat tua yang sudah ada di pojok kantor entah sejak kapan. Pengurus pertama Manseh pun mengaku saat membeli rak tersebut, penjualnya mengatakan rak ini sudah berumur sekitar 60-an tahun.

“Seungyeon, saya mau bicara sama kamu,” suara yang tidak asing itu membuyarkan lamunan Seungyeon yang tersadar bahwa di dalam ruang rapat kini tinggallah dirinya dan Changmin. Changmin memanggilnya masih dari posisi duduknya saat rapat tadi. Bedanya kini ia berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Iya…” Seungyeon merasakan hal yang berbeda dari panggilan Changmin tadi. Changmin menggunakan kata ‘saya’ dan bahasa tubuhnya sedikit menantang, ini berarti ada sesuatu yang sangat serius dan ada kesalahan yang tampaknya Seungyeon perbuat. Seungyeon hanya diam di kursinya saat Changmin perlahan berjalan ke arahnya.

Changmin tidak duduk. Ia hanya berdiri sambil sesekali berjalan memutar-mutar di sekitar Seungyeon. “Saya dapat laporan dari Jaekyung tentang kinerja kamu belakangan ini. Tepatnya setelah Sunye wafat. Kamu belakangan sering terlambat menyetor artikel dan hasil artikel kamu pun tidak secemerlang biasanya. Ada apa sebenarnya, Seungyeon? Saya tidak mau kamu mengalami kemunduran begini, karena ini akan jadi beban untuk kita semua, redaksi Manseh.”

“Kalau untuk itu, saya minta maaf. Tidak akan saya ulangi lagi…” jawaban normatif keluar dari mulut Seungyeon.

“Saya tidak ingin minta maaf dari kamu!” semprot Changmin tegas dari balik punggung Seungyeon yang langsung membuat jantung Seungyeon nyaris copot. Untung saja Changmin tidak melihat ekspresi terkejutnya. Kali ini, Changmin seperti akan menelannya bulat-bulat.

Perlahan, Changmin membungkukkan badannya dan menumpangkan tangan kanannya ke meja dan tangan kirinya di sandaran kursi yang diduduki Seungyeon yang menyebabkan wajah Changmin kini amat dekat dari telinga Seungyeon. “Aku hanya ingin kamu cerita kepadaku…” bisik Changmin. “Apa yang terjadi dengan kamu, apa yang bisa aku bantu. Semua ini tidak mungkin kamu lewatkan sendirian…”

Seungyeon berdiri dan berusaha menjauh dari Changmin. “Terima kasih, Changmin, tapi…”

“Kamu masih sama Seungho? Apa dia tidak bantu kamu?” tukas Changmin.

“Kami masih bersama. Tetapi memang kami tidak memperlihatkan itu ke orang-orang, sehingga banyak orang yang tidak tahu menyangka yang bukan-bukan. Aku baik, ia baik, hubungan kami baik-baik saja. Kami berdua saling mengatasi masalah kami masing-masing,” sepanjang itulah pembelaan yang pernah dilontarkan Seungyeon tentang hubungan cintanya kepada orang lain.

“Seungyeon, kalau Seungho berbuat buruk …” lanjut Changmin.

“Tidak. Ia sangat baik,” bela Seungyeon.

Keduanya hening dalam kecanggungan lantas.

“Maaf, permisi…” seseorang berdiri di depan jalan masuk ruang rapat.

“Oh, Sungmin. Ada apa?” tanya Changmin langsung.

“Aku cuma ingin bilang kalau kau sudah ditunggu Jaekyung untuk ketemu rektor sebentar lagi,” jawab Sungmin.

“Ya, terima kasih. Ini juga sudah selesai. Mari, Seungyeon…” Changmin mengajak Seungyeon meninggalkan ruang rapat. Seungyeon langsung menuju tempat di mana ia biasa mengerjakan tugasnya.

“Seungyeon,” panggil Changmin.

“Ya?” Seungyeon menengok ke belakang.

“Jangan lupa makan siang ya,” kata Changmin pelan setengah menggumam dan agak tidak jelas. Namun seakan mengerti, Seungyeon menjawabnya dengan sebuah anggukan patuh.

***

Mengajak Yoobin pulang ternyata tidak semudah ketika mereka melepasnya untuk meninggalkan rumah dan pergi ke Jepang. Ada sesuatu yang hingga kini belum dapat dipecahkan oleh Yoochun dan Kai tentang apa yang menahan Yoobin sedemikian kuatnya untuk tetap di sini. Segala cara telah dilakukan oleh Yoochun dan Kai untuk mengajak Yoobin pulang, namun nihil. Hingga Yoochun dan Kai memutuskan untuk meminta bantuan orang-orang terdekat Yoobin untuk membantu membujuknya. Sedari awal, Seungyeon telah memutuskan untuk tidak hendak dalam upaya mengambil hati Yoobin ini, sehingga yang terlibat dalam proyek ini adalah Jung Ah dan Nana.

Hingga akhirnya muncul sebuah kenyataan yang mencengangkan. Dari beberapa pengamatan Seungyeon tentang Yoobin yang sebenarnya tak pernah ia niatkan, terungkap bahwa Yoobin sedang jatuh cinta. Jatuh cinta dengan seorang pria Jepang. Tepatnya, jatuh cinta dengan kekasih Eunjung sekarang. Kesimpulan itu turut diperkuat saat diam-diam – tanpa bermaksud untuk mengganggu – Nana dan Seungyeon menyelinap ke kamar Yoobin dan menemukan berlembar-lembar kertas bertuliskan nama Tamaki Hiroshi, kekasih Eunjung tersebut, juga beberapa larik puisi buatan Yoobin. Permasalahan yang tadinya hanya berpangkal bagaimana membujuk Yoobin pulang mendadak meningkat menjadi pelik.

Tamaki Hiroshi in yukata

“Tak bisakah kita jujur dan jelaskan semuanya begitu kepada Yoobin bahwa laki-laki yang disukainya itu adalah kekasih teman dekatnya?” tanya Nana.

“Kita jelaskan terang-terangan pun Yoobin tidak akan mau dengar,” tukas Kai.

“Maksud Kai, apapun yang kita berikan, Yoobin tak akan mengubah dirinya. Ia akan tetap terus jatuh cinta dengan laki-laki itu,” jelas Yoochun. “Ini jelas pengalaman pertama dalam hidup adik saya. Seumur hidup ia tidak pernah mengenal cinta, dan sekarang ia jatuh cinta. Bukan Yoobin yang salah, bukan Eunjung yang salah, bukan laki-laki itu juga yang salah. Mungkin keadaan yang salah…” desis Yoochun lirih.

“Jadi apa yang akan Anda lakukan?” tanya Jung Ah kepada Yoochun.

“Keputusan saya sudah bulat, kami akan tetap bawa Yoobin pulang. Tentang caranya bagaimana serahkan kembali ke saya dan Kai,” jawab Yoochun.

“Sepertinya untuk menggali apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Yoobin dan seberapa besar rasa cintanya untuk laki-laki itu, lebih baik biarkan kami membantu Anda dulu,” sambung Nana.

Yoochun menggeser posisi duduknya sedikit. Ia tumpangkan tangan kanan di paha kirinya. Wajahnya nampak berpikir keras. Perlahan-lahan ia mengangguk dan merelakan ketegangannya mencair.

“Tolonglah, Ibu Jung Ah dan teman-teman, kami tidak punya waktu banyak. Kami harus mengajak Yoobin pulang dalam waktu 2 hari.”

Sementara di tempat lain ketegangan meninggi. Di kantor redaksi Manseh, pecah pertengkaran antara Jaekyung dan Seungyeon. Masalahnya tidak jelas, tetapi yang pasti ada hubungannya dengan artikel dan penerbitan.

“Kamu itu ditugaskan menulis artikel, Seungyeon! Bukan menulis puisi atau dongeng! Ini artikel macam apa? Berat sebelah dan tidak didukung oleh fakta-fakta yang jelas. Kamu menulis tentang bunuh diri, kalau kamu tidak mencari fakta yang ada bagaimana kamu tahu tentang bagaimana perasaan orang melakukan bunuh diri dan orang-orang yang ditinggalkan?!” bentak Jaekyung.

Darah Seungyeon mendidih. Belum pernah ia semarah ini. Jaekyung sudah menginjak-injak hal paling sentimental dalam hidupnya. Bunuh diri. Dialami langsung oleh seseorang yang paling dikagumi oleh Seungyeon seumur hidupnya dan ia lihat sendiri mayat Sunye yang meringkuk kaku di lantai kamarnya.

Dengan langkah terseret-seret, Seungyeon mengambil langkah mendekati Jaekyung dan dihajarnya Jaekyung tepat di hidung. Satu ruangan geger. Jaekyung yang terhuyung-huyung lalu berusaha membalas Seungyeon dengan menjambak rambutnya segera dilerai oleh anggota Manseh yang lain. Keributan itu membuat mereka berdua disidang di depan Changmin.

Di depan mereka berdua, Changmin menggeleng-gelengkan kepala tidak habis pikir. “Sebenarnya saya malas urus masalah remeh-temeh seperti ini,” buka Changmin.

“Ini bukan masalah remeh. Ini masalah kualitas artikel. Seungyeon ini kalau dibiarkan terus bisa menyeret kualitas Manseh secara keseluruhan jadi jelek!” protes Jaekyung yang masih meringis karena rasa sakit di hidungnya. Jaekyung mendelik kesal ke Seungyeon yang duduk di sebelahnya.

Kemarahan Jaekyung tadi hanyalah titik puncak dari kegundahannya selama ini. Ia merasa dilangkahi dengan masuknya Seungyeon ke Manseh. Perhatian jadi tertuju kepada Seungyeon yang memang terlihat seperti bintang baru yang bersinar, terutama perhatian Changmin yang seharusnya ditujukan untuk dirinya yang diangankan orang-orang berkembang sebagai bunga di Manseh.

Sementara Seungyeon tidak merasa terancam dengan amarah Jaekyung. Ia hanya menatap lurus ke depan dengan wajah datar tanpa ekspresi dengan terkadang tersenyum kecil sambil memilin-milin ujung bajunya.

“Hei, lalu kenapa kamu diam saja? Bicaralah sesuatu, jangan kamu curi pandang ke arah Changmin terus-menerus!” Jaekyung mulai bertingkah kasar dengan mendorong pundak Seungyeon.

Changmin mulai tidak nyaman. “Kalau kalian berdua masih bertengkar seperti ini, biar aku yang pergi!” Changmin berusaha menengahi dengan suara lantang dan keras. Membuat Jaekyung dan Seungyeon keduanya terpaku menatap Changmin. Jaekyung melongo heran dengan Changmin yang tiba-tiba meledak. Kemarahan yang dikiranya tak akan mungkin meletup walau berbarengan dengan tsunami yang menerjang.

“Berhenti kalian bertengkar, atau detik ini juga aku ajukan surat pengunduran diri sebagai ketua Manseh. Terserah. Aku akan serahkan Manseh kepada kalian berdua!” ancam Changmin.

“Changmin, jangan. Baiklah. Aku, aku … ya aku kembali kerja saja lebih baik,” Jaekyung mengalah dengan keadaan dan meninggalkan ruang rapat dengan setumpuk kekesalan.

Changmin mengusap rambutnya ke belakang sembari menghela napas panjang. Setelah Jaekyung pergi, Changmin beralih kepada Seungyeon. “Ada hukuman untuk kamu, Seungyeon, karena telah memukul Jaekyung.”

“Apapun hukumannya, aku siap,” jawab Seungyeon tegas.

“Bagus,” puji Changmin. “Kalau demikian, hukumanmu adalah mendampingi aku mengawal dan meliput kasus Giri. Tidak ada kata tidak setuju. Mengerti?”

Seungyeon mengangguk mantap lalu membungkukkan badan dan mohon diri. Untuk kedua kalinya, Changmin menghela napas kembali. Ia baru saja terlibat dan menyaksikan sebuah permainan watak dan emosi oleh Seungyeon. Dengan diamnya, Seungyeon membiarkan Jaekyung dan Changmin saling beradu padahal tak ada masalah di antara mereka berdua hingga akhirnya Seungyeon dapat meloloskan diri di tengah-tengah celah.

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on March 23, 2012, in Fanfiction, The Dawn of First March. Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. Kak, kok rasanya part ini kurang greget ya dibanding episode-episode sebelumnya? Entah apa karena penggambaran karakter Yoochun dan konflik Yoobin yang agak tidak jelas atau entah apa…

    Btw, elo bener2 mau ngegambarin Max sebagai playboy ya, disini?

    • Hello Cha. Ya, aku pun sebenarnya agak gak puas dengan chapter ini. Harusnya mungkin bisa lebih panjang dari ini, tetapi puncak konflik dan penyelesaian masalah di sini aku putuskan untuk kupecah di chapter berikutnya.

      Makasih ya Cha, mungkin next chapter nulisnya harus sambil greget juga biar hasilnya juga greget🙂

      Changmin itu bukan playboy. Dia sebetulnya naksir Seungyeon tetapi segan karena Seungyeon itu pacar temannya. Memang tergambarkan seperti playboy ya?

  2. Widih… satu kamar untuk anak dari suatu suami….

    Else than that ceritanya mengalun dengan mudah dan entah kenapa tiap kali baca tulisan di FF ini gw seakan mengkhayal ke masa lampau dimana orang-orang masih berjalan lurus dan tegap (sebagai gambaran kalau mereka berpendidikan atau berekonomi tinggi) nggak kayak sekarang, jalan udah kayak shuffelin’.

    Dan diakhir ini kenapa nama ane mencuat lagi… hem…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: