The Dawn of First March (Bab 13)

PENULIS HANTU

Sebulan sudah Seungyeon diangkat menjadi anggota baru redaksi Manseh. Belum ada pengangkatan resmi dari organisasi. Rencananya pengukuhan anggota baru akan dilakukan bersamaan dengan terpilihnya ketua Manseh yang baru.

Hari ini akan diadakan pertandingan persahabatan bisbol antara mahasiswa Korea melawan mahasiswa Jepang yang diadakan di lapangan bisbol milik Universitas Keio. Seungyeon bersama beberapa rekan redaksi Manseh, termasuk Changmin akan berada di sana untuk kepentingan liputan, juga teman-teman Korea lainnya yang turut menonton pertandingan yang cukup bergengsi itu.

Atmosfer persaingan kental terasa saat memasuki lapangan. Suporter dari kedua negara telah menduduki tempatnya masing-masing. Yel-yel meledek dan mengolok-olok mulai terdengar dari kedua belah pihak. Seungyeon yang telah menempati tempat duduknya berderet dengan rekan-rekannya merasakan suasana penuh permusuhan.

“Tampaknya ini akan jadi pertandingan yang panas…” bisik Changmin kepada Seungyeon sembari menenggak birnya.

“PERAMPOK! PEMBUNUH! WAENOM! JEPANG ORANG KERDIL!” seorang suporter dari pihak Korea berseru ke arah pihak Jepang yang didukung oleh sesama mahasiswa Korea. (waenom = kerdil)

CHON! KIMUCHI YAROO! KIMCHI BANGSAT!”

Caci-maki itu terus berlangsung mengompori pertandingan bisbol yang akhirnya dimenangkan pihak Korea. Terutama suporter Jepang yang terus-terusan melancarkan ejekan.

“PA, PI, PU, PE, PO! PA, PI, PU, PE, PO!” para suporter Jepang menirukan bagaimana orang Korea membunyikan silabel “ba bi bu be bo” menjadi “pa pi pu pe po” setiap kali pihak Korea mendapat giliran memukul bola.

Hingga setelah para pemain meninggalkan lapangan, perkelahian antar suporter tak terelakkan lagi. Dengan benda apapun yang ada di sana yang dapat menjadi senjata, mahasiswa Korea dan mahasiswa Jepang saling baku hantam. Mahasiswa Korea yang hendak melarikan diri dari lapangan dicegat oleh mahasiswa-mahasiswa Jepang yang memang tersebar di berbagai penjuru lapangan. Yang berhasil lolos hingga ke luar lapangan tak bisa menghindar dengan selamat.

“YOUNGBAE! Lindungi para wanita! Ikut aku!” Changmin dengan sigap memerintahkan Dong Youngbae, salah satu bawahannya di redaksi Manseh untuk melindungi beberapa perempuan yang turut dengan mereka, termasuk Seungyeon. Changmin melepaskan mantelnya dan meminta para perempuan untuk melindungi kepala dan wajah mereka dengan mantel itu bersama-sama dan berjalan beriringan di belakangnya. Changmin berdiri paling depan dan Youngbae menjaga di belakang, dan seorang laki-laki lagi menjaga di tengah.

Mereka mengendap-endap dan menyelinap di balik kerusuhan tersebut. Mereka dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi. Kepala-kepala yang dibenturkan ke tanah dan dinding, kayu-kayu yang digunakan untuk memukul punggung, wajah, dan kaki, juga tangan-tangan kosong saling meninju.

“Changmin, kita mau ke mana? Jalan keluar keluar universitas ke sebelah sana,” seorang rekannya bernama Go alias Jung Byung Hee menunjuk ke sebuah arah selagi mereka sampai di tempat yang cukup aman, steril dari kerumunan suporter.

“Jangan protes! Ikuti aku saja!” tegas Changmin.

“Kalian jangan buka mantel yang menutupi kepala kalian dulu! Ayo semua cepat jalannya” sambung Changmin dengan napas yang memburu.

Changmin membimbing mereka ke sebuah taman sepi yang ditumbuhi pepohonan yang cukup rimbun. Changmin melambaikan tangannya memberikan isyarat untuk terus menuju ke suatu arah, hingga mereka dapat melihat sebuah tembok yang cukup tinggi.

“Go, Youngbae, tolong bawa para wanita kabur dari sini dengan memanjat tembok, di balik tembok ini adalah gedung Belanda. Dari sini kalian langsung pulang, aku akan kembali ke lapangan mengawasi kondisi,” perintah Changmin. Gedung Belanda yang dimaksud oleh Changmin adalah gedung fakultas hukum Universitas Keio.

“Apa? Memanjat tembok? Changmin, aku pakai rok! Begitu juga dengan yang lain!” Seungyeon menyingkap mantel Changmin dan menunjuk dua teman perempuannya.

“Seungyeon, kamu tenang ya…” Changmin membuka kedua telapak tangannya di depan Seungyeon. “Untuk kali ini saja, aku janji. Ini demi keselamatan kalian. Kita akan bantu kalian melewati tembok itu.”

Mereka berjalan mendekati tembok itu. “Sekarang, Go, kau duluan memanjat tembok. Sampai di balik tembok, kau bantu para wanita turun. Cepat!” Go langsung menuruti perintah Changmin dan ia memanjat lalu lompat dan menghilang di balik tembok.

“Seungyeon, kau berikutnya,” tunjuk Changmin.

“Aku? Changmin, enggak! Kamu gila!” bentak Seungyeon.

“Tidak, tidak. Aku serius, Seungyeon,” balas Changmin. Ia langsung membungkukkan badannya dan menunjuk ke arah punggungnya sendiri. “Seungyeon, kau naik punggungku ini. Ayo.”

“Bagaimana kalau kita tertangkap dan ketahuan oleh pihak fakultas sebagai penyusup?” Seungyeon cemas.

“Go bisa atur semuanya. Ia akan jamin kalian para wanita bisa pulang terlebih dahulu, biar kami para lelaki yang tinggal di sini kalau-kalau kalian tertangkap!”

Seungyeon ragu, namun karena desakan teman-temannya, Seungyeon memberanikan diri.

“Changmin, maaf ya…”

“Sudah tak apa. Cepat!” dan Changmin merelakan punggungnya, atau tepatnya kemeja putihnya kotor karena menjadi pijakan bagi Seungyeon. Changmin yang menumpukan kedua tangannya di lututnya menahan napas saat Seungyeon mulai menaiki punggungnya.

“Bagus, Seungyeon, bagus…” gumam Changmin.

“Youngbae! Jangan berdiri di belakang Seungyeon persis. Kau mau lihat apa, hah?” tegur Changmin.

Seungyeon yang sudah hampir sampai di atas menoleh ke bawah dan tertawa meringis, begitu juga dengan yang lain menahan tawa melihat Youngbae ditegur oleh Changmin.

“Pindah kau di sampingku!” tegur Changmin sekali lagi.

“Go, bersiap! Seungyeon sudah sampai di atas!”

“Siap!” balas Go dari balik tembok.

Hingga Changmin merasa Seungyeon sudah tak ada lagi di atas punggungnya, menyusullah dua perempuan lainnya, hingga tersisa Youngbae seorang diri.

Changmin berdiri ke posisi tegak seperti semula. “Tinggal kau, langsung kau memanjat tembok dan pergi!”

“Tapi, Changmin…” sela Youngbae. Pria pendek berambut cepak yang lucu bila tersenyum itu tampak panik.

“Apa? Kau mau naik punggungku juga? Jangan harap! Kau naik pohon saja. Aku tinggal kau di sini, aku harus balik ke lapangan. Aku tidak mau dengar kata tidak!”

***

Sebuah motor Harley Davidson yang ditumpangi dua orang melintas di dekat lapangan bisbol tersebut. Tiba-tiba sang pengendara motor merasa ia ditimpuk batu oleh seseorang yang tak jelas darimana asalnya. Dengan penuh kemarahan, ia hentikan motornya, ia turun dan menghardik.

Harley Davidson awal abad 20

“Hei, siapa yang berani lempar batu ini? Kalo berani, ayo keluar!”

Tak lama keluarlah segerombolan pemuda yang bersembunyi. “Korea!” teriak seorang dari mereka. Sang pengendara motor itu ditarik kerahnya dan langsung dikeroyok oleh anak-anak tersebut yang ternyata mahasiswa Jepang. Sementara temannya yang membonceng motor tersebut lari dan tidak dikejar.

Anak muda yang menjadi korban pengeroyokan tersebut diperlakukan layaknya bola, dilempar ke sana kemari sembari dihajar dengan kepalan tangan serta dan ditendangi. Pengeroyokan itu terus berlanjut hingga anak muda tersebut terperosok ke dalam parit dan salah seorang dari mahasiswa Jepang itu mengeluarkan sebuah pistol dan anak muda itu ditembak dua kali di bagian dada.

Baka!” seorang mahasiswa Jepang mendorong kepala anak yang memegang pistol tadi. (Baka = bodoh)

“Kalau dia mati bagaimana? Bisa panjang urusannya!”

“Kita pergi! Bawa si Korea ini! Pakai mobil!”

***

Perkelahian antar suporter berhasil ditenangkan oleh polisi. Changmin yang kembali ke lapangan menyaksikan bahwa kumpulan massa berhasil dilerai dan dihalau ke dua tempat yang berlainan.

Changmin berlari menghampiri seorang polisi yang sedang bertugas. “Pak, maaf, sebentar. Saya dari koran kampus Universitas Tokyo. Wawancara sebentar, bisa, Pak?”

“Maaf, Nak. Jangan sekarang. Kami sedang bertugas,” tolak polisi tersebut.

“Ke mana mereka akan dibawa, Pak?” tanya Changmin melihat polisi mengisolasi kerumunan massa di lapangan dan sebagian massa dibawa keluar lapangan.

“Mahasiswa Jepang kita tahan di lapangan, kita pisahkan dengan mahasiswa Korea yang akan kita ungsikan dan amankan di gerbang depan,” jawab polisi tersebut.

Mendadak dari luar, muncul seorang anak muda yang berlari seperti kesetanan dan menghampiri seorang polisi meminta bertemu dengan sang komandan polisi.

“Pak! Saya mau ketemu dengan komandan Bapak! Saya ingin minta keadilan dan tanggung jawab teman saya dikeroyok di dekat lapangan oleh anak-anak Jepang!”

Changmin yang melihat keganjilan itu langsung mendekat. “Kankoku?” sapa Changmin kepada anak itu. (Korea?)

Anak itu menoleh ke Changmin. “Manseh. Tokyo Daigaku,” lanjut Changmin. (Manseh. Universitas Tokyo)

“Manseh! Saudaraku!” anak itu memegang bahu Changmin dan mengguncang-guncangnya. “Pertemukan saya dengan komandan polisi. Pak polisi, Kakak! Tolong saya!”

Changmin dan polisi tersebut mengantarkan anak muda yang diketahui bernama Choi Minho itu untuk menemui Komandan Koiso, pejabat polisi daerah Tokyo yang kebetulan berada di lokasi kejadian. Siang itu menjadi hari yang kacau di universitas Keio dan hari yang mencekam untuk para mahasiswa Korea di Tokyo. Kabar menyebar luas bahwa ada seorang mahasiswa Korea menjadi sasaran pengeroyokan oleh mahasiswa Jepang dan seluruh mahasiswa Korea di Tokyo segera dibubarkan dari kegiatan belajar mengajar di kampus dan disarankan untuk tidak keluar dari tempat tinggal atau asrama masing-masing. Kantong-kantong komunitas Korea di Tokyo dijaga ketat oleh polisi.

***

Malam harinya di depan pintu gerbang rumah Jung Ah, terlihat Francis terlibat adu mulut dengan Seungho.

“Tolong bawa Seungyeon keluar. Saya mau bertemu,” pinta Seungho.

“Kenapa tidak kau saja yang masuk? Kau kan pacarnya! Bukankah kau tahu sendiri kondisi sedang kurang aman? Aku tidak akan mengizinkan Seungyeon keluar dari rumah sampai keadaan aman!” balas Francis.

“Saya tidak akan pernah lagi menginjak masuk ke dalam rumah yang isinya dipenuhi oleh kesombongan dan arogansi ini! Kalian ini orang-orang kaya yang hidup makmur menumpang penjajahan Jepang! Tidak berguna kalian untuk bangsa,” ujar Seungho ketus.

“Hei kau kalau hanya ingin berkelahi denganku tak usah kau capek-capek datang ke tempatku. Kau hanya akan mengotori rumah Kak Jung Ah saja!” Francis mendorong Seungho.

“Bajingan tengik!” maki Seungho.

Hampir saja mereka berdua berkelahi kalau saja tidak ada seseorang yang baru datang dan langsung melerai.

“Ja… ja…ngan berantem!”

“Ryeowook!” panggil Francis dengan suara keras.

“I… i… iya?” balas orang yang baru datang itu.

“Ke atas cepat, ke kamar Seungyeon, bawa dia ke bawah sini!” perintah Francis.

Francis dan Seungho saling bertukar tatapan penuh amarah. Ryeowook langsung berlari cepat masuk rumah. Francis meninggalkan Seungho yang masih berdiri di depan gerbang. Di teras rumah, Francis berdiri menunggu Seungyeon.

Tak lama terlihat Seungyeon muncul dengan posisi Ryeowook yang ketakutan di belakangnya. “S…S…Seungyeon…… Francis berantem di luar… K…k…kau dicari sama dia!”

“Francis?” Seungyeon melihat Francis sudah berdiri sambil berkacak pinggang. Napasnya memburu dengan emosi memuncak. “Francis, ada apa, Francis?”

“Ryeowook, masuk…” suruh Francis.

Ryeowook tak juga bergerak, ia masih membuntuti Seungyeon. “RYEOWOOK, MASUK!” bentak Francis keras. Kali ini ampuh membuat Ryeowook kabur ke dalam rumah dan membanting pintu.

Seungyeon melihat kejadian ini heran. “Francis! Ini ada apa sebenarnya?” tanya Seungyeon dengan nada suara yang mulai meninggi.

Francis menelan ludah. “Kamu ikut aku, ada yang mau ketemu kamu di depan,” Francis melunakkan suaranya dan mengajak Seungyeon menemui Seungho.

“Seungho!”

“Seungyeon…” Seungho langsung menyambut Seungyeon dan memegang tangannya erat. “Kamu baik-baik aja kan? Maaf aku baru bisa temui kamu sekarang. Aku benar-benar cemas tadi seharian mikirin kamu karena aku ingat kamu lagi ada tugas liputan di Keio. Gimana ceritanya kamu bisa pulang?”

“Ceritanya panjang, Seungho. Besok aku ceritakan.”

“Ya sudah kalau demikian,” Seungho membelai rambut Seungyeon. Diliriknya Francis yang masih berdiri beberapa jarak mengawal Seungyeon di belakang.

“Kamu sendiri dari tadi ke mana saja?” tanya Seungyeon.

Dan Seungho menceritakan kejadian yang sama tadi siang. Ia tidak ikut menonton pertandingan bisbol, namun saat berita tentang pengeroyokan tersebut tersebar, Seungho berkumpul dengan teman-teman sesama aktivis Korea di kampus membahas aksi menuntut pertanggungjawaban pihak Jepang, namun diskusi tersebut keburu dibubarkan polisi yang sedang berpatroli di areal kampus-kampus di mana banyak terdapat mahasiswa Korea. Dan kini Seungho hendak bergabung dengan Changmin bersama polisi mencari keberadaan anak yang dikeroyok tersebut.

“Ya, Seungho, ya. Kamu sabar ya…” Seungyeon berusaha menenangkan Seungho. Ia menempelkan keningnya ke kening Seungho dan mengelus-elus punggungnya. Setelah itu, Seungho pun pamit pergi.

Seungho yang berapi-api selalu dapat didinginkan oleh Seungyeon. Apabila Seungho adalah hujan badai yang mengamuk, maka Seungyeon adalah dinding bendungan yang menahan agar air hujan tidak meluap membanjir.

“Memangnya begitu cara memperlakukan pacar?” gumam Francis.

Seungyeon berbalik badan. “Francis?”

“Ya?”

“Kita ke dalam.”

“Ya. Hmmm Seungyeon, yang tadi maaf ya, aku marah-marah…”

“Gak apa-apa. Kamu kenapa berantem sama Seungho?”

“Sudahlah, Seungyeon. Bukan apa-apa kok. Aku janji enggak lagi…”

***

Bersama sang perwira polisi, Komandan Koiso, Changmin dan Choi Minho berkeliling dari satu rumah sakit ke rumah sakit di Tokyo. Sejauh ini hasilnya masih nihil, tidak ditemukan teman Minho yang bernama Lee Seungri itu di setiap rumah sakit.

Di rumah sakit Santo Lukas, rumah sakit modern Jepang pertama yang didirikan tahun 1902, mereka hanya menemukan dua mahasiswa Korea yang terluka dalam kerusuhan tadi.

Rumah Sakit Santo Lukas (St. Luke) Tokyo setelah renovasi tahun 1904

Dengan lega, Komandan Koiso yang bertubuh gempal dan bermuka masam itu menarik napas lega. “Syukurlah. Ini tidak apa-apa kan? Hanya luka-luka dan lecet saja,” ujarnya saat mereka bertiga keluar dari ruang perawatan.

“Pak! Selain mereka, saya yakin masih ada satu lagi korban, Pak! Teman saya itu, Pak! Pak, kita harus temukan Seungri! Saya sempat melihat bahwa teman saya itu dibawa dengan omnibus Yoshida meninggalkan lapangan setelah dikeroyok!” desak Minho.

Omnibus Yoshida

“Pak, mereka yang punya omnibus pastinya bukan mahasiswa Jepang biasa. Pastinya mereka anak-anak orang berada yang bersekolah di Keio. Pak, sebaiknya Bapak sebar personel Bapak untuk menggeledah semua mahasiswa dan suporter Keio yang ada di sana saat kejadian berlangsung,” Changmin bersuara.

“Tidak bisa semudah itu. Penggeledehan asal-asalan dapat menimbulkan keresahan,” belum selesai Komandan Koiso berbicara, seorang anak buahnya berlari tergopoh-gopoh mendekatinya.

“Pak, serombongan mahasiswa Korea akan menggeledah rumah-rumah sewa mahasiswa Jepang di daerah Roppongi,” lapornya.

Mereka bergegas menuju daerah Roppongi. Terlihat salah satu rombongan mahasiswa sedang dihalang-halangi memasuki daerah Roppongi oleh tentara. Kebetulan, Roppongi sejak tahun 1890 menjadi basis tentara kekaisaran Jepang dan karenanya Roppongi meriah akan kehidupan malam.

Kedatangan Komandan Koiso membuat mahasiswa Korea diizinkan memasuki daerah Roppongi sekaligus meredakan pertikaian yang nyaris terjadi. Dengan pengawalan ketat, mahasiswa diperbolehkan meninjau rumah-rumah sewa yang dihuni oleh mahasiswa Jepang dengan pendampingan dari polisi dan tidak berbuat kekerasan. Mahasiswa Korea tersebut membagi diri ke dalam grup-grup kecil yang disebar untuk membantu pencarian. Dari antara sekian banyak mahasiswa Korea tersebut, terdapat Seungho di sana.

Changmin memutuskan mengikuti Seungho masuk ke rumah-rumah sewa tersebut. Mereka menyaksikan polisi memeriksa dengan detail setiap bagian rumah. Di kamar, di dalam lemari, di dapur, hingga di kolong kotatsu alias meja penghangat yang ditutupi oleh futon atau selimut tebal. Satu jam setelah itu, terdengar suara ribut-ribut dari luar. Beberapa mahasiswa tadi mengajak semua rekannya dan para polisi untuk bergerak menuju ke suatu rumah. Dari kasak-kusuk terdengar bahwa anak yang dikeroyok tersebut telah ditemukan di sebuah rumah. Seungri ditemukan jenazahnya. Mati.

Dalam perjalanan yang ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 10 menit, Minho merajuk agar ia ditempatkan di baris terdepan agar dapat melihat kondisi jenazah temannya terlebih dahulu. Seorang mahasiswa Korea bertubuh kurus dan berambut ikal menjadi penunjuk jalan. Di sebuah rumah yang cukup mewah untuk ukuran rumah sewa mahasiswa, mereka berhenti. Beberapa polisi langsung mengikuti mahasiswa menuju belakang rumah, sementara beberapa polisi menahan mahasiswa lainnya agar tidak merangsek ke dalam rumah.

Changmin dan Seungho turut masuk ke dalam rumah mendampingi Komandan Koiso. Situasinya sungguh tidak wajar. Jenazah Seungri disembunyikan di dalam kolam, dalam keadaan kaki diikat batu agar tenggelam ke permukaan kolam. Wajahnya remuk. Minho menangis meraung-raung.

***

Lepas tengah malam, seseorang berlari dan menggedor-gedor pintu gerbang rumah Jung Ah. Orang tersebut didekati oleh penjaga rumah. Dengan pengawalan sang penjaga, orang tersebut dibawa masuk ke dalam rumah. Di dalam, mereka disambut oleh Jung Ah yang masih terjaga.

“Anda siapa? Mau cari siapa malam-malam begini?” tanya Jung Ah langsung.

“Maaf Nona Jung Ah, saya orang suruhan Shim Changmin. Saya harus bertemu Nona Han Seungyeon sekarang. Ada barang pesanan dari beliau yang harus disampaikan,” pria bertopi dan bertubuh pendek itu menunjukkan sebuah bungkusan.

“Apa ini?” Jung Ah langsung mengambil bungkusan tersebut. “Kertas?” diraba bungkusan itu oleh Jung Ah.

“Maaf, saya tidak boleh memberitahu apa isinya dan bungkusan ini juga hanya boleh dibuka oleh Nona Seungyeon langsung.”

Jung Ah terlihat kesal dan penasaran juga sedikit tersinggung. “Kalau saya boleh tahu, ini urusan apa?”

Orang Jepang pengantar pesan itu awalnya menggeleng dan bersikeras untuk menyimpan rahasia. Namun Jung Ah terus mendesaknya dengan berbagai alasan dan pembelaan. Hingga akhirnya si pengantar pesan buka suara. “Kepentingan liputan. Maaf, saya hanya bisa memberitahu sampai sini saja,” ia membungkuk.

Jung Ah menghela napas. “Baik kalau begitu. Saya mengerti. Saya akan sampaikan ini ke Seungyeon sekarang juga. Kamu ikut saya ke atas, biar kamu bisa saksikan sendiri pesanan ini sampai ke tangan orangnya.”

Dengan terpaksa, Jung Ah harus membangunkan Seungyeon yang tengah terlelap. Disaksikan oleh si pengantar pesan, Jung Ah menyerahkan bungkusan tersebut dan Seungyeon langsung membukanya. Ada beberapa lembar kertas dan ada sebuah surat di dalamnya. Seungyeon memutuskan untuk membuka surat tersebut terlebih dahulu. Dibacanya surat itu singkat, lalu ia melirik kertas-kertas lainnya. Ada sedikit keterkejutan pada Seungyeon.

“Kak Jung Ah, aku pinjam mesin ketiknya sekarang. Ada tulisan untuk Manseh yang harus segera aku kerjakan,” pinta Seungyeon cepat.

Malam itu hingga pagi menjelang, Seungyeon menjalankan tugas pertamanya sebagai penulis hantu atas nama Shim Changmin. Changmin dalam surat tersebut mengamanatkan Seungyeon dengan gaya menulisnya untuk menyusun artikel tentang peristiwa pengeroyokan dan penemuan jenazah korban hari ini untuk diterbitkan besok berdasarkan hasil laporan Changmin yang tertulis di kertas-kertas yang disertakan bersama isi surat.

Hingga setengah jam berlalu di depan mesin ketik, Seungyeon masih merenungi permintaan Changmin untuk menjadi penulis hantu. Ia baca sekali lagi baris di surat tersebut yang menyebutkan bahwa akan ada imbalan yang sesuai. Seungyeon hanya membaca baris tersebut sekali, sisanya ia berpikir keras apa yang bisa membuatnya mengambil tugas itu. Ia biarkan semua imajinasi, kata-kata di dalam buku-buku yang sudah selesai dibacanya, berhari dan bermalam-malam diskusi dan obrolan, juga larik-larik peristiwa dalam tulisan tangan Changmin menguasai dirinya hingga akhirnya Seungyeon kembali mempercayai perasaannya saat membuka dan membaca tulisan dari Changmin itu untuk pertama kalinya.

“Wajahnya remuk, bekas darah terlihat dari lubang telinga, hidung, dan lubang-lubang bekas luka di sekujur tubuh. Terdapat lubang peluru di bahu kiri yang diperkirakan menembus dada hingga masuk ke pinggang.”

Seungyeon merapal kalimat tersebut dengan khusyuk dan jari-jarinya lincah mengetuk mesin ketik.

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on January 3, 2012, in Fanfiction, The Dawn of First March. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Ow God pemaparan kematian Seung Ri yang cukup menyakitkan.

    As expected meskipun lama update-nya tapi kualitasnya jempolan punya nih. Ga sia-sia harus nunggu seminggu deh bang… haha

    Anyway, di bab ini gw merasakan suasana Kelas Aksi dua kali.
    Pertama waktu nonton bisbol, suasan kisruhnya sama waktu manjat tembok (episode madol). Entah kenapa malah kebayangnya adegan di KelasAksi, berkat lagu istrument nya Kawai Kenji, imajinasi heboh itu bisa ilang dan tergantikan ke era 1900 (untungnya).

    Haha…

    Anyway bro mention me for next chapter.

  2. Hello Giri! Welcome, welcome!

    Nah adegan manjat tembok itu terinspirasi #KelasAksi pas episode madol, terutama manjat punggung. #KelasAksi masih lebih gak beradab, manjat pundak dan ninggalin bekas sepatu di seragam sekolah.

    Kesian Seungri ya… honornya kalo ini jadi film cuma naik motor, ditimpuk, teriak-teriak, digebukin, didor, modar, dan mayatnya diumpetin di dalam kolam.

    Siap mention untuk berikutnya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: