The Dawn of First March (Bab 10)

BULAN MUSIM SEMI

Malam musim semi di Tokyo diselingi angin malam dan kabut tipis yang jadi kerudungnya mulai turun. Bulan yang belum juga menampakkan wujud penuhnya menggantung di langit berusaha tampil menonjol di balik awan-awan jahil dan genit yang mencoba menghalangi.

Seungyeon mematut-matut dirinya di depan cermin di dalam kamarnya. Ia mencoba gaun malam yang dipinjamkan oleh Jung Ah untuk menghadiri acara kumpul-kumpul orang Korea yang tinggal di Tokyo di rumah Jung Ah malam ini. Baik sekali Jung Ah mau meminjamkan gaun yang tidak Seungyeon persiapkan dari Seoul. Gaun malam panjang bergaya Eropa yang menjuntai menutupi kakinya berwarna putih kebiruan dengan aksen bunga-bunga yang kebetulan gaun ini juga dipakai ketika Jung Ah menghadiri acara yang sama tepat setelah kelulusannya. Gaun yang dijanjikan oleh Jung Ah terlihat indah di tubuh Seungyeon. Diamati tubuhnya sendiri sekali lagi, hingga Seungyeon sadar bahwa Jung Ah tidak bohong.

Pelan-pelan Seungyeon mendengar pintu kamarnya diketuk pelan. Sedikit mengangkat gaunnya, Seungyeon melangkah membuka pintu. Di luar terlihat Jung Ah sudah berdiri mengenakan gaun dari satin berwarna merah yang memberikan kesan longgar di bagian bahunya.

“Sudah siap? Acaranya sudah dimulai di bawah, tamu-tamunya sudah datang. Ayo! Kamu harus kenalan dengan banyak orang di sini. Kamu harus kenalan dengan senior-senior kamu di kampus, dan banyak orang lagi. Mereka orang-orang hebat, banyak juga dari mereka yang masih muda-muda!” Jung Ah tersenyum ramah.

“Menurut Kakak sendiri bagaimana? Aku tiba-tiba jadi….. gak percaya diri?” Seungyeon ragu.

“Seungyeon sayang, kamu terlihat luar biasa!” dan Jung Ah langsung menggandeng Seungyeon keluar dari kamar.

Mereka berdua menuruni tangga besar berlantaikan marmer tersebut. Sembari menuruni tangga, Seungyeon dapat melihat tamu-tamu yang sudah berkumpul di dalam rumah. Ruang tengah rumah Jung Ah yang memang sudah luas disulap menjadi sebuah ruang dansa dan perayaan. Sebuah acara kumpul-kumpul dan jamuan yang benar-benar terasa asing dan mewah bagi Seungyeon. Seungyeon merasa mungkin ini adalah acara ala orang-orang Barat, terlihat dari pakaian-pakaian yang dikenakan dan gelas-gelas beling yang digenggam oleh para tamu. Seungyeon juga dapat memastikan paling tidak ada tiga bahasa yang terdengar di acara ini, yaitu bahasa Korea, Jepang, dan Inggris.

“Tamu-tamu ini rata-rata lulusan Universitas Tokyo. Mereka sudah sukses dan berhasil di bidangnya masing-masing. Ada yang jadi pengusaha, pejabat, ahli hukum, pengacara, sastrawan, seniman, dan masih banyak lagi. Mereka semua temanku, dan harus jadi temanmu juga,” ujar Jung Ah.

Seungyeon hanya mengangguk dan masih terlihat ragu-ragu.

“Kamu kenapa sih? Kok kayaknya tegang begitu? Jangan tegang dong, kamu harus gembira, malam ini kita pesta! Ini kesempatan yang gak boleh kamu lewatkan. Nanti kamu berbaur ya dengan anak-anak sebaya kamu,” Jung Ah menepuk-nepuk lembut pipi Seungyeon.

Seungyeon meringis. Beginikah kehidupan orang Korea di luar tanah airnya? Sembari berjalan dituntun Jung Ah, ia mengedarkan pandang ke seluruh ruangan. Ia melihat seorang pria Korea paruh baya berdiri berdampingan dengan seorang perempuan Jepang berwajah lembut yang mengenakan kimono. Mungkin istrinya. Mereka bercakap-cakap dengan bahasa Jepang campur Korea dengan pasangan lain sebaya mereka. Di dekat jendela yang besar, Seungyeon mendapati Francis alias Dongwoon sedang bercakap-cakap akrab dengan seorang gadis remaja tanggung bertubuh mungil. Sebentar-sebentar mereka saling tertawa satu sama lain, tampaknya mereka sedang saling melempar rayuan.

“Seungyeooonnnn!” panggil Nana yang menghampiri Jung Ah dan Seungyeon yang sedang berjalan.

“Kamu cantik sekali malam ini!” puji Nana.

Seungyeon tersipu.

“Sudah kenalan dengan siapa saja?” tanya Jung Ah kepada Nana.

“Lumayan, Kak. Aku sempat kenalan sama beberapa orang di rumah ini, cuma memang baru dapat kesempatan ngobrol banyak dengan mereka sekarang. Itu mereka di sana” tunjuk Nana ke sebuah arah, dan dari kejauhan dua dari tiga orang perempuan muda yang ditunjuk Nana melambaikan tangan.

***

“Hai Yoobin!” sapa Seungyeon.

“Hai Seungyeon! Kenapa baru turun sekarang?” tanya Kim Yoobin, seorang mahasiswi sastra berkulit agak gelap. Yoobin yang cantik dan berwajah tegas dengan nada bicara khasnya yang lambat dan terputus-putus.

Kim Yoobin adalah satu dari sekian banyak manusia yang dianugerahi memori fotografik serta kemampuan berhitung yang mengesankan dan lebih suka mengamati pergerakan bintang di langit setiap malam sambil mulutnya komat-kamit menyebutkan nama-nama rasi bintang hingga ia kelelahan dan jatuh tertidur dengan posisi terduduk di depan jendela kamarnya. Namun Yoobin memilih untuk mendalami ilmu sastra. Jung Ah pernah berkata bahwa orang-orang seperti Yoobin kemungkinannya adalah 1 dari 1000 orang. Saat ditanya alasannya, Yoobin menjawab ilmu sastra akan menolongnya melukiskan setiap gambaran yang masuk di otaknya ke dalam bentuk tulisan dan ia juga berharap ilmu sastra akan membantunya untuk lebih fasih berbicara.

“Kamu, cantik, Seungyeon,” puji Yoobin. Tersendat di setiap koma di antara jeda kata dan mata Yoobin yang tidak fokus menatap lawan bicaranya namun Seungyeon dapat merasakan ketulusan dan kejujuran dari setiap kata-katanya.

“Ehem, ini siapa?” tanya Seungyeon kepada seseorang yang tampak tidak asing.

“Sepertinya kita satu rumah ya? Kamu yang kamarnya di lantai tiga kan?” terka gadis itu.

“Ah, sepertinya memang kita serumah. Saya selama dua hari di sini cukup sering lihat kamu lalu-lalang di dalam rumah, cuma kita belum sempat kenalan.”

“Benar itu,” gadis itu cengengesan. “Saya Ham Eunjung, calon teman sekelasnya Nana di ilmu hukum,” lanjut gadis tinggi semampai itu.

“Hei, mana si Ga In? Kok langsung pergi gitu aja?” Nana celingukan mencari seorang lagi yang tiba-tiba menghilang.

“Kebiasaan. Suka tiba-tiba gak ada. Kadang suka aneh. Itu tadi Son Ga In, salah satu mahasiswi beasiswa ke Universitas Tokyo. Dapat di ilmu fisika. Konon masih saudara jauhnya Jung Ah. Dengar punya dengar, beasiswanya itu hasil kongkalikong dengan pemerintah kolonial Jepang di Korea,” cerita Eunjung.

“Hah? Beasiswa?” tanya Yoobin yang juga penerima beasiswa bersama Seungyeon dan Nana.

“Oh ya? Koneksi dari mana dia? Masa iya dari Jung Ah? Ilmu fisika pula? Yakin bisa dia?” timpal Nana dengan nada sedikit curiga.

“Ah, paling-paling bapaknya itu macam raja-raja kecil yang diangkat Jepang dan petantang-petenteng sama orang-orang di kampungnya,” cibir Eunjung.

“Kuliah ilmu fisika jadi apa dia nanti? Menciptakan alat yang bisa kupas kulit padi satu karung dalam waktu satu menit? Atau rakit senjata yang bisa memusnahkan satu desa dengan sekali lempar?”

“Bisa saja. Lantas alat itu disewakan ke orang-orang di kampungnya dengan harga dan bunga yang tinggi. Atau senjata yang dia temukan dia jual ke Jepang untuk menghabisi orang-orang macam kita. Hahahahahaha!” seru Eunjung.

Sarkastik, batin Seungyeon dalam hati.

Nana mengibas-ngibaskan tangannya. “Macam dia begitu, kalau bener anaknya penguasa lokal sih biasanya udah diijon oleh saudagar atau pejabat dari umur 11 tahun.”

“Diijon? Maksudnya?” tanya Yoobin.

“Dijodohin. Atau sudah dipinang dari kecil,” Nana menguncupkan dan mendekatkan kedua tangannya dengan gerakan seperti mematuk.

“Oh ya, Seungyeon, kau tahu tidak, di jurusan sejarah nanti teman-temanmu akan kebanyakan lelaki?” sahut Eunjung.

Nana mengangguk. “Ya, perbandingan perempuan dan laki-laki di jurusan sejarah itu satu banding tujuh. Satu perempuan untuk tujuh laki-laki. Hahahaha, selamat menjadi bunga di antara kumbang ya?! Kumbang Jepang. Jurusan kamu itu jurusan yang sepi dari mahasiswa Korea. Mungkin di angkatan ini kamu satu-satunya dan perempuan pula,” Nana mengedipkan sebelah matanya.

***

Jung Ah berkacak pinggang. “Kenapa jam segini kamu masih di sini, Sohyun? Ini sudah malam loh! Ngapain aja kamu sama Francis? Ayo, kamu pulang, nanti kamu dicari oleh orang tua kamu!”

“Maafkan saya…” Sohyun menunduk-nunduk patuh.

“Ayolah Jung Ah, jangan dimarahin Sohyun-nya. Nanti dia takut. Lagian aku juga gak apa-apain dia kok!” bujuk Francis saat tiba-tiba Jung Ah menghampirinya dan gadis remaja yang sedari tadi mengobrol dengannya.

“Aku gak marah. Cuma gak baik aja buat anak seumuran dia sudah malam begini belum pulang ke rumah. Lagian kamu juga, sebagai laki-laki harus bertanggungjawab. Kamu ingatkan lah dia untuk jangan pulang terlalu larut!” jelas Jung Ah.

“Gak marah kok suaranya tinggi-tinggi begitu?” gumam Francis sambil merangkul Sohyun.

Belum sempat Jung Ah menegur Francis dan Sohyun lagi, tiba-tiba Seungyeon datang menghampiri.

“Hai, kalian di sini?” tanya Seungyeon sambil tersenyum lebar.

“Hai, Seungyeon!” balas Francis yang merasa sejenak hidupnya terselamatkan dari amukan Jung Ah dengan datangnya Seungyeon. “Oh ya, kenalkan ini Sohyun…” Francis memperkenalkan Sohyun.

Mereka berdua saling berkenalan. “Ini ……. siapanya Francis?” tanya Seungyeon setengah memancing.

“Pacarnya!” sambar Jung Ah.

“Ah, ah, maksudnya…” Francis gelagapan.

“Mengaku saja. Kalian sudah sedekat ini kamu belum juga mau mengakui Sohyun sebagai pacar kamu? Bajingan juga kamu ya, Francis Sohn,” goda Jung Ah halus.

Francis dan Sohyun hanya tersipu-sipu.

“Aku ke sana dulu ya…” Seungyeon mohon diri.

***

Di tengah ruangan menuju tempat minuman dihidangkan, Seungyeon tidak sengaja bertabrakan dengan seorang pria jangkung.

“Oh, maaf, maaf sekali. Saya tidak sengaja,” pria itu membungkukkan badannya berkali-kali. “Anda tidak apa-apa, kan?”

“Sudah, saya tidak apa-apa. Anda juga tidak sengaja. Tidak apa-apa,” Seungyeon langsung menetralkan suasana di antara mereka berdua.

“Baiklah kalau begitu,” pria jangkung berambut klimis itu langsung berlega hati. “Kamu, anak baru?” tanya pria itu.

“Betul. Nama saya Han Seungyeon. Saya tinggal di sini bersama anak-anak lainnya. Saya mahasiswi jurusan sejarah.”

“Oh ya? Salam kenal. Saya Shim Changmin,” pria dengan kemeja kerah putih berleher tinggi dan jas serta dasi kupu-kupu itu mengulurkan tangannya. Seungyeon merasa canggung dengan cara perkenalan seperti itu. Dengan perlahan ia menjabat tangan Changmin juga. “Saya ketika jadi mahasiswa baru di sini juga. Kamar saya di bawah, kamar agak ke belakang. Sekarang kamar bawah sudah tidak lagi, kamar dipindah ke lantai dua dan tiga semua.”

“Hmmm, tunggu sebentar. Kamu punya saudara tidak di Universitas Tokyo? Wajah kamu terlihat familiar?” tanya Changmin.

Seungyeon mengangguk. “Ada, saudara jauh. Namanya Min Sunye. Kamu kenal?”

“Tentunya kenal! Saya seangkatan dengannya, di ilmu kelautan juga. Kakak jauh kamu itu cerdas. Hebat! Pencapaiannya luar biasa banyak dan mengagumkan!” sanjung Changmin sambil mengacungkan jempolnya. “Dia sekarang sudah magang di salah satu kapal dagang Jepang. Saya belum jadi apa-apa. Masih berkutat di kampus, banyak kegiatan gak jelas,” Changmin tersenyum.

“Ya memang. Saya banyak belajar dari Sunye. Baik sekali, sangat lembut, juga perhatian. Bagaimana kabarnya dia? Saya lama tidak komunikasi.”

“Sunye memang sudah beberapa bulan ini di tengah laut terus. Menepi ke darat hanya seminggu sekali dan libur dua hari. Kemudian melaut lagi. Umumnya pola kerja di kapal begitu. Saya gak tahu persis sih. Jadi, wajar kalau kalian jadi putus komunikasi.”

“Sebenarnya Sunye pun tidak tahu kalau saya dapat di sini. Niatnya saya mau kasih kejutan.”

“Benarkah?” mata Changmin membesar. “Wow, kalian sepertinya memang memiliki keturunan cerdas yang tidak main-main. Saya bisa lihat dari wajahmu, dari matamu, kamu juga seorang yang cerdas dan punya visi. Terbaca kok dari luar, juga dari cara kamu bicara dan menggerakkan tubuh,” papar Changmin.

“Kita baru ketemu. Kamu sudah banyak memuji saya dan saudara saya. Tapi, terima kasih,” Seungyeon membungkuk sedikit, merasa sungkan.

Changmin memiringkan kepalanya ke kanan. “Kalian berdua layak untuk itu. Terimalah, kamu tak perlu bayar untuk itu,” Changmin tersenyum.

Seungyeon meraba-raba leher belakangnya dan menggosok-gosok lengannya.

“Kamu kedinginan?” tanya Changmin.

“Agak, sedikit,” jawab Seungyeon.

“Tunggu sebentar ya…” Changmin beranjak beberapa langkah dan membawakan segelas minuman. “Ini, minuman khas orang kita. Soju, minumlah, biar kamu hangat,” tawarnya.

Seungyeon menerimanya. Changmin berusaha melongok ke arah luar dari jendela. “Wajar, musim semi di Tokyo masih muda. Tiga hari lagi saya bisa tebak kalau akan hujan. Tadi saya sempat lihat, kalau ada cincin yang melingkari bulan malam ini. Mungkin kalau sekarang, sudah tidak begitu kentara, karena tertutup awan.”

“Ada satu lagi yang gak boleh kamu lewatkan. Kamu belum lihat bunga sakura bermekaran. Di Tokyo puncaknya kira-kira dua minggu lagi. Saya tahu tempat yang bagus di dekat kampus. Sudah bertahun-tahun selalu lihat di tempat itu beramai-ramai sama teman-teman kuliah. Kalau kamu mau, kita bisa lihat sama-sama,” ajak Changmin.

“Kita lihat nanti ya,” Seungyeon berusaha memberikan jawaban yang diplomatis. Ia merasa agak canggung mengobrol sedekat dan sejauh ini dengan seorang pria yang baru dikenalnya, bahkan belum ada sepuluh menit mereka mengetahui nama masing-masing.

Seungyeon berusaha mengalihkan perhatiannya sendiri. Kemudian ia berusaha memfokuskan perhatiannya kepada alunan musik yang sedang dimainkan yang terdengar asing di telinganya. Alat musik tiup yang padu bersahut-sahutan yang dikawal oleh irama yang patah-patah. Tanpa disadari, badannya bergoyang sedikit.

“Kamu suka musiknya?” tanya Changmin lagi.

Seungyeon menggeleng. “Saya bahkan belum pernah dengar musik seperti ini. Tetapi terdengar nikmat.”

Changmin tersenyum. “Ini musik dari Amerika. Katanya musiknya para budak kulit hitam di sana. Setelah kakak laki-lakinya Jung Ah pulang dari Amerika dan pulang ke Tokyo, dia memang aktif mempopulerkan musik jenis ini di sini beberapa waktu belakangan. Dia yang main kontra bass, alat musik petik yang berdiri dan besar sekali itu. Kamu lihat kan?” tunjuk Changmin kepada seorang pria tinggi besar berwajah serius di panggung.

“Siapa namanya?” tanya Seungyeon.

“Park Hong Jun. Kadang biasa dipanggil Teddy, nama Amerikanya. Dia pengagum salah satu bekas presiden Amerika yang biasa dipanggil Teddy juga.”

Musik belum berhenti mengalunkan lagu berirama cepat dan menghentak, sedangkan malam mulai makin menua, kata-kata dan celoteh di dalam rumah itu masih mengalir deras seperti gelas-gelas minuman yang tak punya waktu untuk dikosongkan dan tak rela untuk istirahat bersulang.

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on December 4, 2011, in Fanfiction, The Dawn of First March. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Banyaknya karakter2 baru yg ada benar2 mengundang tanda tanya akan apa yang terjadi di part berikutnya. Membuat gue yang baca ini jadi menerka-nerka apa kontribusi tiap karakter-karakter disini untuk ceritanya dan membuat gue mikir kalau ceritanya bakal panjang,karena klimaksnya aja belom nyampe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: