Wawancara Imajiner dengan Park Gyuri: “Idol Zaman Sekarang Manja!”

Apa yang tertinggal dari sebuah girlband terkenal yang merasakan popularitas selama 10 tahun berkarier Jepang dan Korea dan kini telah bubar?



Yang jamak terjadi adalah kini mantan personelnya sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Umumnya yang meneruskan karier bermusik memilih menjadi penyanyi solo. Alternatif lain adalah menekuni jalur akting dengan bermain di drama serial.



Dalam rapat redaksi untuk majalah edisi bulan ini, pemimpin redaksi menugaskan saya untuk melakukan wawancara eksklusif dengan seorang mantan personel girlband, Park Gyuri dari KARA. Serangkaian argumen dan daftar pertanyaan wawancara diberikan kepada saya. Saya agak terkejut dengan pemilihan Park Gyuri sebagai wawancara eksklusif majalah Playboy Korea bulan ini. Selama ini wawancara eksklusif adalah ruang paling humanis dan serius sehingga orang-orang yang kami wawancarai adalah tokoh politik, aktivis, akademisi, atau seniman. Bukan seorang eks selebritas pop Korea, sebuah dunia yang juga telah agak lama saya tinggalkan.



“Gunakan empati kamu,” hanya itu yang dipesankan oleh pemimpin redaksi kepada saya.

Total wawancara eksklusif ini menghabiskan waktu 2 hari. Hari pertama wawancara membutuhkan waktu tiga jam di gazebo bergaya Jepang di halaman belakang rumah Gyuri. Hari kedua selepas jam kerja di dalam mobil milik Gyuri di mana ia meminta saya untuk menyetirkan mobilnya. Saya berusaha untuk menjaga mood Gyuri dalam wawancara ini sehingga membutuhkan lebih dari sekali wawancara. Sosok Gyuri yang hangat dan ramah namun tertutup untuk topik-topik sensitif tetapi penting menjadi penyebabnya. Saya pernah ingat satu pernyataannya, “tidak ada rahasia di antara kita, namun belum tentu kamu boleh tahu semuanya.”



Di hari Selasa pagi, saya datang ke rumah Gyuri. Saya datang sebagai seorang jurnalis yang menunaikan tugasnya, walaupun sebenarnya saya dan Gyuri telah berteman cukup lama. Dahulu para fans menggolongkan saya dan Gyuri serta beberapa teman sebaya ke dalam sebuah kelompok yang dinamakan 88-line alias angkatan 88. Saya masuk dan langsung duduk di ruang tamu rumah itu. Di dalamnya terdapat barang-barang antik khas buruan kolektor dan foto-foto keluarga Gyuri.



“Shim Changmin!” sapa Gyuri yang muncul dari sebuah ruangan. Kala itu, ia tidak memakai make-up sedikit pun dan rambutnya agak awut-awutan. Penampilan Gyuri sangat santai dan cuek. Ia mengenakan kemeja kebesaran dan celana bermuda sedengkul, keduanya berwarna khaki. Aura goddess-nya masih terpancar sama seperti 10 tahun lalu, atau memang agaknya saya yang semakin tua.



“Wawancara di belakang aja ya?” Gyuri menunjuk ke sebuah taman di belakang rumahnya.



“Oke, gak masalah,” kata saya. Gyuri langsung membimbing saya menuju tempat yang ia maksud. Kami berjalan ke belakang rumah. Di sepanjang jalan saya menuju ke sana, saya sempat menangkap ada sebuah sudut di rumah tersebut di mana di dindingnya tergantung foto-foto KARA. Agaknya di situlah Gyuri mengabadikan sisa-sisa kejayaan KARA. Kami duduk bersila di gazebo.

“Yakin gak keberatan kan kita wawancara di luar ruangan?” tanya Gyuri. Saya menggeleng. “Santai kok, di mana pun jadi,” jawab saya.

“Aku lebih suka wawancara di ruangan terbuka. Buat saya itu lebih membuka pikiran, di mana ketika aku menjawab pertanyaan, aku bisa meluaskan pandangan dan pemikiranku dengan cara melihat langit misalnya,” Gyuri mendongakkan sedikit kepalanya.

Berikut ini adalah wawancara yang berhasil dirangkum dari dua kali pertemuan.




“Tidak ke kantor hari ini?”

Kebetulan aku minta izin hari ini karena wawancara eksklusif (dua tahun selepas KARA bubar di tahun 2017, Gyuri kini menjadi seorang account executive director di sebuah stasiun radio swasta).



“Boleh gitu? Diberi izin sama bos?”

Boleh kok. Mereka (atasan Gyuri – red) udah mengerti aku gimana (tersenyum).



“Lebih enak mana jadi orang di belakang layar atau di depan dalam masalah pekerjaan?”

Dulu waktu aku masih belasan tahun hingga pertengahan 20-an, saya menikmati berada di depan layar, jadi sorotan. Sekarang sih, tidak terlalu. Malah sekarang dengan jadi orang di balik layar saya dapat kepuasan batin tersendiri, seperti jadi invisible hand. Kamu juga demikian, kan?



(tertawa) “Ya kurang lebih demikian. Terlebih jurnalis memang impian saya dari dulu.”
Pastinya, siapa sih yang gak ingat ribut-ribut waktu majalah Playboy launching versi Korea dan Shim Changmin, mantan personel DBSK diangkat langsung jadi redaktur pelaksananya (bergurau menunjuk-nunjuk wajah saya).

“Ribut-ribut pengangkatan aku sebagai redaktur pelaksana Playboy itu betulan gak penting. Yang berisik malah fans, segala bawa-bawa DBSK dan posisiku sebagai personel termuda. Ayolah, masa mereka gak ingat waktu itu aku bukan lagi Changmin zaman Purple Line.”
Kalau bukan majalah Playboy, akan lain ceritanya, Max. Mungkin sebenarnya fans-fans kamu cemburu kamu kerja di majalah Playboy, yang mana aku jamin kamu pasti betah (tertawa).

“Oh tentu saja. Yang penting orang tua udah setuju aku jadi redaktur Playboy.”
Siapa yang paling gencar dukungannya? Papa?

“Hmmm… ya gitu deh, hahahahahaha!”
Hahahahahaha…..

“Bagaimana pandangan Gyuri sebagai orang yang berkecimpung di dunia radio mengenai musik-musik zaman sekarang, terutama lokal?”
Buat saya, musik Korea sudah antiklimaks. Grup-grup bagus era 90-an hingga 2010 adalah klimaksnya. 2011 hingga 2014 masa-masa stagnan. 2015 hingga hari ini, 2019 adalah antiklimaksnya. Kita berdua beruntung karena grup kita berdua masuk di era klimaks.

“Tapi KARA sendiri pun masih berkarya di kurun waktu yang tadi Gyuri sebut sebagai masa-masa stagnan.”
Betul, dan itu juga menjadi puncak kejenuhan dari KARA. Dari 2011 sampai 2014, tiga tahun, yang biasanya setiap grup mengeluarkan album setahun sekali, KARA hanya mau mengeluarkan dua album saja. Album sebenarnya, bukan repackage.

“Hanya mau dua album, tetapi sebetulnya kalau mau tiga album misalnya, bisa kan?”
Bisa, tetapi buat apa? Kami tidak mau menguras terlalu banyak energi di depan ketika kami tahu bahwa kami masih punya cadangan energi yang bisa kami gunakan untuk bergerak di tahun-tahun mendatang. Pasca lawsuit yang diajukan Seungyeon, Nicole, dan Jiyoung, ternyata itu menjadi pintu untuk diskusi kami yang lebih sejajar dan seimbang dengan pihak perusahaan. Ketika perpanjang kontrak, kami berlima sepakat bahwa kami akan mengeluarkan dua album saja dalam waktu tiga tahun.

“Apakah negosiasinya berjalan dengan lancar?”
Syukurlah lancar. Kasarnya, dulu kan kami ini tambang emas untuk perusahaan, tentunya posisi tawar kami lebih kuat. Kami sadar hal itu dan peluang tersebut kami pakai untuk menyampaikan aspirasi kami. Dan bagusnya lagi pihak perusahaan cukup kompromistis dan mengerti.

“Kembali ke masalah antiklimaks di awal. Apa perubahan tren yang membuat musik kita menjadi seperti itu dalam pandangan Gyuri?”
Semakin modern hidup kita, maka akan semakin sempit waktu yang kita punya dan semakin pragmatis pemikiran kita. Hal tersebut juga berlaku di musik. Saya tidak tahu apa yang terjadi atau apa pemicunya, tetapi pasar sekarang lebih suka mendengarkan musik yang hanya sekedar easy listening saja, bukan karena kekayaan musikalitas atau skill musisinya. Entah mengapa, mungkin saja produser-produser tersebut mengambil hasil survei yang salah.

“Tampaknya Gyuri sangat gelisah sekali dengan keadaan ini.”
Jelas! Saya sangat sedih apabila skill dan kemampuan musisi tidak dihargai lagi. Kasihan juga para penikmat musik yang betul-betul punya selera yang bagus dan idealisme yang tinggi. Musisi-musisi Korea itu sudah diakui secara internasional kok! Apa gak bahaya kalo keadaan ini terus berlanjut? Orang di luar negeri sana bisa beranggapan, semiskin inikah musik kita sekarang? Dangkal dan gersang. Oh ya, dan juga seragam. Terlihat sekali bahwa selera musik kita disetir oleh pihak-pihak tertentu.

“Pihak produser?”
Justru media yang menyetir selera musik kita. Ini juga saya sampaikan sebagai otokritik terhadap media tempat saya bekerja. Media yang jadi puppet master-nya, musisi tidak berniat jadi bonekanya tetapi tanpa sadar dipermainkan oleh media, kita pendengar, pembaca, atau penonton yang menjadi pihak yang digiring. Entah digiring ke mana, mungkin digiring ke jurang, biar bubar hancur mati semua.

Barometer kesuksesan sebuah lagu itu ada pada radio chart, kemudian baru masuk ke TV. Sekarang, kebijakan di radio pun menganjurkan agar meminimalisir pemutaran lagu yang katanya ribet di telinga pendengar. Jangankan lagu-lagu 1TYM, Jewelry, DBSK, atau Big Bang, lagu KARA seperti “Lonely” atau “I’ll Write A Letter” aja gak boleh diputer kok. Terlalu berat katanya. Dan akhirnya grup-grup hebat seangkatan kita karena dilarang diputar, akhirnya tidak masuk chart. Tidak masuk chart artinya tidak masuk TV. Tidak masuk TV akhirnya tidak terkenal, tidak terekspos. Tidak terekspos siapa yang mau beli? Kita dapat penghasilan dari mana? Konser? Ya kalo CD aja gak laku, gimana kita mau dipanggil untuk konser?

“Bukan karena memang masanya kita yang sudah lewat?”
Loh gak bisa begitu dong?! Di Amerika sana, grup-grup bisa bertahan 20, 30 tahun lah kok di sini nyentuh angka 10 tahun aja rasanya susah bener? Aku gak percaya loh kalo dibilang para fans yang sudah tidak menginginkan kita lagi. Salah itu. Pada akhirnya grup aku, grup kamu, grup kita semua bubar dalam kesepian ya karena lagu-lagu kita disingkirkan oleh media. Sebelum lupa, keadaan ini udah jelas terbaca pasca album Jet Coaster Love-nya KARA, oleh sebab itu kami memilih lebih berkonsentrasi di market Jepang yang fansnya lebih loyal dan medianya lebih berkomitmen serta hemat energi dengan hanya merilis dua album saja.

“Bagaimana dengan sikap artisnya sendiri?”
Kamu tahu gak, idol zaman sekarang manja! Hari ini, banyak cara instan untuk jadi terkenal, sayangnya cara itu yang diambil oleh banyak perusahaan. Mereka tidak mau berinvestasi banyak-banyak lagi di bidang training contohnya. Setelah debut, mereka juga tidak mau investasi untuk mencari orang-orang terbaik untuk mendukung: vocal coach, koreografer, komposer, musisi, misalnya. Mereka cuma mau keluar banyak uang untuk promosi dan pencitraan.

Secara attitude, idol sekarang yang seumuran adik-adik atau keponakan-keponakan kita juga (Gyuri menggerak-gerakkan kepalanya) ya kamu tahu sendiri bagaimana. Aku pernah masuk backstage sebuah acara musik di televisi beberapa bulan lalu. Sekali-kali coba deh, kamu bisa lihat gimana perilaku anak-anak sekarang. Sambil nunggu giliran manggung, mereka lebih suka ngobrol-ngobrol gak jelas atau ketawa cekikian ngegosip. Malah ada beberapa yang asik pacaran, pangku-pangkuan. Kayaknya dulu kita gak gitu-gitu banget, waktu zaman kita lebih sering sambil nunggu kita latihan koreografi atau nyanyi lagi, siapa tahu di tengah-tengah dapat ide untuk gerakan atau lagu baru.

Belum lagi, sejak kerja di radio, setiap kali aku jalan ke suatu tempat sering sekali ditemui oleh anak-anak muda yang nawarin CD ke aku. Mereka bilang, “Onnie, Noona, ini CD demo kami, tolong puterin di radio dong. Kami sudah siap terkenal kok,” dan omongan-omongan lain sejenisnya. Tidak bisa begitu dong. Tidak bisa kita tenar dengan sikap dan behavior semacam itu. Ya kan? Changmin, bukannya aku mengagung-agungkan masa lalu, tetapi memang seharusnya keadaan sekarang harusnya lebih baik dari zaman kita, minimal sama. Tidak selalu yang berasal dari masa lampau itu buruk.

“Kalau begitu apa kita turun gunung saja? Kita bikin grup baru misalnya?” (bergurau)
(tergelak) Boleh, boleh, boleh, itu usul yang bagus. Sayangnya anginnya sedang tidak memihak kita yang masih punya idealisme. Kita tidak bisa jadi milik pendengar musik hari ini, kita sudah terlanjur jadi milik pendengar musik sepuluh tahun lalu. Hari ini orang membicarakan KARA, DBSK, atau grup lainnya sudah seperti dahulu di sekolah kita diceritakan mengenai Perang Korea.

“Bagaimana kabar teman-teman KARA sekarang?”
Mereka baik-baik, kita juga masih saling kontak, kalau kita ada waktu kita masih sering ketemu biasanya kalo weekend.

“Ada rencana untuk menggelar konser reuni?”
Sejauh ini belum ada. Tunggu ada yang nawarin, biar ada dananya (tersenyum). Kalau ditawarin kita pasti mau. Dulu sempat waktu kumpul-kumpul sama anak-anak iseng-iseng kita bicara seperti ini, mereka juga setuju.

“Bisa Gyuri ceritakan ketika tahun 2011 empat personel KARA mengajukan lawsuit, apa yang sebenarnya terjadi kala itu?” (di sini saya bertanya dengan sangat hati-hati, apalagi pertanyaan ini diajukan di sesi wawancara kedua ketika saya sedang berada di dalam mobil dengan Gyuri)
(diam sejenak, lalu menghela napas) Apa yang dikatakan media kala itu betul bahwa lawsuit tersebut diajukan karena adanya pembagian royalti yang tidak adil. Hal itu benar adanya, itu fakta, tetapi sebetulnya itu hanya katalisator saja.

“Katalisator? Jadi sebenarnya di balik itu semua ada masalah yang lebih pelik lagi?”
(mengangguk) Betul. Saya menyembunyikan cerita ini bertahun-tahun. Waktu itu, saya percaya cepat atau lambat, saya akan menceritakannya sendiri atau terkuak entah bagaimana caranya. Mungkin ini waktunya.

“Silakan Gyuri bercerita…”
Oke, jadi sebenarnya pangkal permasalahan lawsuit itu ada karena perselisihan saya dengan Seungyeon (berhenti cukup lama, Gyuri seperti mengatur emosinya untuk bercerita). Semuanya berawal dari keinginan saya untuk cuti sejenak. Aku bilang ke anak-anak aku kepingin libur dari KARA, aku jenuh, tetapi aku minta KARA tetap jalan sementara tanpa aku. Aku merasa pikiranku overload dan lagi gak fokus ke musik, daripada hasilnya jelek, aku putuskan aku ingin break dulu saja.

“Bisakah KARA jalan tanpa Gyuri?”
Betul, di situ tersangkutnya. Aku ngomong langsung ke Seungyeon, “kok gue lagi gak bisa mikir tentang KARA ya. Boleh gak ya gue vakum?” lantas Seungyeon menentang, “wah gak bisa begitu dong. Nanti yang lain juga minta berhenti.”

Di titik itu saya tidak setuju. KARA itu kan satu tim, satu kesatuan. Tidak ada itu istilahnya KARA itu Gyuri. Seharusnya kalo Gyuri itu lagi kosong, yang lain harus bisa mengisi. “Tapi gak bisa Gyul, kamu itu vokalis, juga leader.” Nah itu bener, cuma kenapa tidak memikirkan sesuatu yang lain daripada bergantung pada peran satu vokalis? Kan ada Seungyeon, ada Jiyoung, Nicole juga bisa kalau ingin dipasang sebagai vokalis. Karena aku udah capek, aku lagi nggak bisa. Ya tapi itu hanya wacana ya, toh akhirnya saya sadar untuk memperoleh izin cuti itu gak mudah. Birokrasinya rumit, pasti harus disidang sampai tingkat direksi, apalagi kita udah terikat kontrak dan berbagai jadwal sampai kurun waktu tertentu.

Dari sejak itu, entah kenapa Seungyeon tiba-tiba menghindar dari aku. Di depan tiga orang yang lain, kami berusaha untuk tetap terlihat normal. Aku pikir sih wajar, karena aku dan Seungyeon sudah kenal bertahun-tahun, bukan sehari dua hari. Agaknya sih, agaknya, Seungyeon berpikir kalau saya akan tetap bulat pada keputusan saya. Aku kan memang orangnya gitu, kalau aku bilang A, ya A. Mungkin Seungyeon khawatir atau takut akan keberlangsungan KARA sendiri kalau tidak ada aku.

“Ya, kenapa tidak didiskusikan saja waktu itu?”
Seperti yang udah aku bilang, Seungyeon mungkin berpikir tidak ada gunanya diskusi denganku, toh ujung-ujungnya I will not change my mind. Ngapain ngomong sama Gyuri, gitu pikirnya. Sampai akhirnya mereka berempat mengajukan lawsuit, saya sempat kepikiran kalau Seungyeon menghasut anak-anak menggunakan keinginan saya untuk cuti. Wah, kusut pikiran saya waktu itu. Bawaannya marah-marah melulu. Aku pun sempat merasa kalo Seungyeon nusuk dari belakang, semacam berkhianat gitu. Maksudnya apa gini? Satu lawan empat? Mau bangun KARA baru tanpa Gyuri? Kalau berani kenapa langsung ngumpet di balik lawsuit, kenapa gak ngomong face-to-face aja. Dan pas momennya waktu itu, ketahuan praktek pembagian royalti yang tidak adil yang bisa mereka tunggangi.

“Gyuri sendiri merasa apakah pembagian royalti untuk KARA tidak adil? Kalau memang Gyuri merasakan demikian, harusnya kan bisa bergabung dengan teman-teman menuntut.”
Saya hanya berusaha patuh dan taat pada kontrak. Di kontrak telah ditulis bagian sekian, saya pun menerima sesuai apa yang tertulis di kontrak. Tidak ada masalah. Namun, kontrak kami adalah kontrak individual, bukan kontrak KARA sebagai grup. Tidak tahu deh dengan isi kontrak personel yang lain. Entah mereka yang tidak teliti, atau memang dasarnya mereka yang mbalelo. Maaf, saya tidak berusaha untuk menyudutkan.

“Namun pelan-pelan semuanya selesai ya? Mulai dari Hara yang mencabut gugatan dan akhirnya kasus menguap begitu aja seiring kesuksesan KARA di Jepang waktu itu.”
Memang. Justru di situ hikmah dari konflik, kita bisa sampai usia sepuluh. Sejak album Jet Coaster Love itulah, saya bisa berteman sama Seungyeon. Dari album First Blooming hingga Lupin, kami berdua itu gak akur, sebenarnya.

“Serius?”
Serius. Kami juga gak mengerti kenapa. Kalau Seungyeon ngelucu, buat saya kok gak lucu ya, gitu juga sebaliknya. Mungkin untuk urusan pekerjaan kami berdua klop, cocok, tapi untuk urusan pribadi seperti pertemanan kami gak bisa. Tetapi setelah peristiwa lawsuit itu kami berdua bisa ngobrol akrab dan lama. Seungyeon pun mengakui kok. Yang biasanya kami gak pernah sekamar, jadi bisa sekamar.

“Ini sebetulnya pertanyaan yang juga sangat emosional buat saya. Tidak bermaksud subjektif, tapi saya iri dengan KARA yang akhirnya bisa tetap melaju dan bubar dengan utuh setelah kejadian lawsuit. Ini sesuatu yang tidak terjadi di grup saya dahulu. Sempat muncul banyak spekulasi bahwa KARA akan pecah seperti DBSK. Gyuri tahu itu? Bagaimana perasaan Gyuri ketika itu?”
Ketika kasus tersebut mendera, saya berusaha menutup telinga dan mulut saya rapat-rapat. Saya berusaha tidak mendengar ocehan orang-orang dan berusaha menjaga mulut saya untuk tidak berkata yang tidak perlu yang akan membuat urusan makin runyam. Terserah orang ingin berspekulasi apa, saya akan tetap melakukan yang terbaik untuk KARA dan Kamilia, fans kami. Hak mereka untuk berbicara dan membanding-bandingkan KARA dengan siapapun itu, saya gak bisa melarang.

“Tetapi diamnya Gyuri kala itu malah sering ditafsirkan lain atau malah disalahartikan. Seolah-olah Gyuri tidak punya daya dan upaya mengatasi semuanya.”
Sebelum hakim mengetukkan palu sidang atau sebelum DSP memutuskan semuanya, saya, Park Gyuri, masih personel tetap KARA dan leader. Saya tahu yang terbaik untuk KARA, tetapi tidak patut apabila saya koar-koar dan pamer saya melakukan ini dan itu. Biar waktu yang membuktikan. Dua kali KARA nyaris mati, dua kali juga saya pertaruhkan nama saya demi keberlangsungan KARA, demi orang-orang yang mencintai kami dan telah bersikap baik dan mendukung kami.

“Apa yang membuat Gyuri tetap bertahan di KARA?”
Saya tidak pernah mau keluar dari KARA. Buat apa saya keluar dari grup hebat? Musiknya kaya, easy listening tapi tidak kacangan, kami bisa menyanyi dengan baik dan menari dengan kompak, relasi dengan kawan-kawan sesama artis baik. Pencapaiannya bagus sampai ke Jepang, berhasil menjual jutaan kopi. Saya bersyukur dapat memulai dan mengakhiri karir musik hanya di satu grup saja . Tidak ada alasan untuk saya meninggalkan KARA.

“Ngomong-ngomong, kita semua kangen dengan Goddess Gyuri. Masihkah jadi Goddess di tempat kerja yang baru?”
Oh, kalo Goddess memang itu sudah built-in di dalamku (tertawa), jadi walau udah gak di KARA, di manapun itu, aura dewinya tetap terpancar. Apalagi di posisiku sekarang sebagai account executive director di mana hampir tiap hari aku ada jadwal ketemu klien. Pencitraan itu penting. Yah, sedikit banyak Goddess Gyuri membantu lancarnya proyek-proyek di tempat kerja sekarang (mengangkat bahu).

“Saya menangkap ada sedikit paradoks di balik julukan Goddess yang dialamatkan kepada Gyuri.”
Ah ya? Paradoks? Mengada-ada nih kamu…”

“Serius. Bagaimana seorang Gyuri digelari julukan Goddess sementara kan 8 dari 10 lelaki berkata bahwa Gyuri itu tidak menarik? Adakah beban tersendiri menyandang julukan itu?”
(tampak serius berpikir) Jadi begini… satu orang pria mengatakan aku tidak cantik itu tragedi, tetapi 8 dari 10 lelaki bilang aku tidak cantik itu namanya statistik. It’s just a number.

“Itu kan mirip kutipannya Stalin? Satu kematian adalah tragedi, jutaan kematian adalah statistik.”
Memang, memang (tertawa).

“Oh ya, apa kamu merasa terbebani dengan julukan Goddess itu?”
Oh tentu tidak. Aku amat menikmati ketika setiap mata menegakkan pandangan dan kekagumannya hanya kepadaku. Aku yakin di luar sana banyak orang yang ingin mendirikan sekte pemujaan Park Gyuri. Gak suka? Biarin aja, I don’t care, cari saja dewi yang lain.

“Ha ha ha ha. Tapi kan banyak tuh yang lain yang ngaku-ngaku Goddess, gimana tuh? Tapi buat saya dan teman-teman di majalah Playboy, Goddess itu tetap Gyuri seorang.”
Ah basi, rayuan tipu-tipu, he he he he… Aku cuma bisa bilang, Goddess is born, not made. Kalau kamu dan yang lain percaya cuma ada satu Goddess, yakinlah. Itu namanya iman. Bukankah dikatakan kita dilarang menyekutukan apa yang kita sembah? Usul sedikit, gimana kalo Goddess-Goddess lain yang kamu bilang itu dipanggil aja untuk jadi cover majalah Playboy suatu hari? Kan seru tuh?

(terbahak-bahak) “Ah ini dia yang sebenarnya ditunggu-tunggu dari tadi. Betulan mau jadi cover Playboy, Gyul?”
Enggak. Biar Goddess yang lain aja, dikumpulin rame-rame, bikin sesi pemotretan buat cover. Aku sih mau aja, sendiri ya tapi. Berani bayar berapa?

“Urusan bayar-membayar biar bos besar aja yang turun tangan. Wah, Gyuri komersil nih sekarang. Kejar setoran ya?”
Enggak. Santai aja. Seorang Goddess tidak butuh uang, no no no! (menggerak-gerakkan telunjuk)

“Kelihatan sekali Gyuri tidak berorientasi uang. Saya sudah kenal ini dari dulu. Namun apa yang Gyuri imani sekarang dalam kehidupan?”
Aku percaya Tuhan. Tetapi aku tidak mengimani suatu agama.

“Selama ini kan di dalam profil atau biodata tidak pernah terungkap apa agama Gyuri sebenarnya.”
Betul. Aku yang tidak ingin agama ataupun segala yang saya imani diketahui oleh orang banyak. Semata-mata cuma untuk menghindari bias atau permusuhan. Kita gak pernah tahu orang-orang di luar sana, kan? Terlebih lagi masih banyak orang membenci dan dibenci karena urusan agama. Di negara kita mungkin tidak sampai rakyat Korea bermusuhan karena agama, tetapi saya telah antisipasi sebelumnya bahwa grup saya akan terkenal sampai ke luar Korea yang saya tidak tahu bagaimana kehidupan dan kebiasaan di sana.

“Kabarnya Gyuri menolak beberapa tawaran berakting. Dari selentingan yang beredar, Gyuri pernah menolak tawaran drama serial dan terakhir menolak tawaran sebuah film sejarah yang konon berbudget 43 milyar won itu.”
Betul itu, gak salah. Malah untuk film sejarah itu, executive producer dan sutradaranya sendiri yang getol membujuk saya. Konon, sejak pertama ide pembuatan film itu dicetuskan, sang sutradara sudah langsung membayangkan bahwa aku itu pemeran utama wanita yang cocok. Macam-macam lah cara mereka membujuk, mulai dari negosiasi di atas meja, makan malam maksudnya, hingga langsung terang-terangan menawarkan honor setinggi langit. Tapi maaf, tawaran mereka aku tolak.

“Kenapa begitu? Bukankah di masa kecil Gyuri pun pernah berakting di film sejarah? Juga di Urakara?”
Semakin hari semakin ke sini, saya makin sadar kalau akting bukanlah lahan saya. Kalo menyanyi oke. Tidak untuk akting. Kalau waktu kecil dan main Urakara, itu urusan lain. Buatku, akting itu melelahkan. Maksudku, akting serius seperti di serial TV atau drama ya, bukan sekedar akting untuk video klip semata.

“Melelahkan, apakah itu terkait dengan kesibukan sehari-hari juga?”
Tidak setuju. Aku gak segitunya mendedikasikan diriku untuk pekerjaan kantor, walaupun memang aku menyukai aktivitas tersebut. Akting itu melelahkan karena kita harus berpura-pura menjadi orang lain, membunuh karakter diri kita sendiri. Makanya aku suka bingung dan heran kalau ada seorang aktor atau aktris yang girang karena dapat peran berakting yang mirip dengan kepribadian aslinya. Hei, kalau begitu gak layak kalian menyebut diri aktor atau aktris. Gimana sih?

“Beberapa tahun lalu, Gyuri sempat mengeluarkan pernyataan kontroversial kalau Gyuri tidak akan memilih pria yang pernah ikut wajib militer sebagai calon pasangan. Setelah pernyataan tersebut, Gyuri kan dikecam oleh berbagai pihak, terutama pemerintah. Dikatakan Gyuri tidak nasionalis dan sebagainya.”
Ukuran nasionalisme itu apa? Apakah dengan menyetujui semua kebijakan negara? Kan tidak. Jujur, saya menentang kebijakan wajib militer di negara ini. Pokoknya saya menentang semua hal yang dapat memicu peperangan atau perselisihan antar negara-negara. Hari ini, zaman sekarang apa gunanya sih gagah-gagahan dengan perang-perang begitu? Kenapa setiap negara tidak berlomba-lomba menyejahterakan rakyat masing-masing di tengah-tengah isu lingkungan yang makin mengerikan? Kelangkaan energi, air, ancaman kelaparan contohnya. Sudah tahu kita tidak berdaya di depan alam, mengapa juga sumber daya yang ada malah dipersiapkan untuk perang, untuk membunuh orang lain.

Changmin, dengar ya, laki-laki yang pernah ikut wajib militer di mataku tidak ada hebat-hebatnya. Aku tidak melihatnya itu sebagai bentuk pengabdian terhadap negara, itu namanya kepasrahan dan ketakutan. Aku lebih respek kepada orang-orang yang secara konsisten membela prinsipnya menentang wajib militer walaupun konsekuensinya adalah penjara. Catat, yang menentang wajib militer karena mempertahankan prinsipnya, bukan karena takut mati di medan perang.

Shim Changmin
Deputy Editor-in-Chief majalah Playboy Korea

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on April 9, 2011, in Fanfiction. Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: