Ajosshis dan Girls’ Generation: Sebuah Wujud Kepanikan Seksual di Korea

Original article by James Turnbull at The Grand Narrative.

Indonesian translation by Geraldi A. Bhaskara.

Permasalahan gender pada hakikatnya membentuk interaksi sosial. Melalui interaksi dengan banyak orang, lahirlah sebuah produk dari gender yang disebut identitas. Maka interaksi sosial adalah tempat yang penting karena di sinilah peran gender tumbuh dan diterapkan. Sebagaimana observasi dari Ridgeway (p.219), “sangat jelas apabila orang tidak dapat berinteraksi secara leluasa satu sama lain apabila mereka tidak dapat menerka jenis kelamin orang lain.” Identifikasi apakah seseorang adalah lelaki atau perempuan membantu membuktikan bahwa interaksi sosial adalah sebuah kekuatan dalam kehidupan sosial (Amy Wharton, The Sociology of Gender, 2005, p.10)

PENGANTAR

Mendiskusikan isu gender dan seksualitas dengan perempuan Korea akan menjadi sebuah ajang pengalaman coba-coba, itu menurut pemikiran beberapa orang. Padukan pengalaman coba-coba tersebut dengan usia saya, etnis, dan hambatan berbahasa. Sungguh sesuatu yang ironis, karena sering saya menemukan kaum perempuan cenderung memperoleh informasi yang lebih baik dan lebih terbuka dalam membicarakan tentang diri mereka ketimbang pria. Mungkin itu adalah suatu alasan mengapa perempuan di dunia cenderung menjadi pembelajar bahasa yang lebih baik.

Apapun minat dan ketertarikan mereka, cepat atau lambat, perempuan harus berhadapan dengan konsekuensi yang ada, diskriminasi seksual secara sistematis, mungkin secara tidak sadar mereka disingkirkan ke sebuah jalur karier yang tidak terlalu menantang karena asumsi bahwa para karyawati tidak akan bekerja dalam rentang waktu yang panjang (atau sewaktu-waktu diberhentikan) setelah mereka menikah atau memiliki anak.

Kita bandingkan hal yang sama terhadap pria. Ketika seorang pria bersama istrinya memutuskan untuk memiliki anak kedua contohnya, dan atau karena hal tersebut maka istri perlu kembali bekerja, maka sang istri hanya membawa pulang gaji 41% dari gaji suami, ini adalah kesenjangan gaji berdasarkan gender tertinggi menurut OECD.

Di sini, saya tidak ingin mengatakan bahwa orang Korea hanya tertarik dengan hal-hal yang berhubungan langsung dengan diri mereka, tetapi masih banyak faktor-faktor yang membuat pria Korea sangat tertarik dengan isu gender. Nilai-nilai patriarki ala Neo-Konfusianisme yang tersebar dengan baik di sini menjadi patut diingat di sini, didukung oleh pengalaman para pria selama menjalani wajib militer.

Ketika saya beranjak tua, saya membuktikan bahwa semakin sulit untuk berkawan dengan pria Korea, sangat berbeda dengan apa yang saya harapkan mengenai prioritas antara kerja dan keluarga dan opini atas isu gender.

Sungguh, tidak adakah feminis Korea berjeniskelamin laki-laki di luar sana? Jika Anda salah satunya, atau mengenal salah satu dari mereka, maka beritahu saya! Namun sayangnya ketiadaan itu nyata adanya, dan sebuah ilustrasi yang baik untuk menggambarkan hal ini adalah kesulitan dalam mencari opini dari dua sudut pandang mengenai gender dan isu seksualitas terhadap grup musik remaja, seperti Girls’ Generation (SNSD) dan Wonder Girls (WG).

Mengapa secara khusus berfokus kepada dua grup di atas? Ini adalah pertanyaan yang masuk akal, mengingat mereka bukanlah grup musik remaja pertama di Korea. Yang membedakan adalah mereka adalah grup-grup pertama yang secara eksplisit dibentuk untuk menarik pria-pria yang berusia 20 tahun lebih tua dan mereka adalah lokomotif dari meningkatnya jumlah remaja putri (15-17 tahun) menunjukkan sisi sensualitas mereka di berbagai media Korea beberapa tahun belakangan.

**************

Saya dan beberapa pria Korea berusia 30-an dan 40-an tahun (ajosshi) tidak setuju dengan cerita kebanyakan bahwa para ajosshi menyukai girl group tersebut karena kami memiliki kasih sayang selayaknya saudara laki-laki atau orang tua terhadap tiap personelnya. Mereka tidak hanya membayangkan dapat memiliki hubungan seksual atau asmara dengan para personel dalam kehidupan nyata, mereka juga ingin menyetubuhi seluruh personel setiap kali mereka tampil di panggung. Mencoba mengorek pengakuan dari seorang ajosshi, dan kalian dengan cepat akan menyadari bahwa saya tidak dapat memillih istilah lain selain “panik” sebagai judul dari artikel ini.

http://community.livejournal.com/omonatheydidnt/2697684.html

Saya juga menggunakan istilah “interface” atau perwujudan karena timbul hal-hal seperti mengapa pada gambar di atas, personel grup f(x) Sulli (15) mengenakan celana yang amat pendek, atau misalnya mengapa di gambar yang lain ia mengangkat kaosnya ke atas, adalah perwujudan nyata di mana terjadi pertemuan antara konservatisme sosial Korea dan komersialisasi seksual remaja. Secara serius, saya ragu bahwa isu pelacuran remaja dan pendidikan seks bahkan dapat menjadi awal dijadikannya pembenaran saat para ajosshi tidak mengakui sesuatu yang sebetulnya sudah sangat jelas memalukan.

Tetapi hal ini akan menjadi suatu tema yang membosankan bagi pembaca biasa dan memang artikel ini tidak akan berbicara tentang itu. Saya akan lebih berfokus dengan pertanyaan, “apa penyebabnya?”

Satu alasan yang masuk akal adalah occidentalism (sikap kebarat-baratan; lawan dari kata orientalisme – terjemahan bebas dari penerjemah), seperti yang diutarakan oleh blogger Michael Hurt, “ada anggapan bahwa semua orang di Korea adalah orang baik, penganut Konfusius yang taat sehingga tidak melakukan hal-hal buruk. Sementara orang Amerika biasanya dianggap dengan bebas bersetubuh dengan banyak orang. Anggapan ini berdasarkan semua orang yang bukan orang Amerika.” Alasan tersebut dapat menjadi poin krusial di sini, seperti apa yang ditulis oleh seorang kolumnis musik Korea bahwa sikap tersebut tidak berarti semata-mata hanya upaya menyelamatkan muka orang Korea dari pandangan yang tidak menyenangkan dari orang asing.

Berikut ini saya menyertakan terjemahan dari kolom yang disebutkan di atas:


DOSAKAH MENYUKAI GIRLS’ GENERATION KARENA MEREKA SEKSI? (Pengakuan Seorang Pria Korea Paruh Baya)


Kim Bong-Hyeon (4 Februari 2010)

Saat ini saya memiliki seorang keponakan laki-laki yang baru masuk SMA. Ia adalah fans dari Girls’ Generation. Sudah dapat dipastikan, ia sudah memesan tiket untuk konser mereka bulan ini. Personel favoritnya adalah Seohyun. Keponakan saya amat senang saat bertukar kartu bergambar para personel dengan teman-temannya, kecuali untuk kartu bergambar Seohyun.

Berhubung saya adalah seorang penulis, keponakan saya bertanya mengenai pendapat saya tentang album baru Girls’ Generation. Album tersebut punya aspek baik dan buruk, namun karena saya menerka ia akan mengabaikan hal buruk yang saya katakan, maka saya hanya berbicara tentang yang baik-baik saja. Namun sebetulnya ada sesuatu yang ingin saya tanyakan kepada keponakan saya (yang mana kenyataannya tidak saya lakukan), yaitu, “apa alasan kamu menyukai Girls’ Generation?”

Alasan saya ingin bertanya sangat sederhana. Saya tahu mengapa saya menyukai mereka – dan semua pria pun demikian – tetapi saya menginginkan konfirmasi bahwa ia akan memberikan jawaban yang sama, “ya, karena mereka seksi.” Tentu, mereka juga memiliki kharisma dan kelucuan, tetapi itu menjadi hal yang disebut terakhir, sebelum seksi.

Tidak. Dengan bertanya demikian bukan berarti saya seorang yang berpikiran ngeres, bukan pula seseorang dengan gangguan jiwa yang memiliki fantasi meluap-luap akan Girls’ Generation. Atau untuk lebih akurat, mereka seksi tanpa harus berpura-pura. Dimulai dari lagu mereka Gee, adalah awal keterpukauan saya, mereka seksi di mata saya. Sebelum itu saya hanya menganggap mereka seperti adik-adik perempuan. Namun kemudian mereka mulai mengenakan atasan yang ketat dan memperlihatkan lekuk tubuh mereka serta celana jeans. Para gadis telah berubah menjadi perempuan dewasa. Ini semakin dikuatkan dengan lagu mereka berikutnya Tell Me Your Wish yang memadukan hotpants, sepatu hak tinggi, dan seragam (semi-militer) saat mereka meneriakkan, “tell me your wish…” dengan lagu teranyar mereka Oh! mereka meneruskan hal yang sama dengan konsep cheerleader. Apa lagi yang dapat saya katakan?http://seoulbeats.com/2010/01/is-snsd-being-sexually-harassed

Poin penting di sini bukanlah seberapa seksi mereka – mengingat masih banyak penyanyi wanita yang lebih seksi – namun di balik ekspresi inosen yang mereka tunjukkan, busana, asesoris, dan lirik yang diusung oleh Girls’ Generation didesain untuk mengundang para lelaki untuk berfantasi seksual tentang mereka. Hal ini menimbulkan perasaan bersalah di saya, “bagaimana bisa saya berpikir demikian saat saya memandang wajah mereka yang tidak berdosa? Apakah saya mesum? Siapa saya… di mana saya?” Semua pemikiran itu benar, tetapi tidak mungkin untuk dibuktikan. Memang jelas-jelas mereka seksi, namun Girls’ Generation berpura-pura bahwa mereka tidak seksi. Dengan mereka berpura-pura tidak seksi, akan lebih terlihat seksi ketimbang mereka mengakui bahwa mereka seksi, sejalan dengan insting para lelaki yang menginginkan sosok perempuan baik-baik nan keibuan, istri yang patuh, namun liar saat di ranjang. http://lesion.egloos.com/5016528

Saya berkata, “kepada semua orang yang bekerja di balik Girls’ Generation. Pertama, saya memberikan Anda nilai 10 dari 10 untuk menciptakan sebuah grup yang merangsang fantasi seksual pria dengan sangat baik. Namun tolong, berhentilah memanfaatkan gadis-gadis ini untuk menjual seks dengan sangat mahir!” dan saya mengatakan hal tersebut kendati akan banyak orang yang mencap saya sebagai seorang yang mesum, karena mempertanyakan hal tersebut terhadap kumpulan gadis-gadis imut dan tidak berdosa.

Baiklah, apakah saya hanyalah satu-satunya orang yang berpikir demikian? Apakah saya hanya satu-satunya pria yang terjebak tanpa menyadari keseksian yang mereka miliki tiap kali saya melihat? Saya rasa tidak. Faktanya, saya beranggapan bahwa semua pria Korea dewasa merasakan hal yang sama.

Berangkat dari premis bahwa perusahaan di mana Girls’ Generation bernaung secara mahir merangsang pria untuk berfantasi tentang mereka dan pada dasarnya menjual seks, mencuatkan dua masalah yang perlu dikhawatirkan. Saya tidak berharap akan banyak fans, para pelajar, atau kaum perempuan yang setuju pendapat saya dengan berbagai alasan. Pertama, karena fans Girls’ Generation sendiri, yang konon alasan saya dapat menjadi bentuk penghinaan terhadap grup. Untuk kasus para pelajar dan kaum perempuan itu lebih disebabkan karena mereka tidak akan bisa mengerti perasaan pria untuk hal-hal bersifat fisik. Kurang lebihnya saya minta maaf, mari kita lanjutkan premis ini.

Hal pertama yang patut dikhawatirkan adalah saat timbul pertanyaan apakah hasrat (seksual) merupakan sesuatu yang buruk. Apakah itu berarti kita harus berpura-pura bahwa kita tidak merasakannya? Apakah ini suatu bentuk penipuan terhadap diri sendiri? Kita semua tahu, selama hal tersebut tidak membahayakan orang lain, maka jujurlah karena kejujuran di atas segalanya. Dan tentunya aktivitas merangsang lebih buruk daripada terangsang. Mengapa saya jadi merasa bersalah macam ini? Ini bukanlah masalah pribadi, tetapi lebih berupa sebuah masalah yang sistematis.

Kekhawatiran kedua adalah tindakan menggunakan gadis muda untuk menjual seks adalah buruk (saya tidak ingin berbicara masalah hukum di sini). Tetapi jika kita melihatnya dengan cara yang berbeda, hal tersebut dapat berubah menjadi sebuah hal yang baik, yaitu: perusahaan mendapatkan penghasilan, anak-anak tersebut menjadi bintang, dan hasrat seksual para pria terpenuhi.

Sayangnya, tidak semua masalah sesederhana dan dapat terselesaikan semudah itu. Dasarnya adalah karena saya memiliki hasrat seksual yang mana hal tersebut adalah sesuatu yang normal dan sehat, bukanlah sebuah dosa. Namun tidak semua yang merangsang saya secara seksual adalah benar dan pantas, dan salah satu di antaranya adalah menyaksikan Girls’ Generation menari di atas panggung.

Di sisi lain, ketika saya terangsang, saya masih memiliki logika dan rasio. Saya harus mengakui sebuah fakta ketika saya terangsang oleh Girls’ Generation, di saat yang bersamaan saya gundah bahwa saya telah dan hanya dimanipulasi oleh permainan dari perusahaan mereka. Hasilnya, saya jadi menyadari bahwa keseksian Girls’ Generation menimbulkan banyak masalah. Satu, memang tidak diragukan bahwa menjual seks adalah cara perusahaan untuk mendapatkan uang, sementara masyarakat mengamini bahwa ada ranah publik dan privat untuk urusan seks. Sementara grup yang didesain untuk mengajak pria berfantasi tidak dapat mengakui hal ini. Ada pertentangan batin antara apa yang mereka rasakan di dalam diri mereka dengan apa yang harus mereka katakan.

Satu hal lagi, saya khawatir akan keadaan Girls’ Generation secara personal. Saya khawatir akan Yoona, Yuri, dan titik beratnya tentu akan idola keponakan saya, Seohyun. Ini mungkin adalah masalah terpenting dari semua, dan kapanpun saya melihat mereka manggung, saya berpikir, “apakah mereka tahu bagaimana mereka sebenarnya dikonsumsi? Apakah mereka tahu rasanya dilihat dan dirasai oleh para lelaki? Jika mereka memang tahu, inikah yang sebetulnya mereka inginkan? Apakah mereka menyesal dengan segala keputusan mereka?”

Orang akan bertanya mengapa saya harus khawatir terhadap mereka, toh mereka juga semuanya telah dewasa. Di balik itu, sistem yang bekerja di balik Girls’ Generation jauh lebih berkuasa ketimbang pertentangan batin yang tadi saya sebutkan. Mereka adalah bagian dari musik industri – yang merupakan produk dari kapitalisme – dan itu semua adalah pilihan mereka, sehingga saya harus mulai berhenti untuk berpikir jika hal tersebut tidak melanggar harkat dan martabat manusia.

Seohyun, ia terlihat paling tidak berdosa, dalam kenyataannya ia adalah personel termuda. Untuknya saya bertanya, “apakah kamu merasa tersakiti sekarang? Atau adakah jalan lain untuk lepas dari semua ini di masa depan?” Saat saya menulis artikel ini, saya menambahkan status di bawah messenger ID saya: saya telah membeli album baru Girls’ Generation! Foto-foto mereka fantastik! Kendati memang status tersebut benar adanya, saya harus mengubahnya. Mendadak, saya tidak ingin tenggelam dalam lautan rangsangan seksual.(***)

Bagaimana pendapat Anda tentang pengakuan dari Kim Byeong-hyeon tersebut? Oh, atau bagaimana dengan saya? Pendapat saya mungkin mengejutkan bagi para pembaca setia saya dan saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa saya malu berteman dengan perempuan Korea sekarang. Banyak teman saya, sesama orang Barat di sini memiliki beberapa teman laki-laki dan perempuan Korea dalam jumlah yang sama di tahun-tahun awal mereka tinggal di sini. Mereka umumnya datang ke Korea dari negara mereka di pertengahan usia 20-an tahun dan telah bermukim di sini selama 5-10 tahun. Kami, orang Barat, bukanlah seorang gender geeks, walau saya akui kami selalu membicarakan urusan wanita saat kami bertemu! Bagaimana dengan pengalaman pribadi Anda? Apakah hal yang sama atau berbeda juga terjadi pada wanita Barat?

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on May 11, 2011, in Showbiz Korea and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: