TENDA RAMALAN

Peluh mengalir dari kening lalu turun ke pelipis. Sebelum butir peluh itu tergelincir jatuh ke dagu, Btari mengusapnya dengan selembar tisu. Basah dua sisi tisu itu dengan keringat, Btari membuangnya ke sebuah tong kosong di bawah pohon. Ia meraba kantong jeans belakangnya dan menyadari bahwa tisunya telah habis. Ditariknya bungkus tisu itu dari kantong lantas diremasnya. Ini sudah bungkus tisu kelima, batinnya.

Sementara hingar bingar musik funk masih terdengar di sebelah utara. Tangan kiri Btari masih menggenggam erat walkie-talkie. Bunyi kresek kresek muncul dari benda tersebut, terdengar suara seorang laki-laki. Btari hanya mendengarkan percakapan laki-laki tersebut dengan seseorang lainnya.

“Tolong, seksi konsumsi, seksi konsumsi, Jacinta atau Dora, harap segera ke artist room, band pemenang kompetisi udah selesai manggung, tolong ditunggu cepat ya. Tolong bawa air minumnya lebih banyak sedikit.”

Zap! Dan suara laki-laki itu lenyap dari walkie-talkie.

Sementara sepanjang pandang Btari semakin banyak manusia merangsek. Areal parkir kampus yang biasanya luas penuh sesak dengan mobil-mobil mentereng kini dibanjiri lautan manusia yang tampaknya jumlahnya semakin meluap dari perkiraan. Btari menghela napas, ia mencoba bergeser dari tempat berdirinya sekarang. Terasa sangat sulit karena padatnya orang. Jempol kirinya berusaha menekan tombol walkie-talkie, berusaha ingin memanggil seseorang.

“Kak Tari, Kak Tari!” di tengah keramaian bunyi yang menulikan telinga, Btari merasa seseorang memanggilnya dari belakang. Ia menoleh. Terlihat seorang perempuan menerobos kerumunan untuk mendekatinya.

“Kak Tari!” panggil perempuan itu sekali lagi ketika mereka berdua telah saling berhadapan.

“Ari?!” kata Btari. Btari menyadari ada kejanggalan pada rekannya itu. “Eh, mana ID panitia kamu? Kan selama seharian ini kita jadi panitia itu kan wajib kamu pakai,” gugat Btari tentang ID panitia bertuliskan nama NARESHWARI yang seharusnya sekarang terkalung di leher perempuan itu.

“Aduh iya Kak, maaf… ID-nya aku tinggal di ruang panitia,” jawab Nareshwari sambil terengah-engah.

“Kenapa?” tanya Btari.

“Kak, setengah jam lagi konferensi pers ya… Jangan lupa ganti baju rapi. Ini, aku disuruh sama Kak Oka. Tadi aku nyari Kak Tari ke mana-mana,” Nareshwari menyodorkan sebuah kantong plastik warna hitam. Btari menerimanya. Diintipnya sedikit isi kantong itu. Benar kantong plastik itu berisi blouse yang memang ia bawa dari rumah.

“Oke, thanks ya, Ri. Balik ke tugas kamu ya, take care. Setengah jam lagi gue ke auditorium buat konferensi pers. Oke, gue keliling lagi,” Btari membalikkan badannya dan kembali berjalan. Kali ini sebuah panggilan mampir ke walkie-talkie-nya.

Jalan menuju areal kampus yang menjadi tempat pertunjukkan telah disulap menjadi deretan tenda-tenda bazaar yang menawarkan dan menjual segala sesuatu. Yang menjual minuman dingin dan segala barang yang menjadi musuh dari rasa panas panen rezeki hari itu.

Seorang pria berkaos abu-abu polos berhenti di depan sebuah tenda yang tertutup. Wajahnya melukiskan keraguan.

“Maaf, lagi ada klien di dalam. Sudah beli kuponnya? Lima ribu saja,” buru-buru seorang pria pendek bertopi mencegatnya di luar tenda itu.

“Oh, lima ribu ya” pria berkaos abu-abu tercenung sebentar. “Ini…” lantas ia menyodorkan selembar uang senilai lima ribu, pria pendek bertopi itu merobek secarik kertas yang tadi disebutnya kupon.

“Sudah lama yang di dalam?” tanya pria berkaos abu-abu.

“Udah agak lama, mungkin sebentar lagi. Jatahnya tiap orang kan 15 menit,” jelas pria pendek bertopi.

“Oh, I see…” pria berkaos abu-abu itu mengangguk dan bergumam.
Selang waktu kemudian, keluarlah dua orang remaja putri dari tenda tersebut sambil tertawa terkikik-kikik sambil sebentar-sebentar saling berbisik. Dua orang pria yang bercakap-cakap tadi melihat dua orang remaja putri tersebut sampai menghilang dari pandangan.

“Mas, silakan…” pria pendek bertopi itu mempersilakan pria berkaos abu-abu itu untuk masuk.

“Oh iya…” masih setengah tersadar dibangunkan dari lamunannya, pria berkaos abu-abu itu memasuki tenda dan dari belakang ia dapat mendengar tenda tersebut ditutup rapat dari luar oleh si pria pendek bertopi.

“Selamat siang. Silakan…” di balik meja yang menjadi benda satu-satunya di dalam tenda itu seorang pria berkulit hitam manis berambut ikal menyambutnya.

Pelan-pelan pria berkaos abu-abu itu mendekat, mereka berdua berjabat tangan, lalu duduk.

“Nama Anda?” tanya pria di balik meja.
“Ristu,” jawab pria berkaos abu-abu itu singkat.
“Pietra,” pria di hadapan Ristu memperkenalkan diri.

“Ada masalah-masalah tertentu yang saya bisa bantu untuk terangkan?” tanya Pietra.

“Ngggg……” gumam Ristu. “Masalah hubungan percintaan. Saya sedang ragu-ragu…”

Pietra mengulas senyuman kecil, sigap kedua tangannya mengocok setumpukan kartu di sampingnya.

“Silakan pilih enam kartu secara acak,” dengan posisi terbalik, kartu itu diangkat di depan wajah Ristu.

“Kenapa harus enam?” Ristu tampak mempersoalkan.

“Silakan langsung pilih enam kartu saja, nanti Anda akan tahu sendiri.”
Ristu membiarkan jemari dan instingnya menuntunnya memilih enam kartu secara acak.

“Baik. Sekarang kita akan lihat satu per satu,” Pietra mulai membalik kartu pertama. Ristu menghela napasnya yang serasa terjepit di tenggorokannya. Ia tidak percaya akan hal-hal di luar nalar macam ini, namun terkadang ia perlu membuktikannya sendiri untuk percaya bahwa ada seseorang yang bisa menguak nasib dan takdir. Telapak tangan Ristu yang berkeringat mencengkeram dengkulnya.

Gambar seorang pria kekar yang sedang bergulat dengan singa muncul di bawah tulisan STRENGTH. “Ini adalah yang sedang Anda rasakan sekarang. Anda adalah orang yang kuat, sungguh, baik di masa lalu, masa sekarang, atau masa depan. Kekuatan dan keberanian ini akan mendorong Anda untuk sukses. Suatu hari Anda akan mengalami patah hati atau hal buruk lainnya, Anda akan bisa bangkit dengan cepat.”

“Oke,” ujar Ristu.

Pietra membuka kartu kedua. “Kartu ini disebut The Tower,” Pietra menunjuk gambar menara di kartu. “Melambangkan apa yang paling Anda inginkan di saat ini. Kartu ini ingin mengatakan bahwa Anda ingin solusi yang sesingkat-singkatnya dan semudah-mudahnya untuk masalah yang sekarang. Betul?” putus Pietra.

“Ya,” sambung Ristu. “Jadi?”

“Cara paling singkat dan mudah, Anda harus berubah,” kata Pietra. Alisnya diangkat sebelah. Sejenak Ristu merasa diremehkan.

“Maksudnya?”

“Kita lanjut ke kartu ketiga. Inilah ketakutan Anda. Temperance. Anda takut, Anda khawatir bahwa hubungan Anda sekarang tidak akan langgeng. Mungkin Anda punya rival dalam hubungan ini yang akan membakar konflik yang lebih besar.”

“Jadi saya harus bagaimana?”

Pietra mendekatkan pandangannya ke Ristu.

Be patient, sabar…”

“Tapi…” sergah Ristu.

“Tapi sebentar lagi akan ada keadilan untuk Anda,” Pietra menyodorkan kartu keempat bertuliskan JUSTICE bergambar seorang perempuan berambut merah duduk di singgasana di mana di pundaknya bertengger seekor burung hantu. “Karma. Perbuatan baik yang pernah Anda lakukan di masa lalu akan menuai hasilnya di masa depan. Apapun itu, sebentar lagi akan ada sesuatu yang membuat Anda senang.”

“Tinggal dua kartu,” bisik Ristu pelan.

“Ya,” Pietra mengangguk. Ia melirik arlojinya. “Masih agak lama sebelum 15 menit sesi kita,” lanjutnya. “Saya bacakan sekarang?”

“Boleh saya yang balik sendiri kartunya?” Ristu melempar sebuah usulan.
“Boleh saja. Kenapa memangnya?” Pietra nampak berpura-pura heran.
“Saya yang menentukan nasib saya sendiri,” Ristu menjawab asal.

Ristu mengangkat kartu kelima. “EMPEROR,” kata Ristu.
“Kartu kelima menunjukkan hal yang akan bertentangan dengan Anda.
“Keberhasilan Anda akan datang atau bisa saja sekejap lepas dari genggaman.”
“Kenapa?”
“Tampaknya Anda terlalu ambisius di masa sekarang,” terka Pietra.
“Huh, belum tentu,” tolak Ristu.

“Pilihan di tangan Anda. Asal Anda tidak memanfaatkan kebaikan dari orang yang telah menolong Anda untuk hal yang tidak-tidak.”

“Sepertinya itu semua gak mungkin ada di diri saya,” tukas Ristu.

“Sayangnya Anda sepertinya orangnya tidak bisa tenang ya? Padahal saya tidak berharap demikian loh, sedikit-sedikit Anda menyela saya. Kartu terakhir bilang bahwa hanya dengan mendengarkan dan mempercayai, Anda akan mendapatkan kekuatan Anda. Justru di saat inilah puncak kekuatan Anda. Anda lakukan dua hal tersebut, maka Anda akan dapat membuat keputusan yang jernih dan kuat. Buahnya akan manis,” Pietra mengacung-acungkan kartu terakhir berjuluk The High Priestess.

“Kayaknya sudah cukup penjelasannya. Saya permisi dulu, biar saya tafsirkan sendiri apa maksudnya sedari tadi,” Ristu bangkit dari duduknya dan langsung berjalan keluar.

“Tunggu!” Pietra mencegat dengan seruannya. Ristu berhenti, tanpa menengok.

“Biar saya tebak nama perempuan itu. Saya tidak kenal Anda, loh.”

“Apa iya?” tanya Ristu.

“Btari. Betul kan saya?” tanpa Ristu lihat, Pietra menyeringai.

Ristu menyibak tenda dengan kasar.

“Sudah selesai, Mas?” pria pendek bertopi itu lagi menyambutnya.

Belum sempat Ristu menjawab, ia merasakan sesuatu dari atas jatuh menyentuh kepalanya. Ia meraba rambutnya hingga ia merasakan tetesan air membasahi punggung tangannya.

“Hujan! Hujan! Hujan!” kerumunan manusia yang sedari tadi asyik berkumpul dan bergerak mengikuti dentuman musik mendadak kocar-kacir karena hujan yang mendadak menderas. Di antara mereka ada yang tidak peduli dan tidak beranjak dari tempat mereka berdiri, ada juga dari mereka yang dengan tangkas langsung mengeluarkan payung kendati hal tersebut tidak akan membantu mereka menghindari kebasahan. Yang tak terhitung adalah orang-orang yang berlarian dan akhirnya berebut serta berdesak-desakkan di tempat yang beratap.

Di antara mereka yang berteduh, seorang panitia menghardik seseorang di seberang saluran teleponnya.

“Marra! Marra! Kenapa bisa hujan, Marra?” bentaknya keras-keras yang berusaha mengalahkan bunyi hujan yang menghajar tanah.

“Tolong susun kaleng-kaleng bir yang saya minta tadi mengelilingi saya berdiri sekarang,” perintah seorang pria setengah baya yang siang itu mengenakan kemeja batik lengan pendek dan celana panjang bahan warna coklat.

“Oh iya, Ki…” yang disuruh langsung menyusun kaleng bir membentuk lingkaran.
Lantas, pria yang baru saja dipanggil Ki itu menggerak-gerakkan tangannya dan mulutnya komat-kamit.

“Marra, Marra!” panggil seseorang dari belakang. Pemuda kurus berkacamata yang tadi menyusun kaleng bir menolehkan kepala mencari pemanggilnya.

“Sini, jangan di situ!” Marra merasa dipanggil karena ia berdiri terlalu dekat dengan pria berkemeja batik itu.

Marra lalu duduk di atas beton, di samping orang yang memanggilnya tadi. “Tari, yakin itu orang bisa mindahin hujan pas nanti pertunjukkan?” tanya Marra pada perempuan di sampingnya.

“Kita yakinin aja. Awalnya gue juga gak yakin. Tapi dia udah langganan senior dari tahun-tahun sebelumnya, ya ikut aja,” jawab Btari. Namun, jawabannya bertentangan dengan raut mukanya yang masih menggantung sebuah ketidakyakinan di sana. Mata bulat Btari masih menatap lurus ke orang yang disebut pawang hujan itu.

“Eh, dipanggil tuh!” Btari menyodokkan sikunya pelan ke tubuh Marra.

“Kenapa, Ki?” tanya Marra sembari menghampiri pawang hujan itu dari kejauhan.

“Yang di situ,” pawang hujan itu menunjuk sebuah umbul-umbul yang terpasang di dekat pohon glodokan tiang.

“Kenapa, Ki?” Marra melirik ke arah umbul-umbul itu.

“Bisa diganti enggak umbul-umbul itu? Gantinya pasang kain ini, dipasang seperti kamu pasang umbul-umbul itu,” kata pawang hujan itu dengan logat Jawa yang cukup kental.

“Wah, gak bisa Ki… Itu udah perjanjian dengan sponsor, kalau kita akan pasang umbul-umbul produk mereka di situ, kita udah tanda tangan kontrak sama mereka,” jelas Marra.

“Tapi ini bagian dari ritual. Kalo gak begitu, bisa gak sempurna,” pawang hujan itu tidak mau kalah.

“Yah, maaf Ki. Bisa cari tempat lain aja gak? Asal jangan di situ. Kita masih bisa tunjukkin tempat lain kok,” Marra masih mencoba bernegosiasi.

“Tetap gak bisa, arahnya memang sudah harus dipasang di situ. Kalo di tempat lain gak akan mempan manteranya.”

Marra mulai kebingungan. “Kalo gitu tunggu sebentar ya, Ki. Biar saya bahas dulu. Tari! Tar, Tari!”

Btari memicingkan matanya. Tangan kirinya ia gunakan untuk menutupi layar ponselnya. Ada sebuah pesan masuk, tapi tidak terbacanya karena teriknya matahari siang itu.

Kita butuh ketemu nanti sore. Dari pengirimnya Ristu.

“Tari!” pekikan Marra membuat Btari menunda membaca pesan yang baru saja berhasil ia buka.

“Kenapa?” balas Btari setengah berteriak.

“Sini!” kini giliran Marra melambaikan tangannya memanggil agar Btari menghampirinya.

“Ada apa sih?” Btari tampak kesal. Marra membisiki telinganya.

Btari tercenung sebentar, ia tengadahkan kepalanya ke atas sebentar. “Ya udah, gak apa-apa. Kita pindah aja umbul-umbulnya ke tempat lain. Nanti biar gue yang ngomong sama sponsor.”

Hujan tak kunjung berhenti. Beberapa panggung yang dibiarkan terbuka terpaksa dihentikan. Beberapa panitia merelakan dirinya basah kuyup berlari-larian di tengah hujan untuk menyelamatkan perlengkapan panggung.

Btari yang baru selesai dari konferensi pers langsung disergap kepanikan. Hujan ini bukan merupakan bagian dari susunan acara yang digarapnya ini.

“Acara, gimana anak acara?” kata-kata langsung berhamburan di depan walkie-talkie.

“Panggung utama masih jalan. Panggung tiga dan panggung lima terpaksa distop.”

“Tari, backdrop dekat pintu masuk utama ambruk!”

“Bazaar! Anak bazaar! Tenda-tenda stand gimana?”

“Tari, Tari! Pintu belakang dijebol! Orang-orang terobos masuk dari situ, lolos dari penjagaan, mereka masuk gak pake tiket!”

“Ah!” dengan penuh emosi ia menekan tombol yang dapat membungkam walkie-talkie itu, lalu berlari tak tentu arah menghampiri siapapun panitia yang dapat ditemuinya.

Masih di tengah hujan yang deras, seseorang melapor ke panitia yang bertanggungjawab atas bazaar.

“Tenda ramalan kosong. Sepertinya peramal tarotnya pergi…”

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on April 30, 2011, in Cerpen. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: