Pelecehan Seksual Senior Terhadap Junior Selama Masa Orientasi

Original article by James Turnbull at The Grand Narrative
Indonesian translation by Geraldi A. Bhaskara

Ketika pertama kali datang ke Korea tahun 2000, dengan cepat saya harus terbiasa dengan kebiasaan orang-orang di sini menggunakan nopimmal (bahasa halus dan sopan) kepada orang-orang yang lebih tua, seperti orang tua dan atasan. Tidak hanya itu tetapi juga kepada teman, kendati hanya berbeda usia setahun atau dua tahun lebih tua? Sebut saya orang Barat yang tidak mengerti budaya, namun saya tetap tidak bisa menerima kebiasaan tersebut.

Namun tetaplah itu menjadi sesuatu yang mengejutkan mendengar para siswa menggunakan bahasa yang sopan kepada teman-teman sekelas mereka, walaupun perbedaan usia mereka hanya hitungan bulan lebih tua. Hal ini terjadi di universitas saya, namun tidak terjadi di universitas istri saya ketika ia masih mahasiswi, tetapi saya sudah mafhum ketika mendengar ada senior yang “memanfaatkan” juniornya dalam berbagai cara di universitas-universitas di Korea. Pemanfaatan tersebut tidak hanya terjadi ketika masa membership training (MT – di sini populer dengan istilah ospek atau kepanjangan dari orientasi pengenalan kampus – terjemahan bebas dari penerjemah), yang mana kita semua sudah sama-sama paham bahwa pasti ada aktivitas minum-minum dan ritual inisiasi selama masa ospek berlangsung, seperti yang diberitakan dalam laporan berikut ini:



sumber, sumber

GILA! PELECEHAN SEKSUAL DI SEKOLAH HARUS DISELIDIKI

Pelecehan seksual terhadap siswa atau mahasiswa adalah fenomena gunung es dari masalah pelecehan seksual secara luas. Baru-baru ini, upacara penyambutan mahasiswa baru di Universitas X di Seoul menjadi kontroversi di internet. Awal mulanya karena adanya sebuah tulisan, “di orientasi kampus, patutkah hal macam ini?” dan tulisan tersebut dipampang di sebuah message board situs portal pada 26 Februari lalu.

“Senior mengadakan sebuah permainan yang membuat junior merasa dilecehkan secara seksual.” Penulis artikel tersebut juga melampirkan beberapa gambar dan menambahkan keterangan, “saat orientasi, senior memaksa junior untuk melakukan hal yang dapat membuat mereka malu.”

Di dalam gambar terlihat para mahasiswa serta mahasiswi baru saling menempelkan tubuh mereka satu sama lain dan menggerak-gerakkan tubuh layaknya orang sedang berhubungan badan. Mereka diminta melakukan hal demikian karena senior beralasan itu adalah aturan permainan. Masih berdasarkan laporan dari penulis artikel di internet, banyak juga yang dipaksa minum minuman keras sebagai hukuman saat pesta minuman.

Gambar tersebut diberi judul “Makjang OT” dan menyebar dengan cepat ke pelbagai message board, dan beberapa media turut melaporkan kejadian ini, di mana sekolah/universitas dan para siswa menjadi sasaran kritik. Setelah itu, seorang mahasiswa menulis sebuah posting permintaan maaf terkait insiden tersebut.

Seperti yang sudah-sudah, opini publik di internet tertuju kepada aspek seksual dari cerita tersebut dan kesan yang ditinggalkan berupa celaan dan kemarahan tentang pelecehan seksual di universitas tadi. Tak lama, suhu panas kontroversi pun mendingin.

Permasalahannya bukan hanya berkutat di masalah pelecehan seksual, namun juga harus dilihat secara menyeluruh. Inti masalahnya sebenarnya adalah senior yang dengan kekuasaan dan kekuatannya memaksa mahasiswa baru untuk melakukan tindakan asusila yang mereka tidak ingin melakukannya. Tak pelak, inilah yang dinamakan pelecehan seksual di sekolah/universitas.


sumber

“Mahasiswa baru tidak berdaya di depan senior yang bertingkah seolah dewa.” Baru-baru ini ada sebuah hal tidak berwujud berupa ketimpangan kekuasaan antara siswa/mahasiswa baru dengan para senior. Dalam kehidupan kampus, relasi dengan senior lebih sulit dibandingkan menjalin relasi dengan para dosen. Mahasiswa baru yang belum mengenal lingkungan universitas dan lingkungan pergaulan akan semakin mudah merasa tertekan secara psikologis oleh para senior dengan adanya masa orientasi. Ditambah lagi para senior selalu menekankan bahwa masa orientasi tersebut adalah tradisi dan setiap orang pasti pernah dan harus menjalaninya.

Pelecehan seksual terjadi karena adanya ketidakseimbangan kekuatan, maksudnya ada satu pihak yang lebih kuat atau berkuasa daripada pihak yang lain. Dalam kasus ini, pelecehan seksual terjadi karena banyak mahasiswa (laki-laki) lebih berkuasa dan lebih kuat secara struktural hierarki di dalam departemen. Kekuatan inilah yang cenderung disalahgunakan untuk mengorganisir kegiatan-kegiatan di masa orientasi.

Balasan di message board dari pengguna internet menyatakan tidak sulit untuk mengorek pengakuan dari orang-orang yang pernah mengalami pelecehan serupa. Kemudian diketahui juga adanya beberapa foto dari masa orientasi di Sekolah Tinggi Olahraga (Sport University) X, universitas untuk para atlet dan pelatih yang menunjukkan gambar beberapa mahasiswi melakukan gerakan tubuh seolah-olah sedang melakukan seks oral terhadap mahasiswa.


sumber

Dalam kultur universitas, memprotes tindakan pelecehan seksual sangat sulit dilakukan. Siswa yang melaporkan pelecehan tersebut menggunakan sarana situs portal untuk memuat laporannya. Ini terkait dengan aturan “permainan” yang dipertanyakan apakah “permainan” macam tersebut yang dijadikan “tradisi” selama turun-temurun.

Pada Januari tahun lalu, sebuah insiden, sebut saja para mahasiswa dari universitas bergengsi melakukan pelecehan seksual terhadap para mahasiswi tahun pertama, menyulut kontroversi. Pada waktu itu, seorang korban (anonim) menceritakan pengaduannya melalui sebuah message board, lalu korban-korban lain bermunculan, hingga tercapai jumlah 20 orang perempuan.

Namun mengapa walaupun jumlah korban pelecehan seksual telah mencapai 20 orang, mereka tetap bungkam dan tidak melakukan hal apapun? Ini dikarenakan dalam pergaulan kampus, mendiskusikan kekerasan dan pelecehan seksual yang bersifat publik masih menemui banyak hambatan.

sumber

Saat insiden “mahasiswa dari universitas bergengsi” tersebut menjadi polemik, situs portal lowongan kerja “Career” melakukan survei terhadap 768 mahasiswa selama dua hari, dan hasilnya adalah 33.3% responden perempuan menjawab mereka “pernah mengalami pelecehan atau kekerasan seksual selama masa kuliah”. Sebanyak 78% responden menjawab bahwa pelaku pelecehan seksual tersebut adalah senior. Sedangkan 33% responden menjawab para dosen – yang biasanya jadi tersangka utama – sebagai pelaku pelecehan di universitas. Ketika responden ditanya bagaimana mereka mengatasi masalah pelecehan tersebut, 66.5% responden memilih untuk “menganggap itu tidak pernah terjadi dan berusaha melupakan”. Alasan terbesar mereka adalah “untuk menjaga hubungan dengan para pelaku” dijawab oleh 66.9% responden.

Walaupun survei tersebut telah menunjukkan persentase besar tentang jumlah korban pelecehan seksual, tetaplah sulit membuat para korban muncul ke permukaan untuk melapor dan mengadu. Tidak seperti kasus pelecehan yang dilakukan oleh dosen, norma sosial sepertinya tidak berpihak kepada pelecehan seksual yang dilakukan antar siswa. Tidak ada pilihan lain selain mengharapkan peraturan tegas dari universitas untuk mengatur tindakan pelecehan seksual.

Kegiatan Orientasi Mahasiswa Sebuah Kampus di Korea di Pagi Hari


sumber

Namun, dalam kultur universitas yang mengagung-agungkan pelecehan seksual sebagai “tradisi”, seberapa besar sebenarnya perubahan yang dapat kita harapkan untuk situasi ini?

Survei di atas menyebutkan hanya 51.3% responden yang menjawab perlunya ada lembaga khusus yang menangani masalah pelecehan seksual di universitas. Melalui survei tersebut, kita sadar bahwa pelecehan seksual antar siswa dalam kultur universitas belum sepenuhnya disadari. Park Hee-jong, 3 Maret 2011

Sebuah sanggahan: saya tidak pernah mengikuti masa orientasi, bahkan tidak pernah membicarakan hal ini dengan mahasiswa saya. Saya yakin banyak atau hampir sebagian besar setiap kegiatan pada dasarnya bertujuan baik. Di sisi lain, Extra! Korea merilis pendapat bahwa “adalah sebuah hal yang sudah diketahui oleh banyak orang di Korea bahwa pelecehan seksual menyebar luas dan acap terjadi selama masa orientasi mahasiswa”, dan ada beberapa lagi cerita di media Korea untuk membenarkan hal tersebut.

Bagaimana pendapat Anda? Adakah di antara Anda sendiri yang pernah mengikuti masa orientasi? Apakah betul tindakan tersebut menyebar luas di sana ataukah hanya bualan yang dibuat oleh media Korea dan para blogger yang sukanya mengangkat hal-hal negatif saja?

Barang Bawaan Mahasiswa Baru Selama Masa Orientasi

Sebuah Iklan tentang Masa Orientasi Mahasiswa

Sebuah Poster Tentang Permainan di Masa Orientasi Mahasiswa

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on May 13, 2011, in Potret Kehidupan Sosial Korea and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: