The Dawn of First March (Bab 3)

MATAHARI TERBIT

 

Seungyeon termenung di atas tempat tidurnya, berbaring memandangi langit-langit kamar. Sungguh ia tidak mengerti apa yang sebenarnya harus ia renungkan sesuai perintah ayahnya. Seungyeon bangkit, lalu berjalan menuju sebuah lemari yang ada di sudut kamarnya. Ada sebuah kotak kayu berwarna gelap. Seungyeon menyeretnya dan membuka kotak tersebut. Ada bermacam-macam kertas di dalamnya.

Seungyeon mengambil secarik kertas lusuh dalam keadaan tergulung, terlihat seperti sebuah peta. Seungyeon membuka kertas itu di atas meja. Ia menarik napas dalam-dalam, mata dan jari-jarinya dengan cermat menelusuri titik-titik dalam peta tersebut.

Peta itu merupakan pemberian dari Min Sunye, seorang mahasiswi Korea yang sedang menuntut ilmu kelautan di Tokyo, Jepang. Ia masih terhitung saudara jauh Seungyeon dari pihak ibu. Mereka acapkali bertemu dalam acara keluarga dulu, sebelum Sunye pergi ke Jepang. Dari dirinyalah, Seungyeon belajar mengenai apa yang sebenarnya sedang terjadi di tanah kelahiran mereka ini. Sunye yang berkepribadian tenang, cerdas, dan memiliki kharisma yang khas adalah sesosok figur yang mengagumkan di mata Seungyeon.

Ia cermati peta itu. Di atasnya tergambar dengan jelas garis batas teritorial Korea dan Jepang, dengan Pulau Dokdo di Korea dan Pulau Oki di Jepang. Peta itu dibuat tahun 1903 oleh Kekaisaran Jepang, menurut cerita Sun Ye yang memberikan peta itu sebagai buah tangan ketika Sunye masih menjadi mahasiswi baru di Jepang. Saat peta itu dicetak, Jepang masih mengakui bahwa Pulau Dokdo adalah milik Korea.

 

***

 

“Jepang, negara yang ada di seberang lautan itu kini mulai menggeliat, sejak mereka menang perang dengan Rusia tahun 1905. Mereka yang tadinya mengisolasi diri, sekarang terbuka, menunjukkan kepada dunia siapa mereka sebenarnya,” ungkap Sunye dalam pertemuannya dengan Seungyeon di suatu acara keluarga suatu hari.

“Jadi menurut Kakak, akan terjadi perang di sini?” tanya Seungyeon.

“Seungyeon, kemenangan Jepang dari Rusia itu adalah pembuka jalan bagi Jepang untuk menaklukkan bangsa-bangsa di sekitarnya. Port Arthur sekarang ada di tangan Jepang. Itu kunci mereka dengan dunia luar, terutama Barat. Dan mereka tidak akan pernah puas hanya dengan dapat mengalahkan Rusia. Mereka akan lebih disegani apabila mereka memiliki daerah jajahan.”

 

***

 

“Kak, Kakak sudah gila ya?” Seungyeon dengan langkah seribu menghampiri Sunye ketika Sunye menginap di rumahnya.

“Loh, kenapa memangnya? Kenapa kamu sampai panik begitu?” tanya Sunye tidak mengerti.

“Betul Kakak mau kuliah di Jepang?” selidik Seungyeon cepat.

“Ya, itu betul!” jawab Sunye tegas.

“Kakak ini bagaimana? Buat apa belajar ke sana? Bukannya Kakak sendiri yang bilang kalau Jepang itu kejam, mereka perampas, penjajah? Mengapa lantas Kakak mau pergi ke sana? Dididik oleh mereka?”

Sunye tersenyum. “Justru aku pergi ke sana demi memajukan Korea, Seungyeon, tak sadarkah engkau akan hal itu?”

Seungyeon termangu, tidak mengerti, mencoba berpikir mencari jawaban sendiri. “Aku percaya, kunci untuk memajukan sebuah bangsa adalah pendidikan. Apa yang nanti aku dapatkan nanti dari orang-orang Jepang, akan aku gunakan untuk membangun negaraku sendiri. Aku tidak akan mengabdi untuk mereka. Aku akan pulang ke sini, ke tanah air,” ujar Sunye dengan matanya yang menerawang jauh.

Seungyeon masih juga tercenung. Sunye merangkulnya. “Kamu juga, harus punya cita-cita yang tinggi. Kamu itu pandai, kamu harus bisa seperti aku. Tuntutlah ilmu, pilihlah hal yang kamu sukai, maka nanti kamu akan menjalankan hal tersebut di hidupmu dengan senang hati. Bersekolah di Jepang buatku, seperti membuat sebuah pedang. Bayangkan apabila di sebuah pertempuran, pihak Jepang menjatuhkan senjatanya. Kamu sebagai pihak yang melawan Jepang, apakah akan mendiamkan senjata itu karena benda itu milik Jepang? Tentunya tidak kan? Pastinya kamu akan mengambil senjata itu dan kamu gunakan untuk menyerang balik mereka.”

 

***

 

Seungyeon melipat peta itu dan hendak memasukkannya ke dalam kotak penyimpanannya. Namun, hal itu urung yang ia lakukan. Ia membuka kembali peta itu, dan mendirikannya di atas lemari di dekat tempat tidurnya. Seungyeon mengganjalnya dengan beberapa vas bunga. Dengan begitu dari atas tempat tidur, ia bisa melihat peta itu membentang yang merentangkan angannya yang kini meluas dan menyeberangi samudra. Ada sebuah gejolak di dalam batinnya kini setiap kali matanya menatap lekat peta itu. Timbul sebuah harapan, sebuah cita-cita, sebuah angan akan kebebasan.

Impian Seungyeon kini terbit seperti matahari yang terbit dari timur, seperti bangsa Jepang yang menyembah matahari sebagai dewa tertingginya. Impian itu harus sampai, harus terwujud. Ia harus dapat melayari laut dan menepi di daratan Jepang, untuk menuntut ilmu, untuk membebaskan bangsanya dari penjajahan.

Seungyeon mengambil langkah cepat keluar dari kamarnya. Benar perkataan ayahnya waktu itu, terkadang hanya dalam kesendirian dan dengan diam kita dapat menjernihkan pikiran dan meredakan emosi. Salah satu ironi kehidupan yang menarik adalah bahwa diam, yang sering kali dihubungkan dengan kepasifan, mempunyai kekuatan yang besar. Diam bisa membantu kita untuk lebih konsentrasi, tenang, introspektif, dan bahkan lebih bijak. Dan, diam acap kali lebih dapat menyampaikan poin-poin kita dengan lebih efektif dari pada argumen-argumen.

Seungyeon berkeliling rumah mencari ayahnya. Ia mendapati ayahnya di depan rumah.

“Ayah!” panggil Seungyeon.

“Sudah kamu pikir matang-matang kata-kata kamu tadi?” tanya Ayah dengan suara yang parau. Masih ada nada kebimbangan di sana.

“Sudah,” tukas Seungyeon pendek.

“Lalu?”

“Aku tarik kata-kataku tadi, Ayah. Aku akan meneruskan sekolah. Maaf, Ayah, tadi aku emosi, aku tidak dapat mengendalikan diri,” Seungyeon memeluk tubuh ayahnya yang kokoh disertai ucapan maaf yang tulus dari dasar hatinya.

Ayah membelai rambut Seungyeon, lalu beliau berlutut dan menepuk pundak Seungyeon, “ingatlah dua hal dan lupakan pula dua hal. Pertama, ingatlah kebaikan orang lain kepadamu dan lupakanlah kebaikanmu pada orang lain. Kedua, ingatlah kesalahanmu kepada orang lain dan lupakanlah kesalahan orang lain kepadamu.”

 

***

 

Seungyeon menyibakkan rambut panjangnya. Ia mengenakan sepatunya dan ia melangkah meninggalkan rumahnya menuju ke suatu tempat. Udara musim semi tahun 1917 dan bekas hujan deras semalam membuat Seungyeon harus merapatkan mantelnya sedikit. Angin dingin kering yang masih kerap menerpa dapat membuat stamina dan daya tahan tubuh manusia menjadi rentan terserang penyakit. Usia Seungyeon kini menginjak 16 tahun, sebuah usia menjelang kedewasaan. Ia baru saja menamatkan sekolah menengah atasnya. Dan Seungyeon masih memelihara mimpinya untuk berkelana ke seberang lautan. Seoul kini telah banyak berubah. Modernisasi di sana-sini, seiring dengan kedatangan Jepang di tanah Korea. Seoul kini turut dilengkapi dengan jalur kereta api sebagai urat nadi transportasi yang utama, sistem telegraf, dan sumber air bersih. Bahkan, listrik dan jalur telepon pun telah masuk di Korea sejak 1902. Modernisasi ini sebenarnya telah dimulai sejak 1880 hingga 1905, oleh Dinasti Choseon sebelum mereka runtuh, dibantu oleh negara-negara Barat dan Jepang, Dinasti Choseon berhasil membangun proyek infrastruktur seperti jalur kereta api yang menghubungkan Pusan-Seoul-Oiju-Incheon, jalur telegraf yang menyambungkan Pusan dengan Incheon dan Oiju, listrik dan air bersih untuk warga Seoul, membangun rumah sakit pertama, mendirikan sekolah berpola Barat pertama untuk laki-laki dan perempuan dari semua golongan, dan sebuah hotel berhasil dibangun di Seoul yang diberi nama Chosun Hotel.

Suasana jalan raya di Seoul tahun 1890-an

 

Seungyeon menempuh jarak empat kilometer dari rumahnya dengan berjalan kaki. Ia sampai di sebuah kantor pos. Sebuah kantor pos dengan bangunan yang sudah cukup tua, dapat terlihat dinding bangunan ini sudah agak mengelupas di sana-sini. Aktivitas kantor pos pagi ini cukup ramai. Seungyeon mendekati loket surat masuk.

“Nona, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang petugas pos.

Seungyeon tersenyum. “Hmm… saya Han Seungyeon. Saya ingin tahu apa ada surat untuk saya dari Jepang, Pak?”

“Ditujukan kepada Nona?”

“Ya, atas nama saya sendiri dan ditujukan untuk saya.”

“Apa sudah lama Nona menunggu? Maksud saya, mengapa Nona tidak menunggu surat tersebut sampai di rumah? Setiap ada surat yang masuk, pasti akan kami antarkan ke alamat penerima.”

“Sebaiknya jangan dikirimkan ke rumah saya. Pak, tolong dicarikan. Surat dari Jepang itu seharusnya masuk hari ini. Kalau ada, saya akan ambil sendiri saja, sekarang,” pinta Seungyeon dengan mimik serius.

“Baik, Nona. Akan kami carikan surat tersebut,” petugas pos itu meninggalkan loket yang menjadi tempat ia bertugas dan Seungyeon dapat melihat petugas tersebut membisikkan sesuatu kepada petugas di belakang loket. Mungkin petugas sortir.

Petugas pos itu kembali ke loket. “Harap tunggu, Nona…”

“Terima kasih,” Seungyeon membungkukkan badan mengucapkan terima kasih. Ia menyingkir dari loket dan berdiri menunggu surat yang dinantinya sampai di tangannya. Ia berharap dalam cemas.

Tak lama kemudian, “Nona!” panggil petugas pos itu kepada Seungyeon. Ia bergegas menuju loket.

“Bagaimana? Ada?” buru Seungyeon.

Petugas pos itu mengangkat bahu. “Sayang sekali. Surat dari Jepang memang ada beberapa yang masuk hari ini, tetapi yang tersisa di kantor ini sudah tidak ada. Mungkin saja pagi-pagi sekali, surat-surat itu sudah disebar ke petugas pos yang keliling mengantarkan surat…” belum selesai petugas pos itu menjelaskan, Seungyeon sudah berlari pergi.

“Nona! Nona!” panggil petugas pos. Namun Seungyeon tidak menggubris. Dengan napas terengah-engah, ia kembali ke rumah. Ia segera mengobrak-abrik seisi rumah. Jangan sampai surat tersebut sampai di rumahnya dan diterima oleh orang tuanya. Sudah semua tempat penyimpanan di rumahnya ditelusuri, nihil. Seungyeon menarik napas dalam-dalam. Ia berusaha berpikiran positif bahwa surat tersebut memang belum sampai. Ia bertekad akan berdiam diri di rumah, ia harus menjadi orang yang menerima dan menyembunyikan surat itu apabila tiba.

Sepanjang hari, Seungyeon menjadi gelisah. Ia memasang telinganya awas, kalau-kalau terdengar dari luar rumah petugas pos yang datang. Ia juga sudah berpesan kepada pekerja ayahnya apabila ada surat yang ditujukan untuk dirinya untuk segera disampaikan kepadanya. Surat yang ditunggunya itu adalah penentu masa depannya.

Hingga malam mulai merangkak naik dan hari ini akan berakhir, surat tersebut belum datang jua. Mungkin saja besok, gumam Seungyeon dalam hati. Namun, itu malah membuat hati dan perasaannya ketar-ketir. Makin lama surat itu tidak sampai ke rumahnya, berarti makin besar pula peluang surat tersebut jatuh ke tangan orang yang salah. Ah!

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on October 1, 2011, in Fanfiction, The Dawn of First March. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Owh Sunye sang istri pertama saya muncul di FF ini rupanya… :p
    Deg Deg ser juga nih nunggu-in hasil si Seungyeon… apa yg terjadi ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: