The Dawn of First March (Bab 7)

IBU DAN ANAK PEREMPUAN

Dua hari setelah kepulangan keluarga Seungyeon dari Dorasan. Rumah mereka tak sehangat dulu. Ada bara yang terpendam dalam diam. Sudah hari kesekian sejak di rumah keluarga Lee, Seungyeon dan ayahnya tak saling bertegur sapa. Seungyeon dapat memahami bahwa ayahnya sangat kecewa dengan penolakan dari dirinya. Seungyeon merasa amat kecewa, bersalah, dan berdosa kepada ayah yang sangat dicintainya itu. Ayah yang amat dikaguminya. Ayah yang hebat. Lelaki pertama di hatinya. Guru yang mencerahkan.

Bagaimana mungkin kini sang ayah mengkhianati cita-citanya sendiri? Ia menginginkan sang putri menjadi seorang yang cerdas dan meraih pendidikan tinggi. Menjadi seseorang yang berbeda dan tak terlupakan. Menjadi seseorang yang melenting melawan arus perputaran zaman.

“Bahkan Ayah kini enggan menatap mataku, walaupun itu hanya sebuah lirikan saja,” batin Seungyeon.

***

“Aku tidak suka dengan sifat ibuku. Mungkin aku adalah satu-satunya anak perempuan di dunia ini yang tidak dekat dengan ibunya. Dan mungkin juga ibuku adalah satu-satunya ibu yang tidak patut diteladani oleh siapapun. Aku benci dengan ibuku yang lagaknya bagaikan seorang istri pejabat atau istri bangsawan. Dengan mudahnya ia menyindir orang lain dan dengan ringannya ia bisa berteriak dan mengatakan bodoh. Kepada para pekerja di rumah kami, kepada pedagang dan kuli di pasar, kepada karyawan toko, bahkan kepada diriku dan Ayah.”

“Senang sekali Ibu menimpakan kesalahan kepada Ayah. Tiap kali aku berbuat kenakalan atau berselisih dengan Ibu, Ayah selalu jadi sasaran kekesalan dan kemarahannya, alasannya akibat cara ayahku mendidikku. Kasihan Ayah, ia selalu jadi kambing hitam Ibu selama belasan tahun mereka menikah. Tak heran sebenarnya. Bahkan pamanku, adik dari Ibu, memilih menyingkir dan tinggal saling berjauhan dan tidak pernah berkomunikasi lagi sejak aku berusia 5 tahun. Itulah kali terakhir kuingat pamanku yang baik yang sering datang ke rumah dan bermain denganku seperti menghilang tanpa bekas. Ibu selalu menjawab dengan nada tinggi saat aku bertanya di mana pamanku. Aku bertanya kepada Ayah, beliau hanya menjawab perselisihan itu disebabkan oleh tanah warisan dari almarhum kakekku. Ayah sendiri tidak mau ikut campur masalah Paman dan Ibu. Ibu bahkan menyuruhku untuk tidak mengingat bahwa ia adalah pamanku, orang yang acap mengajarkanku beberapa kata-kata dalam bahasa asing yang terasa sulit kubunyikan dengan lidahku tetapi terdengar keren ketika pamanku mengucapkannya. Pamanku bilang itu bahasa Inggris, bahasa yang dipergunakan oleh orang Amerika yang berambut pirang dan bermata biru serta berbadan tinggi besar yang berdatangan ke Jepang dan Korea memperkenalkan sebuah olahraga yang bernama bisbol. Pamanku yang selalu marah dan membelaku apabila Ibu bergurau meledek wajahku yang terlihat seperti seekor tikus.”

“Ayahku yang ramah, lembut, dan penyabar. Dihormati, disegani, dan disayangi oleh banyak orang, dari para karyawan, sesama seniman, para pedagang, hingga sepupu-sepupuku. Ayah adalah sosok paman kesayangan. Tak habis pikir bagaimana Ayah bisa kuat hidup bersama dengan Ibu, maksudku sifat Ibu yang demikian. Ayah selalu memilih diam dan menghindar ketika mereka bertengkar. Prinsip Ayah, api janganlah dilawan dengan api, hingga akhirnya emosi Ibu melunak dan mencair dengan sendirinya. Apa yang membuat Ayah kuat dan bertahan, aku tak pernah mengerti, dan aku pun tak pernah ingin mengetahuinya.”

***

Seungyeon memasukkan benda terakhir ke tas yang akan dibawanya pergi ke Tokyo. Ia menutup tas tersebut, menyembunyikannya di kolong tempat tidur, lalu menghela napas. Seungyeon menatap sekali lagi peta teritorial Korea dan Jepang di kamarnya. Peta yang tak pernah luput dari pandangan matanya tersebut sejak lama kini menjadi pintu gerbangnya memasuki sebuah kehidupan baru. Esok hari adalah hari yang telah dijanjikan oleh Jin Ki bahwa ia akan datang ke rumah Seungyeon untuk mengantarkannya pergi. Seungyeon telah meminta kepada Jin Ki untuk datang di pagi hari saat ibunya tengah pergi ke pasar dan ayahnya sudah berada di pabrik. Agak berbahaya jika ia harus mengendap-endap kabur di malam hari.

Sepasang mata mengintip dari celah kecil pintu kamar Seungyeon. Ia mengamati gerak-gerik Seungyeon yang terlihat sangat rapi dalam mempersiapkan barang-barangnya untuk pergi, seolah-olah hal ini memang sudah direncanakan sejak jauh hari. Ketika dirasakan isak tangisnya hampir pecah, orang itu melangkah pergi menjauhi kamar Seungyeon.

***

“Aku…. siap!” Seungyeon berbicara kepada dirinya sendiri ketika hari telah bertukar. Tadi ia telah melihat ayahnya pergi bekerja dan jam ini ibunya juga telah pergi ke pasar. Dengan langkah mantap dan tekad yang keras, Seungyeon menenteng tasnya keluar kamar.

Belum juga langkahnya sampai di pintu depan, di tengah rumah, Seungyeon mendapati rencananya akan putus di tengah jalan.

“Seungyeon…”

Ia melihat sang ibu duduk di ruang tengah.

Bagai tersihir, Seungyeon hanya mematung.

“Seungyeon, kau mau ke mana, Nak?” tanya ibunya lembut sambil tersenyum.

“I…Ibu…”

Ibu Seungyeon bangkit lalu melangkah mendekati putrinya. Ia menjawil dagu Seungyeon pelan dan membelai rambut Seungyeon.

“Kamu… mau pergi ke Tokyo kan?”

“Ibu……”

“Seungyeon, pergilah Nak… Jangan ditunda lagi kesempatan ini, ya…”

“Maksud Ibu apa?”

Ibunya mengalihkan pandang dan mulai menangis.

“Ibu, kenapa Ibu menangis?” Seungyeon memeluk pundak ibunya dari belakang.

“Ibu sadar keinginanmu tidak bisa kami bendung lagi, Seungyeon. Kau harus segera cepat sampai Tokyo kan? Kau sudah mempersiapkan semuanya kan? Barang-barangmu dan tiket untuk berlayar dan lain sebagainya kan? Kamu memang anak yang pintar…” Ibu berujar di sela-sela tangisnya.

Air mata Seungyeon pun tak tertahankan akhirnya. Ia kehabisan kata-kata.

“Bu, kalau aku diizinkan pergi sekarang, aku mau ketemu Ayah, Bu…” pinta Seungyeon.

“Tidak perlu, Nak. Tidak usah. Biar Ibu yang atur bagaimana nanti bicara ke ayahmu ya…”

“Tapi Bu, aku mau ketemu Ayah. Aku mau pergi jauh, Bu. Ibu, bukankah sebelum kita bepergian ke tempat yang jauh kita tidak boleh menyimpan amarah atau dendam kepada siapapun? Aku mau minta maaf, aku gak mau ketika aku di Jepang terjadi sesuatu yang buruk di rumah, dan aku terlambat mengetahuinya!”

“Jangan. Percaya Ibu, jangan, dan Ibu akan pastikan semua akan baik-baik saja. Daripada nanti Ayah berubah pikiran, lebih baik kamu cepat berangkat. Tunggu dulu, Ibu punya sesuatu untuk kamu…”

Ibu Seungyeon menyerahkan sebuah dompet panjang tipis berwarna merah hati.

“Kamu bawa ini ya…”

Seungyeon menerima dompet tersebut dan membukanya. Ia mendapati berlembar-lembar uang kertas Jepang dalam jumlah yang sangat besar.

“Bu, ini uang banyak sekali, dari mana?”

“Ibu ambil dari laci penyimpanan Ayah.”

“Bu, nanti Ayah marah. Lebih baik tidak usah. Aku kembalikan ya…” Seungyeon mengembalikan dompet itu ke tangan ibunya, namun tangan sang ibu terlanjur menahannya.

“Ambillah. Semua hal terkait dengan ayahmu, biar Ibu yang atur. Pergilah dengan tenang, belajar yang rajin di sana, semoga kita dapat bertemu lagi……”

Sebuah pelukan erat dan hangat menjadi tanda perpisahan mereka. Keduanya larut dalam tangis.

“Ibu, maafkan aku ya……”

“Selalu ada maaf untukmu, anakku. Terlebih lagi lebih banyak doa dari Ibu untuk kamu…”

“Seungyeon, maafkan Ibu juga ya… Ibu paham dan mengerti bahwa sering sekali kita bertengkar beda pendapat, dan sering juga kau memendam marah kepada Ibu.”

“Tidak, Bu, tidak. Itu cuma kenakalanku saja…”

Perlahan, Ibu melepaskan pelukan itu, walaupun Seungyeon masih menginginkan pelukan itu untuk beberapa saat lagi. Seungyeon sadar, restu dari ibunya telah ia dapatkan.

Seungyeon menghapus air matanya dan menggoreskan senyuman di wajahnya.

Ibu membalas tersenyum juga, “kamu cantik kalau senyum seperti itu…”

“Aku pergi dulu ya, Bu…” Seungyeon mengangkat tasnya.

Ibu mengantarkan Seungyeon sampai di pintu depan. Setelah satu kecupan dan pelukan kecil sekali lagi, Seungyeon melangkah keluar dari rumahnya dan tak menengok lagi ke belakang.

“Kesalahan aku dan ayahmu mendidik dirimu menjadi seperti sekarang ini. Tapi aku tahu, bahwa ini akan menjadi sebuah kesalahan yang indah…” gumam ibu Seungyeon lalu menutup pintu rumah keluarga Han.

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on November 5, 2011, in Fanfiction, The Dawn of First March. Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. Kak , part berikutnya udah di Tokyo kan?

  2. Beuhhh kentang nih bacanya… Ckckck… Lanjut bang hhehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: