The Dawn of First March (Bab 9)

DUNIA BARU

Setiap pagi, Park Jung Ah bangun dan segera membasuh tubuhnya bahkan sebelum secangkir teh hitam hangat menyiram kerongkongannya. Setelah itu ia menyisir rapi rambut hitam panjangnya dan tak lupa memoles bibirnya dengan gincu merah. Setelah itu ia meneguk teh hitam kesukaannya, dan pagi ini ia menuntaskan novel karya sastrawan Rusia, Fyodor Dostoyevsky berjudul The Idiot yang sempat tertunda tiga hari lamanya. Ia letakkan buku tersebut di atas meja yang jika malam hari beralih fungsi sebagai meja makan.

Jung Ah menghabiskan masa remaja dan pertengahan usia 30 tahunnya kini di Tokyo sebagai anak seorang taipan imigran asal Korea. Konon, ayah Jung Ah memboyong mereka sekeluarga ke Tokyo dengan tujuan mencari perlindungan dari pesaing bisnis dan politik keluarga mereka. Dan lanjutan konon lagi, begitu Jung Ah sekeluarga sampai di rumah mereka di Tokyo, sang ayah membakar kapal yang mengangkut mereka sampai ke Tokyo. Kapal yang turut membawa beberapa barang-barang berharga dan beberapa tong bahan bakar itu membuat kegiatan pelabuhan terhenti selama empat hari karena api yang tak kunjung padam.

Ohayu gozaimasu, Jung Ah-san,” sapa seorang laki-laki yang mendekatinya.

Dengan enggan, Jung Ah melipat dan menutup buku tepat di halaman terakhir yang ia baca.

“Ya?” balas Jung Ah dengan malas.

Pria berwajah Asia namun memiliki guratan-guratan wajah orang Barat itu mesam-mesem dan menarik sebuah kursi di depan Jung Ah.

“Anak baru itu jadi tiba hari ini dari Seoul?” tanya Jung Ah.

Pria itu mengangkat bahu. “Harusnya saya yang tanya sama Anda. Saya siap menjalankan perintah untuk menjemput. Sekarang, nanti siang, atau kapan?”

“Francis, saya sudah berikan jadwal kedatangannya ke kamu beberapa hari lalu. Saya tidak punya waktu untuk bercanda. Buku ini sudah terbengkalai tiga hari, saya harus selesai baca hari ini. Seharusnya hari ini saya sudah menyelesaikan setengah dari Suicide-nya Emile Durkheim, paham?” protes Jung Ah.

Pria bernama Francis yang jelas terlihat berusia jauh lebih muda dari Jung Ah kembali meledak tawanya.

Jung Ah masih menampakkan muka masam. “Kalau sudah jadwalnya, lebih baik kamu pergi jemput dia sekarang. Jangan biarkan dia menunggu kelamaan.”

“Kalau belum?” balas Francis jahil.

Jung Ah melotot. “Kalau belum, kamu bersihkan kamarnya!” serta merta Jung Ah melompat dari duduknya. Francis kabur.

Di rumah itu, Jung Ah tidak tinggal sendiri. Sudah hampir 8 tahun, Jung Ah melakoni hidup sebagai induk semang dari mahasiswa-mahasiswa Korea yang menuntut ilmu di Tokyo. Rumahnya yang besar ini ia sewakan secara cuma-cuma untuk para mahasiswa Korea tinggal di masa dua tahun pertama kuliah. Namanya masyhur di kalangan orang-orang Korea di Jepang, tak jarang rumahnya menjadi ajang berkumpul bagi sesama Korea untuk acara-acara tertentu.

Jung Ah menamatkan kuliahnya yang cemerlang di Universitas Tokyo jurusan filsafat. Dengan koneksi yang dimiliki keluarganya, Jung Ah dengan mudah mengakses dan memperoleh buku-buku karya filsuf Barat, yang justru terbilang masih jarang di universitas kala itu, kendati pengaruh pemikiran dari Jerman mulai tumbuh di kalangan mahasiswa filsafat di Jepang melalui cara-cara yang tidak langsung, terkecuali karya Karl Marx dan Hegel. Di tahun pertama kuliahnya, Jung Ah telah berhasil menyelesaikan karya agung Niccolo Machiavelli berjudul The Prince yang telah menjadi acuan politik pragmatis di seluruh dunia dari Napoleon Bonaparte hingga Adolf Hitler yang mengaku tidur dengan buku tersebut dan menyimpannya di bawah bantalnya bahkan.

***

Francis berdiri sambil berkacak pinggang di atas kotak-kotak kayu menganggur yang disusun sedemikian rupa di pelabuhan. Dari ketinggian yang tidak terlalu penting itu, ia mencoba mengamati dari kejauhan apakah kapal dari Seoul sudah tiba. Francis juga melompat-lompat di atas kotak kayu juga untuk memastikan bahwa kapal yang ditunggunya memang belum datang.

Anoooo….. Pak, kemarin seharian tidak ada kabar tentang badai kan ya, Pak?” tanya Francis kepada seseorang yang lewat di hadapannya.

Orang itu hanya menggelengkan kepalanya dan menunjukkan ekspresi heran dan aneh.

“Ah iya, terima kasih, Pak…” Francis membungkuk. “Tidak ada badai. Aman…” Francis berbicara sendiri sembari senyum-senyum.

Setelah menguap untuk kesekian kalinya, Francis melihat para pekerja pelabuhan dan kuli angkut ramai-ramai mendekati dermaga. Tak lama, terlihat bermacam-macam manusia tumpah ruah dari kapal dengan segala barang bawaan dan urusannya. Francis menggaruk-garuk kepalanya. Ia sama sekali tidak tahu bagaimana rupa dan perawakan orang yang akan dijemputnya ini. Bekalnya hanya nama dan asal calon mahasiswi tersebut: HAN SEUNGYEON dari SEOUL.

Timbul ide nakal dari Francis. Satu per satu perempuan muda yang dilihatnya turun dari kapal ditarik tangannya dan ditanyai satu per satu, “Han Seungyeon?” walaupun reaksi yang diperoleh Francis sangat beragam, mulai dari penolakan sopan dan baik sampai dibentak atau dihentak tangannya dengan paksa. Hingga penumpang kapal habis, Francis tidak menemukan Han Seungyeon yang dicarinya.

Setengah putus asa, Francis berjalan tak tentu arah sembari menggumam, “Han Seungyeon, Han Seungyeon, Han Seungyeon…” apalagi setelah ia mengetahui informasi bahwa kapal dari Seoul baru akan merapat tiga hari lagi.

Where the hell are you, Han Seungyeon?” pekik Francis dalam bahasa Inggris dengan suara yang cukup keras.

“Maaf, Pak, tadi saya seperti mendengar Anda meneriakkan nama saya,” mendadak seorang perempuan muda entah dari mana menyusul Francis dari belakang dan kini berdiri di hadapannya.

Francis menelitinya dari ujung kepala hingga ujung kaki dan kembali lagi ke wajah perempuan itu. “Kamu… Han Seungyeon?” selidik Francis.

“Betul, Pak. Saya Han Seungyeon. Saya calon mahasiswi Universitas Tokyo,” jawab Seungyeon sopan. Ia menunjukkan surat penerimaan dirinya dari universitas.

Francis menarik napas penuh kelegaan. Tanpa pikir panjang, ia menggamit lengan Seungyeon. “Ayo ikut saya!”

“Pak, tunggu! Kita mau ke mana? Dan juga, Anda siapa?” Seungyeon panik.

“Saya diperintahkan oleh induk semang kamu untuk jemput dan langsung membawa kamu ke tempat tinggal.”

“Oh, jadi Anda bawahannya Park Jung Ah?” tanya Seungyeon.

“Apapun sebutannya, yang jelas saya bukan bawahannya Jung Ah. Jelas? Ini catatan pertama buat kamu di negara ini. Ah, sampai lupa. Nama saya Francis,” jawab Francis setengah menahan dongkol karena disebut bawahannya Jung Ah.

“Ya, Pak Francis…” sahut Seungyeon.

“Catatan kedua, jangan panggil saya Bapak!” tegas Francis.

***


Mereka berdua menaiki sebuah kereta kuda yang sengaja disewa oleh Jung Ah. Sebuah kereta kuda yang cukup sederhana tanpa atap dan terbuat dari kayu.

“Jadi Ibu Jung Ah yang menyewa kereta ini khusus untuk menjemput saya?” tanya Seungyeon.

“Iya, begitu keluar pengumuman dari Universitas Tokyo tentang hari kedatangan kamu di sini, beliau langsung menyewanya dan memerintahkan saya untuk jemput kamu,” terang Francis.

“Ini kan, cukup mahal?” terka Seungyeon.

Francis yang duduk berhadapan dengan Seungyeon langsung mengibaskan tangannya. “Cuma perkara kereta kuda ini aja, urusan kecil buat dia! Jung Ah itu anak orang kaya. Keluarganya keluarga terpandang di Korea, begitu juga di Jepang, dia pun tetap masih jadi orang kaya. Nanti kamu lihat sendiri tempat tinggal kamu, itu rumah yang sangat mewah dan luas, properti pribadinya yang ia sewakan tanpa memungut bayaran untuk setiap mahasiswa Korea yang berhasil kuliah di Tokyo.”

Seungyeon terlihat takjub dengan penjelasan Francis.

“Oh ya, kamu kuliah apa nanti?” tanya Francis.

“Saya ambil sejarah,” jawab Seungyeon.

“Benarkah? Wah, Jung Ah pasti senang sekali kedatangan kamu. Dia punya minat yang besar di bidang sejarah. Jung Ah itu alumni Universitas Tokyo juga, ambil filsafat,” cerita Francis.

“Filsafat? Bu Jung Ah pasti sangat cerdas ya?” mata Seungyeon membesar.

Francis mengangguk mantap. Ia melanjutkan ceritanya dengan seru, “saking pintarnya, jadinya ya begitu, dia jadi keblinger, aneh! Saya kasih tau aja, hobinya Jung Ah itu baca buku dari pagi sampai siang! Kalau malam, pesta atau nonton teater atau ke galeri seni! Sehari itu, Jung Ah bisa kuat dan betah baca buku serius yang tebalnya 300-an halaman. Dan selesai hari itu juga! Gila gak tuh, kamu bayangin aja! Besoknya dia baca lagi buku baru.”

“Oh iya, dan satu lagi,” sambung Francis. “Jangan pernah usik Jung Ah setiap dia sedang dalam posisi duduk di meja dan matanya menghadap buku. Juga kalau dia sedang berhenti membaca sebentar, jangan coba-coba sentuh bukunya atau bolak-balik halamannya. Bukunya bergeser seujung kuku saja, Jung Ah bisa tahu, dan dia bisa marah besar. Pernah suatu hari, ada seorang mahasiswa yang iseng lihat-lihat buku yang sedang dibaca Jung Ah, lantas sebelum Jung Ah kembali, anak itu kabur. Wah, saat Jung Ah tahu ada yang usik bukunya, satu rumah dipanggil dan disidang di ruang tengah. Semuanya kena semprot, termasuk saya juga ada waktu itu.”

“Lalu?” tanya Seungyeon yang tampak serius menyimak cerita Francis.

“Akhirnya tidak ada yang berani ngaku! Terang aja!”

“Bu Jung Ah tambah marah dong?”

“Tidak sih. Setelah marah-marah itu, dia langsung balik baca lagi.”

“Bu Jung Ah…… agak menakutkan ya?” Seungyeon mencoba menyimpulkan sifat calon induk semangnya itu.

“Jangan takut. Jung Ah sebenarnya orang yang sangat baik. Dia itu bisa jadi sosok pengganti ibu dan kakak perempuan buat kita. Dan dia menjalankan peran itu dengan sempurna, menurut saya. Anak-anak yang pernah tinggal di rumah itu ikatan persaudaraannya jadi sangat kuat. Nanti kamu akan rasakan sendiri deh,” Francis tersenyum.

***

Kereta kuda memasuki sebuah gerbang dengan ukiran sulur-sulur tumbuhan di pilarnya dan terhamparlah sebuah taman yang cukup luas. Mereka lalu sampai di depan sebuah rumah bergaya arsitektur Eropa abad ke-18 berlantai tiga berwarna merah bata. Di antara bangunan-bangunan khas Jepang di Tokyo, rumah itu menjadi sebuah tempat yang memikat dan terlihat sangat menonjol.

“Nah, kita sudah sampai!” ujar Francis. “Bisa kamu buktikan sendiri omongan saya tadi. Ayo, saya bantu,” Francis terus mengoceh sembari turun dari kereta kuda dan membantu menurunkan barang-barang Seungyeon.

“Rumah ini, tadinya punya seorang jenderal angkatan laut Amerika. Karena satu perbuatan kriminal yang dia lakukan, oleh pengadilan Amerika, rumah ini yang jadi salah satu asetnya disita, dan dijual dengan harga yang cukup murah. Langsung deh, dibeli rumah ini sama ayahnya Jung Ah…” Francis mengecilkan volume suaranya di akhir kalimat saat melihat Jung Ah telah tiba di teras rumah.

Francis membawakan barang-barang Seungyeon ke teras, sementara Seungyeon mengikutinya dari belakang.

“Hai, kamu pasti Seungyeon kan?” sapa Jung Ah ramah.

Annyeong haseyo,” Seungyeon tersenyum dan membungkuk dalam.

“Kita langsung ke dalam ya…” ajak Jung Ah.

Mereka bertiga memasuki rumah tersebut. Rumah yang tampak megah dan mewah di luar, namun sangat sederhana di dalam. Kesan aristokrat khas Eropa masih tertinggal dari dinding-dinding dan tepiannya yang berukir, jendela-jendela besar dengan kusen-kusen kayu yang menempel kokoh, sebuah tangga mengular dan sebuah patung porselen di dekat tangga, juga langit-langitnya yang tinggi. Ruang tamu yang luas di bagian depan rumah hanya diisi tiga buah kursi dan meja pendek. Sedangkan di ruang tengah langsung didapati beberapa meja dan kursi yang tertata rapi.

“Ruang tengah ini hidup di malam hari. Untuk malam hari, memang saya fungsikan sebagai ruang makan. Di sini kita satu rumah makan bersama. Setelah makan malam selesai, anak-anak biasanya mengobrol atau diskusi di sini, kadang-kadang juga mereka belajar atau mengerjakan tugas kelompok. Walaupun sebenarnya saya sudah menyiapkan semacam perpustakaan kecil atau ruang belajar di belakang, namun mereka lebih suka di ruang tengah sini,” terang Jung Ah.

“Di atas, lantai dua dan tiga, itu kamar anak-anak. Kamar kamu juga di atas. Mau langsung ke sana? Sudah dibersihkan sejak tadi pagi,” tawar Jung Ah.

“Kalau Ibu tidak keberatan, boleh saja,” jawab Seungyeon.

Jung Ah tertawa. “Tidak perlu terlalu formal di sini, kita sudah jadi saudara sekarang, apalagi kita sama-sama di perantauan. Jangan panggil Ibu juga kalau begitu.”

Francis tersedak menahan tawa.

“Kenapa kamu ketawa?” Jung Ah mendelik menatap Francis.

“Aaahh, bukan, bukan, bukan apa-apa,” Francis melambai-lambaikan kedua tangannya.

“Udah, angkut barangnya Seungyeon ke atas!” perintah Jung Ah.

“Ya, ya, ya,” balas Francis. Ia tidak langsung beranjak.

“Kenapa belum gerak juga?” Jung Ah tidak sabar.

“Kalian berdua kan yang mau jalan duluan di depan?” tunjuk Francis.

“Kamu yang di depan, biar barang-barang ini cepat sampai di atas. Kita berdua mau ngobrol santai. Iya kan, Seungyeon?”

Seungyeon mengangguk. Francis mencibir, lantas dengan cepat langsung membawa barang-barang Seungyeon ke atas lewat tangga.

Sesampainya di atas, mereka langsung mengambil jalan ke lorong sebelah kiri. Di kamar kedua dari jalan masuk, Francis berhenti dan membuka pintu. Francis masuk disusul Seungyeon dan Jung Ah.

“Ini kamarmu. Silakan kalau kamu mau tidur. Pasti tidak nyaman kamu tidur di kapal sehari semalam kemarin,” kata Jung Ah.

Seungyeon menelusuri seisi kamar. Kamar tidurnya pun bergaya Eropa senada dengan ruangan lain di rumah ini, namun dengan perabotan yang lebih sedikit, kecuali sebuah cermin besar berbingkai hitam.

“Seungyeon, saya tinggal ke bawah ya. Kamu sama Francis dulu, dia akan bantu kamu kalau ada apa-apa. Selamat datang di Tokyo dan selamat beristirahat!”

“Tidak apa-apa. Terima kasih banyak atas bantuannya!” Seungyeon sekali lagi membungkuk berterimakasih.

“Jadi, saya taruh barang-barang kamu di mana?” Francis membuka suara lagi setelah Jung Ah meninggalkan kamar Seungyeon.

“Taruh dekat tempat tidur saja. Terima kasih ya, Francis.”

Francis memindahkan barang-barang Seungyeon dari depan pintu ke dekat tempat tidur.

“Oh ya, Francis. Boleh saya tanya sesuatu sama kamu?”

“Mau tanya apa?”

“Maaf kalau kurang sopan. Kamu orang Korea atau orang Jepang?” Seungyeon bertanya dengan hati-hati.

“Oh, tentang itu. Biasa……” Francis cengengesan. “Ayah saya orang Amerika yang besar di Hawaii. Beliau insinyur perairan yang bekerja untuk militer Amerika. Ibu saya orang Korea. Sebenarnya, Francis itu nama Barat saya, karena saya lahir di Perancis. Saya juga punya nama Korea.”

“Oh ya? Apa nama Koreamu?” tanya Seungyeon antusias.

“Dongwoon,” jawab Francis mantap.

“Boleh saya panggil kamu Dongwoon?”

“Apapun. Dongwoon atau Francis, sama saja. Beberapa memanggil saya Dongwoon, beberapa memanggil Francis.”

“Baiklah, Dongwoon. Terima kasih banyak ya untuk semua bantuannya…”

“Sama-sama.”

Mereka berdua saling tersenyum.

“Oh ya, dua malam dari sekarang akan ada acara di rumah ini. Acara kumpul-kumpul mahasiswa Korea di Tokyo. Biasanya menjelang tahun ajaran baru, selalu diadakan acara ini. Nanti kamu ikut lah, kamu kenalan dan membaur, biar kenal sama sesama orang Korea di sini. Bakal banyak orang hebat nanti datang ke sini, rata-rata mereka pernah tinggal di sini. Bisa juga mereka disebut alumni rumah Jung Ah,” Francis terkekeh.

“Benarkah? Kedengarannya akan menyenangkan.”

“Pastinya. Kamu harus datang. Saya juga datang nanti.”

“Catatan ketiga!” sahut Francis tiba-tiba.

“Ketiga? Apa lagi?” Seungyeon heran.

“Selamat datang di dunia baru!”

***

Setengah panik, Seungyeon membongkar isi tasnya dengan serampangan. Pakaian-pakaian ia raba, lalu setelah dirasa tidak menemukan yang ia cari, pakaian tersebut ia lemparkan begitu saja tak peduli ke mana arahnya.

“Mati kau!” umpat Seungyeon. Seharian penuh tidurnya untuk membayar satu hari satu malam perjalanan laut dari Seoul ke Tokyo yang seharusnya dapat membuat tubuhnya segar kembali kini menjadi percuma karena emosinya terkuras habis menyadari kecerobohannya meninggalkan dompet berisi uang saku dari ibunya.

Terdengar suara langkah dari dua pasang kaki di luar kamar Seungyeon. Rumah Jung Ah yang luas dan sepi itu memungkinkan suara sekecil apapun dapat terdengar sangat jelas. Terdengar suara Jung Ah berbicara di luar dengan seorang perempuan. Dari bentuk percakapan mereka, Seungyeon dapat memahami bahwa perempuan itu adalah seorang calon mahasiswi juga.

Pintu kamar Seungyeon diketuk.

“Ya?!” sahut Seungyeon dari dalam.

“Kamu sedang apa?” balas Jung Ah dari luar kamar dengan sopan.

“Tidak. Tidak melakukan apa-apa,” jawab Seungyeon.

Perlahan pintu kamar Seungyeon dibuka, dan Jung Ah menjulurkan sedikit kepalanya ke dalam. “Boleh aku masuk?” Jung Ah tersenyum.

“Tentu saja. Silakan, Kak…” kata Seungyeon.

Jung Ah lalu memasuki kamar Seungyeon dan berhenti setelah beberapa langkah ke dalam.

“Ayo!” Jung Ah menoleh ke belakang dan melambaikan tangannya memberikan sebuah isyarat.

Lalu masuklah seorang perempuan muda kurus tinggi berkaki jenjang dengan rahang yang tegas. Ia tersenyum sebentar, terbentuklah sebuah simpul bibir yang tipis dan ramping menyamping.

“Seungyeon, kenalkan ini calon mahasiswi dari Seoul juga,” kata Jung Ah membuka perkenalan mereka berdua.

“Han Seungyeon,” Seungyeon mengambil inisiatif untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu.

“Im Jin Ah. Biasanya dipanggil Nana,” balas gadis itu.

“Kamu ambil jurusan apa di universitas?” tanya Seungyeon.

“Saya di jurusan hukum,” jawab Nana dengan paras penuh kebanggaan.

“Hukum?! Wow, kau pasti sangat cerdas, ya?!” puji Seungyeon tanpa ragu-ragu.

“Biasa saja, kok…” mendadak Nana menjadi sedikit malu. “Memang minat saya di bidang hukum. Kamu sendiri di mana?”

“Saya jurusan sejarah.”

“Seungyeon ini anaknya seniman Han, pembuat pedang yang terkenal di Korea itu,” tukas Jung Ah menjelaskan latar belakang keluarga Seungyeon.

Seungyeon mengangguk pelan dan melemparkan senyum yang menyembunyikan matanya sendiri.

“Kalau Nana ini orang tuanya guru di sekolah elite khusus anak-anak pejabat Jepang di Seoul,” lanjut Jung Ah.

“Nana, kapan sampai di Tokyo dari Seoul?” tanya Seungyeon sedikit berbasa-basi.

“Oh, saya sebenarnya sudah di Tokyo sejak sebulan lalu. Hanya saja, seminggu kemarin ini saya sedang di Yokohama, dan baru hari ini saya masuk….. hmmmm….. asrama?” Nana melirik ke arah Jung Ah.

“Aku rasa enggak. Aku enggak pernah menyebut rumah kita ini asrama. Enggak. Aku gak mau membangun kesan ini rumah yang kaku dan penuh dengan aturan. Ini rumah kalian. Benar. Kalian boleh kok selama tinggal di sini mengakui ini sebagai rumah kalian,” jelas Jung Ah.

Mereka bertiga saling tersenyum. “Nana, kau apa mau langsung masuk kamar? Barang-barangmu sudah diantarkan ke kamar kan?”

“Ya, aku mau langsung ke kamar. Aku sudah tidak sabar mau mencoba tidur di atas ranjang yang dulu pernah ditidurin oleh cucu laki-lakinya Kaisar Gojong yang legendaris itu. Yang kemayu itu…..” Nana cekikikan.

“Udah ah, ini masih pagi kau sudah bergunjing,” Jung Ah menahan dirinya agar tidak terseret membicarakan hal-hal yang tidak penting.

“Seungyeon, main-main ke kamarku ya! Dua kamar di sebelah kanan kamarmu ya! Sampai ketemu lagi!”

Nana sudah keluar dari kamar Seungyeon, namun Jung Ah masih berada di dalam. Matanya sedari awal jelas-jelas sudah tertumpu kepada kondisi kamar Seungyeon yang acak-acakan.

“Kamu habis ngapain?” tanya Jung Ah heran.

“Ngggg…… saya, hmmmm, saya tadi habis mencari dompet saya yang hilang,” jawab Seungyeon gugup.

“Dompet kamu? Hilang? Bagaimana bisa? Sudah kamu cari lagi dengan teliti?” Jung Ah khawatir.

“Ah, sudah. Tidak apa-apa kok, Kak. Sepertinya saya baru ingat kalau dompet saya itu tertinggal di tangan teman saya di Seoul,” aku Seungyeon.

“Tertinggal di Seoul? Ya ampun….. bagaimana bisa, Seungyeon? Kamu ceroboh sekali…..” Jung Ah menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Saya juga merasa bersalah. Uang itu pemberian ibu saya sebagai uang saku…”

Jung Ah berdecak. “Ya sudah, tidak apa-apa. Kapanpun kamu butuh uang, kamu bilang saja sama saya, berapa kamu perlunya, saya akan berikan.”

“Tidak usah, Kak…” tolak Seungyeon halus, namun langsung disela oleh Jung Ah. “Tidak, tidak,” Jung Ah menggerakkan telapak tangannya. “Kamu tidak perlu sungkan begitu. Selalu akan ada pertolongan untuk kalian semua yang tinggal di dalam rumah ini.”

“Terima kasih…” ujar Seungyeon pelan.

“Ayo sini saya bantu bereskan barang-barang kamu lagi ya…” Jung Ah langsung memungut barang dan pakaian Seungyeon yang berserakan di lantai.

“Tidak usah, Kak, tidak usah. Biar saya sendiri yang bereskan lagi,” cegah Seungyeon.

“Sudah, sudah. Kita lakukan berdua. Saya bantu,” kata Jung Ah sambil melipatkan pakaian-pakaian Seungyeon.

Saat hendak memindahkan pakaian yang sudah terlipat rapi, sebuah benda terjatuh ke lantai.

“Apa itu?” Seungyeon tersadar.

“Sepertinya punyamu, terselip di antara pakaian-pakaian,” terka Jung Ah.

Setengah berjongkok, Seungyeon memungut benda yang tidak ia sadari keberadaannya itu. Jung Ah juga turut mengamati.

“Bentuk kalungnya aneh, seperti gigi taring. Itu benda, punyamu?” tanya Jung Ah.

Seungyeon meraba bandul kalung yang kata Jung Ah yang menyerupai gigi taring itu. Permukaannya halus, namun keras dan agak berkapur. Jimat keberuntungan Jin Ki, gumam Seungyeon dalam hati. Seungyeon mengerutkan kening, sejak kapan jimat itu ada di dalam tasnya?

“Ya, Kak. Ini pemberian temanku. Dia bilang ini jimat keberuntungan…”

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on November 22, 2011, in Fanfiction, The Dawn of First March. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: