Generasi Patah Hati

Original article by James Turnbull at The Grand Narrative
Indonesian translation by Geraldi A. Bhaskara

sambungan dari artikel “Terobsesi Dipanggil Oppa”

Tipikal gambaran pengusaha yang mengorbitkan para idola memiliki kesamaan dalam beberapa titik. Pertama, mereka adalah pria paruh baya yang memulai usahanya dalam bidang hiburan sebelum terjadinya krisis keuangan Asia. Juga mereka adalah generasi tua yang sudah mapan dan makmur, beberapa di antaranya masih terlalu muda untuk mengalami kehidupan ala irregular generation alias generasi yang tidak seimbang.

Dengan kata lain, orang yang bekerja di perusahaan atau manajemen artis cukup muda dan cukup jeli untuk memahami selera pria lemah (powerless) dan memiliki kapital dan koneksi untuk memproduksi idola sesuai dengan permintaan pasar. Di sisi lain, para generasi muda memiliki apa yang disebut keinginan atau hasrat (desire), selain itu mereka juga memiliki uang saku yang cukup (atau uang dari kerja paruh waktu) untuk membeli mini album.

Remaja Korea hari ini adalah sebuah generasi yang tidak beruntung, yang tidak memiliki mimpi. Sejak mereka duduk di taman kanak-kanak, lalu masuk sekolah, dan menerima les-les privat, mereka menderita sangat hebat akan ketatnya kompetisi, namun mereka tidak dipersiapkan untuk menghadapi masa depan. Mereka bisa “membayar” untuk meningkatkan peluang masuk ke sedikit universitas “bagus”, namun jika mereka cukup beruntung untuk memperoleh tempat di mana tidak banyak orang yang bisa masuk karena tidak mampu bayar, itu pun masih kurang untuk memperoleh gelar manusia berkualitas.

Siswa yang telah lulus kini menghadapi realita yang kejam bahwa musuh mereka kini adalah diskriminasi, pengangguran, dan atau ketidakseimbangan jumlah lowongan kerja untuk dicari.


sumber

Grup idola memberikan kenyamanan bagi generasi malang ini dalam dua cara. Pertama, memberikan kesenangan untuk melupakan sejenak kerasnya kehidupan yang mereka jalani, sementara ada beberapa yang memelihara mimpi bahwa mereka dapat menjadi idola pula. Namun “kenyamanan” ini bukanlah semu belaka melainkan adalah umpan bagi terjadinya eksploitasi remaja. Sementara generasi muda menjadi konsumen utama dari musik, di saat yang bersamaan mereka juga menjalani audisi untuk menjadi “barisan calon idola siap terkenal”.

Para calon idola ini selain mencerminkan potensi keuntungan besar dan suplai tenaga kerja bagi manajemen, bagi calon idola sendiri mereka mendapatkan posisi yang menarik melalui pemujaan yang berlebihan di media dan setumpuk harapan di pundak mereka. Pada akhirnya, segala mimpi idola – mapan, kaya, terkenal – adalah segala sesuatu yang dipersiapkan untuk mereka sendiri. Mereka, adalah sentral dari mimpi mereka sendiri.

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on September 11, 2011, in Potret Kehidupan Sosial Korea, Showbiz Korea and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: