Kerajaan Pink Korea Selatan

Original article by James Turnbull at The Grand Narrative
Indonesian translation by Geraldi A. Bhaskara

Orang Korea memiliki sikap dan ketertarikan yang aneh terhadap warna pink.

Di satu sisi, warna pink tidak diartikan sebagai bentuk feminin pada orang dewasa, malahan di masa kini banyak pria muda mengadopsi warna pink sebagai simbol pemberontakan atas aturan-aturan kuno dan konservatisme orang tua mereka.

Seperti yang diungkapkan di The Joshing Gnome:

Banyak pria-pria muda yang tumbuh di masa sekarang menemukan bahwa mereka bukanlah mereka. Sebagai pertolongan, mereka mendeklarasikan keras-keras kepada dunia, “saya tidak seperti orang tua saya.” Mereka berusaha menunjukkan bahwa mereka adalah kaum muda, mereka modern, mereka bukanlah anak-anak pemalas yang suka mabuk-mabukan, dan merekalah kaum urban. Jika dua alternatif pilihan saya berbusana adalah celana putih, kaos pink, serta wax di rambut atau sandal jepit, celana sport, sebuah sepeda motor, dan sebotol soju, maka saya harus mengatakan bahwa saya akan berada di sana bersama dengan pria-pria dandy lainnya.

Terdengar membesar-besarkan, namun harap diingat bahwa sebagian besar masyarakat Korea masih tinggal di pedesaan hingga akhir dekade 1970-an. Oleh sebab itu saya juga membuat argumen serupa mengenai alasan di balik mereka memakai kaos pasangan (couple clothes – biasanya warna pink atau pastel), sebagai wujud nyata rasa cinta mereka terhadap pacar atau berupa penolakan atas diri mereka yang notabene merupakan hasil pernikahan orang tua mereka yang dijodohkan di masa lalu.

Namun saya sendiri belum menikah lama, dan bahwa saya tidak menyadari bahwa semudah itu perjodohan tersebut terjadi karena secara sederhana, pria akan melakukan apa saja agar bisa berhubungan badan.

Dan jika hal itu adalah merupakan perintah dan harapan dari orang tua mereka untuk terlihat lucu (cute) berdua bersama pacar dan sekaligus pamer kemesraan, mengapa tidak? Cuteness (dapat berarti menarik dan atraktif, dan juga menarik secara seksual – terjemahan bebas dari penerjemah) telah menjadi budaya yang kuat di Korea, sama dengan di negara Barat di mana ada tuntutan untuk berpenampilan ekstrem dan keren (cool) di sekolah.

Namun untuk setiap 5 mahasiswa yang saya lihat mengenakan pakaian warna pink, saya juga melihat satu atau dua pria berumur 30-an, 40-an, hingga yang berusia lebih tua mengenakan pakaian berwarna sama. Jika demikian, bagaimana pink dapat diasosiasikan lucu/menarik (cute) di sini?

Hal tersebut mungkin karena masyarakat Korea melakukan pemilahan warna pink atau biru terhadap anak-anak mereka. Dan fenomena ini tidak terjadi di Korea saja. Seorang seniman Korea, Jeong Mee Yoon, dalam karyanya Pink and Blue Projects menerangkan hal berikut:

….. terinspirasi oleh anak perempuan saya yang berumur 5 tahun yang amat mencintai warna pink, sampai-sampai ia hanya mau memakai pakaian warna pink dan main dengan mainan-mainan dan objek yang berwarna pink juga. Saya menemukan bahwa kasus anak saya bukanlah hal yang aneh. Di Amerika Serikat, Korea Selatan, dan di tempat lain, kebanyakan remaja putri menggemari pakaian, asesoris, dan mainan warna pink. Fenomena ini menjalar ke setiap anak-anak di setiap etnis tanpa memperhatikan latar belakang budaya mereka. Ini mungkin karena kuatnya pengaruh dari iklan komersil yang menyasar anak-anak perempuan kecil dan orang tua mereka, seperti Barbie dan Hello Kitty yang telah menjelma menjadi sebuah budaya pop. Anak-anak perempuan mengenakan warna pink agar terlihat feminin.

Hari ini, di bawah pengaruh iklan dan preferensi konsumen, warna-warna tersebut menjadi standard internasional yang baku. Makanan-makanan manis, benda-benda berwarna pink yang mengisi benak saya akan gadis kecil dan asesorisnya mengungkapkan bahwa ekspresi feminin dan keinginan untuk dilihat telah termanipulasi secara kultural.

Sekarang, karya Jeong Mee Yeon tengah dipamerkan di The Santa Barbara Museum of Art, dengan tajuk “pertunjukan Amerika pertama oleh seniman kontemporer Korea yang tinggal di Korea”, lihat Los Angeles Times untuk detailnya (via KoreAm). Juga, Anda dapat melihat situs pribadi Jeong Mee Yeon untuk melihat banyak contoh dan penjelasan utuh tentang karyanya.

Namun apakah pemisahan warna biru dan pink berasal dari luar negeri, seperti yang dikatakan oleh Yoon? Jika benar, bagaimana dan mengapa itu dapat terjadi?

Sangat disayangkan, saya tidak memahami sejarah fashion Korea untuk menjawab pertanyaan tersebut. Insting saya mengatakan hal berikut. Korea berusaha untuk menolak menyusupnya nilai-nilai Barat dalam kehidupan mereka. Dalam artikel lain, saya menunjukkan bahwa industri majalah di Korea berusaha mati-matian untuk menolak menjadi bagian dari perusahaan multinasional, kendati faktanya konsumen Korea sangat membutuhkan perantara dalam proses mereka mengadaptasi nilai-nilai Barat.

Di sisi lain ini bukanlah kali pertama, bangsa Korea dengan sepenuh hati atau tanpa pertimbangan masak-masak mengadaptasi beberapa unsur budaya Barat tanpa berusaha mengubah tradisi lokal mereka. Seperti dalam contoh sunat, yang tidak diketahui persis kapan dimulainya tradisi sunat sebelum Perang Korea. Perlu diketahui bahwa ada kemungkinan Korea Selatan adalah negara non-Muslim dan non-Yahudi dengan tingkat pria disunat tertinggi di dunia. Para ahli medis dan opini publik mengemukakan alasan mengapa tradisi sunat tersosialisasi dengan baik di tengah masyarakat Korea karena secara sederhana sunat sudah dipandang sebagai sebuah industri dan sunat adalah salah satu cara meningkatkan standard hidup.

Jadi menurut Anda, siapa yang bertanggungjawab?

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on May 18, 2011, in Potret Kehidupan Sosial Korea and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: