The Dawn of First March (Bab 1)

CHUSEOK

Lima orang anak perempuan mengenakan hanbok, pakaian tradisional Korea, berkumpul di sebuah halaman rumah. Di depan mereka terbentang sebuah kayu sepanjang tiga meter dan lebar 30 sentimeter. Di bagian tengah kayu tersebut terdapat sebuah penyangga. Sekilas, penyusunan kayu tersebut mirip dengan permainan jungkat-jungkit di masa kini. Permainan itu lazim disebut nolttwigi.

Dua orang anak perempuan berdiri masing-masing di tiap ujung kayu tersebut. Ketika seseorang menginjakkan kakinya di kayu, seorang yang lain akan terlempar ke atas. Inti permainan ini adalah bagaimana mengatur keseimbangan agar tidak jatuh. Yang kalah dalam permainan ini adalah yang jatuh dari atas kayu, yang tidak dapat menjaga keseimbangannya.

nolttwigi illustration

Hari ini. Tanggal 15 Agustus 1911.

Penanggalan bulan menunjukkan hari ini adalah hari raya Chuseok, sebuah perayaan sakral bagi bangsa Korea. Di hari Chuseok mereka berkumpul bersama keluarga besar, merayakan rasa syukur mereka kepada pendahulu-pendahulu mereka yang ditandai dengan berhasilnya panen pada musim ini.

Seorang pria setengah baya di pertengahan usia 40-nya, keluar dari rumahnya. Di depan pintu ia berhenti sejenak, memandangi sekumpulan anak-anak perempuan yang sedang bermain nolttwigi. Keceriaan dan suara riang mereka mengisi halaman rumahnya yang luas yang biasanya sepi dan kosong.

Pria itu melangkah perlahan ke bawah pohon di mana anak-anak itu bermain. Lantas ia menggendong salah satu anak perempuan tersebut yang sedari tadi bertepuk tangan dan menyemangati teman-temannya yang sedang bermain.

“Ayah!” pekik anak perempuan tersebut yang terkejut sekaligus kegirangan.

“Seungyeon, makin berat kau sekarang! Berapa ya usiamu sekarang? Hmmm… Ayah lupa!” sang ayah yang bahagia itu menggoda putrinya.

“Dilahirkan tahun 1901, sekarang tahun 1911. Berarti, 10 tahun, Ayah!” jawab Seungyeon sambil membuka lebar-lebar kedua telapak tangannya. Han Seungyeon tumbuh besar dengan membawa paras menawan dengan rambut panjangnya hitam legam dan sorot mata yang tajam dan dalam.

“Ikut Ayah, yuk!”

“Ke mana?”

“Lihat saja nanti!”

Ayah Seungyeon membawa putrinya ke bawah sebuah pohon besar tak jauh dari rumah mereka. Di batang pohon yang besar tergantung sebuah ayunan. Ditaruhnya si kecil Seungyeon di atas ayunan. Seungyeon menapakkan kakinya di atas ayunan dan berpegangan erat pada kedua tali ayunan.

“Kau pegangan ya! Ayah akan mendorong ayunan ini dari belakang.”

Seungyeon terlihat amat menikmati bermain ayunan dengan sang ayah.

Setiap teriakan bahagianya menyuarakan kegembiraan masa kecil dan kasih sayang yang bergelimang dari orang tuanya. Namun kemudian, bruk!

Seungyeon terjatuh tanpa sengaja. Kedua tangannya terbanting di tanah agar kepalanya tidak terbentur. Ia meringis kesakitan, memegangi tangan dan kakinya yang perih. Pelan-pelan matanya mulai memanas. Seungyeon mulai menangis.

Ayah Seungyeon hanya berdiri memandangi putri kecilnya.

“Ayah…” isaknya manja sambil menahan rasa sakit di tubuhnya.

“Seungyeon…” panggil ayahnya. Sang ayah masih juga bergeming. “Bangun, Seungyeon! Jangan cengeng!”

“Ayah, sakit…” Seungyeon mengeluh.

“Tidak peduli siapapun kamu, anak lelaki atau anak perempuan, kamu harus bisa berdiri dengan dan di atas kakimu sendiri.”

***

“Ini dia, hidangan wajib, ddeok-guk!” Seungyeon sekeluarga langsung menyantap hidangan berupa sup itu.

Keluarga besar Han tinggal di kota Seoul. Seungyeon adalah anak tunggal dan kini keluarga besarnya tengah berkumpul di rumah ayahnya yang besar merayakan Chuseok.

Ddeok-guk atau rice cake soup adalah makanan tradisional Korea yang wajib ada di setiap perayaan Chuseok. Ddeok-guk melambangkan pengharapan atas rezeki yang baik di tahun-tahun berikutnya. Kepercayaan yang berkembang apabila seseorang tidak menghabiskan ddeok-guk, maka di tahun depan umurnya tidak akan panjang.

“Seungyeon, berhubung bulan lalu kamu genap 10 tahun, maka kamu harus habiskan sepuluh buah mandu, sesuai dengan umurmu,” ayah Seungyeon menyodorkan sepiring mandu.

Seungyeon tersenyum jahil. “Gampang, Ayah! Nah, sekarang bagaimana dengan Ayah dan Ibu?”

Pasangan suami dan istri Han saling berpandangan, mencoba mencerna maksud sang putri.

“Ayah, Ibu, tahun ini kan kalian berdua 45 tahun… Ayo, sekarang Ayah dan Ibu juga harus menghabiskan 45 buah mandu. Aku benar, kan?”

Terkadang, ddeok-guk dihidangkan bersama kue (dumplings) berbentuk bola yang dinamakan mandu. Mandu harus dimakan sesuai dengan berapa umur kita di tahun ini. Bisa dibayangkan yang terjadi apabila seseorang harus menghabiskan 70 buah mandu dalam suatu waktu.

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on September 12, 2011, in Fanfiction, The Dawn of First March. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Akhirnya FF ini diganti cast-nya anyway ane simak dlu yak….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: