RSBI (Rintisan Sekolah Betulan Internasional)?

Saya mem-follow beberapa siswa SMP dan SMA terhitung sejak kurang lebih satu setengah tahun di Twitter, dari mereka saya jadi tahu bahwa kini sekolah-sekolah negeri di Indonesia sedang menapaki suatu fase di mana nanti sekolah-sekolah tersebut akan menjadi sekolah bertaraf internasional (SBI). Ada pula beberapa sekolah yang disebut dengan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI), tujuan akhirnya sama, yaitu mewujudkan pendidikan bertaraf internasional (katanya).

Hari ini, saya melihat seseorang yang saya follow me-retweet sebuah artikel dari harian nasional bahwa SBI harus dihentikan. Seketika ada perasaan yang membuncah di dalam hati saya. Jujur, banyak sekali unsur pengajaran dan pendidikan di SBI yang menurut saya tidak sesuai.

Dari kacamata saya yang berusia 24 tahun dan masa-masa menjadi siswa SMA itu adalah kejadian 9 tahun yang lalu, saya jadi tergelitik untuk menyelidiki lebih dalam apakah itu RSBI atau SBI untuk membuktikan kegeraman saya. Beberapa informasi saya peroleh dari beberapa followers menguatkan argumen saya.

SBI Bukan Solusi Untuk Pendidikan Merakyat
Jelas sudah dari misi internasional yang diusung, SBI bukanlah dan tidak ditujukan untuk anak-anak dari kalangan tidak mampu alias tidak berduit. Siswa yang masuk SBI atau RSBI tentunya harus membayar uang masuk dan SPP yang mahal karena konsekuensi yang akan mereka dapatkan, maksudnya fasilitas. Penerapan konsep SBI yang terkesan tiba-tiba dan memaksakan dari pemerintah sebenarnya telah melanggar dan menyalahi tujuan pembentukan pemerintah negara Indonesia dalam hal mencerdaskan kehidupan bangsa. Penerapan SBI adalah penyesatan dan penipuan adanya.

Konsep SBI yang Menyesatkan dan Salah Kaprah
Di beberapa kota besar, seperti Jakarta, sekolah internasional bukanlah barang baru. Kita ambil contoh Jakarta International School (JIS) atau British International School (BIS), siswa-siswa di sana umumnya adalah anak-anak dari para ekspatriat yang bekerja di Indonesia.

Apabila konsep internasional yang dimaksud SBI adalah sekolah internasional seperti JIS atau BIS, minimal ada tiga syarat yang harus dipatuhi. Pertama, adanya tenaga pengajar asing. Kedua, adanya siswa ekspatriat yang bisa masuk ke sekolah negeri SBI tersebut. Ketiga, penggunaan bahasa Inggris penuh dalam kegiatan belajar mengajar.

Namun, pada prakteknya penerapan konsep internasional dalam program SBI terkesan planga-plongo. Yang paling mengenaskan adalah pemakaian bahasa Inggris. Idealnya, guru harus menyampaikan materi di kelas kepada siswa-siswi dengan menggunakan bahasa Inggris. Tetapi perlu diingatkan sekali lagi, bahwa guru-guru tersebut adalah guru-guru yang sama ketika sebuah sekolah belum berlabel SBI, umumnya di antara guru-guru tersebut mereka tidak fasih berbahasa Inggris. Hanya demi mengejar gengsi, sekolah memaksakan para guru untuk mengejar kekurangan mereka dalam bahasa Inggris. Adalah pemandangan yang biasa jadinya apabila materi pelajaran tetap disampaikan dalam bahasa Indonesia karena ketidakmampuan guru untuk mengajar dalam bahasa Inggris seperti yang disyaratkan.

Aspek bahasa Inggris belum berhenti sampai di sini. Saya beropini bahwa apabila sebuah sekolah sudah menetapkan diri sebagai sekolah internasional, maka seharusnya tidak ada lagi pengajaran bahasa lokal setempat, dalam hal ini bahasa Indonesia. Namun, di beberapa SBI dan RSBI, bahasa Indonesia tetap diajarkan dan masuk nilai rapor. Menurut informasi seorang siswi SBI asal Bandung, dimasukkannya nilai bahasa Indonesia tersebut tahun lalu menghambat calon siswa asal Malaysia dan Arab yang hendak masuk ke sekolah tersebut, kendati siswi tersebut menambahkan bahwa kebijakan nilai bahasa Indonesia sebagai syarat masuk akan dihapuskan. Pengajaran bahasa Indonesia masih menjadi perdebatan. Saya tetap kukuh pada pendapat saya bahwa seharusnya tidak ada pengajaran bahasa Indonesia dalam SBI. Beberapa kawan tidak setuju dan beropini bahasa Indonesia tetaplah wajib karena siswa-siswi SBI tetaplah orang-orang Indonesia. Yang kita semua harapkan tentunya pelajaran bahasa Indonesia tidak diajarkan menggunakan bahasa Inggris di SBI.

Dampak buruk penggunaan bahasa Inggris dalam kegiatan belajar mengajar antara lain banyak siswa SBI justru gagal dalam ujian nasional (UN) karena mereka tidak memahami materi bidang studinya, menyoroti lebih dalam seorang siswi SMA dari sekolah SBI di Jakarta mengungkapkan bahkan nilai ulangan bahasa Indonesia siswa masih banyak yang tidak tuntas. Hasil riset Hywel Coleman dari University of Leeds UK yang saya kutip dari Kompas.com menunjukkan, bahwa penggunaan bahasa Inggris dalam proses belajar-mengajar telah merusak kompetensi berbahasa Indonesia siswa.

Bagaimana mengenai masalah ijazah? Apakah ijazah keluaran SBI diakui secara internasional dan memudahkan seorang siswa untuk menempuh pendidikan lanjutan di luar negeri? Atau kita ambil contoh, sering kita dengar cerita seseorang yang pindah sekolah ke luar negeri harus mengulang tingkat. Nah, apakah dengan SBI masalah seperti itu teratasi? Sayangnya kita belum dapat berharap banyak. Ijazah hasil SBI masih dipertanyakan letak ke-internasional-annya.

Kembali ke awal mengenai fasilitas bagus di sekolah yang ditebus dengan harga mahal adalah penafsiran paling tolol mengenai konsep sekolah internasional. Saya tidak tahu referensi mana yang dipakai oleh para perumus kebijakan tentang SBI sehingga muncul perwujudan sekolah internasional adalah ruangan-ruangan kelas dilengkapi dengan pendingin ruangan, komputer di depan kelas dan LCD yang menutupi dinding di samping papan tulis. Pendidikan adalah tentang proses, bukan alat atau materi. Adalah sia-sia penggunaan alat bantu ajar yang canggih tanpa disertai proses dan teknik mengajar yang akan membuat siswa paham dan mengerti tentang materi pelajaran. Sebagai informasi, sekolah dan universitas terbagus di India saja masih menggunakan papan tulis kapur sebagai media penyampaian materi. Namun, mereka banyak mencetak insinyur-insinyur dan dokter-dokter kelas dunia.

Saya bersikukuh bahwa RSBI atau SBI hanya mencetak orang-orang kaya saja, bukan tokoh masyarakat yang menjadi panutan dan mampu berbaur dengan masyarakat dari kalangan bawah.

Lantas, mental pelajar seperti apakah yang hendak dipupuk dengan cara seperti ini? Pelajar yang fasih berbahasa Inggris? Atau pelajar yang datang dari keluarga kaya? Sepertinya sekolah-sekolah tersebut harus buru-buru menanggalkan embel-embel internasional apabila siswa-siswi mereka masih malas belajar dan suka menyontek. Perilaku tersebut akan menjelekkan muka pelajar Indonesia di mata internasional, loh, hehehehe


Penyampaian opini saya tersebut di Twitter mendapat respon yang cukup hangat dan diamini oleh beberapa followers. Rata-rata mereka mengaku kecewa dengan perwujudan sekolah internasional tersebut.

Kebijakan SBI adalah kebijakan yang tergesa-gesa, sementara sekolah menyadari mereka tidak siap tetapi mereka tetap mengejar sekuat tenaga memenuhi standar internasional walaupun sampai ngos-ngosan demi gengsi semata.

Penerapan SBI sejauh ini hanya menjadi dagelan konyol omong kosong semata-mata, kalau dianalogikan seperti memakai gaun malam ke pasar tradisional.

Atau jangan-jangan ketimbang mendirikan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI), kita malah lebih perlu lebih banyak RSBI alias rumah sakit bersalin ibu dan anak?

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on March 9, 2011, in Berita Bangsaku. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: