The Dawn of First March (Bab 14)

PISTOL ANAK JENDERAL

Keesokan paginya, suasana masih mendung untuk para mahasiswa Korea di Tokyo. Ada ajakan untuk mogok kuliah hingga siapa penembak sebenarnya diungkap dan diadili. Hari ini para mahasiswa Korea melakukan banyak aksi dan pergerakan menuntut keadilan kepada pihak Jepang. Aksi-aksi tersebut dipusatkan di Universitas Keio yang menjadi tempat kejadian perkara dan tuntutan diajukan kepada pihak universitas dan para mahasiswa Korea juga berencana mengajukan tuntutan kepada pemerintah Jepang di Tokyo dan juga Seoul menyusul pemberangkatan jenazah untuk dipulangkan ke pihak keluarganya di Seoul.

Pagi-pagi juga di Manseh, segenap redaksi Manseh dikumpulkan oleh Kim Hyung Joon, ketua Manseh yang sebentar lagi akan habis masa jabatannya. Pria lembut dan berwibawa itu berdiri di tengah-tengah junior-junior kebanggaannya.

“Hari ini, kita akan terus mengawal keadilan yang sedang kita teriakkan bersama-sama. Siang nanti kita akan mulai mengedarkan edaran yang memuat liputan dan penyelidikan tentang insiden perkelahian suporter dan peristiwa duka untuk kita semua, kawan kita yang tewas dikeroyok oleh para mahasiswa Jepang yang tidak bertanggungjawab,” buka Hyung Joon.

Forum masih terdiam, walaupun sebenarnya mereka semua menyimpan kegeramannya masing-masing. Hyung Joon melihat satu per satu rekan-rekannya. Ia lalu menghela napas.

“Saya berharap teman-teman di Manseh tetap bersikap netral, objektif, dan tidak terpancing emosinya,” suara Hyung Joon menenangkan. “Saya tahu peristiwa ini sangat sentimental, tapi jangan sampai sentimen tersebut mencederai keadilan kita sebagai pers dan jangan juga melukai inti dari keadilan yang sedang kita gembar-gemborkan sekarang,” di balik kata-kata yang bombastis dan biasa digunakan untuk membakar semangat itu juga Hyung Joon masih menyampaikannya dengan lembut dan nada yang teratur.

“Edaran ini dilaksanakan dengan baik sekali oleh Shim Changmin. Dan hari ini, kalian sudah dibagi ke dalam tim-tim untuk mencari berita, melakukan investigasi terhadap kejadian pembunuhan Seungri, juga menyebarkan edaran ini seluas-luasnya. Edaran ini bukan untuk memanas-manasi suasana dan hubungan antara Korea dan Jepang. Edaran ini untuk membuka mata siapapun yang membacanya, dan memberikan keterangan dari pihak-pihak yang berusaha mengaburkan kenyataan dan fakta,” Hyung Joon mengangkat edaran yang telah disebarkan ke banyak tempat tadi pagi.

Selesai rapat, Changmin menghampiri Seungyeon. “Yang semalam terima kasih. Kamu banyak sekali membantu. Tadi kamu tepat sekali langsung taruh itu di mejaku. Cukup kita berdua yang tahu. Sekarang kamu cepat pergi liputan,” kata Changmin tegas. Seungyeon hanya sempat tersenyum, mengangguk, lalu pergi.

Changmin menuju mejanya untuk mengambil tas dan kepentingan liputan lainnya. Ia masukkan semua itu ke dalam tasnya dengan terburu-buru.

“Changmin, sebentar…” Jaekyung tiba.

“Ada apa? Aku buru-buru. Kamu juga kan harus pergi liputan,” balas Changmin.

“Tentang tulisan kamu,” kalimat Jaekyung menggantung.

“Ada apa dengan tulisan aku?”

Jaekyung tersenyum. “Aku sudah menyunting tulisan kamu semalam. Gaya tulisan kamu sepertinya berbeda dengan biasanya ya? Yang ini lebih sastrawi, lebih mengalun, emosi pembaca lebih didorong naik pelan-pelan. Aku sudah rapikan ini menjadi lebih seperti lapor……” kalimat Jaekyung menggantung lagi. Changmin mengacungkan telunjuknya.

“Tidak perlu disunting. Tampilkan saja apa adanya. Kamu dengar?” balas Changmin.

Jaekyung tertegun. “A…a…ku… Ya sudah, kalau itu mau kamu. A…a…aku nurut,” jawab Jaekyung terbata-bata.

Changmin mendekatkan wajahnya ke Jaekyung. “Ibu editor, apa aku sudah boleh pergi? Peristiwa di luar sana tidak menunggu,” Changmin setengah berbisik.

Jaekyung memejamkan matanya ketakutan. “Ya, sudah. Kamu boleh pergi. Hati-hati…”

Setelah langkah kaki Changmin menjauh, Jaekyung masih menutup matanya kuat-kuat, namun kertas yang dipegangnya makin melemah. Satu per satu, kertas-kertas yang dipegangnya berguguran ke lantai.

***

“Hai Seungyeon, apa kamu sudah paham sedikit banyak kutub-kutub politis di antara mahasiswa Korea di Tokyo?” tanya Youngbae ketika mereka berdua berjalan kaki menuju Universitas Keio untuk liputan.

“Aku hanya paham sedikit-sedikit. Seungho sering cerita. Tapi benarkah terjadi kutub-kutub di antara kita yang homogen sesama Korea? Bukankah itu bahaya? Bisa jadi titik adu domba?” tanya Seungyeon.

“Kutub-kutub yang terjadi memang belum terlihat nyata dari orang luar, tapi kita yang ada di dalamnya bisa merasakan, walau perbedaan-perbedaan tersebut belum nyata dan belum ada gesekan,” jawab Youngbae.

Youngbae yang merupakan senior Seungyeon setahun di atas mulai bercerita. Pada dasarnya di antara mahasiswa Korea di Tokyo yang turut bergabung dalam perjuangan melawan Jepang memiliki cara dan tujuan masing-masing. Ada kelompok keras dan non-kooperatif melawan Jepang, kelompok ini diisi oleh anak-anak Korea yang tinggal di luar Seoul dan umumnya berasal dari daerah utara, Seungho ada dalam kelompok ini. Kelompok lainnya adalah kelompok liberal yang mengedepankan cara-cara diplomatis dan kooperatif melawan Jepang serta ingin mengadopsi nilai-nilai dan kehidupan Barat sebagai cara hidup masyarakat Korea kelak pasca kemerdekaan dari Jepang. Ada juga beberapa kelompok berbasis keagamaan. Youngbae berasal dari kelompok Kristen yang memiliki misi menyebarkan ajaran Kristen di Korea juga menyuarakan kemerdekaan Korea atas dasar hak asasi manusia dan emansipasi wanita.

“Teddy dan Jung Ah adalah penyokong utama kelompok liberal ini, sejak zaman mereka mahasiswa hingga sekarang. Mereka selalu menyediakan rumah sebagai tempat rapat dan berkumpul, terpenting adalah urusan dana. Mereka berdua punya relasi yang kuat dengan orang-orang di pemerintahan kolonial Jepang, baik di sini ataupun di Korea, juga banyak pengusaha. Wajar, dari ayah mereka,” cerita Youngbae.

“Apakah tidak ada sentimen khusus dari kelompok keras dengan kelompok liberal ini?” Seungyeon penasaran.

“Sentimen dan perbedaan pendapat pastinya ada. Tapi belum mencuat menjadi sebuah letupan pertikaian. Namun, ibaratnya selama kepala-kepala kedua kelompok ini masih berdamai, keadaan akan baik-baik saja,” jawab Youngbae.

Seungyeon tercenung, mencoba memahami cerita Youngbae dan berusaha menghubung-hubungkannya dengan keengganan Seungho berkunjung ke rumah Jung Ah.

Youngbae melanjutkan ceritanya. Youngbae bertutur bahwa koran Manseh berdiri dari kesepakatan antara kelompok keras, liberal, dan Kristiani. Mereka bersatu membuat sebuah media sebagai corong pergerakan. Setiap kepengurusan, ketua dan pemimpin redaksi Manseh digilir dari antara tiga kelompok tersebut sebagai bagian dari kesepakatan mereka.

“Hyung Joon itu dari kelompok keras. Sehabis kelompok keras, adalah gilirannya liberal jadi ketua. Tapi penyandang dana tetap dari kelompok liberal. Selalu.”

***

“Sepertinya kamu dekat sekali dengan Changmin,” ujar Seungyeon suatu hari.

“Aku banyak berterimakasih dengan dia,” kata Seungho. “Walau ada perbedaan prinsip yang berseberangan di antara kami berdua, aku dan dia saling menghormati satu sama lain. Awal-awal kami berdua jadi mahasiswa, Changmin banyak bantu aku. Apapun, masalah uang, pakaian, dan hal lainnya. Changmin itu cerdas dan visioner, terlepas dari hal-hal di kehidupan pribadinya.”

“Kami sering berdebat mengenai misalnya bagaimana perekonomian Korea harus dilaksanakan nanti. Umpamanya seseorang punya dua sapi. Apa yang harus kita lakukan sebagai pemilik sapi dan pemerintah? Menurutku, ketika seseorang punya dua sapi, maka pemerintah harus mengambil kedua sapi tersebut. Sebagai timbal baliknya, pemerintah harus memberikan susu kepada si pemilik sapi. Tetapi pemikiran Changmin berbeda. Menurutnya, sapi tersebut adalah hak milik pribadi sang pemilik dan harus digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran sendiri, pemerintah tak usah ikut campur. Pemerintah seharusnya bekerja menyediakan sarana dan prasarana untuk kehidupan rakyat, seperti jalan raya, listrik, komunikasi, telepon, dan keamanan. Begitu katanya.”

***

Di gedung rektorat Universitas Keio, banyak mahasiswa Korea masih berkumpul menyuarakan pendapatnya. Mereka rela menginap dan tidur di mana saja walaupun udara dingin menggigit. Polisi dan tentara berjaga-jaga di setiap titik kampus, agak membuat tidak nyaman bagi semua orang di sana, termasuk orang Jepang sendiri.

Seungyeon dan Youngbae menyaksikan sendiri kini mahasiswa Korea memberikan ultimatum kepada pihak universitas untuk mengusut tuntas dan memberikan hukuman kepada pelaku pengeroyokan dan penembakan Seungri paling lambat 49 hari dari sekarang. Dalam kepercayaan Buddha, 49 hari adalah rentang waktu di mana arwah berkelana menuju alam kematian untuk diadili selama perbuatan hidupnya di dunia sebelum dilahirkan kembali alias reinkarnasi. Sebelum reinkarnasi, hendaklah permintaan terakhir orang meninggal yang belum terlaksana hendaknya dipenuhi. Lebih dari 49 hari ultimatum mereka tidak dipenuhi, mereka akan melakukan aksi yang lebih keras.

Pihak universitas memilih tidak menempuh cara-cara yang represif dan penuh kekerasan untuk meredakan unjuk rasa mahasiswa Korea dan mereka juga berjanji akan mengusut tuntas kasus kematian Seungri. Sementara mahasiswa Korea yang berunjukrasa bersikeras untuk tetap bertahan di Universitas Keio dan tidak menutup kemungkinan jumlah demonstran akan bertambah banyak.

Sembari berunjukrasa, mahasiswa Korea menyerukan dan melantunkan puisi yang ditulis oleh Hyung Joon di Manseh tentang kematian Seungri. Puisi yang sengaja ditulis untuk membuat mereka tetap terjaga mencari keadilan.

Mereka bilang hidup ini singkat
dan kau hanya punya kesempatan sekilat
Tetapi bisakah aku meminta lebih,
dari kehidupanku sebelumnya
atau cukupkah yang sekarang kumiliki

Aku terbiasa takut dengan kematian
aku terbiasa berpikir bahwa kematian adalah akhir
tapi itu adalah sebelum
kini aku tak takut lagi
karena aku tahu jiwamu yang bersemayam akan menjadi semangatku

Aku mungkin tak pernah tahu jawabannya
Aku mungkin tak pernah tahu mengapa
Aku mungkin tak pernah membuktikan
Apakah kebenaran
Tetapi aku tahu aku telah mencoba

***

Tepat di hari kelima setelah kematian Seungri, pihak Universitas Keio dan polisi mengeluarkan pernyataan bahwa mereka telah mengetahui pembunuh Seungri lengkap dengan pistol barang bukti. Diketahui ia adalah mahasiswa Keio bernama Giri, tidak diungkap siapa nama keluarganya. Tak lama setelah pengumuman tersebut, Giri dikeluarkan dari universitas dan kini sedang ditahan menunggu putusan hukuman dari pengadilan.

Namun masalah tidak berhenti sampai di sini, karena kemudian terdengar kabar bahwa Giri bukan pelaku sebenarnya. Ia hanyalah seseorang yang ditumbalkan untuk menyembunyikan pelaku sebenarnya yang ternyata seorang anak jenderal angkatan laut yang kuliah di Keio. Terang saja kabar ini membuat berang banyak orang dan menimbulkan polemik di antara orang Jepang dan Korea.

“Busuk semuanya! Kenapa jadi begini akhirnya?! Toh kita semua tahu Giri tidak bersalah!” ujar Changmin penuh emosi dalam rapat dadakan di kantor Manseh. Selain jajaran redaksi Manseh, hadir pula Seungho, Kim Junsu yang selama ini memimpin demonstrasi, dan beberapa mahasiswa dari elemen tertentu.

“Pistol yang jadi barang bukti pembunuh Seungri itu pistol Nambu. Pistol semi otomatis pula! Tidak sembarang orang bisa punya, kecuali angkatan darat dan angkatan laut. Apalagi saksi-saksi teman-temannya Giri sudah bilang latar belakang keluarga Giri tidak memungkinkan dia untuk punya pistol itu. Giri itu kan cuma anak guru! Dipikir kita bisa dibohongi dengan pengadilan sandiwara macam ini!” protes Changmin.

“Hyung Joon!” panggil Changmin.

“Ya, kau hendak bilang apa lagi?” tanya Hyung Joon yang turut serta dalam rapat.

“Saya minta izin mewawancarai Giri dari tahanan atau darimanapun itu!” tegas Changmin.

“Changmin, aku rasa itu berlebihan!” sahut Seungho.

“Berlebihan?! Berlebihan bagaimana maksudmu?” tepis Changmin.

Pistol Nambu

“Berlebihan karena mau anak Jepang itu difitnah sebenarnya bukan urusan kita. Kita biarkan saja Jepang-jepang itu bertengkar sendiri, antara pihak yang membela anak jenderal yang menembak Seungri dengan yang tidak setuju dengan penangkapan Giri. Kalaupun memang Giri tidak bersalah, kita tidak ada campur tangan kita dengan mereka. Biarkan itu menjadi urusan dalam negeri Jepang sendiri!” jelas Seungho.

Changmin tampak sangat terkejut. “Seungho! Bagaimana mungkin kau bisa punya pikiran sepicik ini? Aku tahu kau sangat benci dengan Jepang! Tetapi perlu kau tahu bahwa kau juga harus mengukur kebencian itu dengan proporsional. Kita semua di sini teriak-teriak mengalami ketidakadilan. Tetapi ketika ketidakadilan itu menimpa orang Jepang, kita malahan diam, mentang-mentang Jepang itu musuh kita. Tidak bisa begitu! Itu berarti kita yang malah tidak adil serta tidak konsisten dengan ucapan dan perbuatan! Kalau demikian, apa bedanya kita dengan Jepang-jepang penjajah itu?” bantah Changmin.

“Seungho benar. Pihak Jepang menggali kuburannya sendiri dengan kasus ini. Dari awal Jepang memang sudah kalah, tidak ada solusi menang untuk mereka. Jika mereka mengungkap pelaku sebenarnya, mereka sudah kalah karena memenuhi tuntutan kita. Sekarang mereka malah menumbalkan seseorang yang tidak bersalah, itu lebih-lebih lagi menjadi senjata makan tuan untuk mereka. Mereka akan terbagi menjadi dua pihak, dan itu akan menjadi keuntungan untuk kita!” timpal Kim Junsu.

“Omong kosong! Menyedihkan kalian semua!” hardik Changmin sambil menunjuk-nunjuk Junsu dan lantas hendak menyerangnya.

Semua peserta rapat dengan sigap langsung menahan Changmin dan melindungi Junsu dari ancaman Changmin.

“Changmin, berhenti!” tegur Hyung Joon. “Aku harap kau keluar sebentar dari ruangan ini untuk menenangkan diri! Semuanya, silakan duduk kembali,” lanjut Hyung Joon. Semua peserta rapat kembali duduk setelah Changmin dapat ditenangkan, walaupun ia tetap masih dalam posisi berdiri dengan tangan terkepal di atas meja.

“Tidak perlu sebentar saya keluar. Saya akan tinggalkan rapat ini, atau memang sebaiknya segera dibubarkan saja. Banyak pikiran-pikiran sesat yang mulai menggelayut di antara kita. Saya keluar, saya masih peduli dengan ketidakadilan yang menimpa Giri. Yang masih peduli, apapun golongannya, saya harap ketegasan sikap kalian juga ikut meninggalkan ruangan seperti saya,” ajak Changmin. Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, Changmin keluar meninggalkan rapat.

Tak lama, seorang pria tinggi berkulit putih bersih berdiri lalu membungkukkan badan. “Saya Choi Siwon, dari mahasiswa Kristen. Maaf, saya juga izin meninggalkan rapat ini. Hendaknya kita berbuat adil walaupun hanya dalam pikiran saja. Sekian, terima kasih,” dan ia juga turut meninggalkan ruangan diikuti beberapa orang lainnya.

***

Semburat langit biru di hari menjelang sore dihiasi serat awan berbentuk garis lurus tipis memayungi Tokyo hari ini. Seungyeon dan Seungho sedang berjalan-jalan mengisi hari mereka. Di pinggir jalan di depan Hotel Tsukiji Seiyoken mereka berhenti. Seungyeon bersandar pada beton pembatas antara jalanan dengan sungai dengan posisi yang memungkinkannya menatap bangunan hotel Seiyoken yang kental Eropanya itu. Seungho berdiri di depan Seungyeon agak menyamping.

Sesekali Seungho merapikan rambut Seungyeon yang berantakan tertiup angin. “Tidak biasanya kamu tidak menggelung rambut,” ujar Seungho.

“Aku sedang malas. Beberapa hari belakangan, keadaan yang kurang aman bikin aku gak sempat memperhatikan diriku sendiri,” jawab Seungyeon.

Seungho tersenyum. “Asal kamu jangan sampai lupa memperhatikan aku saja,” celetuk Seungho jahil.

Seungyeon mengangkat alisnya. “Kamu berusaha mancing aku ya?”

Seungho merentangkan tangannya. “Memancing kamu buat apa? Kamu aja yang terlalu sensitif dan cepat berprasangka,” Seungho terbahak.

“Adapun kamu yang seharusnya lebih sensitif dan cepat berprasangka,” tukas Seungyeon.

“Karena apa? Karena kamu yang belakangan banyak dikelilingi lelaki-lelaki cerdas dan pemberani di Manseh?” sahut Seungho.

“Kamu cemburu?” goda Seungyeon.

Seungho mendekatkan wajahnya ke Seungyeon. “Menurutmu?” tangan Seungho mengusap bagian belakang kepala Seungyeon dan mengajak dahi Seungyeon bertemu dengan dahinya.

“Jepit rambut yang aku kasih masih ada kan? Tidak kamu pakai?”

“Ada di kamarku. Tenang saja, tidak rusak atau hilang kok.”

“Tidak juga kamu pinjamkan ke teman-teman perempuan kamu yang genit itu kan? Kamu sudah janji loh,” Seungho merajuk manja seperti seekor kucing kecil.

“Seungho, berhenti lah……. Kamu gak ada lucu-lucunya dengan wajah seperti itu, paham?” Seungyeon tersenyum kecil.

“Ngomong-ngomong tentang Manseh……” kata Seungho dengan raut wajah serius.

Seungyeon menghela napas. “Kita sudah janji kan untuk sesedikit mungkin membahas soal Manseh atau urusan berat lainnya saat kita sedang berduaan seperti ini?” Seungyeon membuang mukanya ke atap biru hotel Seiyoken.

“Maaf Seungyeon. Tapi aku harus bicara tentang ini. Seungyeon, jujur aku bangga dengan pencapaian kamu masuk Manseh. Tidak mudah untuk masuk ke sana dan tidak semua orang berani untuk bergabung dengan Manseh. Masuk Manseh berarti kamu harus siap menjadi baris terdepan dalam perjuangan Korea melawan Jepang,” Seungho menggenggam tangan Seungyeon erat.

“Ya. Aku tahu. Apa aku salah?”

Seungho menggeleng. “Tidak. Kamu tidak salah. Aku selalu mendukung di belakangmu. Kita sama-sama berjuang dengan cara kita masing-masing. Aku turun ke jalan dan berseru-seru sementara kamu bersenjatakan kata-kata. Tapi aku mohon dengan sangat, Seungyeon, sayangku……”

“Aku tidak mau kalau kamu terlalu jauh turun ke dalam gelanggang.”

Hening.

“Intinya aku khawatir soal keselamatan kamu. Kamu akan bergulat dengan perihal-perihal yang dengan mudah bisa membahayakan nyawa kamu. Apalagi kita ada di negara orang.”

Seungyeon berusaha melepaskan tangan Seungho. “Aku gak suka kamu jadi cengeng begini!” lawannya.

Seungyeon menggigit bibirnya. Tidak, ia harus berhenti menggigit bibirnya. Sebelum bibirnya berdarah. Sebelum air matanya tumpah.

Hening lagi.

“Kita pulang saja,” Seungyeon merengut. “Kita kan sudah sepakat untuk membebaskan diri kita masing-masing melakukan kegiatan yang kita suka,” protes Seungyeon. “Kenapa sekarang kamu berubah secepat ini? Kalau kamu bisa dan boleh membatasi aku seperti ini, aku seharusnya juga boleh membatasi kegiatan aktivis kamu dan memaksa kamu untuk kembali ke bangku kuliah dan lebih rajin belajar!” lanjutnya.

“Baik, baik…” Seungho mengangguk. “Aku cuma pesan kepada kamu hati-hati. Jangan terlalu naif,” Seungho menepuk kepala Seungyeon pelan.

Seungho memilih mengalah, tetapi Seungyeon tidak terlihat membaik. “Ya sudah, kita jalan lagi ya. Kamu mau ke mana? Kita ke Sungai Sumida, putar-putar naik perahu?”

***

“Seungho?” panggil Seungyeon saat mereka berdua sedang duduk di dalam sebuah perahu kecil beratap. Sang pembawa perahu berdiri membelakangi mereka dan mengayuh perahu dengan sebilah bambu panjang. Malam baru saja turun, namun sungai Sumida semakin terang dengan lampion-lampion yang digantungkan di dermaga dan perahu-perahu yang turun ke sungai.

“Ya, Seungyeon?” bisik Seungho. Seungyeon merebahkan kepalanya di pundak Seungho.

“Kenapa aku belum lihat perahu hiburan?” Seungyeon mengeluarkan suara berdengung tak jelas. Perahu hiburan yang dimaksud Seungyeon adalah perahu yang ditumpangi oleh para geisha dan umumnya diadakan pesta di atas perahu tersebut.

“Malam belum terlalu larut, Seungyeon,” Seungyeon tak juga mengangkat kepalanya. Seungho mengusap bagian rambut Seungyeon yang menutupi telinga.

“Seungho?”

“Ya?”

“Apa kamu tahu kenapa geisha-geisha itu selalu memakai riasan wajah yang tebal sekali?”

“Seungyeon, kamu bicara apa sih?” Seungho mulai risau. Sebelum naik perahu tadi, mereka hanya minum sake sebotol kecil berdua. Tak mungkin Seungyeon mabuk secepat ini.

“Seungho, apakah aku akan tetap cantik dan kamu akan tetap suka kalau aku pakai bedak tebal seperti para geisha itu?”

“Konon agar wajah para geisha itu mirip dengan kulit wajah milik wanita China. Ada juga yang bilang agar putihnya seperti wajah perempuan Barat.”

“Seungho……” panggil Seungyeon lemah. Ia mendekap tubuh Seungho. Terasa dekat dan hangat. Tetapi entah mengapa Seungyeon merasa hati dan perasaannya berada di tempat yang sangat jauh.

“Kalau perahu ini terus didayung, apa aku bisa sampai ke Korea, Seungho?”

“Kenapa Korea, Seungyeon?”

“Ada banyak hal yang aku tinggalkan di sana.”

“Aku dengar banyak orang diselundupkan dari Korea ke China.”

“Apa yang mereka cari di sana? Mereka hidup tapi tidak punya tujuan.”

“Kalau kau hendak pulang berlayar dan kau hanya diizinkan membawa satu jenis barang, apa yang akan kau bawa, Seungyeon?”

“Buku. Buku yang banyak sekali. Mungkin aku akan minta izin Kak Jung Ah pinjam rak buku beserta isinya sebagai kapalku berlayar.”

“Buku. Kenapa buku?”

“Supaya kalau kapalku karam dan tenggelam, aku masih bisa mengapung di laut dan menggantungkan hidupku pada buku-buku tebal itu,” Seungyeon terkekeh lalu tiba-tiba cegukan.

“Memangnya bisa kamu berlayar dengan rak buku?”

“Percayalah, Seungho, percayalah. Kalau kamu saja percaya denganku untuk jadi kekasihmu, kenapa kamu harus tidak percaya aku bisa berlayar dengan rak buku?”

“Seungho, mataku silau. Aku mau tidur, Seungho, aku mau tidur…”

***

Eunjung membukakan pintu kamar Seungyeon. Pelan-pelan Seungho merebahkan tubuh Seungyeon di atas tempat tidur.

Kesadaran Seungyeon belum sepenuhnya hilang. Ia masih bisa mendengar pintu gerbang rumah dibuka dan langkah kaki Seungho yang diseret pulang meninggalkannya. Ia memiringkan badannya ke kiri dan air matanya jatuh membasahi bantal.

Sementara di lantai bawah, para penghuni rumah yang masih terjaga bersorak-sorak mendengar kabar Shim Changmin diangkat menjadi ketua Manseh.

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on January 9, 2012, in Fanfiction, The Dawn of First March. Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. Kak,still amazed by the fact that you read a lot for this fic. Gw jadi tau banyak soal sejarah. Bener-bener tipikal fanfic yang beda, soalnya dia informatif juga.

    Imo this part is the most ‘datar’ dan serius dengan klimaks yang minimum. Tapi,meskipun flat,untuk part kali ini, gue cukup nyaman sih membacanya.

    Kinda surprised lo masukkin giri jadi cameo disini lol *langsung kebayang mukanya pas baca*

    Changmin itu yg ideologinya keras atau liberal sih,kak? Kalau aturannya yg jadi ketua si liberal,berarti Changmin itu si liberal,kan?

    Dan itu Siwon ngapain dimasukkin ke situ? Akankah banyak perannya?

    +

    “Seungho?” panggil Seungyeon saat mereka berdua sedang duduk di dalam sebuah perahu kecil beratap. Sang pembawa perahu berdiri membelakangi mereka dan mengayuh perahu dengan sebilah bambu panjang. Malam baru saja turun, namun sungai Sumida semakin terang dengan lampion-lampion yang digantungkan di dermaga dan perahu-perahu yang turun ke sungai”

    Adegan ini penggambarannya indah banget,kebayang betapa bagusnya itu sungai pas malam hari dan ada lampion2nya.

    • Thanks for reading and comment, Cha.

      Di sini Changmin itu pihak yang liberal, that’s why dia bisa jadi ketua Manseh periode sekarang. Pemikiran liberalnya (kapitalis) juga tercermin dalam dialognya dengan Seungho tentang dua sapi.

  2. Yeah, saya jadi kambing hitam disini. Hem… berasa pengen nyanyi lagu wali, kalau melihat peran saya disini.

    “Apa salahku… apa salah ibuku? hidupku… dirundung pilu…”

    Ini bukan fanfic biasa, menelisik sisi sejarah bangsa lain. Tanpa riset yang dalam ga mungkin bisa dipaparkan sejelas ini nih bang… ente hebat….

    • Mbing, kambing, eeehhh maksudnya Giri. Ahahahahaha, monggo nanti nyanyi lagu Wali nya pas pengadilan aja.

      Nanti cerita elo belum berakhir di sini, ada sambungannya kok, hehehehehehe.

      Terima kasih untuk pujiannya ya, gue masih terus riset dan menggali😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: