Terobsesi Dipanggil Oppa

Original article by James Turnbull at The Grand Narrative
Indonesian translation by Geraldi A. Bhaskara

Ini bukan kali pertama ada lagu bertemakan Oppa (dalam bahasa Korea berarti panggilan untuk kakak laki-laki yang diucapkan oleh perempuan yang lebih muda – penerjemah). Namun bila kita tengok, sangat sulit ditemukan di masa lalu lagu bertemakan seperti ini. Jadi, dari mana awal mula kegilaan ber-Oppa ria seperti ini?

Tentu saja alasannya adalah karena sangat banyak pria di luar sana yang terobsesi dipanggil Oppa. Perlu kita ingat bahwa mayoritas fans pria dari grup perempuan (girlband) adalah pria dari generasi yang memiliki pekerjaan tidak tetap, terancam kehilangan atau berhenti bekerja, dan (mungkin) susah mendapatkan pasangan. Tujuan mereka memuja grup-grup perempuan tersebut kurang lebih sama dengan tujuan para “pria herbivora” (begitulah disebutnya merujuk pada tipikal pria muda berpenghasilan rendah namun tidak konsumtif, tetapi amat mempedulikan gaya berpakaian dan penampilan) yang jatuh cinta pada tokoh utama wanita dalam komik manhwa. Bagi mereka, para personel girlband tersebut adalah perwujudan nyata dari para gadis di dalam manga.


sumber

Dikatakan bahwa girlband Korea pertama kali muncul pasca krisis keuangan Asia tahun 1997-1998, mereka antara lain grup SES dan Fin.KL. Sedangkan grup anyar seperti Wonder Girls dan Girls’ Generation yang lahir di pertengahan dekade 2000-an, setelah kemapanan ekonomi Korea, digolongkan sebagai generasi kedua.

Perbedaan antara girlband generasi pertama dan kedua antara lain sebagai berikut. Grup generasi kedua ini memiliki rata-rata umur yang lebih muda dibandingkan pendahulunya, mereka mengekspos kemolekan tubuh mereka lebih sering, tiap grup mengalami deindividualisasi (luruhnya identitas subyektif-personal ketika individu lebur dalam identitas kolektif – Simmel), dan skill mereka bergantung pada proses audisi dan panjangnya masa training.

Penulis setuju dengan perbedaan-perbedaan yang dipaparkan. Namun istilah deindividualisasi sesungguhnya mengaburkan satu poin penting.

Philip Vannini dan Scott Myers dalam sebuah jurnal sosiologi berjudul “Crazy About You: Reflections on the Meanings of Contemporary Teen Pop Music” pernah menyoroti bagaimana grup musik pop Barat tidak lain hanyalah boneka dari para produser.

Produser berkuasa mulai dari hal penulisan lagu sampai pengemasan imej dan kepribadian masing-masing personel. Setiap perilaku boyband telah diatur sedemikian rupa untuk menarik bermacam kepribadian dan latar belakang fans sebagaimana setiap personel diposisikan sebagai seseorang yang manis, imut, ramah, tampan dan misterius, kreatif namun ceroboh, bertalenta dan pekerja keras, dingin, dan berbagai jenis kepribadian lainnya. Sebuah grup diciptakan di bawah permintaan konsumen dalam benaknya.

Dan bandingkan dengan apa yang pernah Allkpop tulis tentang girlband:

Osen menggarisbawahi bahwa personel yang imut dalam girlband cenderung menuai perhatian yang lebih luas dan mengangkat popularitas grupnya. Tiap personel memiliki peran di dalam grup, dan setiap grup memiliki personel yang bertugas mengusung imej cute. Di Korea personel semacam ini disebut ‘kui-yo-mi’. Personel ini juga bertanggungjawab memikat para fans pria dengan pesona imut dan femininnya yang akan menghasilkan fans yang berjumlah lebih banyak.


sumber

Sekarang mari kita pindah membahas isu eksploitasi tubuh terhadap perempuan-perempuan muda ini. Singkatnya ada sebuah hubungan antara para pedofilia (Lolita Complex) dan seksualitas pria yang dilemahkan. Dalam masyarakat patriarki yang bersandar pada kemapanan ekonomi dan kekuatan pria, melemahnya kekuatan ekonomi adalah sama dengan melemahnya seksualitas pria.

Saat ekonomi Korea memasuki periode stagnasi dalam jangka panjang, maka grup perempuan generasi kedua lahir. Jepang juga mengalami hal yang sama seperti ini di tahun 1980-an yang melahirkan karakter “Lolicon”. Para personel girlband Korea memiliki karakteristik mirip dengan karakter Lolicon tersebut yaitu wajah kekanak-kanakan namun dengan tubuh aduhai perempuan dewasa. Karakter tersebut yang dianggap ampuh membuat pria bertekuk lutut ketimbang karakter perempuan dewasa yang matang dan percaya diri.

Syu Kishida, penulis buku “A Psychoanalysis of Lazy Bastards”, menarik garis kesamaan antara para pelaku kejahatan seksual. Menurutnya pelaku kejahatan seksual tidak semata-mata pria dengan nafsu seks yang meluap-luap, malah merupakan sosok pria lemah yang tidak dapat mengembangkan kemampuan seksualnya melalui jalan yang normal, sehingga mereka memilih untuk mengancam perempuan yang lebih lemah, lebih muda, atau malah memiliki fisik yang tidak sempurna karena kelompok perempuan tersebut sudah pasti tidak memiliki daya untuk melawan mereka.

Stephen Epstein dan James Turnbull menyimpulkan bahwa girlband Korea memiliki karakter naïf, aegyo, malu-malu, pasif, dan mengundang secara seksual. Walaupun sekilas terlihat ada karakter yang bertentangan, namun faktanya mereka semua adalah alat untuk menggoda para pria dalam aspek seksual. Bagi para pria lemah, memang karakter naïf, lemah, dan pasif menjadi sesuatu yang seksi di mata mereka.

Karakter “pria herbivora”, “pria bunga” (kkotminam atau flower boys) juga pernah dialami oleh bangsa Jepang. Dengan dasar inilah, sangat susah untuk tidak beranggapan bahwa ada kesamaan antara popularitas girlband Korea di negara tetangga (Jepang khususnya) dan popularitas Lolita Complex dan karakter Lolicon dengan stagnasi ekonomi dalam jangka panjang. (***)

DISKUSI

Ternyata ditemukan sebuah fakta yang bertentangan bahwa ternyata mayoritas fans Jepang dari girlband Korea adalah para remaja putri dan perempuan dewasa muda. Dan ironisnya, grup Korea ini mempersiapkan imej dewasa dan matang. Dengan demikian secara logis dapat dikatakan bahwa para pria Jepang yang lemah menolak imej cute yang dibawa oleh grup perempuan Korea. Sekali lagi memang perlu diadakan riset yang lebih mendalam tentang bagaimana perilaku fans Jepang dalam mengonsumsi imej girlband Korea ini.

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on August 28, 2011, in Potret Kehidupan Sosial Korea, Showbiz Korea and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: