Siapa Setir Fans Klub? ABG Labil atau Para Om dan Tante?

Original article by James Turnbull at The Grand Narrative
Indonesian translation by Geraldi A. Bhaskara

Tinggal bersama orang tua atau keluarga memaksa orang-orang muda Korea untuk menutup rapat-rapat aktivitas seksual mereka. Bukanlah suatu hal yang mengherankan karena masyarakat Korea menabukan ekspresi seksual di luar pernikahan. Keterbatasan ekspresi seksual, khususnya bagi perempuan, menjadi sasaran empuk media sebagai objek parodi, syukur-syukur mereka lolos dari jerat sensor atau larangan tayang. Dan bagaimana dengan remaja? Dapat dikatakan di luar dugaan, walaupun sudah banyak sekali bukti mengenai aktivitas seksual remaja masa kini.

Yang tidak terkatakan bukan berarti tidak ada. Sementara umumnya orang Korea siap menerima rangsangan alamiah dari – katakanlah – pakaian seksi dan tarian dari seorang penyanyi solo wanita berusia 20 tahun, kebanyakan dari mereka akan menolak penampilan seksi tersebut apabila sang penyanyi baru berusia 16 tahun.

Jangan salah tafsir. Di luar masalah umur, saya berpikir bahwa secara alami rasa ketertarikan secara seksual akan lebih sempurna apabila fisik lawan jenis telah berkembang dengan sempurna (mengenai masalah penampilan, itu urusan lain). Beberapa norma sosial malah menentang ketertarikan pria paruh baya mengungkapkan kegemaran mereka akan grup remaja putri seperti Girls’ Generation atau Wonder Girls dan berusaha menyangkal unsur-unsur sensualitas yang diusung oleh kedua grup tersebut atau grup remaja putri lainnya.

Atau adakah pria-pria paruh baya itu yang mau bicara? Adalah Bapak Kim (46) yang mengaku tidak merasa “terusik” dengan lirik lagu Girls’ Generation seperti yang tertulis pada halaman depan koran Metro (gambar di atas). Saya ragu apakah Bapak Kim akan begitu terus terangnya mengatakan hal semacam ini dalam kehidupan nyata. Tidak ada orang yang bisa dibodohi bahwa kegemarannya akan Girls’ Generation bersih dari unsur-unsur seksual. Setelah artikel tersebut diterjemahkan, kita dapat melihat bahwa di kalimat ketiga, Anda sudah bisa menemukan bahwa beliau menyangkal bahwa ia mengidap Lolita complex.

Tetapi secara garis besar artikel tersebut berbicara bagaimana lelaki dan perempuan dewasa di Korea mendominasi klub fans para selebritas muda, dan jumlah orang-orang dewasa ini semakin meningkat. Yang akan saya jelaskan adalah keberadaan fans-fans perempuan. Sayangnya, saya tidak dapat berbicara tentang fans-fans lelaki, karena saya tidak pernah mempelajarinya. Singkat kata, saya menyimpulkan bahwa pergeseran tren demografi dalam budaya fans di Korea benar-benar nyata, sehingga saya memutuskan untuk membuat artikel ini sebagai bahan diskusi.

Pertama-tama, inilah artikel yang dimaksud.

INILAH ORANG-ORANG PARUH BAYA PEMUJA PARA IDOLA REMAJA

Budaya para penggemar telah berubah

1. Bapak Kim (46), seorang manajer departemen sebuah bisnis skala menengah, hapal nama dan kepribadian kesembilan personel Girls’ Generation. Ia berpendapat bahwa Wonder Girls dan 2NE1 tidak mendekati gambaran akan grup yang inosen dan berkelas. Ia menolak apabila dikatakan mengidap Lolita complex dan mengatakan dengan menonton Girls’ Generation – yang berusia sebaya dengan putrinya – memberikan perasaan hidup yang lebih hidup dan vitalitas.

2. Direktur perusahaan film, Ibu Kim (39) mengalami depresi setelah penjualan filmnya anjlok dua tahun lalu. Namun ia berhasil memulihkan diri dengan cara menggemari grup-grup pria. Dan saat ia menelusuri pesona para personel 2PM atau mendiskusikan potensi grup anyar MBLAQ, ia dapat menganggap dirinya seperti seorang kritikus musik ahli. Impiannya kini adalah dapat membuat film seperti Attack on The Pin-up Boys (2007) yang dibintangi oleh grup Super Junior.

Orang-orang Paruh Baya Ini Terlibat Secara Aktif dalam Fans Klub

Seperti namanya, anggota fans klub yang menganggap dirinya selaku “kakak lelaki” idealnya adalah remaja juga yang berusia sebaya, namun hal ini tidak akan relevan lagi. Sebagai konsumen aktif, perempuan-perempuan paruh baya amat menggemari para pria bunga (flower men) dan pria-pria paruh baya terjun aktif ke dalam para grup putri. Dua hal tersebut adalah faktor penyebab terjadinya pergeseran budaya fans.

Misalnya dalam fans klub Lee Minho yang menyebut diri mereka “Dave”, ada sebuah kompartemen untuk perempuan berusia 30-50 tahun untuk bertukar informasi mengenai idola serta saat diadakan jumpa fans, perempuan dalam rentang usia itu mendominasi 80% peserta jumpa fans. Dan kapanpun grup SS501 mengadakan konser di Korea atau acara tertentu, fans paruh baya mereka sudah siap sedia membawakan mereka bekal makan siang berupa makanan sehat seperti ginseng merah.

Dan ketika ada sebuah acara yang menampilkan Rain, para fans perempuan paruh bayanya memanggil media dan meminta eksposur tertentu untuk mereka. Sebelum Rain merilis debut film Hollywood pertamanya, Ninja Assassin (2009), mereka sering mengirimkan rice-cakes untuk Rain sebagai lambang dan harapan untuk kesuksesan.

Sudah jadi hal yang cukup lumrah bahwa fans klub hanya mengizinkan para fans-fans berusia dewasa untuk bergabung dengan klub ketimbang para flower men sendiri. Dan fakta serupa juga terjadi di fans klub girlband. Di sebuah fans klub Girls’ Generation yang menamakan diri “Girls’ Generation Party” dan Wonder Girls “Wonderful” misalnya, para fans lelaki paruh baya memiliki jadwal tetap untuk saling bertemu di mana mereka dapat bertukar opini tentang perkembangan idola mereka dan bagaimana mereka juga merayakan ulang tahun grup atau ulang tahun para personel dan sebagainya.

Sebuah Budaya Penggemar Baru Telah Terbentuk

Banyak orang menyoroti kelakuan para orang-orang dewasa paruh baya yang tidak berlaku sesuai usia mereka dan menyebut mereka sebagai orang-orang yang kehilangan arah setelah lewat masa muda mereka. Namun sebuah pandangan berbeda menyatakan bahwa pergeseran demografi dalam sebuah komunitas adalah suatu perubahan yang tidak terelakkan.

Profesor Tak Hyeon-min, dari Universitas Hanyang mengatakan, “orang-orang dari Generasi 386 (kelahiran dekade 1960-an), yang telah mapan secara budaya, telah terbiasa secara aktif menyerap hal-hal baru”, serta “sedari mereka berusia 20-an hingga sekarang, mereka telah menunjukkan bahwa mereka adalah konsumen terbesar dari produk-produk kultural.” Profesor Hyeon-min juga menambahkan, “orang-orang dari generasi ini umumnya terbentur dengan masalah keluarga, rumah tangga, dan atau tanggung jawab sosial, sehingga sebagai bentuk pelarian dan pembaharuan diri, mereka semua saling berkumpul, membuat pergeseran budaya fans klub di Korea benar-benar sedang berproses.” (***)

Tanpa hotpants, kami tetap lucu kan? Eh, apa harus pake ya?

Sekarang, apakah alasan di balik pergeseran tersebut? Baiklah, saya akan mengungkapkan keberadaan para suporter perempuan dari timnas sepakbola Korea Selatan yang berusia 30-an tahun pada Piala Dunia 2002 silam. Untuk siapapun yang menyaksikannya, 2002 adalah tahun yang fantastis bagi para anak-anak muda Korea. Tahun ini juga menjadi tahun pembuktian bagi politik gender di Korea, terutama karena partisipasi perempuan yang tak terduga.

Hal-hal tersebut adalah faktor yang membuat partisipasi para perempuan tersebut menjadi menarik. Coba kita amati bahwa sebelum Piala Dunia, sepakbola dianggap sebagai sebuah olahraga monopoli para pria, tidak ada hal yang menarik dari sepakbola. Bahkan penghasilan para pemain timnas lebih rendah dibandingkan profesi saya sebagai guru bahasa Inggris.

Dalam beberapa minggu ke depan, warga Korea turun membanjiri jalanan untuk menonton tim negara mereka berlaga melalui layar-layar TV raksasa di seantero negeri. Tidak hanya jumlah para penonton perempuan yang mencapai dua per tiga, tetapi juga bagaimana para suporter perempuan ini berani menunjukkan bagian-bagian tubuh mereka melalui pakaian minim dan ketat, belum lagi tubuh atletis para pemain sepakbola menjadi konsumsi mereka juga. Tren tubuh atletis memang mendominasi konsep video musik di penghujung 1990-an, namun hanya Piala Dunia lah yang berhasil membuat diskusi tentang tubuh lelaki menjadi dapat diterima secara sosial layaknya pria membicarakan tubuh wanita.

Sebagai sampingan, harap diingat bahwa yang baru saja dituliskan tidak berlawanan dengan yang saya tulis di dalam bagian pengantar tentang ekspresi seksualitas yang dikungkung di media. Umpamanya, sebuah perwujudan pria sebagai objek sebagai hasil dari Piala Dunia adalah iklan tentang seorang perempuan yang mengagumi perut berotot seorang penyanyi pria di sebuah poster, lalu mencolek perut penyanyi tersebut untuk memastikan bahwa perut tersebut adalah nyata.

Ada lagi tentang bahasa Korea yang telah siap menyerap kata “sexy” dari bahasa Inggris, namun sering kata tersebut digunakan untuk menyebut segala hal yang berbau seksual (terkadang berlawanan dengan pakem-pakem umum yang berlaku), atau bagaimana jika kita menjaring opini dari banyak orang Korea yang secara luas mengakui bahwa seorang perempuan yang menggoyang-goyangkan pinggulnya di sebuah acara televisi dapat menjadi seksual.

Supaya adil, film Korea menunjukkan penggambaran yang agak berbeda. Dan semua ini tidak berujung kepada pernyataan bahwa media Barat kenyang dengan perbincangan ala Sex and The City. Namun kebebasan seksual di media Korea adalah lebih dari sekedar pemanis. Saya ingat bagaimana di tahun 2002 perempuan Korea tidak membicarakan fisik pria asing secara luas, namun secara tiba-tiba mereka malah membicarakan fisik pria Korea (media Korea pernah menertawakan perempuan Jepang yang melakukan hal serupa) dan bahkan hari ini sangat jarang melihat potret interaksi antara pria asing dengan perempuan Korea di media. Juga ketika aturan berpakaian perempuan berubah secara permanen, banyak orang mentoleransi perempuan mengenakan atasan yang terbuka, yang tidak pernah sebelum adanya Piala Dunia.

Ketimbang terus-terusan menyoroti pencapaian kaum perempuan Korea di tahun 2002, lebih baik kita bertanya seberapa penting pencapaian tersebut dalam mempengaruhi kehidupan perempuan secara umum? Ada sebuah artikel karya Hyun-Mee Kim berjudul “Feminization of the 2002 World Cup and Women’s Fandom” yang dimuat dalam Feminist Cultural Politics in Korea, diedit oleh Jung-Hwa Oh, 2005, halaman 228-243 – yang menjadi referensi utama saya dalam menjelaskan oppa budae atau “kelompok fans remaja putri” yang menjadi fokus saya di sisa artikel ini.

Ia mencatat bahwa di tahun 2002, dukungan untuk tim sepakbola diinterpretasikan berbeda berdasarkan usia dan gender, dan antusiasme mendadak para perempuan diartikan secara langsung sebagai kekaguman kepada bintang sepakbola. Mereka tidak berbeda dengan para ppasnsuni – bahasa slang untuk menyebut remaja putri yang mengejar-ngejar idola lelaki mereka – dan media acap menyebut mereka sebagai “bawahannya para bintang dan ujung tombak perusahaan atau manajemen artis untuk menjalankan strategi komersial mereka”. Namun dalam diskusi tentang hubungan antara media dan konsumen di Frankfurt School, terdapat penyederhanaan persoalan di sini:

Hanya karena para perempuan tergila-gila dengan para selebritas pria, bukan berarti mereka adalah penggemar yang buta, dan kekuatan relasi antara banyak fans wanita dan selebritas pria adalah hubungan yang dinamis, bukan hubungan yang statis. Melihat imej yang digambarkan oleh media Korea tanpa informasi yang memadai, para remaja putri dan yang berusia 20-an tahun dapat diperkirakan sebagai penggemar yang labil. Namun momentum Piala Dunia ini menyajikan interpretasi yang baru… (hal 231-232)

Juga:

Untuk penggemar wanita, perasaan selayaknya kepada lawan jenis dan keinginan untuk bergaul tidak terpisahkan dari budaya mengonsumsi dan menggemari seorang bintang. Bahkan aktivitas tersebut dapat membentuk sebuah “pergerakan sipil” (civil movements) ditilik dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para fans. Pun andai kata mereka menggemari penampilan luar para pemain sepakbola, para penggemar wanita membuat aturan dan mengubah pakem yang ada menjadi proses pembentukan identitas sebagai fans.

Umumnya, penggemar dari bintang terkenal memiliki kekuatan kolektif yang membantu bintang pop untuk naik kelas dari sekedar “entertainer” menjadi seorang “bintang”, dan kekuatan ini terbentuk melalui serangkaian aturan dan negosiasi. Inilah mengapa memiliki identitas sebagai seorang penggemar dibutuhkan untuk mempelajari perilaku-perilaku khusus ini. Ketika seorang oppa budae unjuk gigi kekuatannya sebagai seorang budae (laskar), setiap fans individual harus menata perilaku dan bahasa mereka agar sesuai dengan kultur dan sistem yang berlaku di dalam komunitas penggemar itu sendiri. Mereka harus mengenakan pakaian yang sama, meneriakkan slogan yang sama, dan menunjukkan hasrat serta komitmen. Karena itu, istilah fandom – yang mengesahkan identitas sebagai seorang penggemar – bukanlah sesuatu yang terbentuk secara random dan tiba-tiba (hal. 232).

Nickhun (personel 2PM) dan Ivy dalam sebuah aksi panggung yang kontroversial

Dan Hyun-mee Kim menambahkan contoh lebih jauh tentang waktu dan usaha yang harus seorang penggemar investasikan untuk memperoleh gelar terhormat sebagai oppa budae, juga bagaimana mereka secara kolektif mempertahankan attitude dan kebanggaan mereka ketika terjadi serangan dari fans klub lain dan sebagainya. Tentunya hal ini tidak melulu mengacu kepada fans grup 2PM yang baru-baru ini menyerang penyanyi wanita, Ivy, karena aksi panggungnya yang berani hingga membuat penis Nickhun, personel 2PM, ereksi.

Namun hal itu adalah pengecualian, dan yang terpenting, tidak terlalu banyak deskripsi yang dijabarkan para suporter perempuan timnas Korea Selatan agar orang lain dapat bergabung dengan mereka.

“Memiliki pengalaman menjadi fans di kala remaja dan awal masa dewasa dan melakukan hal-hal yang dapat menyokong idola kita. Dengan mengorbankan waktu dan uang, penggemar tidak hanya menikmati tampilan para bintang, namun juga menjadi sebuah spirit yang tidak terpisahkan. Simbol-simbol dan gerakan-gerakan yang terkoordinasi menjadi bagian penyemangat untuk timnas.” (hal. 233)

Harap diingat bahwa kekuatan internet tidak semestinya dipandang sebelah mata di sebuah negara yang memiliki pengalaman baru dalam demokrasi. Hubungan antara perempuan usia 20-an dan 30-an sangat populer direfleksikan dalam perfilman Korea di satu dekade terakhir dan mengutip Hyun-Mee Kim – saat perempuan mengalami defisit kekuatan politis dan ekonomi di Korea maka mereka akan mencari tempat lain di mana mereka dapat menunjukkan resistensi dan mengumpulkan kekuatan di tempat-tempat di mana mereka dapat melakukan perubahan.

Sedikit berkhayal ke depan, mungkinkah dalam satu dekade ke depan, para suporter perempuan tahun 2002 akan datang untuk mendominasi fans klub para selebritas lelaki lagi?

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on May 27, 2011, in Potret Kehidupan Sosial Korea, Showbiz Korea and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: