I Do, Sah! (Poligami Dari Sudut Pandang Ekonomi)

The original article by Tim Harford at Slate Magazine
Indonesian translation by Geraldi A. Bhaskara (this translation is not intended for commercial use)

Setelah lebih dari satu dekade perang antara pemberontak separatis dan militer Rusia, tidak banyak pria lajang yang tersedia di Chechnya. Perdana Menteri Ramzan Kadyrov (tampaknya ia bukan seorang feminis) pun bertindak dengan mengajukan sebuah tahap radikal: “setiap lelaki yang dapat memiliki empat orang istri, seharusnya melakukannya”.

Poligini (menikah dengan lebih dari seorang perempuan di saat yang bersamaan – lawan dari poligami, yang mana arti sesungguhnya adalah memiliki lebih dari satu istri) diizinkan di dalam hukum Islam namun tidak di hukum Rusia, sehingga Kadyrov tampaknya tidak melanjutkan ide tersebut. Namun perbedaan apa yang melandasi adanya hukum tersebut? Adalah sebuah hal yang alami apabila mengasumsikan bahwa poligini membawa dampak buruk bagi perempuan, di satu sisi karena kebanyakan dari kita menginginkan pasangan kita hanya untuk kita sendiri, di sisi lain karena kita melihat praktek poligini tersebut jamak terjadi di negara seperti Arab Saudi dan beberapa aturan di sana yang mengekang kebebasan perempuan, misalnya larangan mengemudikan mobil bagi perempuan.

Saya tidak terlalu yakin. Banyak reaksi emosional berdatangan yang menyerang poligini yang tidak dapat kita pertimbangkan di sini. Di dalam masyarakat di mana jumlah lelaki dan perempuan seimbang, seorang pria dengan empat istri memberikan kesempatan bagi perempuan untuk dipilih oleh tiga pria. Di Sahel, sebuah daerah di Afrika, setengah dari populasi wanitanya hidup dalam rumah tangga poligini. Setengahnya lagi memperoleh lelaki yang tepat dan memiliki daya tawar yang lebih kuat.

Sungguh mengejutkan bahwa dalam masyarakat poligini, keluarga mempelai perempuan mendapatkan bayaran yang besar karena partisipasi mereka menjadi istri kesekian. Apabila konsep ini kita kombinasikan dengan hak-hak perempuan, saya berani bertaruh kita akan melihat banyak perlawanan akan hal tersebut. Tidak semua orang bersedia untuk membagi suaminya, namun saya berpikir ada saja beberapa perempuan yang bersedia menjadi istri kesekian dari Orlando Bloom ketimbang memiliki Tim Harford (penulis) secara utuh – termasuk istri saya.

Di dalam masyarakat seperti Chechnya, di mana mereka kekurangan lelaki muda, kita akan berharap akan adanya sebuah efek terbalik: lelaki memilih, hidup bebas, bahkan mungkin tidak berkeberatan untuk menikah sama sekali. Kami tidak memiliki data Chechnya, namun kami memiliki informasi yang sangat baik mengenai hasil paralel yang tidak terduga.

Setidaknya, satu dari 100 pria Amerika mendekam di dalam penjara – namun ada beberapa negara bagian di mana satu dari pria muda berkulit hitam adalah narapidana. Mengingat umumnya perempuan menikah dengan lelaki di usia yang sebaya, dengan ras yang sama dan di negara bagian yang sama, maka ada beberapa kelompok perempuan yang harus menghadapi nasib kekurangan pasangan nikah.

Ekonom Kerwin Charles baru-baru ini meneliti perempuan-perempuan yang kurang beruntung ini. Masalah yang mereka alami bukan semata-mata bahwa mereka ingin menikah namun tidak mampu, namun mendadak pria-pria bebas – yang tidak dipenjara – memiliki daya tawar yang jauh lebih kuat dari biasanya. Katakan selamat tinggal pada urusan domestik cuci piring dan bayar sewa rumah, ucapkan selamat datang kepada para wanita simpanan yang akan pria-pria tersebut miliki jika kelak menikah. Para perempuan yang berkesempatan mendapatkan pasangan yang potensial semakin dipersempit kesempatannya dengan banyaknya pria yang dipenjara, akibatnya keinginan mereka untuk menikah menjadi tumpul, pun apabila mereka menikah, mereka akan menikah dengan pria berpendidikan rendah dari mereka. Sementara itu, para pria akan berada dalam kondisi berkelimpahan calon pasangan dan mereka akan lebih santai dan tidak terburu-buru untuk menikah. Lantas bagaimana?

Jawaban dari para perempuan yang mungkin adalah: girl power. Para perempuan akan mengisi waktu lajang mereka dengan segala hal, termasuk mengulur waktu kelulusan mereka dari bangku sekolah atau kuliah dan mencari pekerjaan yang akan memberikan mereka penghasilan lebih banyak. Sistem penjara di Amerika tidak memberikan mereka banyak pilihan.

Saat para pria ditarik dari pasar pernikahan karena peperangan atau penjara, yang menderita adalah perempuan. Efek terbalik mungkin nyata, juga ketika para perempuan ditarik dari pasar pernikahan. Di China, kebijakan satu anak diiringi dengan banyaknya aborsi menghasilkan surplus pria. Sejumlah pria akan menjadi bare branches (bujang lapuk – terjemahan bebas dari penerjemah), dan populasi bujang lapuk di China akan mencapai 30 juta jiwa pada 2020. Mungkin poliandri (istri dengan banyak suami) akan menjadi solusi logis untuk situasi di China. Yang akan terjadi malahan para pria kesepian ini akan tidur dengan dengan banyak perempuan (prostitusi) yang akan berpotensi meningkatkan sejumlah penyakit menular seksual.

Pemaparan ini menjelaskan bahwa saran dari Kadyrov di atas beralasan mengingat kondisi di Chechnya. Dan mungkin drama serial HBO berjudul “Big Love” akan membantu memulihkan citra poligami di Amerika Serikat. Di balik semua itu, saya pribadi menentang praktek yang mengizinkan banyak perempuan menikah dengan seorang pria. Kami, para pria, sudah cukup mendapatkan banyak persepsi negatif.

Rubrik Undercover Economist terbit setiap Sabtu di The Financial Times

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on June 24, 2011, in Poligami and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: