The Dawn of First March (Bab 2)

TANAH AIR

Perayaan Chuseok berlangsung sepanjang tiga hari. Setelah itu, warga kembali ke rutinitas masing-masing.

Sejak meletusnya Perang China-Jepang tahun 1894 hingga 1895, banyak saudagar-saudagar dari Jepang pindah dan menetap di Korea untuk mencari peluang berdagang. Pada tahun 1910, jumlah orang Jepang yang ada di Korea tercatat sebanyak 170.000 jiwa, yang kemudian menciptakan komunitas Jepang terbesar yang ada di luar negeri pada masa itu. Perang tersebut yang membuat Jepang berinisiatif menjadikan Korea sebagai koloninya dengan dalih untuk melindungi Korea dari ekspansi China.

Pada mulanya tahun 1876 tatkala kapal Jepang berlabuh di perairan Korea, mereka menemukan Seoul, sebuah kota indah di tengah sebuah lembah yang dikelilingi perbukitan, kota di mana dahulu pernah menjadi urat nadi kerajaan, sebuah kota yang dibentengi oleh tembok-tembok tinggi.

Annyeong haseyo…” sapa Seungyeon kepada ibunya yang sedang bekerja menyambung potongan-potongan kain. Kegiatan ini lazim disebut nubi, teknik merajut kain tradisional ala Korea. Nubi telah berkembang selama dua abad.

“Seungyeon!” balas ibunya sambil tersenyum. “Hendak berangkat sekolah sekarang?”

Seungyeon mengangguk.

“Masih berkutat dengan nubi, Bu?”

“Ya, seperti yang kau lihat. Memangnya kenapa?”

“Tidak adakah keinginan melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat?”

Tangan Ibu Seungyeon berhenti. Ia menatap mata anak perempuan satu-satunya. Seungyeon dapat membaca pertanda itu apabila sang ibu sudah melihat lurus ke arah matanya. Jika biasanya ia melengos membuang muka, kali ini ia bertahan.

“Apa maksud kamu tadi? Sesuatu yang lebih bermanfaat? Bermanfaat untuk siapa?” cecar ibunya. Walaupun terucap dengan nada biasa, ada ungkapan tidak setuju dan tidak suka dalam pertanyaannya tadi.

Seungyeon membuang napas pelan. “Ah ya sudahlah, Bu… Anggap saja tadi aku hanya melantur. Aku pergi…” Seungyeon bergegas pergi meninggalkan rumah menuju sekolah.

Seungyeon dibesarkan di sebuah keluarga kelas menengah. Bukan keturunan raja, bangsawan, atau panglima. Namun, ayah Seungyeon adalah seorang seniman pedang terkenal generasi ketiga, penerus dari kakek dan ayahnya. Reputasinya harum di kalangan keluarga kerajaan. Karena hal tersebut serta memanfaatkan koneksi dengan para bangsawan dan pejabat juga kemampuan negosiasi yang ulung dalam membangun relasi dengan Jepang, ayah Seungyeon masih diizinkan oleh Jepang untuk memiliki tanah atas namanya sendiri, atau dengan kata lain tetap menjadi tuan tanah.

Tahun 1906, Gubernur Jenderal Terauchi Masatake mengeluarkan kebijakan reformasi tanah yang sangat merugikan bangsa Korea. Kepemilikan tanah orang Korea masih berlaku tradisional tanpa adanya bukti tertulis atau sertifikat tanah. Sementara kebijakan yang diterapkan Jepang tersebut mensyaratkan kepemilikan tanah harus berdasarkan bukti tertulis. Pemilik tanah yang tidak dapat menunjukkan bukti tertulis. Pemilik tanah yang tidak dapat menunjukkan bukti kepemilikan akan kehilangan hak kepemilikan tanahnya dan turun kelas menjadi petani penggarap.

Tahun 1907 tercatat tuan tanah Jepang di Korea sebanyak 7.745 orang. Pemerintah Korea berutang kepada bank Jepang, dan di tahun 1910 utang negara Korea mencapai 45 juta yen. Asosiasi Pelunasan Utang Nasional terbentuk tahun 1907 dan berusaha mengumpulkan dana dengan mengajak rakyat Korea untuk berpartisipasi. Para pria diminta untuk berhenti merokok dan perempuan menjual hiasan rambut dan perhiasan mereka.

***

“Seungyeon!” sebuah suara membentak, membuyarkan lamunan Seungyeon. Ia tersadar.

“Oh, memanggil saya, Pak?” tanya Seungyeon.

“Ya! Kamu pikir saya memanggil siapa lagi? Kenapa kamu melamun? Tidak memperhatikan pelajaran?”

Darah Seungyeon mendidih. “Saya sama sekali tidak tertarik dengan pelajaran ini. Gampangnya, saya tidak mau dan tidak suka dibohongi seperti ini,” jawab Seungyeon ringan.

“Dibohongi? Dibohongi bagaimana?!” seru sang guru.

“Apa yang sedang Bapak ajarkan? Sejarah? Sejarahnya siapa? Sejarah Jepang, kan? Kita ini orang Korea! Mengapa kita tidak dididik untuk mengenal sejarah nenek moyang kita sendiri? Saya muak mendengarnya dari tadi!” tanpa sadar Seungyeon memukul meja.

Sekelas pun hening. Seungyeon tersadar aksinya memukul meja tadi menarik banyak perhatian. Seisi kelas tertuju kepadanya. Ia menengok ke kiri dan ke kanan, sebelum akhirnya pandangannya kembali ke depan, menghadap sang guru.

Sang guru berdiri memegang erat sisi meja. Jauh di lubuk hatinya, ia harus setuju dengan pendapat muridnya itu.

“Seungyeon! Hati-hati kalau bicara!” ia menghardik Seungyeon, padahal ia ketakutan.

“Saya tidak peduli! Sadarkah kalo Pak Guru mengajarkan sejarah Jepang kepada kami sama saja Pak Guru memihak penjajah? Seharusnya Bapak malu sebagai orang Korea!”

“Keluar!”

“Baik, saya keluar!” Seungyeon berlari meninggalkan kelas dan sekolah. Ia berjalan kembali ke rumah dengan memendam amarah. Tanpa menoleh ke belakang lagi, ia terus berjalan menjejaki tanah berbatu kerikil, menginjak rerumputan, dan menyibak semak-semak.

Di tahun 1910 di Korea berdiri 3.000 sekolah swasta yang kurikulumnya dikontrol penuh oleh Jepang, dan seluruh sekolah negeri diajar oleh guru asal Jepang. Pada masa Dinasti Joseon, pendidikan di Korea hanya terbatas untuk kalangan bangsawan. Namun, masuknya Jepang mengubah sistem pendidikan di sana. Jepang memperkenalkan pendidikan yang universal dengan sistem Jepang yang bertingkat mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas. Pendidikan masa itu kental dengan penekanan moral dan kebudayaan Jepang serta indoktrinasi politik. Pendidikan sejarah Korea tidak termasuk di dalam kurikulum. Hingga tahun 1930, Jepang masih mengizinkan penggunaan bahasa dan abjad Korea dalam proses belajar-mengajar.

***

“Seungyeon!” panggil sang ibu ketika matanya menangkap Seungyeon yang pulang ke rumah dengan berlari-lari. Seungyeon hanya menengok sedikit.

“Kenapa sudah pulang?”

“Aku tidak mau sekolah. Di sekolah cuma ditipu dan dibodohi!” balas Seungyeon.

“Apa maksud kamu?” suara Ibu meninggi.

“Mana Ayah?” tanya Seungyeon.

“Ayah ada di pabrik. Jangan mulai berulah kamu, Seungyeon,” Ibu memperingatkan.

“Maaf, Bu. Permisi. Ada yang harus aku bicarakan dengan Ayah…” Seungyeon berlalu ke belakang rumahnya, sebuah pabrik pembuatan pedang di mana setiap hari ayahnya bekerja mengerjakan pesanan pedang dan mengawasi para seniman dan pandai besi pembuat pedang.

“Ayah!” panggil Seungyeon dari kejauhan. Denting besi beradu membentuk irama meredam suaranya. Ayahnya yang kelihatan sedang mengerjakan sentuhan akhir untuk sebuah pedang tidak mendengar.

Seungyeon memutuskan untuk menyelinap masuk ke dalam pabrik dan menghampiri ayahnya. Sang ayah meletakkan pedang yang sedang ia kerjakan melihat putri kecilnya berada di hadapannya kini.

“Hari masih siang. Kenapa sudah kembali dari sekolah?”

Seungyeon memalingkan wajah sejenak. “Yah, ayo kita bicara di luar saja,” Seungyeon meraih tangan sang ayah dan berusaha menggandengnya keluar. Ayah paham dengan isyarat yang diberikan anaknya.

Mereka berdua berjalan bergandengan keluar pabrik. Seungyeon didudukkan oleh ayahnya di atas sebuah batu, dan ayah berlutut di depannya. Hubungan ayah dan anak yang mesra. Seungyeon sebagai anak tunggal sangat dekat dengan sang ayah, begitu juga sang ayah yang mendidik Seungyeon untuk menjadi seseorang yang berani dan kritis, sesuatu yang sebenarnya kurang disetujui oleh ibu Seungyeon. Tindakan yang menurut ukuran masa itu kelewat berani untuk seorang anak, seperti Seungyeon yang menggandeng tangannya tadi, dapat ia maklumi karena kedekatan mereka berdua.

“Ayah, aku ingin berhenti sekolah!” tegas Seungyeon.

Terkejut sang ayah. Ia terkesiap. “Berhenti sekolah? Dari mana kamu punya pikiran gila seperti itu? Kenapa memangnya?” emosi sang ayah mulai memuncak. Tak pernah ia merasa sedongkol ini. Permintaan Seungyeon berhenti sekolah dirasakannya sudah melampaui batas.

Seungyeon menyadari bahwa topik tentang pendidikan adalah topik yang sensitif, mengingat ayahnya selalu menekankan pentingnya pendidikan dan sekolah. Tetapi inilah yang ia tunggu. Kali ini, Seungyeon tidak butuh nasihat dan petuah. Ia menginginkan ayahnya menjadi seorang lawan debat yang sepadan.

“Sekolah cuma jadi tempat pembodohan. Pembodohan sistematis. Pembodohan oleh penjajah, Ayah…” jawab Seungyeon.

“Maksudmu?”

“Sekolah hanya akan melunturkan dan menumpulkan identitas kita sebagai orang Korea. Aku tidak sudi!”

Ayah menutup wajahnya dengan kedua tangan dan mengusap-usap wajahnya. Ayahnya menghela napas dengan berat.

“Kita ke dalam sekarang! Ibumu perlu tahu masalah serius yang ada dalam diri kamu!” Ayah mencengkeram tangan Seungyeon dan membawanya masuk rumah.

“Lihat anakmu ini!” sahut Ayah di dalam rumah. “Kau sudah tahu bahwa dia ingin berhenti sekolah?”

“Seungyeon! Apa-apaan kamu ini? Kelewatan!” bentak Ibu.

“Aku kan sudah bilang Bu, Ayah! Aku gak mau sekolah kalau cuma untuk dibodohi, dijadikan manusia yang dirampas jati dirinya! Di sekolah memang kita masih diizinkan berbahasa Korea, tetapi yang diajarkan semua tentang Jepang! Kita dibuat jadi pintar. Budak yang pintar!” tantang Seungyeon.

“Seharusnya kamu bersyukur kamu masih mendapatkan pendidikan layak, masih bisa makan, dan hidup dengan nyaman,” Ibu mulai melunakkan kalimatnya, berusaha membujuk Seungyeon.

“Di atas penderitaan saudara sebangsa sendiri? Karena keluarga kita punya relasi dengan kerajaan dan Ayah juga berdagang dengan orang Jepang? Mengapa aku tidak tega, ya?” Seungyeon bertanya balik. Ia menelan ludah. “Ayah, maafkan aku…”

“Maaf untuk apa?”

“Ayah, Ayah juga sama seperti guruku di sekolah. Ayah juga penjajah…”

“Kurang ajar!” sontak Ayah menendang kursi yang ada di dekatnya. “Berani kamu menuding orang tua seperti itu!”

“Kalau memang Ayah bukan penjajah, mengapa Ayah bekerja sama dengan Jepang dalam mengolah tanah dan pabrik kita, dan malah mempekerjakan sesama orang Korea sebagai kuli dan pekerja? Hasil dari pabrik dan tanah kita tidak dinikmati oleh kita, Ayah, walaupun kita ini pemilik. Jepang yang enak setiap kali Ayah bayar pajak ke mereka. Kalau memang Ayah masih punya harga diri, tentu Ayah akan lebih memilih kehilangan tanah dan rumah daripada kaya tetapi di bawah kendali penjajah…”

Ayah mendengus, “tahu apa kamu tentang harga diri?”

“Ayah, bukankah mau Ayah yang menumbuhkan jiwa pemberontak di dalam diriku? Setiap kali Ayah dan Ibu mengajakku jalan-jalan ke luar rumah, sebenarnya di situlah sekolahku, yang membentuk sikapku sekarang. Siapa mereka orang-orang Jepang itu? Apa salah kita sehingga di setiap sudut negara ini banyak sekali tentara Jepang berkeliaran yang siap dengan senjatanya untuk membunuh orang yang tidak sekehendak dengan mereka? Ribuan hektar tanah kita direbut, dan digunakan oleh militer untuk berperang, Ayah… Dan di atas tanah itu dibangun pemukiman untuk orang Jepang! Itu tidak lebih dari apa yang disebut perampokan! Perampasan! Kejam! Demi darah nenek moyang kita, Ayah, seharusnya itu jadi hak kita, tapi tidak sampai di kita!” rahang Seungyeon bergetar.

“Mengapa kita harus tetap hidup sementara tanah air kita sudah mati, bukan milik kita lagi?” pertanyaan retoris terlontar dari mulut Seungyeon.

Diperkirakan pada tahun 1910, sekitar 7 hingga 8 persen kepemilikan tanah berada di bawah kuasa Jepang, dan rasio ini terus meningkat perlahan hingga tahun 1932 di mana kepemilikan Jepang atas tanah di Korea meningkat menjadi 52.7%. Sebaliknya rasio kepemilikan tanah orang Korea merosot dari 63.2% menjadi 47.3%. Keadaan ini menyebabkan bangsa Jepang menjadi pemilik tanah, sementara bangsa Korea menjadi penyewa tanahnya. Praktek yang umum terjadi, para penyewa dipaksa oleh tuan tanahnya untuk membayar lebih dari setengah tanah yang mereka sewa, dan juga Jepang memaksa istri dan anak-anak perempuan mereka untuk menjadi buruh pabrik atau menjadi pelacur untuk membayar pajak.

Ayah menatap Seungyeon dengan tatapan yang menyiratkan sebuah perasaan campur-aduk yang tidak menentu. Ada rasa kecewa, marah, kesal, benci, sedih, atau mungkin malah ada terselip rasa kebanggaan di sana?

Ayah berdehem. “Antarkan Seungyeon ke kamarnya. Biarkan dia merenung tentang apa yang dikatakannya tadi. Ayah harap setelah kamu selesai merenung, kamu tarik lagi kata-kata kamu ingin berhenti sekolah.”

Ibu menggamit lengan Seungyeon dan mereka berdua berjalan beriringan menuju kamar.

Di depan pintu kamar, Ibu sempat memberikan pesan, “jangan kau lawan lagi ayahmu. Dan sudahlah. Ibu harap kau buang jauh-jauh pemikiranmu itu. Tidak perlu jadi orang yang terlalu idealis, terlalu pemimpi. Percayalah, apa yang Ayah dan Ibu lakukan ini cuma demi dirimu, yang mana mungkin sampai kapanpun kamu tidak akan bisa mengerti, sebelum kamu merasakannya sendiri…”

“Apa yang aku katakan bukan sesuatu yang berlebihan, Ibu. Percayalah bahwa suatu hari kita bisa bebas, melakukan apa yang kita mau dan apa yang kita suka. Yang terpenting menentukan arah hidup kita sendiri,” Seungyeon melangkah masuk ke dalam kamarnya.

Ia berbalik badan dan menahan pintu kamarnya. “Biar aku yang tutup sendiri pintunya, Bu…” pintu kamar itu bergerak menutup dan pandangan mereka berdua terhalang oleh pintu kamar.

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on September 19, 2011, in Fanfiction, The Dawn of First March. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Here is Sungyeon yang tumbuh di lingkungan ‘kolot’ mencoba mendobrak kebudayaan itu dengan pemikiran yang lebih modern…

    Let we see apa yang bisa dilakukan Seung Yeon kedepannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: