The Dawn of First March (Bab 12)

BERLINDUNG DI BALIK MANTELNYA

Kalau tidak ada Yoobin, sudah dapat dipastikan malam itu Seungyeon sudah tertidur di atas mejanya sedari tadi. Yoobin yang tidak bergeser sedikitpun dari posisinya mengawasi Seungyeon yang harus menyelesaikan esainya malam itu sebagai syarat diterima masuk di organisasi jurnalistik mahasiswa di kampus.

“Seungyeon, kamu harus selesaikan semua,” ujar Yoobin.

Seungyeon berusaha memberikan balasan yang termanis dan mencoba melawan kantuk yang menderanya. Awalnya ia hendak menyesali idenya sendiri untuk meresensi novel Mujong karya Yi Kwang Su. Kalau Seungyeon masih tinggal di Korea, jangan berharap ia akan memperoleh novel tersebut dengan mudah. Novel berbahasa Korea diperketat peredarannya oleh pemerintah kolonial Jepang dan isinya telah melalui sensor sedemikian rupa yang membuat isinya bagaikan beras yang telah dihisap saripatinya oleh kutu.

Novel tersebut berkisah tentang seorang yatim-piatu bernama Yi Hyong Sik yang saat dewasa bekerja sebagai guru dan berusaha melepaskan diri dari ajaran Konfusius demi memperoleh nilai-nilai kehidupan yang baru. Hyong Sik meninggalkan kekasih lamanya Yongch’ae dan menikahi Sonhyong, putri seorang diplomat. Dalam pernikahannya, Hyong Sik mengalami kebingungan dalam menentukan apakah istrinya benar-benar mencintainya ataukah karena semata-mata demi mematuhi ayahnya. Yongch’ae yang putus asa memutuskan untuk bunuh diri namun seorang feminis bernama Pyonguk berhasil mengubah pola pikir Yongch’ae dan membuatnya berperan aktif dalam menentukan jalan hidupnya sendiri.

“Novel ini menggambarkan sisi yang paling abstrak dari segala keinginan dan kelemahan manusia,” ucap Seungyeon.

Yoobin terdiam dan mengamati lekat-lekat novel tersebut yang kini ada di tangan Seungyeon. “Oleh pengajarku …” kalimat Yoobin terputus.

“Pengajarku yang orang Jepang,” kalimatnya terputus lagi.

“Ya?” Seungyeon berusaha mendengarkan dan mengikuti Yoobin dengan sabar.

“Beliau menyarankan kepadaku dan teman-teman Korea untuk baca novel itu. Novel ini baru, tapi kehadirannya sangat mengejutkan.”

Seungyeon meletakkan penanya pelan di atas meja. “Novel itu banyak cerita tentang kebebasan. Bebas memilih nilai mana saja yang mau kita ikuti. Pilih nilai-nilai lama nenek moyang kita yang terkadang mengungkung atau nilai-nilai modern yang membebaskan namun dipandang menyeramkan,” timpal Seungyeon.

“Juga soal cinta. Semua orang boleh mengatur kehidupan kita dengan aturan-aturan, tetapi aku percaya cinta yang bebas, aku percaya hatiku sendiri,” sahut Yoobin.

Seungyeon tercenung mendengar jawaban Yoobin. Ia tak pernah menyangka Yoobin dapat cukup fasih berbicara soal cinta. Bukannya meremehkan, namun Seungyeon masih menganggap urusan cinta adalah sesuatu di luar jangkauan Yoobin. Ah, mungkin saja Yoobin berbicara cinta tersebut berdasarkan yang tertulis di novel saja.

“Cinta yang bebas, percaya dengan hati sendiri,” gumam Seungyeon sendirian. Tetiba citra Jinki muncul di dalam pikirannya. Rasa rindu yang hendak menjumpainya langsung Seungyeon tolak bahkan sebelum mengucapkan kata permisi.

Selagi Seungyeon masih mengambang di antara sadar dan tidak, Yoobin pelan-pelan bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju balkon lantas memulai menghitung bintang di langit. Yoobin selalu tahu tepat, tak pernah ia terlambat atau terlalu cepat.

“Yoobin? Yoobin?” panggil Seungyeon.

Tak ada suara menyahut. Seungyeon menyadari bahwa Yoobin sudah pergi. Dari tempatnya duduk, ia dapat melihat punggung Yoobin yang tengah duduk di lantai balkon yang dingin.

Pelan sembari berjingkat, Seungyeon mengambil selimut dan bantal yang ada di tempat tidur Yoobin. Seungyeon melangkah dan membuka jendela tinggi besar yang menjadi pintu untuknya menuju balkon. Diletakkan selimut dan bantal itu di atas lantai dengan lembut di belakang dan di samping tubuh Yoobin tanpa ia ketahui sama sekali.

Seungyeon tersenyum, lalu ia meninggalkan Yoobin kembali sendiri.

***

Setengah berlari, selepas kelas sore, Seungyeon menuju kantor redaksi koran kampus MANSEH. Dalam bahasa Korea kata “manseh” dapat diartikan seperti kata “maju” yang bersifat menyemangati. Manseh adalah koran kampus berbahasa Korea yang menjadi salah satu organisasi kemahasiswaan yang diakui keberadaannya oleh Universitas Tokyo. Korannya beredar dari tangan ke tangan di antara mahasiswa Korea dan alumni di Universitas Tokyo.

Manseh yang telah berdiri sejak 8 tahun lalu adalah sebuah organisasi yang dianggap prestisius di kalangan mahasiswa Korea sendiri. Pendiri-pendirinya dan alumni-alumninya kini menjadi orang-orang yang berperan sentral di berbagai bidang, terutama dalam rangka perjuangan kemerdekaan bangsa Korea atas Jepang, Manseh adalah salah satu bahan bakarnya dalam bidang pers.

Setelah melewati akamon, gerbang merah Universitas Tokyo yang legendaris itu, Seungyeon berjalan ke arah selatan, melewati jalan yang ditumbuhi pohon lilac yang sedang mulai berkembang bunganya berwarna putih susu dan berbentuk seperti gumpalan kapas, hingga Seungyeon sampai di sebuah bangunan mungil yang dari jauh seolah-olah terlihat pintu masuknya terhalang oleh sebatang pohon lilac yang berdaun rimbun.

Akamon (gerbang merah) Universitas Tokyo, Desember 1936

“Permisi!” sapa Seungyeon kepada orang-orang yang ada di dalam sana.

Terlihat beberapa orang sedang duduk di lantai sambil membaca buku-buku yang berserakan dan dua orang duduk di meja panjang. Yang satu sibuk menghadapi mesin ketik yang cukup semangat ditekan, yang satunya khusyuk menulis sesuatu di atas kertas dengan cepat.

“Yang mau wawancara ya? Sudah ditunggu,” sambut seseorang yang duduk di lantai dengan ramah. Lelaki muda itu berdiri dan mengantarkan Seungyeon ke sudut ruangan.

“Duduk di sini dulu ya,” tunjuk lelaki muda itu ke sebuah kursi tanpa senderan di sudut ruangan. Kursi tersebut menjadi pasangan sebuah meja kecil dengan dua kursi lagi di hadapannya.

“Baik, terima kasih,” Seungyeon balas mengangguk lalu duduk.

Tak lama, lelaki muda itu kembali ke posisinya semula dan terlihat seorang perempuan memasuki ruangan dan lelaki muda itu menunjuk ke arah Seungyeon.

Perempuan itu melangkah mendekati Seungyeon lalu duduk persis di hadapan Seungyeon. Perempuan cantik berahang tegas dan berhidung bangir yang mengenakan gaun bunga-bunga sederhana. Sesuatu terlihat mencolok dari wajahnya, perempuan itu mengoleskan pemerah bibir.

“Halo. Siapa namamu?” tanya perempuan itu sambil tersenyum lebar.

“Han Seungyeon, dari ilmu sejarah,” jawab Seungyeon berdiri sebentar dari duduknya, membungkuk, dan kembali duduk.

Perempuan itu balas membungkuk lalu tersenyum lagi sembari memilah-milah kertas yang dibawanya. Ia ambil secarik kertas yang tampaknya ia cari sedari tadi.

“Hai Seungyeon, aku Kim Jaekyung, dari sosiologi. Kami dari redaksi sudah baca esai yang kamu tulis sebagai syarat masuk menjadi bagian dari Manseh. Kami menganggap bahwa kamu adalah salah satu kandidat terbaik.”

“Benarkah?” Seungyeon tak dapat menyembunyikan kegembiraannya.

“Ya, dan hari ini, kamu santai saja. Kita akan lebih ngobrol-ngobrol tentang apa yang kamu suka, harapan-harapan kamu, dan lain-lain!”

Dua orang tersebut langsung larut dalam percakapan yang mengasyikkan. Jaekyung tampak bisa bersimpati dan mengambil hati Seungyeon untuk tidak ragu bercerita panjang lebar, mulai dari masa kecil dan sekolah di Seoul, perjalanan memperoleh beasiswa, hingga visinya terhadap kebebasan dan kemerdekaan bangsa Korea.

“Bangsa kita harus menjadi bangsa yang mandiri, bebas dari tekanan dan kekangan campur tangan bangsa manapun yang hanya ingin menguras kekayaan kita. Untuk menyamai bangsa-bangsa Barat di sana, kelak orang Korea harus bisa membuat kapal sendiri dan kereta sendiri. Juga mengizinkan perempuan untuk menentukan nasibnya sendiri.”

Tak lama setelah Seungyeon mengucapkan kalimat tadi, seorang pria tiba-tiba tanpa permisi duduk di samping Jaekyung. Buat Seungyeon, pria itu tidak asing.

“Silakan dilanjutkan saja ngobrolnya, saya hanya mampir saja,” kata pria itu.

“Shim Changmin?” ujar Seungyeon.

Jaekyung menengok ke arah Changmin. “Kamu sudah kenal Changmin?” tanya Jaekyung.

Changmin mengangguk. “Kita sudah kenalan saat pesta penyambutan anak-anak baru di rumah Jung Ah,” cerita Changmin. “Sudah lama sejak saat itu, ternyata baru di sini kita ketemu lagi,” sambung Changmin.

“Ya Seungyeon, Changmin ini anggota redaksi Manseh juga. Salah satu wartawan handal kita yang tulisannya tajam,” jelas Jaekyung. Changmin yang dipuji malah menampakkan wajah tenang-tenang saja.

“Dia juga calon ketua Manseh,” bisik Jaekyung.

“Omong-omong Seungyeon, kamu makin cantik ya?” seloroh Changmin. Seungyeon langsung salah tingkah dipuji seperti itu, apalagi ia melihat kemudian Jaekyung seperti tampak menggerak-gerakkan kakinya menyenggol kaki Changmin.

“Orang seperti kamu sudah masuk di wadah yang tepat,” pungkas Changmin.

“Ya jadi Seungyeon, tadi kita sampai mana?” Jaekyung berusaha mengembalikan pembicaraan mereka yang terputus karena kedatangan Changmin.

Seungyeon dan Jaekyung melanjutkan obrolan, sementara Changmin hanya menonton mereka berdua dengan anteng sambil menopang dagu dengan kedua belah tangannya sambil sesekali tersenyum-senyum sendiri.

***

“Mulai sekarang kalau begitu, kita jangan terlalu sering ketemu.”

“Ya, aku dan teman-teman sudah sepakat untuk jadi tim sukses bayangan untuk kau calonkan diri jadi ketua.”

“Jangan lupa rencana kita untuk bermain peran, setiap kali aku rilis artikel atau tulisan di koran atau ada debat dan diskusi calon ketua, kau dan teman-temanmu jadi pihak yang kontra denganku.”

“Tenang! Kita akan buat setiap tindakan yang kau lakukan jadi sesuatu yang panas dan menarik perhatian.”

Dua pria berbincang-bincang sembari duduk di undakan depan kantor Manseh.

“Seungyeon, sudah selesai?”

Seungyeon keluar dari kantor Manseh dan melirik ke arah orang yang duduk di undakan.

“Baru saja selesai, Changmin. Terima kasih ya! Wawancara yang menyenangkan. Jaekyung baik sekali.”

Changmin berdiri diikuti orang yang sedari tadi berbincang dengannya.

“Seungho?” sapa Seungyeon.

“Hai! Kamu mau daftar jadi anggota Manseh?” balas Seungho.

Changmin melirik bolak-balik dua orang yang ada di kiri dan kanannya. “Sudah saling kenal? Bagaimana bisa?” Changmin mengangkat sebelah alisnya.

Seungho dan Seungyeon hanya tersenyum. “Yah begitulah,” Seungho mengangkat bahu santai.

“Kami belum akrab kok…” Seungyeon merendah.

Changmin tertawa terbahak-bahak. “Hati-hati kamu dengan Seungho ya… Orang gunung, keras. Dia gak terbiasa dengan wanita!” ledeknya.

“Kalau kamu jadi diterima di Manseh, kamu yang harus lebih hati-hati dengan calon bos kamu ini. Jangan pernah lengah sedikit pun, ditiup sedikit bisa jatuh cinta kamu,” balas Seungho.

“Seungyeon cantik, pintar. Dia akan jadi aset berharga untuk Manseh,” Changmin merangkul bahu Seungyeon dan merengkuhnya sedikit ke dalam sebuah pelukan. Seungyeon menunjukkan raut terkejut dan sedikit risih. Ekspresi yang segera bisa ditangkap dan dipahami oleh Seungho.

“Saya, pulang dulu ya…” pamit Seungyeon sambil pelan-pelan menyingkirkan tangan Changmin.

“Kamu sendirian?” tanya Seungho.

Seungyeon mengangguk. “Saya temani kamu pulang ya? Sudah hampir gelap,” lanjut Seungho.

“Boleh. Terima kasih ya…” jawab Seungyeon. Matanya berbinar-binar.

Mereka berdua membungkuk pamit kepada Changmin. Changmin balas membungkuk dan melambaikan tangan. Changmin masih berdiri melipat kedua tangannya dan menyender di pintu masuk Manseh setelah Seungho dan Seungyeon berjalan menjauh.

“Changmin, Changmin…” panggil Jaekyung dari belakang.

Beberapa detik kemudian, Changmin baru tersadar bahwa Jaekyung memanggilnya.

“Kamu melamun?” selidik Jaekyung.

Changmin gelagapan. “Enggak, enggak apa-apa.”

“Kamu, lihat apa?” Jaekyung mencoba melihat ke arah luar.

“Bukan apa-apa kok. Aku ke dalam dulu ya…” tukas Changmin cepat lalu meninggalkan Jaekyung sendiri di depan pintu.

“Changmin! Changmin!” panggil Jaekyung.

Changmin tidak menjawab.

***

Seungho dan Seungyeon berjalan berdampingan. Seungyeon menyimpan rapat-rapat kedua tangannya ke dalam saku mantelnya untuk melawan udara dingin. Sambil melangkah pelan-pelan, sesekali mereka saling mencuri pandang. Ada kalanya kedua pasang mata mereka saling bertemu, namun tak lama mereka saling menepis pertemuan mata itu.

Seungyeon memperhatikan mantel Seungho yang tidak dikancing berkibar-kibar tertiup angin. Seungyeon berangan bahwa akan sangat hangat apabila ia dapat berlindung di balik mantel Seungho. Seungyeon menghembuskan napasnya lewat mulut, perlahan-lahan ia kumpulkan sedikit keberanian untuk bergeser pelan mendekati tubuh Seungho.

“Kamu sudah kenal dengan Changmin? Bagaimana kalian berdua ketemu?”

“Kami ketemu tidak sengaja, waktu ada pertemuan alumni dan mahasiswa baru di rumahnya Park Jung Ah. Kamu kenal dengan Jung Ah?”

Seungho mengangguk. “Ya, setiap mahasiswa Korea di sini pastilah mengenalnya. Hanya saja, cuma orang-orang tertentu saja yang bisa masuk ke dalam lingkaran pergaulannya. Ya sebut saja orang-orang seperti kamu. Sudah pasti tidak mungkin orang-orang seperti aku.”

Seungyeon diam. Ia merasa tidak enak sendiri.

“Bagaimana kamu dan Changmin bertemu?” Seungho mengulangi pertanyaannya.

“Di tengah acara, aku tidak sengaja bertabrakan dengan dia. Ya, setelah itu yang terjadi sudah bisa ditebak. Kami mengobrol cukup lama.”

“Aku jamin setelah malam itu kau sudah masuk ke dalam daftar perempuan incarannya,” kata Seungho dengan nada datar, tanpa emosi.

“Aku sudah paham bagaimana sepak terjangnya. Nana sudah pernah tidur dengan Changmin.”

“Nana?” tanya Seungho.

“Ya, Nana. Temanku yang menjemputku di teater saat kita berdua sedang ngobrol,” jelas Seungyeon.

“Oh ya…” padahal sebenarnya Seungho sedang mengingat-ingat bagaimana rupa teman Seungyeon tersebut.

“Di kalangan mahasiswi Jepang, Changmin adalah dewa dan Changmin yang memahami bahwa pesonanya tidak begitu kuat di antara mahasiswi Korea meladeni perempuan-perempuan Jepang itu dengan senang hati. Changmin juga populer di kalangan perempuan Barat. Ia punya banyak hubungan dengan perempuan-perempuan Rusia. Pertama-tama, Changmin mengajak para perempuan itu ngobrol ke sana kemari sambil menyelipkan obrolan tentang urusan sosial dan politik juga seni yang akan membuat si korban terpukau. Kedua, setelah si korban mulai mendekat kepadanya dengan menautkan lengannya atau menyender di dada, Changmin mulai membisikkan kata-kata manis karangannya sendiri yang paling indah dengan suguhan anggur merah dari luar negeri. Hingga ia dan sang mangsa bergulat di tempat tidur sampai pagi. Changmin sangat piawai di tempat tidur.”

Seungho diam mendengarkan cerita Seungyeon.

“Apa kamu yakin itu cerita dari Nana? Bukan pengalamanmu sendiri?”

Seungyeon dapat menangkap serpihan kecemburuan dari pertanyaan Seungho itu.

“Changmin bukan tipeku,” tegas Seungyeon.

Seungho berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Seungyeon hanya menyampaikan ulang apa yang dialami oleh Nana, bukan memamerkan pengalamannya sendiri.

“Kenapa kamu ingin masuk Manseh?” tanya Seungho.

“Pertama kali aku mendengarnya, aku langsung tertarik,” jawab Seungyeon.

“Andaikan kamu tidak terpilih menjadi anggota Manseh, kamu ingin bergabung di mana? Pilihan keduamu maksudku.”

“Tidak ada, Seungho. Aku selalu percaya dengan hal pertama yang kurasakan.”

Seungho dan Seungyeon menghentikan langkah mereka sejenak. “Malam ini kamu ada rencana ke mana?” tanya Seungyeon.

“Kerja,” jawab Seungho singkat.

Kerja. Suatu hal yang tidak pernah terlintas di pikiran Seungyeon saat ia menginjakkan kakinya di tanah para shogun.

“Aku masih punya dua adik di tempat asalku,” lanjut Seungho.

Udara sore musim semi menjadi semakin menggelugut. Namun bagi Seungyeon, kehangatan sedang menunggu di balik mantel Seungho.

“Kamu sendiri sudah ada janji nanti malam?”

“A…aku hendak pergi dengan Nana dan teman-teman yang lain, melihat festival obor di Minato,” Seungyeon sesungguhnya merasa canggung harus berkata jujur. Seungho masih harus bekerja untuk membantu adik-adiknya sementara ia hendak bersenang-senang tanpa beban.

Namun Seungho hanya mengangguk dan memahami, tanpa menghakimi.

Rasa dingin yang menghantam Seungyeon semakin tak tertahankan lagi dan terjadilah hal itu. Seungyeon mendekap tubuh Seungho erat dan menyelubungi tubuhnya sendiri dengan mantel Seungho.

Seungho bergeming dan tidak terkejut dengan tindakan Seungyeon yang mencengangkan tersebut.

“Aku tak jadi ke festival obor…”

Seungho memeluk Seungyeon erat.

Mereka berdua berbalik arah dan menuju tempat tinggal Seungho. Semalaman hingga pagi tiba, mereka menghabiskan waktu berdua dengan bercakap-cakap tentang berbagai hal. Kapal kura-kura dinasti Joseon, Minggu Berdarah tahun 1905 di Rusia dan bagaimana Seungyeon kini sedang mengagumi karya penulis perempuan Inggris, Jane Austen, yang ia pinjam dari Jung Ah. Tak ada hal istimewa yang mereka lakukan selain berpelukan dan berpegangan tangan. Itu pun sudah membuat Seungyeon tergetar kemudian tenggelam ke dalam tatapan mata Seungho yang luas dan menghanyutkan bagai sebuah telaga yang tenang airnya.

***

“Kamu mau pulang sekarang?” tanya Seungho.

“Ya. Ini sudah hampir malam lagi, dan seharian tadi aku tidak ketemu dengan teman-teman satu rumah. Aku khawatir nanti mereka mencari-cariku,” jawab Seungyeon.

Seungho membelai rambut Seungyeon. “Kita jalan sekarang…” Seungyeon mendahului Seungho keluar dari tempat tinggalnya.

Senja masih seperti hari-hari kemarin. Seungyeon memegang erat-erat mantelnya. Seungho yang tampak lebih bisa mentoleransi rasa dingin hanya mencangkling jaket di bahunya. Sebelah tangannya mengapit rokok di antara jari telunjuk dan jari tengahnya.

Terdengar bunyi gemuruh. Seketika orang-orang di sekitar mulai mempercepat langkahnya atau berlari mencoba mendahului hujan.

Seungho menengadah ke langit. “Sebentar lagi hujan. Kita jalan cepat,” Seungho menggandeng tangan Seungyeon. Seperti biasa, Seungyeon selalu kehilangan daya apabila berada di dekat Seungho. Tubuhnya seperti kertas yang patuh ditiup angin saat Seungho menggamit lengannya. Dan mulutnya diam, tidak berbicara.

Hujan tidak mau kompromi dengan mereka berdua. Airnya langsung tumpah deras. Seungyeon dan Seungho menyingkir, berteduh di kolong sebuah kuil yang berbentuk rumah panggung.

“Kita tidak bawa payung,” kata Seungyeon.

“Kamu mau tunggu atau kita terobos hujan ini?” tanya Seungho.

Seungyeon mengamati sebentar hujan yang turun. “Kita terobos saja,” jawab Seungyeon dengan pandangan tegas menghujam ke mata Seungho.

“Baik. Kita tunggu 15 menit lagi, baru kita jalan,” balas Seungho.

“Lima belas menit? Kenapa tidak sekarang saja?” protes Seungyeon.

Seungho tersenyum. “Rupanya kamu belum tahu ilmu dan rahasia main hujan. Waktu kecil aku selalu main hujan, kadang sampai naik ke atap rumah. Lima belas menit pertama setelah hujan turun, panas dari tanah akan naik, itu yang bisa menyebabkan kita demam. Setelah itu, semua akan baik-baik saja. Percayalah, hujan adalah sahabatku. Aku bisa bicara dengan hujan, memerintahkannya untuk tambah deras atau mereda.”

“Benarkah?”

“Hanya bisa aku lakukan kalau aku ada di atap rumahku, jadi hujan bisa melihatku, tidak bisa jika aku berada di kolong kuil seperti ini.”

***

Seungyeon dan Seungho menyelinap ke balik pintu gerbang rumah Jung Ah. Mereka berdua berlari di tengah hujan, kini mereka sudah memasuki pekarangan rumah.

“Heiiii!!!!! Seungyeon pulang!” teriak seorang laki-laki sembari menunjuk-nunjuk dari balkon lantai dua.

Seungyeon menengadah. Ia dapat melihat teman-temannya sedang berkumpul di balkon kamar Eunjung dan di beranda sedang berkumpul Francis dan beberapa teman laki-lakinya. Sekejap Seungyeon menjadi pusat perhatian satu rumah.

“Seungyeon, dari mana sajaaaa, heiiiii????? Sehari semalam kami kebingungan cari kamuuu!!!!!!” pekik Eunjung dari balkon mencoba mengalahkan suara hujan.

“Seungyeon, aku antar kamu sampai sini saja.”

“Seungho, kamu tidak mau masuk?”

Seungho melirik ke arah beranda. “Lain kali saja ya… Ayo kamu cepat masuk.”

“Tapi …. Seungho! Tunggu Seungho!”

Seungho menjauh dan menampakkan punggung. Ia melambaikan tangan ke arah Seungyeon lalu berlari berbalik arah meninggalkan tempat itu masih di bawah kurungan hujan.

Seungyeon yang masih tercenung memandangi Seungho yang pergi tiba-tiba merasakan air hujan berhenti menghajar kepalanya.

“Kok bengong? Ayo, kita masuk! Semua orang cemas nungguin kamu dari kemarin,” Francis datang memayungi Seungyeon dan mengantarkannya sampai ke dalam rumah.

Seungyeon melepas sepatunya dan berjalan berjingkat agar kakinya tidak membasahi lantai. Dari ruang tengah, Jung Ah menghampirinya.

“Seungyeon, dari mana kamu?”

Seungyeon tidak langsung menjawab. Ia sibuk menenangkan tubuhnya yang basah dan menggigil. “A…a…ku sema…lam…” ia tergagap.

Jung Ah menyentuh bahu Seungyeon. “Sudah, kamu ke atas dulu, langsung mandi. Setelah itu kamu jelaskan semuanya.”

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on December 25, 2011, in Fanfiction, The Dawn of First March. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Here we go, fanfict nya makin epic aja nih bang.. Pas gw tanya mengenai sejarah2 Pergerakan Korea atas Jepang ke temen gw yg lg study disana, dia ga banyak tau dan mlaha bgung kenapa gw tanya itu.

    Fanfic ini dibuat sama jebolan arsitek yg lg berada di London. Jarak, waktu dan tempat seharusnya udah membuktikan disini kalau memang niat mempelajarai sejarah ga harus datengin tmpt tersebut, ckp dgn buku dan referensi yg bsa d percaya sumbernya.

    Yang menjadi daya tarik utama saya membaca disini adalah riset mendalam yang dilakukan oleh author. Cuplikan mengenai buku yang sedang di ringkas Seungyeon adalah hal yang paling menarik buat saya. Butuh berapa lama untuk sang author FF ini melakukan riset tho buku tersebut dan mempelajari nilai sejarah lainnya ? Hem.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: