The Dawn of First March (Bab 5)

SANG PEMBURU HARIMAU

Meja makan bundar dari kayu hitam itu sudah penuh dengan piring dan mangkok keramik putih. Lima orang sudah duduk mengitari meja itu dan beramah-tamah.

“Keluarga kami semuanya tidak makan daging. Namun, khusus untuk menjamu kalian, saya sengaja menyiapkan hidangan berbahan daging untuk kalian…” jelas istri Bapak Lee kepada keluarga Seungyeon.

“Maafkan kalau jadi merepotkan. Sebenarnya kami disuguhkan apa saja tidak masalah,” balas ibu Seungyeon.

“Keluarga kalian bukan tamu biasa. Tidak pantas bila kami menghidangkan hidangan yang biasa-biasa saja, seperti yang biasa kami makan sehari-hari,” timpal Bapak Lee.

Bapak Lee menengok ke belakang, dan menaikkan sebelah alisnya, memberikan isyarat kepada istrinya. “Sebelumnya, makan malam kita belum bisa dimulai. Kita harus menunggu satu orang lagi. Anak saya…” setelah mengucapkan kalimat terakhir, Bapak Lee melihat ke arah Seungyeon.

Untuk kesekian kalinya, Seungyeon hanya mengulum senyum dan mengangguk sedikit.

Suara langkah kaki terdengar dari pintu depan. Pintu kayu berderak sedikit saat dibuka. Suara itu semakin menajam menuju ruang makan. Dari ruang makan, semua orang dapat melihat jelas siapa yang tiba.

“Selamat malam. Maaf, saya terlambat…” seorang laki-laki muda berkemeja putih dan bercelana hitam menyapa sembari membungkukkan badan hormat.

Bapak Lee berdiri dan menyongsong laki-laki muda itu. “Ini Jin Ki. Anak bungsu kami,” Bapak Lee memperkenalkan anak lelakinya itu.

“Seungyeon, kenalkan ini Jin Ki. Ia dua tahun lebih tua dari kamu,” sambung ayah Seungyeon.

“Han Seungyeon…”

“Lee Jin Ki…”

Perkenalan singkat mereka dilanjutkan dengan makan malam. Setelah semua sumpit perak diletakkan di atas mangkok dan piring kosong, Bapak Lee dan ayah Seungyeon mengambil alih acara.

Bapak Lee menghela napas, lalu tersenyum. “Kedatangan keluarga Han kemari memang tidak lain dan tidak bukan adalah atas undangan saya dan persetujuan dari keluarga Han sendiri, untuk memperkenalkan anak-anak kita satu sama lain. Kami selaku orang tua berharap hubungan ini dapat berlanjut ke ikatan pernikahan.”

“Pernikahan?!” Seungyeon terkejut. Sesaat rasa panas merayapi sekujur tubuhnya.

“Ya, Seungyeon. Kami akan menjodohkan kamu, dengan, Jin Ki,” ayah Seungyeon mengucapkan tiga kata terakhirnya dengan patah-patah.

“Kenapa tiba-tiba, Ayah?! Aku tidak setuju dengan perjodohan ini! Aku masih muda, Ayah! Aku masih mau sekolah!” Seungyeon panik.

“Tidak, Seungyeon… Ini bukan perjodohan yang buruk seperti yang kamu kira…” ibu Seungyeon memeluk pundak Seungyeon berusaha menenangkan.

“Aku tidak mau, Bu!”

“Seungyeon, dengar…” sela Ayah.

“Ayah, Ibu… Aku perlu kasih tahu sesuatu yang penting kalau aku…” kalimat Seungyeon terputus.

“Kamu dapat panggilan dari Universitas Tokyo kan?” sergah Ayah.

Seungyeon tergugu. “………. ya…….”

“Surat yang datang ke rumah tempo hari, kami sudah dapat menebak maksudnya.”

“Seungyeon, sudah sejak lama orangtuamu menangkap gelagat bahwa kamu memang berniat melanjutkan sekolah ke luar negeri. Kami pun diberitahu oleh mereka,” sahut Bapak Lee.

“Lalu?!” potong Seungyeon.

“Seungyeon, pelankan suara kamu!” bisik Ibu.

“Kami tetap mengizinkan kamu untuk kuliah di Tokyo. Tapi sebelumnya, memang lebih baik kalau kamu menikah dulu, supaya ada ikatan yang jelas. Supaya ada yang melindungi kamu. Tidak mungkin kami sebagai orang tua melindungi kamu terus hingga dewasa,” ujar Ibu.

“Aku bisa lindungi diri aku sendiri!” pekik Seungyeon. “Ayah, kenapa kali ini kita tidak sepakat? Kenapa Ayah tidak mendukung pendapatku?”

“Tidak. Keputusan kami sudah bulat. Kamu harus nikah!” tegas Ayah.

Seungyeon memalingkan pandangannya kepada Jin Ki yang mematung sedari tadi. “Bagaimana dengan dia? Apa Jin Ki setuju dengan perjodohan ini? Aku ingin dengar pendapat dari pihak laki-laki langsung,” tuding Seungyeon.

Jin Ki menegakkan kepalanya dan memutar tubuhnya menghadap Seungyeon. “Saya pikir segala sesuatu ada prosesnya, butuh waktu. Perjodohan ini sebaiknya tidak dilakukan dengan buru-buru.”

Seungyeon tampak tidak puas, ia menginjakkan sebelah kakinya ke lantai. “Maaf, tampaknya saya harus membawa Seungyeon kembali ke pondok. Kita bicarakan ini lagi besok,” ibu Seungyeon mohon diri.

***

Seungyeon terjaga dari tidurnya. Ia mengusap-usap matanya dan melihat ke sekeliling. Di luar hari menjelang fajar. Ia mendapati kedua orangtuanya masih terlelap di tempat tidur sebelahnya di pondok batu tempat mereka menginap. Ada rasa tidak nyaman di wajahnya. Bekas air mata yang mengering di pipinya semalam meninggalkan rasa lengket.

Sayup-sayup, terdengar suara orang-orang berteriak-teriak dari kejauhan. Seungyeon beranjak menuju jendela belakang. Dari pondok di atas bukit itu, ia dapat melihat beberapa orang lelaki muncul dari arah hutan. Mereka mengenakan baju putih lusuh kebesaran terkena noda tanah dan menutup kepala mereka dengan kain. Kaki mereka dialasi oleh sepatu tinggi berbahan jerami yang diikat ke atas. Di punggung mereka tersampir busur dan anak panah.

Tiga orang lelaki berjalan keluar dari hutan menggotong seekor harimau yang tewas. Keempat kaki harimau itu diikatkan pada sebatang pohon yang panjang. Mereka berhenti tidak jauh dari pondok batu untuk menurunkan harimau itu. Seungyeon beringsut pindah mengintip melalui jendela yang terletak di dapur kecil pondok. Ada seorang lagi tiba, tampaknya ia naik dari kaki bukit.

“Harimau tua, betina?” tanya orang yang baru tiba itu.

Seungyeon semakin menajam rasa penasarannya. Ia semakin mendekatkan pandangannya dari balik jendela.

Kini laki-laki itu berempat melanjutkan menggotong harimau tersebut.

Tiba-tiba, orang yang berjalan paling belakang menengok ke arah jendela. Matanya dan mata Seungyeon bertumbuk. Seungyeon tertangkap basah sedang mengintip apa yang sedang mereka lakukan.

Orang itu Lee Jin Ki.

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on October 22, 2011, in Fanfiction, The Dawn of First March. Bookmark the permalink. 6 Comments.

  1. Itu berburu harimau buat apa, kak?

  2. wah..keren..aku udah baca dr bab 1 sampai skrg dan makin penasaran sm kelanjutannya.ini fanfic sebag emg menceritakan sejarah korea jepang yg sbnrnya kan?klo iya,brarti sekalian nambah pengetahuan ttg sejarah korea jepang dong.

    • Terima kasih, Anggun. Iya, latar belakangnya memang dari sejarah penjajahan Jepang di Korea dari tahun 1910. Fakta sejarahnya beneran kok, diambil dari berbagai sumber.

      Ikutin terus ya, makasih udah baca🙂

  3. Menarik ketika itu Lee jinki, menunggu chapter selanjtnya🙂

  4. omg. Pemburu harimau… such a classic job for a hunter… hahaha tapi emg jaman dlu pemburu dan menjual kulit harimau emg bsa jadi orang kaya sih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: