The Dawn of First March (Bab 4)

PONDOK BATU DORASAN

Di dalam kelamnya hutan dini hari, tiga lelaki menyeruak dari balik-balik pepohonan rendah. Pelan mereka berjingkat meletakkan kaki kiri di depan kaki kanan mereka. Dalam hari yang masih terkurung gelap, kedua mata mereka yang setajam burung hantu memerlukan bantuan pendengaran sebagai mata ketiga.

“Sedikit ke arah barat. Sungai,” kata seorang lelaki bersuara serak.

“Berpencar agak jauh, kita sudah dekat,” sambung yang lain.

Tak ada yang dapat mereka lihat lagi di depan mereka selain kegelapan, namun telinga mereka selalu siaga menjadi penerang yang paling terang.

Lalu sesaat terdengar bunyi air berkecipak.

“Angkat! Lepas!” perintah seorang di antara mereka yang terdengar paling tua.

Dua anak panah meluncur mendekati sasarannya.

***

“Seungyeon!” panggil Ibu dari luar kamar. Pelan-pelan Seungyeon tersadar. Sinar matahari menembus masuk ke dalam kamarnya. Agaknya hari sudah berganti. Seungyeon mengerjapkan matanya, mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya seutuhnya. Seungyeon membuka pintu, ia melihat ibunya berdiri di depan kamarnya.

“Ibu?” tanya Seungyeon

“Ini sudah siang loh! Tidak biasanya kamu bangun sesiang ini,” kata Ibu.

“Ah ya, maaf, Bu… Semalam aku gak bisa tidur,” jawab Seungyeon.

“Kamu langsung makan, ada Ayah juga,” dan Ibu meninggalkan kamar.

Seungyeon menghela napas, memijat-mijat tulang hidung di antara matanya. Pikirannya semalam terkuras oleh surat itu, dan sekarang hari sudah siang pula! Gagal rencana Seungyeon untuk mencegat surat itu. Baiklah, yang bisa ia lakukan hanya berharap dan berdoa bahwa surat itu belum tiba atau ……

Ah! Seungyeon menepis pikiran buruknya.

Seungyeon membuka pintu kamarnya menuju ruang makan. Ia langsung mengambil tempat duduk di samping ayahnya yang sedang menyeruput secangkir teh.

“Ayah, ingat kan minggu lalu aku minta izin kalau lusa aku akan menginap di rumah temanku? Gak lama kok, Ayah. Hari Minggu pagi aku sudah kembali ke sini.”

“Ya, Ayah tahu. Tapi tergantung Ibu ya? Kamu udah izin sama Ibu? Ingat ya, kamu gak bisa pergi tanpa ada izin dari Ibu.”

“Seungyeon sudah bicara denganku. Kamu boleh menginap,” balas Ibu.

“Wah, betulkah?” Seungyeon memasang ekspresi gembira. “Tenang Bu, nanti aku akan bantu Ibu cuci piring!” sambungnya.

Ayah dan Ibu saling berpandangan, lalu mengangkat bahu. Tidak biasanya seperti ini, Seungyeon paling tidak mau disuruh cuci piring. Segala pekerjaan rumah yang lain, asalkan jangan cuci piring.

“Ya, ya, baiklah. Sekarang kamu tenang, diam, duduk, kamu ambil makanan kamu,” perintah Ayah.

“Oh ya, Ibu hampir lupa, ada surat buat kamu,” kata Ibu.

Hampir tersedak makanan saat Seungyeon mendengarnya. Surat? Matilah!

“Surat, Bu? Untukku?” tanya Seungyeon dengan suara bergetar.

“Ya, ini. Ambillah…” Ibu menyerahkan sepucuk surat yang dibungkus dengan amplop berukuran cukup besar. Seungyeon menelan ludah, berusaha menahan diri.

Seungyeon menerimanya, “terima kasih, Bu…” dan ia melihat pengirim surat itu. Mendadak Seungyeon merasa sekujur tubuhnya membeku, memang itu surat yang ia nantikan. Seungyeon menatap wajah orangtuanya, keduanya datar tanpa ekspresi.

“Ada apa?”

“Ah, bukan apa-apa kok… Ehem, suratnya belum dibuka ya?” tanya Seungyeon setengah berpura-pura melihat bahwa surat yang diterimanya masih utuh. Kemungkinan besar kedua orang tuanya belum membuka surat tersebut. Seungyeon menggenggam erat surat itu lalu bergegas beranjak dan lekas berlari kembali ke kamarnya. Entah perasaan apa yang berkecamuk di hatinya.

“Surat itu datang di saat yang tepat…” desis Ayah saat Seungyeon sudah menghilang dari ruang makan.

***

Di dalam kamar, Seungyeon membuka surat itu dengan cepat. Ia mengatur napasnya, dan ia mulai membaca, menelusuri kata demi kata dalam surat itu yang ditulis dalam bahasa Jepang. Surat itu berisi pernyataan bahwa Seungyeon diterima menjadi mahasiswa baru di Universitas Tokyo.

Kegembiraan membuncah dalam dada Seungyeon. Ia memeluk surat itu erat. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar, dan matanya tertumbuk pada peta teritori Jepang dan Korea yang kemarin ia letakkan di atas lemari di dekat tempat tidurnya. Seungyeon ingin menangis rasanya. Ia bahagia, tapi di saat bersamaan ia pun bingung apa yang harus ia katakan kepada orang tuanya, terutama kepada Ayah. Sesaat, ia merasa takut dan khawatir. Namun, ia berteguh pada prinsipnya. Ia kini telah dewasa, jalan hidupnya kini ia sendiri yang menentukan, bukan lagi kedua orang tuanya. Siap atau tidak siap, mau atau tidak mau, sekarang atau nanti, cepat atau lambat, Seungyeon harus jujur kepada orang tuanya. Hari ini masih pagi dan esok hari masih berbelas jam lagi, mulai detik ini ia akan menyimpan perasaannya dan menutup rapat-rapat mulutnya, ia berharap tak ada pembicaraan soal surat. Besok Seungyeon akan mengungkapkan semuanya. Ini akan menjadi bagian yang paling berat dalam hidupnya.

***

Sore harinya, ada pemandangan yang tak biasa di rumah. Ia melihat ayah dan ibunya sibuk berkemas-kemas, seperti hendak pergi jauh ke suatu tempat.

“Ayah, Ibu, mau ke mana?” selidik Seungyeon.

“Seungyeon, kamu berkemas juga ya, Nak. Sekarang kita pergi ke Dorasan. Kita akan menginap semalam. Besok sore kita kembali ke Seoul,” kata Ayah.

“Dorasan? Ke tempat siapa? Sepertinya kita gak punya kerabat atau saudara di Dorasan kan?” Seungyeon heran.

Dorasan adalah adalah sebuah daerah berbukit setinggi 156 meter di utara Sungai Imjin, suatu daerah paling utara di Korea Selatan bernama Paju. Kini, daerah Dorasan adalah daerah terdekat dengan zona demiliterisasi antara Korea Selatan dan Korea Utara. Dorasan di masa sekarang juga menjadi nama stasiun paling utara di Korea Selatan yang membentang di jalur Gyeoungi yang menghubungkan Sinuiju, Korea Utara (dekat dengan perbatasan dengan China) dan Seoul. Karena hal tersebut, maka penumpang di jalur ini harus menunjukkan kartu identitas mereka dan bersedia untuk diperiksa barang-barang bawaannya oleh petugas.

“Nanti kamu juga akan tahu sendiri. Ayah tunggu. Kita gak punya waktu banyak. Kalo terlambat, kita bisa ketinggalan kereta,” jelas Ayah singkat. Ayah tidak bicara lagi, ia mengangkat kopernya dan berjalan ke depan rumah.

Begitu Ayah menghilang dari pandangan, Seungyeon beralih kepada Ibu.

“Bu, sebenarnya kita mau ke mana?”

Ibu mendorong lembut tubuh Seungyeon. “Ayo, Ibu bantu kamu beresin baju-baju kamu untuk menginap.”

Terasa ada sesuatu yang sedang berusaha disembunyikan dari Seungyeon. Tak perlu punya indera keenam untuk merasakannya. Pancaran mata telah menjelaskan semuanya. Seungyeon menurut, ia dan Ibu berjalan ke dalam kamar dan segera berkemas.

***

Perjalanan ke Dorasan sepanjang 56 kilometer ditempuh dengan menumpang kereta. Seungyeon dan kedua orangtuanya duduk berhadapan. Seungyeon duduk sendiri, di dekat jendela, berhadapan dengan wajah tirus ayahnya yang menyimpan sebuah rahasia di depannya. Belum pernah ayahnya sedingin ini, ataukah ini disebabkan surat itu? Apakah Ayah mengetahui sebenarnya maksud pengiriman surat itu? Seungyeon paham ayahnya bukan orang yang bodoh. Ayah pasti tahu bahwa surat dari Jepang yang ditujukan untuk Seungyeon tersebut bukan surat-menyurat biasa, tetapi menyangkut masa depan dirinya.

Seungyeon mencoba menenangkan diri. Semakin ia menunjukkan raut gelisah, semakin orang tuanya akan merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan dari mereka. Kini posisinya orang tua dan anak saling menyimpan dan membungkam rahasia, dan hanya waktu yang akan mengungkap semuanya, cepat atau lambat.

Ia menolehkan pandangannya ke jendela, matanya menyapu pemandangan yang terlewati seiring lantunan kereta. Lamunannya melayang kembali ke masa silam, di dalam sebuah perjalanan kereta pula bersama Sunye.

“Aku senang naik kereta!” kata Seungyeon di hari itu.

Sunye tersenyum melihat saudarinya yang berusia lebih muda itu. “Untuk bangsa kita, kereta tidak hanya menjadi sekedar alat transportasi. Dibangunnya jalur kereta adalah bagian sejarah yang tidak terpisahkan…” Sunye membuka cerita.

“Oh ya?” Seungyeon yang sedari tadi berlutut di kursi memandangi pemandangan dari jendela kini memperbaiki posisi duduknya. Ia kini duduk dengan manis, menyimak cerita Sunye.

“Kak, ceritakan lagi…” pinta Seungyeon.

“Dari sudut pandang orang Korea, dibangunnya jalur kereta oleh Jepang adalah awal dari masa suram dan kelam. Jepang berpikir bahwa perairan Korea secara strategis sangat krusial untuk militer mereka dan mereka sebab itu membangun jalur kereta untuk mengontrol Korea. Proses pembangunan jalur kereta itu sendiri, adalah pintu untuk menguasai Korea sedikit demi sedikit, dengan cara mengirimkan personel militer dan barang-barang dalam jumlah besar. Perang Rusia dan Jepang, sesungguhnya adalah perebutan pengaruh atas jalur kereta…”

“Mengapa harus Korea dilibatkan? Bukankah ini hanya urusan Jepang dan Rusia?” tanya Seungyeon.

“Korea dilihat dari letaknya adalah jembatan untuk menguasai wilayah utara, termasuk untuk memasuki wilayah China. Pihak Jepang sendiri sudah mengkonfirmasi bahwa dengan dibangunnya jalur kereta Gyeongui dan Gyeongbu maka jalur kereta lain dengan sendirinya akan dapat dikuasai, yang berarti menguasai seluruh Korea di bawah pengaruh Jepang.”

“Tahun 1904, tiga orang Korea dieksekusi mati oleh tentara Jepang atas perbuatan mereka yang berusaha merusak rel kereta. Pembangunan jalur kereta oleh Jepang tentunya mereka harus menyerobot tanah milik orang Korea, itu yang menyebabkan pembangunan terganggu dan mereka harus menerapkan hukuman mati atau tembak di tempat untuk siapa saja yang mencoba mengganggu jalannya pembangunan rel kereta,” tambah Sunye.

***

Lamunan itu terus menggelayut di benak Seungyeon hingga roda kereta berhenti berputar dan terdengar rem kereta berdecit mencengkeram rel. Seungyeon tersentak, melihat ke sekitar. Para penumpang kereta tersebut telah bersiap untuk turun, termasuk kedua orang tuanya. Seungyeon segera beranjak dari duduknya, dan membantu ibunya membawakan beberapa barang.

Mereka berhenti di peron sejenak. Ayah Seungyeon melihat ke sekeliling peron dari tempatnya berdiri sekarang.

“Lee bilang, dia akan jemput kita sendiri ditemani beberapa anak buahnya,” bisik ayah Seungyeon.

“Sekarang di mana dia? Sudah sampai di sini?” tanya ibu Seungyeon.

“Aku sudah bilang ke Lee jam kedatangan kita di Dorasan. Waktu itu dia bilang setengah jam sebelum kita tiba, dia sudah sampai di stasiun,” balas ayah Seungyeon.

“Ah, ayo kita keluar sekarang,” mereka bertiga akhirnya berjalan menuju pintu keluar stasiun. Di pelataran stasiun terlihat kuli-kuli pengangkut berseliweran menggotong barang di punggung atau menaikkannya ke gerobak dan menariknya ke tempat tujuan. Hari itu angin dingin musim semi masih bertiup semilir dan awan mendung menggantung di langit.

Tiba-tiba seorang laki-laki menyenggol Seungyeon dan menyeruak ke arah keluarga Seungyeon dan mencoba mengangkat barang bawaan mereka.

“Hei, mau apa kau?” tegur Seungyeon tiba-tiba.

“Oh maaf. Maafkan saya, Nona…” laki-laki berkulit gelap terbakar matahari dan kurus mengenakan baju putih lusuh itu membungkukkan badan.

“Bapak ini Bapak Han, perajin pedang dari Seoul itu kan? Saya orang suruhan Bapak Lee untuk menjemput Bapak sekeluarga. Mari, Pak, Bapak Lee sudah menunggu di dekat halte trem,” pesuruh itu menjelaskan maksudnya.

Di halte trem di dekat stasiun, seorang lelaki sebaya dengan ayah Seungyeon melambaikan tangan dan dibalas oleh ayah Seungyeon dengan lambaian tangan dan senyuman hangat.

Annyeong haseyo…” sapa ayah Seungyeon. Ibu Seungyeon dan Seungyeon membungkukkan badan menyapa lelaki tersebut. Lelaki berwajah ramah yang mengenakan mantel hitam panjang itu menyambut mereka.

“Selamat datang keluarga Han di Dorasan. Ini pasti Seungyeon ya, anak satu-satunya?”

Seungyeon mengangguk pelan dan tersenyum.

“Saya sudah kenal lama dengan ayah kamu. Tapi kita belum pernah saling ketemu. Ternyata baru dipertemukan setelah belasan tahun. Kamu cantik,” puji Bapak Lee tulus.

“Terima kasih…” sahut Seungyeon pelan.

“Mari kita ke rumah saya sekarang. Kita naik trem bersama…” ajak Bapak Lee ramah.

Seungyeon tetap berdiri di tempatnya semula. Orangtuanya beserta Bapak Lee sudah berjalan menuju trem. Seungyeon meremas-remas ujung pakaiannya. Pandangannya setengah tertunduk ke bawah. Beberapa langkah sebelum masuk trem, ayah Seungyeon menoleh ke belakang. “Seungyeon, ayo…”

“Iya, Ayah…” Seungyeon memaksakan senyum, dan menyusul masuk trem.

***

Mereka sampai di sebuah rumah di daerah kaki perbukitan. Rumah besar bergaya tradisional. Bapak Lee tampaknya memang seorang kaya di daerah itu, seperti seorang tuan tanah ataupun sejenisnya.

“Kalian silakan beristirahat di belakang rumahku. Saya punya semacam pondok untuk tamu. Kalian bisa tidur di sana selama kalian menginap di sini. Tempatnya bagus, kalian tenang saja. Memang sengaja saya dirikan untuk menyambut tamu-tamu yang datang. Mari, saya antarkan…”

Mereka berjalan menuju belakang rumah keluarga Lee, tepatnya mereka berjalan mendaki bukit. Musim hujan yang sering turun menyebabkan jalanan licin, namun jalan menuju pondok tamu telah dibangun tersusun dari batu-batu.

“Saya yang membangun jalan ini. Dengan biaya sendiri,” terang Bapak Lee. Ia menengok ke arah Seungyeon yang berjalan di belakangnya. Bapak Lee melempar senyum kecil. Setelah Bapak Lee kembali memalingkan pandangannya, Seungyeon menggigit bibir bawahnya.

“Kita sudah sampai!” seru Bapak Lee. Di hadapan mereka terlihat sebuah rumah kecil dengan dekorasi dinding dari batu. Bapak Lee membukakan pintu rumah tersebut dan menemani keluarga Seungyeon masuk ke rumah. Dua lembar kasur digelar di lantai berdampingan, beberapa meja bundar kecil, sumur air dan kamar mandi di belakang rumah, serta tempat lilin di dinding pondok.

“Selamat beristirahat semuanya. Kita jumpa lagi makan malam nanti.”

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on October 16, 2011, in Fanfiction, The Dawn of First March. Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. KAKKKKKKKKKK makin seru !!!

    Itu bonyoknya ngebawa Seungyeon ke Dorasan buat dijodohin , lalu gak jadi ke Tokyo , ya? #spekulasiawam

    Lanjut!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: