Poligami dan Pasar Pernikahan (Siapakah Tangan di Atas?)

The original article by Robert H. Frank at The New York Times
Indonesian translation by Geraldi A. Bhaskara (this translation is not intended for commercial purpose)

Banyak orang percaya bahwa orang dewasa seharusnya diberi kebebasan untuk melakukan apapun yang mereka suka, asalkan tidak mengganggu dan membahayakan orang lain. Pertanyaan sulitnya, tentu saja, apakah yang digolongkan sebagai tindakan yang membahayakan? Di Amerika, debut serial televisi HBO, “Big Love” tentang sebuah keluarga poligami fiktif di Salt Lake City, telah memunculkan kontradiksi tentang pertanyaan tersebut.

Big Love HBO series Barb, Nicki, dan Margene, tiga pemeran utama wanita dalam serial “Big Love”, memilih untuk menikahi Bill Henrickson, seorang pengusaha sukses. Haruskah masyarakat turut campur dalam kehidupan mereka karena pernikahan tersebut membahayakan bagi orang lain? Jika demikian, siapakah yang dicelakakan, dan bagaimana? Teori ekonomi memiliki penjelasan-penjelasan menarik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Argumen tradisional yang menentang poligami mengatakan bahwa tindakan tersebut menyakiti perempuan, khususnya perempuan yang lebih muda yang bisa jadi dipaksakan untuk masuk ke dalam pernikahan poligami tersebut. Untuk hal tersebut, masyarakat harus mencegah pemaksaan nikah tersebut, baik untuk poligami maupun monogami. Namun, perempuan dewasa matang yang rela berpoligami mengungkap sebuah preferensi baru. Bila benar poligami membahayakan perempuan, maka para korban adalah mereka yang memiliki preferensi monogami.

Mudah untuk melihat siapa saja dari para istri tersebut yang mungkin tersakiti. Dalam dunia monogami, sebagai contoh, pilihan pertama Barb mungkin adalah menikah dengan Bill, yang juga memilih untuk menikahinya. Namun dengan adanya hukum yang mengizinkan poligami, preferensi Bill bergeser dengan tidak hanya menikahi Barb, namun juga Nicki dan Margene. Barb lantas harus memilih di antara dua konsekuensi yang tidak begitu menyenangkan: berpisah atau hidup di tengah kehidupan poligami yang tidak ia sukai.

Fakta sederhana bahwa poligami dapat menghilangkan pilihan bagi beberapa perempuan tidak serta merta menunjukkan bahwa poligami menyakiti perempuan secara umum. Sebagai contoh, apabila poligami legal, 10 persen pria dewasa rata-rata akan memperistri tiga orang perempuan, dan sisanya adalah pernikahan monogami. Di antara para monogamis, akan ada 9 pria untuk setiap 7 perempuan. Hukum penawaran dan permintaan berlaku secara ironis terhadap relasi sosial ketimbang transaksi ekonomi biasa. Dengan suplai pria yang berlebih di pasar monogami, akan terjadi pertukaran yang menguntungkan perempuan. Para istri akan mengganti lebih sedikit popok, dan orang tua para istri mungkin bahkan bisa menolak untuk membayar pernikahan.

Bagaimana dengan pria? Poligami juga akan membawa keuntungan dalam beberapa sisi. Secara keseluruhan, pastinya akan ada pria sejenis Bill Henrickson dalam serial “Big Love” yang tidak hanya menginginkan poligami, tetapi juga dapat memikat hati para perempuan.

Lantas bagaimana dengan mereka yang lebih menyukai monogami? Mengizinkan poligami, seperti yang telah dijelaskan, akan menciptakan ketidakseimbangan antara pria terhadap wanita di antara para monogamis. Dengan banyaknya perempuan lajang yang tak lagi tersedia, efek negatif akan menimpa kaum lelaki (seperti yang terjadi baru-baru ini di China sebagai akibat dari para perempuan yang membunuh anaknya yang lahir). Banyak lelaki akan membujang selamanya.

Pendeknya, logika penawaran dan permintaan memutarbalikkan kebijakan mengenai poligami. Jika poligami menyakiti lelaki dan perempuan, maka korban yang lebih tersakiti adalah lelaki, bukan perempuan.

Kesimpulan ini diperkuat apabila kita menghitung untung-rugi dan hal-hal yang membuat keadaan yang kontras menjadi seimbang, sebuah asosiasi tentang bagaimana pria memenangkan perhatian di tengah-tengah perempuan yang jumlahnya langka. Kesia-siaan seperti “siapa cepat dia dapat” secara gamblang diilustrasikan melalui spesies hewan.

Mayoritas spesies hewan adalah poligini, yang berarti umumnya pejantan memiliki lebih dari satu pasangan. Karena memiliki banyak pasangan dalam istilah Darwin merupakan sesuatu yang menantang, sering ditemui pejantan bertarung dengan pejantan lain untuk memenangkan si betina. Ukuran tubuh sering menentukan jalannya pertarungan, sehingga pejantan cenderung diasosiasikan memiliki ukuran fisik lebih besar dibandingkan betina dalam spesies poligini.

Beberapa gajah laut jantan, contohnya, memiliki panjang 20 kaki dan berat badan lebih dari 6,000 pon, sedangkan gajah laut betina memiliki tipikal panjang tubuh kurang dari 12 kaki dan berat hanya sekitar 1,500 pon. Seleksi alam menyebabkan pejantan berukuran lebih besar karena pemenang dari pertarungan yang menguras tenaga dan menumpahkan darah antar para pejantan umumnya didasari motif seksual untuk mengawini lebih dari 50 betina.

sumber gambar

Namun kendati memiliki tubuh besar adalah sebuah keunggulan mutlak, hal itu juga menyebabkan gajah laut menjadi lamban bergerak dan karenanya menjadi lebih rentan terhadap serangan hiu dan predator lainnya. Ukuran relatif, bukan ukuran mutlak, mempengaruhi hasil pertarungan, sehingga jelas lebih baik bila pejantan hanya berukuran setengah dari ukuran besar. Semua pertarungan akan menghasilkan hasil yang sama, namun para pejantan akan menjadi lebih lincah untuk menghindari predator.

Mengizinkan terjadinya poligami pada manusia akan membuat kompetisi mendapatkan perempuan menjadi lebih terkontrol seperti yang dicontohkan pada spesies hewan. Dengan suplai perempuan yang terbatas, lelaki akan menghadapi kondisi bahwa mereka mengalami tekanan yang intens dibandingkan sekedar tuntutan bagaimana mereka mapan secara ekonomis untuk menghidupi keluarga. Akan banyak pria yang pergi untuk operasi plastik, akan banyak pria berlomba-lomba membelikan cincin termahal. Nantinya di hari Valentine tidak cukup hanya selusin bunga mawar, minimal dua lusin. Namun sebagaimana kerasnya para pria mati-matian berusaha memikat perempuan, beberapa dari mereka tetap harus bertekuk lutut pada takdir tidak memperoleh pasangan nikah.

Tidak seperti hewan, manusia tentunya dapat menegakkan hukum untuk membatasi. Sebagai tambahan akan tujuan yang hendak dicapai, hukum melawan poligami bisa berfungsi sebagai pengendali persaingan pria akan wanita dan membuat hidup para pria lebih tenang. Dan hukum tersebut juga akan membantu menjelaskan daya tarik dan dominasi para pria dalam merumuskan hukum.

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on June 28, 2011, in Poligami and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: