Pria Sebagai Objek dan Standard Ganda

Original article by James Turnbull at The Grand Narrative
Indonesian translation by Geraldi A. Bhaskara

Apa reaksi Anda apabila gambar ini mendadak muncul di layar televisi Anda?

Saya pribadi berpikir bahwa perut kotak-kotak bukanlah analogi yang tepat dan terbaik untuk airbag. Kesalahan saya adalah: pengiklan memang tidak menganalogikan bahwa airbag adalah perut kotak-kotak. Malahan mereka bermaksud untuk menunjukkan berapa jumlah airbag yang tepat sesuai dengan voice over dalam iklan tersebut sesuai dengan spesifikasi mobil yang berbeda.

Nah, bagaimana dengan analogi airbag yang lain, seperti di iklan Mercedes Benz di tahun 2006?

Sebagai informasi, beberapa komentar di awal posting menunjukkan mereka agak sedikit bermasalah dengan gambar payudara tersebut, di mana tidak ada satupun komentar di blog asli (bukan terjemahan) yang mengusik tentang perut sixpack itu. Sebelum saya lupa, iklan tersebut adalah iklan Korea yang tayang tahun lalu.

Namun saya yakin bahwa memang berkembang apa yang dinamakan dengan double standard, jadi tujuan artikel ini tidak hanya ingin meminta perhatian Anda akan standard ganda tersebut, bukan pula untuk membandingkan kedua iklan yang sebenarnya menarik itu. Apabila kita kombinasikan dengan perkembangan media Korea dewasa ini, saya memperoleh kombinasi unik mengenai standard ganda di Korea.

Biarkan saya menjelaskan.

Pertama-tama kita telah akrab dengan istilah “chocolate abs” alias perut kotak-kotak yang acap digunakan di pelbagai media Korea. Walaupun istilah itu baru populer setahun belakangan, perut kotak-kotak sudah terlebih dahulu eksis dengan nongol di berbagai video musik. Hoon-Soon Kim (2000) menjelaskan beberapa dalam artikelnya “Korean Music Videos, Postmodernism, and Gender Politics” dan Jung-Hwa Oh, seorang feminis kultural Korea (2005) misalnya yang lebih berfokus kepada fenomena populer “Flower Men” (kkotminam) dibandingkan objektivikasi lelaki sendiri.

“Kita melihat banyak sekali jenis-jenis pria yang muncul di sejumlah video musik. Imej pria yang muncul adalah imej yang kontras dengan imej pria yang macho. Grup vokal lelaki seperti Y2K, H.O.T., ITYM, dan Shinhwa, yang mayoritas fansnya adalah remaja putri mengusung imej ini. Mereka mengenakan make up dan banyak ornamen perhiasan – yang dianggap sebagai sesuatu yang feminin – dan melepas kaos menunjukkan tubuh mereka yang telanjang dada. Hal ini mengindikasikan bahwa tubuh pria juga telah menjadi sebuah objek seksual, sama dengan tubuh perempuan. Gaya pengambilan gambar video yang serupa dengan mengekspos figur perempuan secara close-up ekstrem agar seluruh muka terlihat di layar dan, pengambilan gambar setengah atau seluruh tubuh untuk adegan tari. Bagaimanapun fenomena ini dapat diinterpretasikan sebagai sebuah sinyal bahwa tetap masih ada kemungkinan untuk mendobrak dikotomi laki-laki dan perempuan yang telah terbentuk dalam kultur patriarki (hal. 207)”

Dan sama seperti di iklan, jumlah objektivikasi tubuh pria dalam video klip – atau lebih tepatnya pamer perut kotak-kotak – meningkat jumlahnya dibandingkan bertahun silam. Seperti penjelasan Multi pada Maret lalu:

“… bulan-bulan terakhir internet dibanjiri oleh gambar-gambar selebritas Korea dengan mempertontonkan perutnya (tidak semua foto bisa diakses, bahkan beberapa melampirkan peringatan hanya bisa diakses oleh yang berusia 18 tahun ke atas). Kontroversi favorit kita semua adalah foto-foto grup 2PM yang telanjang dada. Lee Joon, personel boyband MBLAQ yang amat gemar mengangkat kaosnya memamerkan perut berototnya atas perintah bosnya tercinta yang sekaligus superstar Korea, yaitu Rain. Menurut Rain, aksi tersebut akan disukai oleh fans dan orang-orang akan berbondong-bondong untuk mendapatkan gambar mereka. Lantas muncullah cowok ini, cowok itu, dan banyak cowok lainnya. Belum lagi muncul polling-polling tentang perut siapa yang lebih bagus”

Lee Joon (kiri) dan Rain (kanan)

Untuk lebih jelasnya, Rain menyuruh Lee Joon untuk membuka pakaiannya lebih sering untuk memberikan efek yang luar biasa ketika ia menari. Dan sebagai orang yang menyandang gelar “the king of ab-flashing” alias raja pamer perut, tentu saja Lee Joon amat gemar berbicara tentang dirinya sendiri di depan kamera (saya berpikir bahwa memang dia aslinya seperti itu). Namun dengan kelemahannya bernyanyi dengan harmonisasi vokal yang baik, secara pribadi Lee Joon adalah contoh sempurna (secara sinis) tentang bagaimana sebuah tren yang disetir oleh kepentingan komersil telah menjamur.

Kritik saya terhadap tren sebagai “kepentingan komersial” bukan semata-mata penegasan terhadap hal yang sudah basi, karena ketika kebanyakan grup remaja putri bermunculan di tahun lalu, penyanyi solo pria Korea juga harus menyesuaikan diri dengan selera industri musik yang mensyaratkan musisi untuk menjadi brand endorsement sebuah produk, muncul di variety show, dan membintangi drama untuk meraup keuntungan lebih (bukannya menjual musik). Hal ini memicu agen-agen para penyanyi solo tersebut untuk membuat mereka menjadi seseorang yang unik dan berbeda dengan menambahkan lirik-lirik nakal dan penampilan fisik di panggung dan video klip, sebut saja perut sixpack, adegan berpura-pura melakukan oral seks (biasanya dilakukan oleh penari latar wanita terhadap penyanyi pria), bahkan adegan seks di atas ranjang.

Allkpop berpendapat bahwa konsumenlah yang menyetir hal-hal tersebut menjadi tren sekaligus mengungkapkan bahwa telah terjadi ketimpangan antara girl group dan boy group baru:

“Kelihatannya tingkat kegagalan debut suatu girl group tidaklah setinggi boy group atau penyanyi solo. Grup-grup putri baru ini telah menuai banyak sekali perhatian. Alasan mengapa sebuah perusahaan dapat menggantungkan hidupnya kepada girl group adalah karena banyaknya remaja putra dan pria-pria paruh baya (ajosshis) di luar sana yang akan menggemarinya. Grup-grup tersebut juga dapat tampil di berbagai acara yang mensyaratkan mereka untuk dibayar hari itu juga. Dengar punya dengar, Secret mengantongi sekitar $8.000 untuk setiap acara, sementara 4Minute dibayar $12.000 untuk sekali tampil.”

Multi melanjutkan penjelasannya bahwa ada sejumlah besar anggota fans klub yang merupakan perempuan dewasa di usia 30-an dan 40-an tahun lah yang turut meniupkan tren pamer bodi laki-laki. Mereka ini juga yang turut mengangkat imej kkotminam atau flower boy ke permukaan di sekitar tahun 2002 ketika berlangsung Piala Dunia di Jepang dan Korea Selatan. Sehingga saya berpendapat bahwa ketimpangan ini lebih karena hasil dari pengalihan selera dari tua ke muda (top-down), sama dengan yang biasa ditulis di media Amerika tentang figur ideal tentang perempuan seksi yang semakin muda dari tahun ke tahun selama 3 dekade terakhir. Motifnya masih tetap sama, uang.

Di waktu yang bersamaan, diharapkan melalui tahap ini kita dapat melihat mengapa selebritas sangat mendominasi periklanan di sini, dan industri periklanan tidak dapat menghindari permintaan dari agensi bahwa di samping menjual produk yang diiklankan, pengiklan juga harus sekaligus menjual sensualitas selebritas yang dijadikan bintang iklan. Lebih jauh lagi, adalah betul bahwa isi dari iklan di seluruh dunia cenderung tidak sejalan dengan tren sosial, seperti judul jurnal ilmiah karya Kwangok Kim dan Dennis Lowry “Television Commercials as a Lagging Social Indicator: Gender Role Stereotypes in Korean Television Advertising” yang diterbitkan di Sex Roles vol. 53 no. 11/12, Desember 2005, mengatakan, sekali para selebritas mulai tampil di iklan tak berapa lama mereka akan diekspos secara luas yang dapat menimbulkan efek besar:

“Berdasarkan teori kultivasi, media memainkan peran yang penting untuk mendistorsi opini. Teori ini memaparkan bahwa ekspos dari media menciptakan sebuah imej yang mendunia atau konsisten (sama di pikiran setiap orang) akan perilaku sosial, norma, nilai, dan struktur, berdasarkan pandangan yang disuguhkan oleh media. Dengan kata lain, teori kultivasi mengasumsikan bahwa imej yang konsisten ini adalah potret dari realita, dan ketika pemirsa melihat semakin banyak imej, mereka pelan-pelan akan mengadopsi attitude dan ekspektasi tentang imej yang mereka lihat. Walaupun model ini lebih berfungsi untuk menjelaskan dampak dari kekerasan dalam televisi, namun model ini juga telah berhasil diterapkan di attitude terhadap peran gender” (hal. 902)

Khususnya:

“Kendati pemirsa televisi sering mengklaim bahwa iklan televisi tidak berpengaruh kepada mereka untuk melakukan hal-hal negatif, tetapi gambaran yang ditampilkan secara berulang-ulang dalam iklan televisi dapat membentuk sebuah efek yang dinamakan ‘mainstreaming effect’, seperti yang dikatakan oleh teori kultivasi. Televisi memiliki kekuatan untuk membuat orang berbagi persepsi yang sama tentang dunia, sebagai contoh stereotipe tentang peran gender dalam masyarakat kita. Dengan kata lain, mainstreaming effect menurunkan kadar perbedaan politik dan kultural di antara pemirsa televisi. Riset menunjukkan menonton televisi dalam jangka waktu lama (heavy television viewing) dapat mempengaruhi persepsi anak-anak terhadap perilaku dan karakteristik psikologis yang terkait dengan gender. Hasil riset yang lain menemukan bahwa penonton iklan televisi yang menonton dalam frekuensi yang sering (heavy viewers of TVC) di antara orang-orang berusia tua akan lebih dapat menganggap bahwa apa yang ditampilkan di dalam iklan adalah sebuah realitas ketimbang penonton iklan yang jarang (light viewers). Memang bukan tanggung jawab penuh dari pengiklan untuk menampilkan gambaran yang nyata tentang kehidupan masyarakat. Namun pengiklan menanggung beban tanggung jawab saat mereka gagal mencitrakan perubahan yang cepat, seperti stereotipe dalam masyarakat kita (hal. 908).”

Pertanyaan sama tetap diajukan, bagaimana tepatnya sebuah ekspos kecil di sebuah iklan dapat mempengaruhi kita dalam mengadopsi perilaku dan pandangan?

Baik, ada perlunya kita memperhitungkan fakta ini: “di Amerika Serikat sendiri, rata-rata orang terpapar 500 sampai dengan 1000 iklan per hari”, menurut Essentials of Contemporary Advertising oleh William Arens dan David Schaefer (2007). Stuart dan Elizabeth Ewen menjelaskan dalam prolog mereka di Channels of Desire: Mass Images and The Shaping of American Consciousness (1992), sangatlah luar biasa bagaimana jelas dan nyatanya iklan-iklan tersebut yang dibombardir kepada kita dapat mempengaruhi. Sebuah narasi yang memukau, yang membuat orang akan semakin tertarik mempelajari tentang periklanan. Berikut dilampirkan:

Dengan mengabaikan segala sesuatunya tentang siapa yang seharusnya bertanggungjawab akan timbulnya arus para pria memamerkan perutnya di media, saya yakin kita semua akan setuju bahwa tren ini akan bertahan. Secara tidak langsung, hal ini sudah dibuktikan oleh SBS baru-baru ini saat mereka memutuskan untuk melarang bintang tamu wanita untuk memperlihatkan pusar dan atau perut mereka di acara musik mereka yang bertajuk Inkigayo, di mana bintang tamu pria dapat secara bebas mengoyak-oyak kaosnya.

Di bawah saya akan menampilkan video dari Changmin 2AM dan Lee Hyun 8eight berjudul I Was Able To Eat Well yang bercerita tentang dua pemuda yang berusaha merayu seorang perempuan dengan mencopot bajunya berkali-kali (jika dihitung-hitung mungkin 10 kali) dan berjalan-jalan setengah telanjang sepanjang video dan sepanjang mereka bernyanyi, sebelum akhirnya mereka menyadari bahwa jeep mereka telah dicuri oleh perempuan tersebut.

Video tersebut dapat menjadi contoh yang lebih konkret ketimbang kalimat “bagaimana motif komersial menyetir kegiatan pamer perut menjadi sebuah tren” yang Rain lakukan, dan bahkan perempuan heteroseksual dan pria gay yang melihatnya akan setuju bahwa yang ditampilkan agak sedikit berlebihan. Dan ternyata sekarang saya dapat jauh lebih berempati terhadap perasaan perempuan tentang mereka menjadi objek di media.

Memang, saya agak membesar-besarkan. Namun dapat dipahami, ketika durasi video menunjukkan 0:59, penyanyi melucuti pakaian mereka di dalam garasi demi menunjukkan perut berotot mereka, adegan itu sangat mirip dengan adegan di film porno gay.

Mungkin, menjadikan perempuan sebagai objek masih akan lebih sering dilakukan, dan saya tutup artikel ini dengan kesimpulan: performa Rain adalah contoh yang sempurna tentang kegilaan pamer perut kotak-kotak!

Rain abs craze

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on May 12, 2011, in Showbiz Korea and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: