The Dawn of First March (Bab 6)

JIMAT KEBERUNTUNGAN

“Hei, mau ke mana?” panggil Jin Ki.

Seungyeon yang baru keluar dari pondok, memalingkan wajahnya ke arah suara.

“Ehem…” gumam Seungyeon.

Jin Ki tersenyum. “Tadi pagi kamu bangunnya pagi sekali!”

“Oh ya?” balas Seungyeon singkat.

Jin Ki mengedikkan bahunya. “Kalau kamu memang beneran ingin tahu, gak usah ngintip-ngintip kayak tadi dong!”

“Oh, itu cuma kebetulan. Asal kamu tahu aja, tadi pagi saya terbangun gara-gara kamu dan teman-teman kamu berisik.”

“Hahahahaha… Maaf kalau tadi saya ganggu…” Jin Ki berjalan mendekati Seungyeon.

Seungyeon hanya melirik, memainkan bola matanya, tidak satu seret langkah pun ia menjauh.

“Katanya kamu mau pulang ke Seoul hari ini?” tanya Jin Ki.

“Ya. Hari ini sebenarnya saya sudah ada janji menginap di rumah teman. Tapi orang tua saya ngajak saya ke sini. Ternyata, saya mau disuruh nikah sama kamu…”

Jin Ki tergelak. “Gak usah serius amat. Bisa kan? Anggap aja perjodohan yang kemarin main-main. Orang tua kita sedang bercanda, maklum lah, orang tua juga butuh hiburan, setelah anak-anaknya dewasa, bukan anak kecil yang lucu lagi.”

“Gila kamu ya, punya pemikiran macam itu?! Buang-buang waktu saya ada di sini!” Seungyeon mendengus kesal.

“Nanti saja ya pulangnya. Temani saya di sini. Saya gak punya teman sebaya, seperti kamu…” pinta Jin Ki.

Seungyeon terpana mendengar nada suara Jin Ki yang berubah lemah menggantung, juga air mukanya yang berubah muram. “Di desa tempat kamu tinggal ini, memang kamu gak bergaul? Kakak-kakak kamu? Katanya kamu punya dua kakak laki-laki?”

Jin Ki menggeleng. “Ya begitulah. Teman ada, hanya kenal-kenal gitu aja. Tidak akrab…” Jin Ki mendesis setelah akhir kalimatnya. “Kakak sulung saya tewas di hutan, beberapa tahun lalu. Diserang harimau waktu berburu. Kakak saya nomor dua jarang pulang, dia pelaut.”

Seungyeon terdiam. Kasihan anak itu, kesepian.

“Pun sebetulnya, ibu saya tidak setuju saya dijodohkan secepat ini. Ibu merasa kurang lama waktunya bersama saya. Bisa dibilang saya ini anak kesayangan Ibu. Paling disayang dari yang lain. Wajar, karena saya satu-satunya yang tinggal di rumah, dan yang bisa diharapkan untuk meneruskan keluarga.”

“Jin Ki…”

“Gak apa-apa…” Jin Ki mendongak sesaat. Lalu ia menghela napas.

“Keluarga kamu tidak makan daging. Tapi kenapa kamu berburu harimau?”

“Itu, ya bisa dibilang kegiatan para lelaki di desa kami. Berburu harimau. Kami sudah latihan memanah dari kecil dan dilepas di hutan untuk berburu harimau. Masyarakat sini biasanya berburu harimau antara musim dingin hingga musim semi seperti sekarang. Niat awal mereka hanya sebagai pencegahan diri dari harimau yang masuk ke desa karena kelaparan di hutan, dan berlanjut sampai sekarang. Dulu sebelum Jepang datang, hampir seluruh penduduk Korea berburu harimau. Sejak mereka melarang orang kita bawa senjata api, perburuan harimau jadi turun. Cuma kami orang utara yang tetap setia berburu dengan peralatan tradisional sejak dulu.”

“Ayah kamu juga?”

“Tidak. Ayah saya pensiunan militer. Beliau dulu pelatih senjata. Mungkin karena sama-sama penggiat di bidang senjata, ayah kita bisa kenal seperti sekarang. Sejak kakak saya meninggal karena harimau, sebenarnya saya dilarang keras oleh ayah dan ibu untuk masuk hutan,” cerita Jin Ki.

“Betul? Bohong! Gak mungkin ayah kamu gak tahu kalau kamu masih suka masuk hutan,” sergah Seungyeon.

“Kamu benar. Gak mungkin ayah saya gak tahu. Mungkin sengaja Ayah diam. Mungkin sampai saya kena batunya, sampai saya jera sendiri,” Jin Ki melipat tangannya ke belakang lalu berjalan pelan.

“Mau ikut?” Jin Ki berhenti lalu menjulurkan sebelah tangannya ke Seungyeon yang ada di belakangnya.

“Ke mana?” tanya Seungyeon.

“Ikutlah. Kita keliling desa. Kamu lihat-lihat lah, saya temani.”

Seungyeon dan Jin Ki berjalan menuruni bukit dan masuk desa. Di pagi hari itu sudah banyak orang-orang desa naik turun bukit untuk bekerja. Ada yang mencari kayu atau mencabut rumput. Banyak di antara orang-orang desa itu menyapa Jin Ki dan Jin Ki membalasnya dengan ramah.

“Kamu terkenal ya di sini?” tanya Seungyeon.

“Biasa aja…” tampik Jin Ki.

“Oh ya, betul kalian berburu harimau waktu hari gelap?”

“Ya. Memang kenapa?”

“Apa kalian gak takut? Penglihatan harimau itu kan lebih tajam daripada manusia di waktu gelap?”

“Kami berusaha jaga jarak dengan harimau. Tentunya kami gak berhadapan langsung dengan si harimau. Ya itulah kelebihan kami para pemburu. Kami terlatih untuk mendengar, juga mahir memanah.”

“Setelah harimaunya mati, lantas buat apa?”

“Macam-macam. Hampir semua bagian tubuh harimau berguna. Tapi umumnya kami lebih sering jual kulit harimau untuk karpet atau pajangan. Hasilnya lumayan. Banyak yang bersedia bayar mahal. Bisa dibilang itu cara saya cari uang di sini.”

“Itu, di leher kamu, kalung apa?” tunjuk Seungyeon.

“Oh, ini…” Jin Ki mengeluarkan kalung yang dikenakannya dan memperlihatkan bandul kalung.

“Tulang rusuk harimau. Orang bilang jimat keberuntungan…”

***

Song Hee-il adalah seorang yang cukup terpandang di Dorasan. Pagi itu ia awali harinya dengan mengipasi tungku di dapurnya dengan kipas bambu bulat yang hampir robek seperempat bagiannya.

“Auuwww…” sepercik bara api meloncat mengenai tangannya yang tidak terlindung lengan baju yang ia singsingkan.

Setelah asap mengebul dari sebuah wadah batu yang dimasak di atas tungku, ia meniup-niup asap itu. Sementara ia meniup, jenggot panjangnya ikut melambai-lambai terpapar asap.

“Song!” panggil seseorang dari luar. Hee-il paham, hanya satu orang yang memanggilnya demikian. Ia mengipas dengan kuat sekali lagi, lalu ia meninggalkan pekerjaan itu untuk menengok tamunya.

“Hai, Jin Ki!” sapa Hee-il.

“Seungyeon, kenalkan, ini Song Hee-il, tabib sekaligus peracik obat paling mujarab di desa,” kata Jin Ki.

Seungyeon membungkuk dalam. “Han Seungyeon, dari Seoul.”

“Wah, cantik sekali dirimu. Rambutnya juga bagus. Hehehehehe…” Hee-il terkekeh-kekeh mempertontonkan giginya yang sudah tidak utuh lagi.

“Anaknya teman Ayah. Lagi menginap di sini,” lanjut Jin Ki.

“Ayo, ayo, silakan masuk. Kalian tunggu di ruang depan ya, saya ke dapur dulu, ada satu ramuan belum selesai dibuat,” ujar Hee-il.

“Ah tak usah. Biar kita sama-sama ke dapur ya… Seungyeon mau lihat kau masak!” jawab Jin Ki.

Seungyeon menggelengkan kepalanya erat ke arah Jin Ki.

“Gak apa-apa. Ayolah, biar kamu tahu…” Jin Ki menggandeng lengan atas Seungyeon menuju dapur Hee-il.

Sesampainya di dapur, Seungyeon sontak menutup hidungnya karena aroma aneh yang menguar.

“Ini bau apa? Baunya, aneh…” keluh Seungyeon.

“Saya sedang menggodok hati harimau,” ujar Hee-il ringan.

“Apa? Hati harimau?!” Seungyeon terkejut. “Jin Ki, dia gak bercanda kan?” tuding Seungyeon.

“Serius. Itu hati harimau. Untuk obat,” jawab Jin Ki.

Hee-il mengangguk-angguk sambil tertawa-tawa. “Orang kita sudah belajar sejak lama dari orang China tentang memanfaatkan bagian tubuh harimau untuk pengobatan. Hati harimau bisa membangkitkan kekuatan, keberanian, dan rasa tidak takut pada apapun. Nah, sekarang kau coba lihat yang ini…” Hee-il mendekati rak bambu di sudut dapur, mengambil sebuah buli-buli.

“Ah!” pipi Seungyeon dicolek oleh sebuah cairan kental yang diambil oleh Hee-il dari buli-buli tersebut.

“Jangan takut. Itu salep campuran sabun untuk mencegah penyakit kulit. Hehehehehe…..” Hee-il terus terkekeh-kekeh.

Seungyeon merasa tidak nyaman dan menggosok-gosok pipinya. “Terbuat dari hati harimau juga?” terkanya.

“Oh, salah!” Hee-il menggoyangkan jari telunjuknya. “Agak sedikit tidak menjijikkan ketimbang hati harimau. Ini berbahan dasar ekor harimau!”

***

Seungyeon menatap kembali surat dari Universitas Tokyo tersebut yang diam-diam ia bawa menginap dan ia sembunyikan di tasnya. Hatinya bimbang memikirkan caranya pergi ke Tokyo. Paling lambat akhir bulan nanti, ia harus sudah sampai di Tokyo.

Dari luar pondok, terdengar suara orang melangkah masuk. Buru-buru Seungyeon melipat surat tersebut dan menyelipkan surat itu lagi di dalam tasnya.

“Seungyeon!” panggil suara seorang pria.

Seungyeon berjalan ke pintu depan. “Jin Ki?”

“Hai. Tadi kamu dicari sama ibu kamu,” kata Jin Ki.

“Lalu?” tanya Seungyeon.

“Gak penting sebenarnya sih,” Jin Ki mengangkat bahu. “Paling kamu mau ditanya-tanya soal kita jalan-jalan tadi pagi. Ya, kamu bisa tebak ke mana arah pembicaraannya…”

“Kamu tadi ada di sana?” selidik Seungyeon.

Jin Ki mengangguk.

“Kamu jawab apa? Kamu gak cerita yang aneh-aneh kan?”

“Saya cerita apa adanya saja. Ya, saya bilang tadi pagi kita cuma jalan-jalan biasa aja. Kita jalan dari pondok sini sampai rumah tabib. Benar kan?” jelas Jin Ki.

Seungyeon diam saja. Tangan kanannya memegang erat pegangan pintu.

“Kamu kenapa?” tanya Jin Ki.

Seungyeon menegakkan pandangannya. “Kamu bisa bantu saya?” balas Seungyeon cepat.

“Selama saya bisa, mudah-mudahan saya bisa bantu,” ujar Jin Ki.

“Kalau begitu, kamu tunggu di sini,” Seungyeon berbalik masuk ke pondok.

Jin Ki memutuskan untuk menyusul Seungyeon ke dalam.

“Kamu bisa tolong saya untuk ini?” Seungyeon menyerahkan surat dari Universitas Tokyo kepada Jin Ki.

Jin Ki mengambilnya lalu membacanya sebentar. Ia mengangkat bahu. “Saya gak bisa baca ini. Apa maksudnya?”

“Itu surat pernyataan dari Universitas Tokyo kalau saya diterima jadi mahasiswa di sana…” kalimat Seungyeon terpenggal.

“Lalu….”

“Jin Ki, bantu saya pergi dari sini. Bantu saya pergi ke Tokyo. Waktunya gak akan lama lagi. Kamu… bisa bantu, kan?” pinta Seungyeon.

Jin Ki mendesis. “Saya…”

“Ayo, Jin Ki! Tolong! Saya tahu kamu bisa! Jin Ki, ini gak ada hubungannya dengan perjodohan kita.”

“Maksud kamu? Kenapa kamu bawa urusan perjodohan ke dalam masalah ini?” sergah Jin Ki.

“Jin Ki, saya butuh ketegasan kamu. Saya gak mau dengar jawaban mengambang dari kamu soal perjodohan ini! Aku gak ingin dengar kamu berkata semua akan terjadi apabila waktunya sudah tepat atau yang semacamnya! Kamu harus tentukan sikap kamu. Kamu tolak perjodohan ini, kamu bantu aku pergi. Kamu terima perjodohan kita, saya…..”

“Toh, kamu tetap akan pergi ke Tokyo kan?” sahut Jin Ki.

Seungyeon mengangguk membenarkan pernyataan Jin Ki.

“Tanpa pernah kamu tahu bagaimana caranya dan kapan aku pergi,” tegas Seungyeon.

Jin Ki memegang pundak Seungyeon dengan kedua tangannya. “Di mana rumahmu? Lima hari lagi kita ketemu. Di depan pagar rumahmu,” balas Jin Ki.

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on October 28, 2011, in Fanfiction, The Dawn of First March. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Kak …. Dialognya banyak banget …

    • Benarkah? Kamu ngerasa gitu ya? Memang sekarang lagi masuk bagian yang lagi panjang-panjang dialognya dan minim narasi. Semoga gak jadi ngebosenin.

      Thanks for reading, lanjutannya masih banyak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: