The Dawn of First March (Bab 8)

BERTOLAK

Beberapa langkah di depan rumahnya, mata Seungyeon menyapu sekitar untuk memastikan bahwa Jin Ki menepati janjinya. Di depan pagar Jin Ki urung terlihat sosoknya. Seungyeon mulai dirambati rasa khawatir dan gelisah. Ia berjalan perlahan sembari menenteng tasnya dan menengok kiri-kanan memastikan keberadaan Jin Ki.

Di jalanan sepi di depan rumahnya, Seungyeon merasakan ada sebuah langkah kaki terdengar jauh dari belakang yang mengikutinya pelan-pelan. Seungyeon terus berjalan dan menaikkan kewaspadaannya. Ia memutuskan berjalan lebih cepat, namun langkah kaki tersebut juga ikut mempercepat langkahnya. Dada Seungyeon naik-turun, napasnya memburu cepat. Dengan cepat, Seungyeon memungut benda apapun di tanah yang bisa ia pergunakan untuk melawan atau melindungi diri.

Serta-merta, Seungyeon berbalik badan. “Sia…….?!”

Orang yang mengikuti Seungyeon membuka topi dan tutup kepalanya. “Saya menepati janji kan?”

“Jin Ki?!” seru Seungyeon.

Jin Ki berjalan mendekati Seungyeon. “Ya, saya di sini. Siap untuk bertolak sekarang?”

Seungyeon tersenyum. “Pelayarannya masih besok, Tuan Muda Jin Ki. Hari ini, kita akan menginap dulu kan?”

***

“Kamu yakin kita akan menginap di sini?” tanya Seungyeon ketika mereka sampai di depan sebuah hotel yang terlihat mahal. Hotel tersebut adalah hotel terdekat dari pelabuhan Incheon di mana kapal yang akan membawa Seungyeon ke Tokyo akan berangkat besok.

Incheon memperoleh nama mashyurnya dari Raja Taejong di tahun 1413. Di akhir abad ke-14, Incheon sudah menjadi pelabuhan yang menjadi bagian tak terpisahkan bagi industri perikanan. Di masa penjajahan Jepang, Incheon pun menjadi salah satu objek dari perjanjian kedua negara dan Incheon mulai difungsikan sebagai pelabuhan internasional. Pelabuhan Incheon juga kawasan pecinan di Korea sejak akhir tahun 1800 karena ramainya perniagaan dengan China.

“Kita coba saja. Anda butuh santai, Nona Han. Tempat tidur yang empuk dan nyaman. Juga, makanan yang lezat…” Jin Ki mengangkat bahu.

“Ide yang bagus…” Seungyeon mengangguk-angguk sambil menengadahkan kepala melihat plang nama hotel yang dipajang besar-besar.

“Berapa uang yang kita perlukan untuk semua itu ya?” Jin Ki menggumam.

“Berapapun itu, rasanya agak sayang kalau dihabiskan untuk dua kamar,” lanjut Seungyeon.

“Maksud kamu?” Jin Ki berusaha mendapatkan penjelasan dari kalimat Seungyeon tadi.

“Makanan lezat, tempat tidur luas, dan lain sebagainya, lebih enak kalau kita nikmati berdua,” jelas Seungyeon.

Mereka berdua spontan saling bertatapan, seakan telah mengerti maksud hati masing-masing.

“Baik. Beri saya waktu lima belas menit. Kita ketemu di lobi hotel. Saya masuk duluan ya?” ujar Jin Ki.

“Setuju, Jumong!”

“Jumong? Raja Dungmyeong?”

“Lebih bagus kan? Ketimbang pemburu harimau?”

“Kamu tahu? Kita bisa berpura-pura sebagai pasangan suami-istri dan menyewa satu kamar bersama.”

Seungyeon menghentikan usulnya. Ia berusaha membuang muka, namun ia dapat merasakan mata Jin Ki lekat kepada dirinya.

“Kalau ibu saya tahu, saya yakin tentu beliau tidak akan setuju,” jawaban Jin Ki terhenti. Ia berpikir sejenak. “Nampaknya ide kamu memang bagus jika bisa dilakukan.”

“Kenapa tidak? Para pekerja di hotel tidak kenal kita. Lagipula, kita tidak harus menunjukkan surat nikah kan? Yang penting kita harus terlihat tenang dan meyakinkan!” Seungyeon memberikan penekanan kepada kata-katanya. “Jin Ki, kamu bisa bersandiwara dengan baik kan?”

“Asal kamu juga bisa bersandiwara seolah-olah tidak seperti seorang calon mahasiswi.”

“Pemikiran kita nyambung.”

Mereka berdua tersenyum.

***

“Jadi, Bapak dan Ibu…..?”

“Saya Jin Ki. Nama keluarga saya Lee.”

“Baik. Bapak dan Ibu Lee. Asal Anda?”

“Sayang?”

“Kami dari Dorasan.”

“Ah, mari sini, biar saya saja yang tulis. Sayang, kan udah aku bilang tadi kalau aku saja yang nulis semua data kita, nanti kamu tinggal tanda tangan…” Seungyeon mengeluarkan nada suara manja layaknya seorang remaja yang sedang mabuk cinta. “Kami berdua baru menikah. Butuh banyak sekali waktu untuk bermesraan berdua.” Tingkah Seungyeon mengundang senyum dari perempuan muda resepsionis hotel itu.

“Baiklah. Terima kasih Tuan dan Nyonya. Kamar Anda lengkap dengan kamar mandi ada di lantai 3. Petugas kami akan segera mengantarkan Anda. Apa Anda punya permintaan khusus selain itu?”

“Sayang, kamu mau sesuatu?” Jin Ki sedang memainkan perannya sebagai seorang suami anyar. Ia lihat rona wajah Seungyeon berubah.

“Kami akan berlayar ke Tokyo besok pagi jam 10. Berapa jauh hotel ke pelabuhan?”

“Kami dapat menyediakan jasa pengangkutan dan jika Anda tidak keberatan, besok pagi-pagi sekali kami akan membantu membangunkan Anda agar tidak terlambat. Kalau boleh tahu, apa nama kapal Anda?”

“Mutiara Timur.”

“Akan saya catat untuk besok pagi.”

“Terima kasih atas bantuannya.”

“Bapak dan Ibu, apakah butuh layanan lain dari kami?”

“Bisa saya minta air panas saja? Untuk istri saya mandi,” sahut Jin Ki langsung.

Wajah Seungyeon bersemu merah.

“Bisa kami langsung masuk ke kamar saja?”

***

Jin Ki membuka pintu kamar hotel dan berkeliling-keliling melihat seisi kamar. Kamar berukuran sedang yang cukup sederhana, citra mahal hanya dibangun dari karpet berkualitas medioker yang melapisi lantai, tempat tidur besar berangka kayu mengkilat, dan kamar mandi di dalam. Jin Ki berhenti sebentar menepuk-nepuk tempat tidur.

“Tempat tidurnya empuk, juga luas. Untuk yang hendak menempuh perjalanan jauh, yang ini tidak boleh dilewatkan. Kamu boleh seharian tidur sampai besok pagi. Ya kan, Sayang?” Jin Ki tersenyum.

“Jin Ki cintaku, sandiwara pengantin baru kita berhenti di dalam kamar,” timpal Seungyeon.

Jin Ki terbahak-bahak. “Jadi jangan salahkan saya kalau saya tadi gak gendong kamu masuk kamar kan?”

“Ternyata kamu bisa romantis juga ya?” goda Seungyeon.

***

Saat Jin Ki membuka matanya, seisi kamar gelap. Ia mendapati dirinya tertidur sendirian di atas tempat tidur. Ia beranjak bangun dan berusaha mencari tahu jam berapa sekarang. Jin Ki menyibak tirai kamar, ia lihat dari kamarnya di lantai 3, bahwa jalanan di luar masih ramai, kemungkinan besar malam belum terlalu larut.

Dari balik bilik kamar mandi yang selubungnya tidak tertutup rapat, tidak sengaja Jin Ki melihat punggung telanjang Seungyeon terhampar mulus. Seungyeon memang bukan perempuan biasa. Jin Ki tidak pernah berjumpa perempuan lain seperti dirinya, dan sesaat Jin Ki merasa lara karena dalam beberapa jam lagi mereka akan berpisah. Jin Ki membanting tubuh bagian depannya ke dinding, darahnya berdesir deras membiarkan dirinya mengalami ereksi. Ia membayangkan dirinya bercinta dengan Seungyeon, menikmati setiap jengkal tubuhnya dan kulit halusnya di atas kulitnya. Berpikir sejauh apa ia akan melakukan hal tersebut. Ia masih tetap murni seorang perjaka.

***

Angin laut di sekitar pelabuhan menggoyang-goyangkan rambut setiap orang yang berada di sana. Jin Ki dan Seungyeon sampai di detik-detik awal perpisahan mereka.

“Setelah aku pergi, apa kamu langsung pulang ke Dorasan?” tanya Seungyeon.

“Aku akan mampir ke rumahmu dulu,” jawab Jin Ki.

“Mampir? Ke rumahku? Buat apa?”

“Aku, cuma ingin memastikan kalau orang tua kamu baik-baik saja.”

Seungyeon memajukan bibirnya. “Sebenarnya, itu bukan urusan kamu.”

“Niatku baik.”

“Gak usah! Gak perlu! Apa? Maksud kamu apa? Kamu mau bocorkan rencana aku pergi diam-diam? Ibuku sudah atur semuanya. Toh, kalau ayahku marah aku kabur dan dia mengerahkan seluruh orang ke seluruh negeri untuk mencariku mereka gak akan menemukan aku!” Seungyeon berjalan ke arah yang lain.

“Seungyeon, kamu marah sama aku?” Jin Ki menyusul langkah Seungyeon dan menangkap pundaknya.

“Kapalnya sudah mau jalan. Lebih baik aku langsung naik saja, tunggu di atas kapal. Daripada kita di bawah terus, bisa-bisa aku ditinggal,” kata Seungyeon ketus.

“Kalau demikian, aku minta maaf. Baik, kita ikuti saja apa mau kamu. Ya?” bujuk Jin Ki.

“Terserah kamu…”

“Ayolah Seungyeon! Jangan kamu buat semua urusan jadi runyam. Bukankah kamu yang waktu itu bilang dan cerita sendiri sama aku, sebelum menghadapi perjalanan jauh hendaknya kita jangan sampai memendam amarah atau dendam kepada siapapun? Kesalahan kecil seperti ini, tidak penting.”

“Aku gak marah.”

Jin Ki menarik napas lega. “Bagus kalau begitu. Iya, iya, aku gak akan datang ke rumah kamu, atau berurusan dengan orang tua kamu lagi, kecuali orang tuaku yang minta. Apa itu cukup?”

“Berhenti bicara tentang orang tuaku atau orang tuamu, Jin Ki. Kamu bisa bikin aku nangis.”

Seungyeon merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Ia menarik secarik kertas dan menyerahkannya ke Jin Ki.

“Ini alamat tempat tinggalku di Tokyo, dan alamat jurusan yang kuambil di Universitas Tokyo. Kalau sempat kamu boleh kirim surat dan …….” perhatian Seungyeon teralihkan kepada bunyi peluit kapal uap yang disusul dengan seseorang dari atas kapal yang berteriak-teriak.

“Kepada seluruh penumpang kapal tujuan Tokyo, sebentar lagi jangkar akan diangkat dan kita akan berangkat! Sekali lagi kepada ……”

“Jin Ki, terima kasih untuk semuanya ya… Selamat tinggal…” Seungyeon bergegas menuju kapal.

“Seungyeon, tunggu!” Jin Ki mengeluarkan beberapa barang dari balik jaketnya. “Seungyeon, bawa ini. Sebelum kamu bangun tadi pagi, aku sempat beli roti dan minum untuk kamu bawa jadi bekal perjalanan. Bawalah!”

“Tapi, Jin Ki?” Seungyeon melirik tasnya yang tampak sudah kelebihan muatan.

“Masih bisa masuk, Seungyeon. Kau bawa bekal dariku ya…”

Seungyeon menerima pemberian Jin Ki. Ia membuka tasnya dan berusaha memasukkan bekal yang terbungkus dalam kantong kertas tersebut.

“Jin Ki, tolong pegang ini sebentar…” Seungyeon menyorongkan sebuah benda yang sengaja ia keluarkan dari tasnya agar perbekalannya muat.

“Ya,” jawab Jin Ki.

Di saat yang bersamaan, orang-orang berbondong-bondong lewat di antara mereka naik menuju kapal yang sebentar lagi akan berlayar.

“Aku pergi sekarang ya, Jin Ki. Bekal dari kamu sudah masuk. Sekali lagi terima kasih. Semoga kita dapat berjumpa lagi,” Seungyeon membungkukkan badannya dalam.

Jin Ki balas membungkuk dan melambaikan tangan seraya melihat Seungyeon yang telah bergabung dengan arus penumpang yang menaiki kapal.

Lama Jin Ki termenung memandangi kapal tersebut hingga lepas dari sandarannya dan perlahan menyusuri lautan. Hingga akhirnya ia membuka sebuah tas kecil yang tanpa sadar digenggamnya sedari tadi dan terkejut setengah mati. Berlembar-lembar uang kertas dalam jumlah yang tidak main-main.

“Seungyeoooonnnnn!!!!!!! Kau bodoh sekali! Uangmu di sini!!!!! Heeeeiiiiiii!”

Posted on November 13, 2011, in Fanfiction, The Dawn of First March. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. So far this is the most enjoyable & the lightest chapter of your fic .

    Gue gak lepas 1 kata-pun pas baca . Ending gantungannya juga bikin penasaran banget buat apa yang akan terjadi di chapter berikutnya .

    Dan tentu saja … I cant wait for new character’s appearance!😀

    • Thanks for coming, reading, and replying😀

      The lightest chapter? Wheeww, I should pay more attention on this chapter as my benchmark to write in digestible manner.

      New chapter is getting harder, Cha, and other reader that will come later. Ibarat naik gunung, chapter makin ke sini yang makin mendekati klimaks, perjalanan menulisnya makin menanjak, makin bikin ngos-ngosan. Doakan semoga gak kehabisan napas di tengah pendakian🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: