The Dawn of First March (Bab 11)

BANGKU KETIGA DARI KANAN

Seungyeon menemukan hatinya di Tokyo. Kebebasan, persahabatan, persaudaraan, dan segala hal yang dapat memenuhi hasratnya ia peroleh di kota ini. Di dalam rumah Jung Ah sendiri, Seungyeon dapat merasakan sebuah spektrum kontradiktif yang menyenangkan. Tak pernah Seungyeon duga sebelumnya bahwa ia akan akrab dengan Jung Ah yang hari-harinya dipenuhi dan dikelilingi oleh buku-buku dan karya seni yang sulit dicerna oleh orang kebanyakan. Nana yang setelah pesta di rumah Jung Ah, keesokan malamnya mengajak Seungyeon dan Eunjung jalan-jalan berkeliling distrik lampu merah Yoshiwara di antara rumah-rumah pelacuran yang memajang para wanita penghibur di balik harimisu, sebuah jendela berterali kayu. Nana mungkin berpikir ia akan mendapatkan sedikit hiburan dengan melihat dua teman barunya yang menampakkan wajah polos keheranan, malu, sekaligus risih. Dan Nana harus menelan kekecewaan karena dua orang temannya terlihat tenang dan biasa-biasa saja. Jalan-jalan itu mereka akhiri dengan menenggak sake sambil bertukar cerita dan tertawa-tawa hingga hidung dan pipi mereka memerah.

Harimisu

Dari sekian banyak orang-orang yang mengisi hari-harinya di Tokyo, Seungyeon menambatkan perhatian khusus kepada sosok Kim Yoobin. Yoobin dengan segala tingkah di luar kebiasaan yang membuat orang-orang di sekitar menggeleng-gelengkan kepala dan tak habis pikir. Ritualnya setiap malam duduk di balkon memandang langit malam sembari mulutnya tak henti mengucapkan nama-nama rasi bintang tak boleh diganggu gugat oleh siapapun.

Pernah suatu hari, seorang mahasiswa penghuni rumah Jung Ah bernama Lee Junho yang merasa tidurnya terganggu menghampiri Yoobin dan meneriakinya agar berhenti. Yang terjadi malah membuat seisi rumah tak bisa tidur. Yoobin mengamuk berteriak-teriak sambil memukul-mukulkan tangannya ke kaca jendela. Saat kejadian itu, beberapa teman perempuannya termasuk Seungyeon berusaha menjauhkannya dari jendela karena dilihatnya tangan Yoobin mulai memar memerah. Beruntung kaca tersebut cukup tebal sehingga tak sanggup dipecahkan oleh kepalan tangan Yoobin. Malam yang cukup mendebarkan itu berakhir dengan Yoobin yang tertidur kelelahan di pangkuan Jung Ah yang kemudian datang menenangkannya.

“Kalau menurut kami, Yoobin itu sakit jiwa, Kak,” buka Junho di tengah-tengah rapat bersama Jung Ah setelah insiden itu.

Jung Ah tak langsung menjawab. Ditatapnya wajah anak-anak yang berkumpul bersamanya. Beberapa mengangguk kecil, beberapa mengangguk tapi ragu, ada yang hanya tertunduk diam.

“Tega kalian mengatakan teman kalian sendiri sakit jiwa?” cecar Jung Ah.

“Tetapi, Kak,” sela Junho.

“Tingkahnya tiap malam itu yang aneh, memang siapa tahu ada kemungkinan dia sakit jiwa,” sambung Francis. Anak-anak yang lain mulai bergumam dan berdengung tak jelas menanggapinya.

Jung Ah menggeleng berusaha tidak terpengaruh opini tersebut. Seungyeon, Nana, dan Eunjung hanya mematung, hanya saling memberi isyarat mata.

“Tidak, tidak. Tidak, teman-teman. Yoobin tidak gila. Dia hanya sedikit lebih berbeda dari kita. Bicaranya masih nyambung, tidak ngawur, walaupun memang dia sedikit lambat dalam membalas omongan yang ditujukan kepada dia. Kalian bisa buktikan sendiri. Aku mohon kalian semua, kita semua di sini bantu Yoobin ya, baik-baiklah dengannya. Bersabarlah sedikit. Itu sudah akan membantu banyak sekali,” tegas Jung Ah.

Keheningan masih menggantung. “Kalian pikirkan lagi saja baik-baik. Kalau kalian tidak mau bergaul dan bersabar dengannya, biar aku saja. Ya sudah, selamat malam. Cepat tidur kalian,” Jung Ah beranjak dan melangkah menuju tangga ke kamarnya sembari memijat-mijat kepalanya.

***

Bangku di deretan paling depan itu kosong di antara kelas yang isinya hampir bisa dipastikan penuh itu. Ini adalah kelas statistik, kelas yang wajib diikuti untuk para mahasiswa baru dan juga kelas di mana mereka bergabung dengan senior-senior mereka yang tidak lulus di mata kuliah momok ini. Seungyeon selalu memperhatikan, setiap mata kuliah statistik selalu saja satu orang yang tidak masuk dan menyisakan satu bangku kosong di kelas.

“Yang Seungho?” panggil sang pengajar dari depan kelas saat menelusuri kertas berisikan daftar peserta kelasnya.

Seisi kelas diam. “Tidak ada lagi? Ke mana anak ini? Ada yang tahu? Sudah hampir tiga minggu perkuliahan dimulai ia tidak pernah datang ke kelas,” tanya sang pengajar yang mengenakan kacamata bulat berbingkai coklat tersebut.

“Nona muda, mungkin Anda tahu. Anda orang Korea, bukan?” Seungyeon ditunjuk oleh sang pengajar.

Seisi kelas menoleh ke arah Seungyeon. “Betul, Pak. Tapi saya tidak kenal dengan anak itu,” jawab Seungyeon.

Pengajar itu mengangguk-angguk. “Mungkin Anda belum kenal dengan dia. Dia senior Anda di atas Anda dua tahun. Anda sesama orang Korea di sini, seharusnya Anda saling kenal. Baiklah, kita lanjutkan saja pelajaran kita.”

“Wajar kalau Seungho-san jarang masuk, dia lebih banyak menghabiskan waktunya jadi aktivis,” bisik seorang teman Jepang yang duduk di sebelah Seungyeon.

***

Malam ini di Teater Kabukisha.

Jung Ah yang sedang tidak punya teman untuk diajak nonton meminta Seungyeon, Nana, dan Eunjung untuk menemaninya menonton pemutaran ulang sebuah film bisu produksi tahun 1899. Film tersebut berjudul Momijigari yang mengisahkan pertarungan seorang ksatria bernama Koremochi dari klan Taira dengan roh jahat yang menyamar menjadi seorang putri yang menawarinya minum sake dalam perjalanannya ke Gunung Togakushi.

“Kalian harus nonton film ini. Ini film bisu, namun akan selalu berseru-seru di dalam hati kalian! Ini kali keempat aku nonton!” cerita Jung Ah semangat. Mereka berempat berjalan memasuki tempat film diputar sembari mencari-cari tempat duduk.

“Aku sudah pesankan kursi untuk kita berempat,” sambung Jung Ah yang berjalan paling depan. Sejak memasuki pintu depan teater, sudah banyak sekali orang-orang menyapa Jung Ah, umumnya dari para pelaku film juga seniman.

“Itu dia tempat kita!” tunjuk Jung Ah ke sederetan kursi kosong yang letaknya cukup dekat dari layar lebar.

“Wow, tempat yang bagus!” puji Eunjung.

“Harus duduk di dekat layar supaya semua gambar masuk ke otak kita dan terekam dengan sempurna,” beber Jung Ah.

“Ah maaf!” tiba-tiba tak sengaja kaki Seungyeon menyandung kaki seorang lelaki yang sudah duduk di deretan kursi mereka, bangku ketiga dari kanan. Seungyeon menunduk dan membungkuk minta maaf dengan cepat.

Gomenasai!” kata Seungyeon cepat.

Lelaki yang ternyata masih muda itu juga hanya balas mengangguk dan tampaknya tak terlalu ambil pusing dengan ketidaksengajaan Seungyeon.

“Seungyeon, ayo cepat jalannya!” Nana lantas menarik tangan Seungyeon agar cepat menuju tempat duduk.

***

Setelah film selesai, mereka berempat masih berkumpul di sekeliling teater. Jung Ah sibuk bersosialisasi dan berdiskusi dengan teman-temannya yang memiliki ketertarikan sama, sedangkan adik-adiknya tersebut asyik berbicara bertiga di luar konteks apa yang mereka tonton tadi.

“Hei Seungyeon, aku sudah janjian dengan teman laki-lakiku tadi di sini. Aku sudah janji hendak mengenalkannya denganmu,” cerocos Eunjung.

Seungyeon mendengarkannya dengan penuh kemalasan. “Eunjung, sudah ah. Aku tak mau lagi berurusan dengan temanmu-temanmu yang gombal dan pemalas itu,” tolak Seungyeon.

“Pria Korea?” timpal Nana.

Eunjung mengangguk mantap. “Yang ini aku jamin berbeda!”

“Lebih baik suruh pulang saja temanmu itu. Seungyeon memang tampaknya tidak bergairah dengan pria Korea, sama denganku. Mereka di sini tidur dengan wanita-wanita Jepang dan wanita-wanita pirang, tetapi maunya kawin dengan wanita Korea lalu mengurungnya di rumah,” balas Nana.

“Nana, kau tidak tahu apa-apa. Lebih baik urus saja hubunganmu dengan laki-laki berkulit putih pucat dan berhidung mancung yang tidak pernah bersahabat dengan air dan sabun itu,” sindir Eunjung terhadap Nana yang dikenal sering menggandeng pria-pria Barat yang berseliweran di Tokyo. Seperti minggu lalu, Nana kembali ke rumah Jung Ah dalam keadaan mabuk dan dipapah oleh seorang tentara muda asal Amerika.

Seungyeon semakin menampakkan kemalasannya melihat dua temannya memperdebatkan pepesan kosong. Beruntung ia langsung memperoleh pemandangan yang langsung membuat pikirannya kembali terisi kembali. Pria yang kakinya tersandung oleh Seungyeon. Pria itu berdiri sekitar kurang dari dua puluh langkah di depannya dalam posisi berdiri tampak samping dan sedang menyimak pembicaraan dari dua orang pria di dekatnya. Pria dengan sorot mata penuh dan tajam serta berbadan tegap.

Entah setan dari gunung mana yang menggiring Seungyeon tiba-tiba mendekati pria itu tanpa permisi.

Sumimasen,” sapa Seungyeon. (Maaf, permisi)

Pria itu sontak menoleh memutar badan dan sedikit terkejut.

Machigaemashita,” lanjut Seungyeon sambil menunduk. (Maaf atas kesalahan saya tadi)

I, iie” ia mengucapkan kata tidak dalam bahasa Jepang. Pria itu meneruskan bertanya mencoba memastikan bahwa Seungyeon adalah perempuan yang tadi tidak sengaja tersandung kakinya.

Posisi mereka yang kini berhadapan memungkinkan Seungyeon untuk melihat bahwa pria tersebut memiliki bibir asimetris yang lebih tebal di bagian bawah. Membuat wajah pria tersebut terlihat semakin maskulin di mata Seungyeon. Dari logat bicaranya, Seungyeon menangkap bahwa pria ini bukanlah orang Jepang.

“Anda orang Korea?” Seungyeon berbicara dalam bahasa Korea.

“Wah, kau juga rupanya?” pria itu menampakkan raut wajah senang dan terkejut.

“Betul.”

“Kamu pasti dari Seoul,” tebak pria itu yakin.

“Bagaimana bisa tahu?”

“Gayamu, gaya perempuan muda Seoul. Pasti bukan dari kalangan biasa. Pasti kamu anaknya orang penting. Siapapun itu,” pria itu tersenyum. “Mau minum?” pria itu menawari.

“Nanti saja.”

“Kita mengobrol di luar?” tunjuk pria itu.

Seungyeon menurut dan mereka berjalan menjauh dari kerumunan. Seungyeon menengok ke belakang sebentar, dari kejauhan ia dapat melihat Nana dan Eunjung yang kebingungan karena kehilangan jejaknya. Seungyeon tersenyum simpul.

“Saya pikir Anda orang Jepang,” Seungyeon berbasa-basi.

“Apa saya terlihat seperti orang Jepang? Lebih banyak orang menyangka saya orang China.”

Pria tampan dan ramah itu tersenyum lagi dan membuat Seungyeon semakin kehilangan fokus. Sial, umpat Seungyeon. Roh macam apa yang bersemayam di dalam tubuhnya.

“Namamu?” tanyanya.

“Han Seungyeon.”

“Masih baru di Tokyo?”

“Belum ada tiga bulan. Saya kuliah di Universitas Tokyo tahun pertama.”

“Oh, pantas. Sudah saya duga.”

“Memangnya terlalu kelihatan ya?”

“Kalau kamu anak lama, kamu gak mungkin ada di sini nonton film tadi.”

“Maksudnya?”

“Anak-anak tahun pertama seperti kamu adalah anak-anak yang ingin banyak tahu, idealis, dan pemberontak. Nonton film sekelas Momijigari itu bukan cara yang baik menghabiskan malam untuk anak muda asal Seoul seperti kamu.”

Pria itu merogoh kantong celananya dan mencabut beberapa batang rokok di tangannya. Tiba-tiba Seungyeon menengadahkan tangannya.

Seungho terkesiap. “Kamu? Mau? Silakan…” ia menawari Seungyeon. Seungyeon mengambilnya satu. Siapa yang kuasa menolak tawaran seorang pria ganteng pengamat manusia yang handal.

“Kamu merokok? Bandel. Siapa yang ajari?” godanya. Seungyeon melengos.

“Kamu masih kuliah? Di mana?”

“Sama seperti kamu. Di Universitas Tokyo, saya senior kamu tiga tahun di atas,” ucapnya tenang.

“Benarkah?” Seungyeon takjub.

“Saya termasuk beruntung bisa dapat beasiswa ke Universitas Tokyo. Yah, berapa kesempatan anak kampung seperti saya bisa belajar di tempat sehebat itu kan? Saya dulu sempat sekolah guru di Gangnam. Beasiswa itu sebenarnya beasiswa lungsuran dari seorang putri bangsawan di desa saya yang dilarang untuk kuliah oleh orangtuanya dan kemudian ia dinikahkan dengan bangsawan sebaya ayahnya. Saya dapat beasiswa itu atas saran seorang guru saya karena beliau paham sekali saya ingin sekali belajar ilmu sejarah. Dan kamu tahu? Putri bangsawan itu meninggal tak lama setelah melahirkan anak pertamanya.”

Seungyeon diam. Apa yang tadi ia katakan, sejarah?

“Oh ya, saya malah belum memperkenalkan nama saya. Saya Yang Seungho.”

Tubuh Seungyeon mendingin. “Kamu Yang Seungho?”

“Ya, kenapa memangnya?” tanya Seungho heran.

“Tahukah kamu kalau kita sekelas di pelajaran ilmu statistik?” tembak Seungyeon.

“Serius kamu?” gantian Seungho yang membelalak matanya.

“Ya, rupanya kamu anak yang sering tak masuk kelas itu!” seru Seungyeon.

“Ayolah Seungyeon. Saya berkali-kali gagal di pelajaran itu. Jangan hakimi aku seperti itu lah,” Seungho mengeluh.

“Lalu kenapa tidak pernah masuk?” tanya Seungyeon lembut.

Seungho mengangkat bahu.

“Aku tahu kamu pasti bisa, hanya kamu saja yang enggan. Seungho, jangan mempermalukan bangsa kita. Kita cuma berdua orang Korea di kelas itu,” jari Seungyeon membentuk angka dua.

Seungho hanya mengangguk pasrah. “Aku nyalakan rokokmu ya,” Seungho menyentuh tangan Seungyeon dan sedikit memaksa tangan Seungyeon mengantarkan rokok di antara kedua bibir gadis itu. Seungyeon merasakan loncatan suhu tubuhnya menjadi drastis. Tubuhnya yang tadi dingin kini memanas dan ia dapat merasakan darah yang mengalir di dalam tubuhnya menjadi listrik yang menyetrumnya.

Tangan Seungho mungkin mengandung listrik, entah dia jelmaan atau sedang kerasukan roh dewa petir. Seungyeon menghisap rokok dalam-dalam dan menghembuskan asapnya untuk menetralisir suhu tubuhnya yang jungkir balik karena seorang laki-laki.

Seungho mengamati cara Seungyeon menikmati rokoknya. “Jadi, kita akan sering ketemu?” tanya Seungho sembari jari telunjuknya menjawil-jawil batang rokoknya.

“Sepertinya begitu.”

“Seungyeon!” dari jarak dekat terdengar suara perempuan memanggil namanya. Terlihat Nana tergopoh-gopoh.

“Kau di sini rupanya! Kita bertiga sudah mencarimu ke mana-mana. Ayo kita pulang. Kak Jung Ah sudah ngomel-ngomel sejak tadi!” protes Nana yang langsung menarik lengan Seungyeon.

“Ah, Seungho, maaf saya sudah harus pulang. Lain waktu kita jumpa lagi. Domo arigatou, gomenasai.” Seungyeon melempar rokoknya ke tanah dan menginjaknya. (Terima kasih, maaf)

Tanpa mempedulikan Seungho, Nana menarik Seungyeon untuk berjalan menjauh dari sana. Setengah berbisik Nana bertanya, “siapa sih laki-laki itu? Kenapa kamu tiba-tiba bisa sama dia? Oh, dan kau harus tahu gimana kebingungannya Eunjung ketika teman laki-lakinya datang dan kau tiba-tiba hilang begitu saja,” Nana terkikik.

Posted on December 16, 2011, in Fanfiction, The Dawn of First March. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Kak, i always love it when you put cultural items in your fic, especially that harimisu thingy. Gue baru tau red light district udah ada sejak jaman baheula + karakter Nana yang suka mainan sama cowok bule makin bikin kentara betapa ‘liberal-nya’ dia dan karakter Yoobin sebagai cewek yg sedeng juga lumayan sesuatu cuma belum bisa kebayang dia jadi cewek sedeng gitu sih, gue masih belum bisa dapet feelnya,mungkin karena karakternya belum digali kali ya?

    Pertama gw kira lo bakal kasih karakter Seungho yang lebih kalem daripada ini,model prince charming tapi cuma sedikit rebellious, semacam Seungyeon versi cowok. Tapi, lo malah bikin dia lebih bad boy which makes his appeal increased like crazy, dia jadi super appealing banget.

    Adegan Seungyeon akhirnya ngerokok juga sesuatu banget, gue gak nyangka si Seungyeon sampai berani kayak gitu gara-gara si kakak ganteng.

    Tidak lupa kata-kata yang ini :

    “Lebih baik suruh pulang saja temanmu itu. Seungyeon memang tampaknya tidak bergairah dengan pria Korea, sama denganku. Mereka di sini tidur dengan wanita-wanita Jepang dan wanita-wanita pirang, tetapi maunya kawin dengan wanita Korea lalu mengurungnya di rumah,” balas Nana

    Itu nancep banget. Kerasa banget sisi liberalnya si Nana dan nyinggung kenyataan juga.

    Btw, kak … Seungho kan bibirnya tebel atas bawah..

    Itu aja deh kak, so far ini chapter favorit gue. Ceritanya udah mulai jelas banget dan gelombang2nya udah mulai kerasa.

    Definitely waiting for the next chapter!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: