The Dawn of First March (Bab 16)

HANA KOTOBA (BAHASA BUNGA)

Jenazah Sunye diputuskan akan dipulangkan ke Seoul besok pagi. Jung Ah sudah menyiapkan pelayaran dan segala hal-hal yang dibutuhkan. Di dalam rumah, lantunan ayat-ayat tradisional masih terdengar dan berkeranjang-keranjang bunga seruni masih teronggok di pinggiran.

Seungyeon telah kembali duduk bergabung dengan orang-orang yang sedang ikut mendoakan serta meratap. Hanya Seungyeon seorang yang tidak mengeluarkan air mata di tempat itu. Segala cara telah ia coba untuk mendesak air matanya keluar, namun gagal.

“Seungyeon…”

Ia kenal suara yang memanggilnya itu. Bagaimana tidak. Itu adalah suara hangat Seungho. Seungyeon menoleh ke arah dapur dan melihat Seungho muncul. Bagaimana Seungho dapat tiba dan datang dari arah dapur belakang? Pertanyaan Seungyeon itu terjawab setelah beberapa langkah di belakang Seungho, Seungyeon melihat sosok Changmin yang berjalan mengikuti langkah Seungho.

“Seungyeon…” Seungyeon menghampiri Seungho di dekat dapur. Tangan Seungho menggenggam erat tangan Seungyeon. Hangat. Setelahnya, pasangan itu tidak saling berkata apa-apa lagi.

Changmin mendekati mereka berdua. Ia merendahkan suaranya. Wajahnya dingin, pucat, matanya terisi oleh kesedihan yang dalam.

“Aku turut berdukacita, Seungyeon…” suara Changmin bergetar.

“Terima kasih, Changmin…”

Changmin menganggukkan kepala dan berpindah arah bergabung dengan orang-orang lain di sekitar jenazah Sunye. Tangan kirinya meremas dan menggenggam topi murid laki-laki khas Jepang yang mungkin tadi dipakainya di luar.

“Seungyeon, kalau kamu ingin cari bunga tsutsuji, aku tahu tempatnya di mana…” Seungho berbisik.

Seungyeon mengangkat kepalanya dan menatap Seungho serius. Dari mana kamu tahu aku sedang mencari bunga tsutsuji?

Di saat yang berdekatan, Jung Ah memerintahkan untuk merangkai dan meletakkan bunga-bunga seruni yang masih ada di dalam keranjang. Seungyeon memalingkan perhatiannya dari Seungho dan menyeruak.

“Jangan diteruskan, Kak! Aku akan cari bunga tsutsuji untuk Kak Sunye!” seru Seungyeon.

Jung Ah menghela napas berat. “Seungyeon, untuk kali ini, aku minta kamu tidak keras kepala dan tidak patuh! Kamu hanya akan mempersulit pengurusan jenazah kakak kamu!” balas Jung Ah.

Francis dan beberapa orang yang akan membantunya membatalkan tangan mereka yang sudah siap menata bunga seruni. Mereka hanya melongo melihat Seungyeon dan Jung Ah bersahut-sahutan.

“Aku akan cari bunga tsutsuji untuk Kak Sunye…”

“Seungyeon, katakan sekali lagi, bunga apa?”

“Bunga… bunga… tsutsuji. Tsutsuji,” Seungyeon berjalan mendekati Jung Ah.

Perlahan, Jung Ah menumpangkan kedua tangannya di bahu Seungyeon, seperti hendak menjinakkan seekor hewan yang siap menyerang.

“Seungyeon, aku paham kejadian ini sangat berat dan memukul kamu. Kamu pastinya tidak ikhlas. Tetapi, Seungyeon, tolong dengarkan aku…”

“Saya tetap akan cari bunga tsutsuji untuk Kak Sunye! Ini kali terakhir aku bicara, Kak!” Seungyeon menekankan kalimatnya dengan yakin.

“Kak Jung Ah…”

Son Ga In. Anak pendiam dan misterius itu menyela perdebatan mereka berdua. Ia berdiri, matanya gantian melihat Jung Ah dan Seungyeon satu per satu. Seungyeon melihat Ga In yang biasanya terlihat suram dan tertutup kini makin kehilangan pudarnya. Ada bagian besar dalam dirinya yang seperti tercerabut. Wajah dan matanya kompak memperlihatkan ekspresi luka.

“Kak, biarkan Seungyeon cari bunga tsutsuji untuk Kak Sunye…” ucapnya tegas. Sesaat, Ga In terlihat seperti seseorang dengan wibawa dan kharisma yang dilingkupi cahaya.

“Seungho! Kamu bisa pakai mobilku!” Changmin menyahut dengan cepat. Seungyeon langsung menyeret Seungho meninggalkan ruangan itu, menyisakan Jung Ah dalam keadaan terbengong-bengong.

***

Seungho memarkir mobilnya tak jauh dari gerbang masuk sebuah kuil Shinto. Ini tempat keenam yang mereka datangi, tepatnya kuil keempat dan setelah mencari-cari di pedagang bunga di pasar. Hasilnya sama saja. Semua tempat yang mereka datangi mengatakan bahwa bunga tsutsuji belum mekar di bulan April. Bulan depan barulah saat yang tepat.

Seungyeon sudah nampak kelelahan dan lemas. “Ternyata memang harus mencari di tempat itu…” gumam Seungho.

“Cari di mana?” kata Seungyeon lirih.

“Sedikit jauh ke luar kota Tokyo. Gunma.”

“Tak apa. Bawa aku ke sana, Seungho. Kita harus kembali sebelum malam. Sebelum jenazah Kak Sunye dirapikan dan siap untuk dibawa ke Seoul besok pagi. Aku percaya kamu.”

Seungho menatap ke atas langit lalu mulutnya komat kamit berhitung sebentar. Lalu, ia menyuruh Seungyeon masuk ke dalam mobil dan Seungho melarikan mobil berkelir merah tersebut dengan kecepatan secepat-cepatnya.

Di dalam mobil, Seungyeon hanya menutup matanya dan wajahnya dengan sebelah tangan. Ia sudah mempercayakan hidupnya di hari ini kepada kekasihnya. Ia tak ingin melihat jalanan sekitar, ia tak mau susah-susah menghitung perjalanan yang akan menempuh jarak enam puluh kilometer ke utara Tokyo tersebut. Ia takut diliputi kekhawatiran dan aneka kecemasan yang akan membuatnya gundah dan mengganggu pikirannya. Ia hanya ingin ketika ia membuka mata, ia mendapatkan apa yang dicari. Di tengah-tengah perjalanan, Seungyeon hanya sempat mendengar Seungho yang mengumpat karena wajahnya terpapar debu dan pasir dari proyek pembangunan jalur kereta api antara Sano dan Koena-kashi.

Seungho menghentikan mobil. “Sudah sampai…” Seungho berbisik di telinga Seungyeon. Bulu romanya merinding. Seungyeon merasakan ujung bibir Seungho menempel di telinganya. Perlahan Seungyeon membuka mata. Dilihatnya Seungho masih menggenggam erat kemudi mobil.

Seungyeon membuka pintu mobil dan sebuah pemandangan indah disuguhkan di depannya. Sebuah kuil pemujaan luwak yang berdiri dikelilingi oleh perbukitan yang ditumbuhi bunga-bunga tsutsuji yang merekah indah tanpa menghiraukan bulan.

Seungyeon menengok hendak mencari keberadaan Seungho. Dilihatnya Seungho menghampiri dan seakan berkata: ini bunga tsutsuji untuk Kak Sunye. Seungyeon tidak dapat menahan diri lagi. Dengan sigap, Seungho menangkap tubuh Seungyeon yang hampir jatuh dalam posisi berlutut. Kali ini, air mata Seungyeon tumpah ruah.

***

Sejak hari itu, Seungyeon bertambah tua. Saat berjalan ia selalu melangkah dengan cara menyeret kakinya dan pandangannya selalu tertunduk ke bawah. Tak ada lagi acara keluar kamar setelah Seungyeon pulang dari kampus.

“Sejak sore hingga pagi lagi, Seungyeon mengurung diri terus di kamar,” ujar Eunjung.

“Kami tak pernah makan malam bersama lagi. Seungyeon lebih memilih makan makanan yang sudah dingin ketika kami sudah beranjak ke kamar dan mulai tidur. Sendirian, dengan cahaya seadanya,” aku Nana.

“Ada pula kebiasaan anehnya yang saya perhatikan. Setiap hari, Seungyeon melepaskan kelopak bunga seruni satu per satu. Saya lihat seperti menghitung hari, karena itu dilakukan sejak hari kematian Sunye. Kemarin selembar kelompak, hari ini selembar, besok selembar, besok selembar lagi,” tambah Seungho.

Keberadaan Seungho tidak membantu banyak, walaupun Seungho menghujaninya dengan cinta dan perhatian. Hadirnya Seungho secara fisik dan batin terhalang oleh keterpurukan Seungyeon yang mendalam.

“Kamu masih aja habisin waktu kamu untuk nemenin aku yang gak punya semangat hidup lagi seperti ini,” kata Seungyeon.

“Maksud kamu?”

“Seumur hidup, aku akan terus dikejar pertanyaan kenapa Kak Sunye harus mati. Mengapa dia mati setelah bertemu denganku setelah sekian lama? Kecewakah dia denganku? Aku masih lebih bisa terima andaikan tiba-tiba aku mendengar kabar kalo Kak Sunye jatuh terperosok di jurang atau kapalnya tenggelam tanpa pernah bertemu dengannya.”

Seungho tercekat. “Tidak baik bicara seperti itu, Seungyeon. Membicarakan orang yang sudah meninggal saja kita tidak boleh. Apalagi sekarang menyesali dan merutuki cara seseorang meninggal.”

“Bayaran dari sebuah pertemuan adalah perpisahan. Yang bisa kita lakukan untuk menghadapi kodrat tersebut adalah memilih cara kita berpisah. Mau terencana atau tetiba. Mau rela atau terpaksa.”

Seungyeon melengos. “Saat Kak Sunye datang, jujur aku boleh katakan perhatianku tidak sepenuhnya tercurah oleh kedatangannya. Kupikir aku akan menjadi orang yang paling antusias dan bahagia dengan pertemuan ini. Rupanya, hatiku masih lebih banyak berat dan condong ke kamu, Seungho. Aku merasa Kak Sunye merasa terabaikan karena hal itu. Ini salah aku…”

Seungho menyentuh lengan Seungyeon pelan. “Kamu berpikir terlalu jauh. Sunye tidak mungkin senaif itu. Berhenti menyalahkan diri kamu sendiri.”

“Seungho, aku mau kita jaga jarak dulu untuk sementara. Aku, aku… ya, kamu bisa lihat bagaimana aku sekarang. Aku sedang tidak dalam kondisi siap untuk melayani hati kamu dan berkasih-kasihan dengan kamu,” Seungyeon menggigit bibirnya. “Sampai aku menemukan jawaban atas pertanyaan yang masih menggema di rongga kepalaku tentang kematian Kak Sunye.”

“Aku bukan teman kamu di saat-saat terang saja, justru aku akan ada terus untuk kamu di saat gelap seperti sekarang. Bagaimana mungkin kamu bisa menjaga jarak denganku sementara aku sedekat urat leher kamu sendiri?”

Hening. “Seungyeon, kamu sedang tidak merencanakan sebuah perpisahan kan?”

***

“Seungyeon, buka pintunya! Aku tahu kamu belum tidur!” panggil Jung Ah dari luar kamar.

“Kak, aku capek… Aku mau istirahat. Besok-besok saja lah kalau mau ada keperluan,” jawab Seungyeon setengah berteriak.

Tanpa izin dari Seungyeon, Jung Ah menyelinap masuk. “Seungyeon!” panggil Jung Ah tegas. Tangannya berkacak pinggang.

“Seungyeon, kamu ditunggu oleh seseorang di perpustakaan bawah. Penting.”

“Orang kurang kerjaan siapa yang mau ngobrol sama aku malam-malam begini? Kalau itu Seungho atau Changmin, suruh pulang saja,” gumam Seungyeon dari balik selimut.

“Orang ini ada hubungannya dengan Sunye. Kamu datangi dia sekarang atau kamu akan semakin menyesal,” suara Jung Ah terdengar seperti sebuah perintah yang tak terbantah.

Seungyeon menyibak selimutnya cepat. “Kakak, kamu tidak bohong kan?”

Tanpa menunggu jawaban dari Jung Ah, Seungyeon melompat dari tempat tidurnya dan menuruni tangga menuju perpustakaan bawah.

Di depan perpustakaan, Seungyeon memperlamban langkah kakinya. Ia dekatkan telinganya ke pintu perpustakaan, lalu ia menggeser pintu. Orang yang ditunggunya menoleh.

“Ga In?” desis Seungyeon.

“Seungyeon, kemarilah…” jawab Ga In.

Dengan canggung, Seungyeon berjalan mendekat, mengambil posisi duduk di dekat Ga In. Alis Seungyeon bertaut, matanya agak memicing.

“Kamu yang minta Kak Jung Ah memanggil aku?”

Ga In mengangguk. Terkadang Seungyeon merasa tak nyaman dengan wajah Ga In yang terlihat dingin dan tak ramah juga senyumnya yang seperti orang menyeringai.

“Ada apa? Apa kamu tahu sesuatu tentang Kak Sunye? Bagaimana kamu bisa tahu dan kenal dia?” dengan cepat Seungyeon memberondong Ga In dengan pertanyaan-pertanyaan. Ada sedikit kesombongan yang sengaja dijaga oleh Seungyeon untuk menyembunyikan kerisauannya.

Ga In mengeluarkan sebuah kotak kayu berukuran sedang. Ada sebuah kalung yang terjepit kotak itu. Diletakkannya kotak kayu itu di atas meja, sembari Ga In memberikan kata pengantar sebelum dipersilakan Seungyeon membuka kotak itu.

“Bahwa di dalam sini adalah barang-barang peninggalan Sunye. Seungyeon, setelah kamu membuka dan melihatnya, jangan kamu marah, jangan kamu menolak untuk menerima kenyataan yang mungkin bertentangan dengan apa yang kamu pegang. Benda-benda ini menunjukkan bahwa Sunye telah melakukan sebuah pilihan dan perubahan besar di dalam hidupnya.”

Seungyeon menarik kotak itu dengan kedua tangannya agar lebih dekat kepadanya. Dibukanya kotak itu, terdengar sedikit bunyi kayu yang berderak. Seungyeon terkesiap melihat benda-benda di dalamnya dan tangannya mulai mengeluarkan benda-benda satu per satu. Sebagian besar terdiri atas kertas-kertas bertuliskan tangan Sunye tentang kutipan-kutipan singkat, sebuah buku bersampul hitam, dan beberapa gambar seorang pria Barat berambut panjang dan berjenggot lebat. Seungyeon mengintip sedikit isi buku bersampul hitam itu.

“Ini kan ….. jadi Kak Sunye ….” lalu Seungyeon menunjuk gambar pria berambut panjang tersebut.

“Ya, Seungyeon. Perlu kamu tahu kalau Sunye sudah memeluk agama Kristen setelah ia sampai di Jepang. Ia dibimbing oleh mahasiswa-mahasiswa Kristen Korea yang ada di sini,” Ga In memulai cerita sementara Seungyeon membaca kertas-kertas dengan tulisan tangan Sunye.

Ga In menghela napas dan menyibak rambut. “Sunye seorang yang sangat lurus dan bersih hatinya. Ia sangat taat dan patuh dengan ajaran agamanya dan amat mencintai Tuhan. Ah Sunye…” ceritanya terhenti. “Ia orang yang sangat lembut dan manis. Juga tak pernah sedih dan berputus asa. Sunye juga salah satu penggagas gerakan mahasiswa Kristen Korea melawan penjajahan Jepang secara damai. Keberadaannya tidak tergantikan.”

“Jadi, Kak Sunye sudah menganut agama Kristen. Apa dia merahasiakan ini dari keluarga besar kami?”

“Ya. Sunye sengaja merahasiakan hal ini. Takut menyulut masalah keluarga, katanya.”

Seungyeon melamun. “Aku pun tak pernah mempermasalahkan agama siapapun. Itu adalah hak Kak Sunye,” ia mengangkat bahu.

“Tapi ada satu rahasia besar lagi yang perlu kamu tahu. Aku tidak tahu apakah untuk ini kamu sanggup mendengarnya atau tidak,” suara Ga In berubah bergetar menahan tangis.

Seungyeon menegakkan tubuhnya, bersiap menghadapi sesuatu yang lebih mengejutkan.

“Seungyeon, aku memiliki hubungan istimewa dengan Sunye. Aku berpacaran dengannya…”

Bagai dua pasang borgol langsung memasung kedua tangan dan kaki Seungyeon. Selama beberapa detik, napasnya beristirahat. “Apa maksudnya ini? Ga In, cerita kamu mulai tidak masuk akal!”

“Sunye menyukai sesama jenis, Seungyeon. Ia sudah mengakuinya sendiri. Ia sudah merasakan ini bertahun-tahun dan berusaha memendam ketidaknyamanan akan hal itu. Akulah cinta pertamanya.”

Seungyeon menutup wajahnya. Tensi dalam perpustakaan luas itu meningkat karena perbincangan dua orang yang duduk dekat rak yang berdiri paling pojok.

“Kamu pasti yang bawa pengaruh buruk untuk Kak Sunye. Kalau Kak Sunye penyuka sesama jenis, begitu juga dengan kamu kan, Ga In? Yah, aku paham sekarang mengapa kamu sangat tertutup dari kami semua di rumah ini. Dan bagaimana pula kamu bisa berhubungan dengan Kak Sunye, sedangkan kita sama-sama anak baru di sini?” suara Seungyeon lantang meninggi.

“Ya, Seungyeon, ya! Memang! Aku hanya mencintai perempuan, aku tidak bisa mencintai laki-laki seperti perempuan normal lainnya! Tetapi aku tidak terima kalau kau bilang ini adalah pengaruh buruk. Hubunganku dan Sunye tidak mengganggu siapa-siapa!” tangis Ga In pecah.

Napas Seungyeon memburu. “Siapa yang bertingkah duluan? Kak Sunye atau kamu?” cibirnya.

“Aku bukan mahasiswa baru seperti dirimu, Seungyeon. Aku sudah lulus kuliah, Seungyeon. Aku seorang seniman kaligrafi yang dapat menumpang di sini karena kemurahan hati Jung Ah. Jung Ah pun tahu semuanya tentang kami berdua. Ia merasa simpati denganku dan ia mengizinkan aku untuk tinggal di sini dan aku diharapkannya menyamar sebagai mahasiswa baru agar aku bisa berbaur dan menyembunyikan identitasku. Nyatanya, aku pun tak bisa bergaul dengan kalian dan banyak juga menghabiskan waktu berdua dengan Sunye di pondok sewaannya setelah ia dapat kerja magang di kapal.”

“Tadi kau bilang hubungan sesama jenismu tidak mengganggu, lalu kenapa kau minta sembunyikan identitasmu dengan tinggal di sini?”

“Itu semua karena kegundahan Sunye. Ia memegang teguh ajaran agamanya, di saat yang bersamaan ia memahami bahwa menyukai sesama jenis adalah dilarang dan merupakan dosa besar. Sering ia menangis karena ini. Ia merasa telah mengkhianati Tuhan, tetapi Sunye juga tidak menyangkal bahwa ia tidak bisa mencintai laki-laki. Sunye dilanda kebingungan yang amat sangat.”

Di masa-masa resah tersebut, Sunye sempat mendatangi seorang pendeta untuk meminta petunjuk. Namun apa yang didapatnya sangat pahit. Sunye didamprat dan pendeta tersebut mengatakan bahwa dirinya dipenuhi oleh kuasa jahat dan harus disembuhkan. Sunye menolak mentah-mentah dakwaan tersebut sebab ia beranggapan bahwa menyukai sesama jenis bukanlah suatu kejadian semacam kesurupan atau kena kutuk. Bahkan sang pendeta melarang Sunye untuk datang beribadah ke rumah Tuhan selama ia belum ‘sembuh’.

Hal tersebut sempat membuat Ga In marah dan hubungan mereka sempat renggang, hingga akhirnya Sunye mendapatkan kesempatan magang di kapal Jepang yang membuatnya lebih sering berada di laut dan jarang bertemu dengan Ga In.

“Agama sudah membuat generalisasi yang berbahaya,” gumam Ga In. Seungyeon masih menyusun balok-balok permasalahan di dalam otaknya.

“Kami terus menjalin hubungan tanpa sekalipun enggan menyelesaikan masalah. Aku menolak membantu memecahkan segala kebimbangan dalam diri Sunye, karena ia sendiri pun abai. Ia tetap menjalankan agamanya seperti biasa.”

“Tampaknya kamu menikmati sekali hubungan kalian?” tanya Seungyeon.

Ga In menghela napas dan mengusap mata kirinya dengan ibu jarinya. “Pastinya. Jika kami berdua, itu saat-saat yang paling tenteram dalam hidup kami. Tak perlu main sembunyi atau rahasia-rahasia.”

“Apa kamu juga tahu tentang bunga tsutsuji?”

“Tentunya aku tahu. Bunga tsutsuji paling dekat dengan kepribadian Sunye. Bunga sakura, terlalu lemah dan rapuh untuk Sunye…” tutur Ga In.

“Bunga lily oranye, terlalu mistis. Orang selalu menyimbolkan bunga itu untuk kebencian, untuk dendam, bunga perlambang neraka. Jelas bukan Sunye,” Ga In menyambung kalimat sebelumnya.

Seungyeon menyimaknya acuh tak acuh. Ia merasa harga dirinya masih terlalu tinggi mendengarkan kuliah dari Ga In dan dirinya masih penuh penyangkalan tidak percaya akan penuturan Ga In.

“Sedangkan bunga tsutsuji, bunga tsutsuji, adalah untuk orang-orang yang berhati lapang dan penuh kesabaran dan ……”

“Dan apa?! Cepat bilang! Aku susah payah setengah mati mencari bunga itu!” gertak Seungyeon.

“Seseorang yang sudah sangat lelah dengan penantian dan kesabarannya. Seseorang yang tak kunjung menemukan apa yang dicarinya. Seseorang yang sudah ingin pergi dari kehidupan…”

Sejurus kemudian, Seungyeon meledak dan telapak tangannya melayang cepat tipis di depan wajah Ga In. Ga In hanya menatapnya lurus.

***

Hari menjelang siang. Seungyeon menenggelamkan dirinya dalam kesibukan pekerjaannya di Manseh. Suasana kantor relatif sepi karena ini masih masuk waktu perkuliahan. Tatapan Seungyeon tidak lepas dari buku yang sedang dibacanya dan di tangan kanannya terselip pena yang sigap menulis hal penting dari buku tersebut.

“Hai Seungyeon…” Changmin menghampiri dan duduk di sebelahnya.

“Ada apa?” tanya Seungyeon.

“Kita ke luar sebentar yuk. Aku mau tunjukkan kamu sesuatu,” Changmin menggandeng tangan Seungyeon.

Di halaman belakang kantor Manseh, beberapa orang sedang berkumpul melihat ke arah bawah. Di atas tanah sedang mekar sebuah bunga berkelopak panjang runcing berwarna ungu.

“Kamu lihat bunga itu kan? Itu bunga katakuri (dogtooth violet atau Erythronium japonicum – PENULIS),” tunjuk Changmin. “Aku sengaja tanam di sini, aku dapat dari temanku yang baru naik gunung. Lihat, bagus kan? Ini bunga musim semi tercantik kedua setelah bunga sakura untuk orang Jepang.”

***

“Sudah selesai. Kamu mau tanam apa di sini?” tanya Francis sembari membersihkan tangan dan sekop yang ia gunakan untuk menggali tanah.

“Katakuri,” Seungyeon memperlihatkan bunga itu di hadapan Francis.

“Wow! Hebat! Dari mana kau dapat bunga itu?” Francis bertanya sedangkan Seungyeon sudah berjongkok untuk menanam bunga katakuri beserta akar-akarnya ke dalam tanah.

“Jangan bilang siapa-siapa ya. Aku petik ini diam-diam dari belakang kantor Manseh,” Seungyeon tersenyum jahil.

Francis menggeleng-gelengkan kepala lalu tertawa. Ia melipat lututnya dan setengah berlutut di samping Seungyeon. “Ngomong-ngomong, katakuri ini bunga yang melambangkan cinta pertama. Hehehehehe, bunga ini pasti untuk pacarmu kan?” goda Francis.

“Seungho sudah aku berikan juga bunga ini. Aku minta dia tanam juga di tempatnya.”

Mulut Francis membentuk huruf ‘O’. “Bunga katakuri ini nanti kalau sudah waktunya, akan mekar indah sekali dan bagus jika dilihat dari jendela kamarmu di atas. Eh, tapi mengapa kau malah menanamnya di sini? Di bawah jendela kamar Ga In? Letak kamar kalian kan saling membelakangi?” Francis heran.

“Supaya aku tidak bosan dan jatuh benci kepada bunga ini gara-gara setiap hari melihatnya dari jendela kamarku,” jawab Seungyeon sambil menepuk-nepuk tanah.

Seungyeon berdiri dan mengajak Francis untuk berdiri juga. “Yang tadi, aku bercanda. Bunga katakuri ini lebih cocok ditanam di bawah jendela kamar Ga In. Sinar mataharinya bisa lebih membuat bunga ini nanti tumbuh dengan indah pada saatnya.”

Seungyeon membersihkan sisa tanah yang menempel di pakaiannya dan berjalan pergi, diikuti Francis yang menatap sekali lagi bunga katakuri tersebut sambil memikul sekopnya.

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on February 19, 2012, in Fanfiction, The Dawn of First March. Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. Pertamax. Wah, nggak disangka ternyata itu rahasia besarnya Sunye😦 Bab ini temanya bunga, bunga rafflesia nggak ada ya disana (?)

  2. Waow this is so epic ma brother… Ternyata ada sesuatu dibalik Sunye… Ternyata di emh… Lesbi… Ehem…

    Bab kali ini nampaknya fokus dengan bunga bunga ya…

  3. “Bayaran dari sebuah pertemuan adalah perpisahan. Yang bisa kita lakukan untuk menghadapi kodrat tersebut adalah memilih cara kita berpisah. Mau terencana atau tetiba. Mau rela atau terpaksa.”

    That’s the it quote from this fic.

    Gw tidak pernah menyangka kalau kakak bakal masukkin unsur lgbt di dalam fic ini, dan pemilihan karakternya juga mengagetkan,yaitu Sunye dan Gain. Tapi, cocok sih memang. (Sekarang gue gak akan bisa memandang dua itu tanpa terbayang mereka bermesraan di bawah pohon sakura dengan kelopak bunga yang berjatuhan #halah)

    Gw juga suka banget karakter Seungyeon yang rapuh dan labil disini, bagaimanapun juga dia masih muda juga kan, ditambah dengan emosi yang meluap-luap menghasilkan campuran perasaan yang tak terdeskripsikan(tapi bisa dirasakan) disini.

    Ditambah lagi di tiap fic gue pasti belajar at least sedikit-sedikit tentang pengetahuan yang tidak umum, yang membuat fic lo lebih dari ‘cerita’ dan memiliki sedikit unsur edukasi.

    Ngomong-ngomong soal ilmu bunga yang dibahas disini, lo penggunaan bunga katakuri yang melambangan cinta pertama membuat gue bertanya-tanya apakah aksi penanaman bunga itu oleh Shim Changmin merupakan sebuah #kode untuk bab-bab berikutnya?

    Kali ini segitu saja komentar gue.

    Keep up the good work🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: