Dibutuhkan URGENT: Insinyur!

(gambar: tuvw.bokunic.com)

Hari ini, saya dan seorang temen saya pergi jenguk teman kami yang dirawat di rumah sakit karena demam berdarah. Di perjalanan pulang dari rumah sakit, saya ngeliat sebuah billboard besar dari sebuah bank. Dan saya tiba-tiba ingat bahwa bank tersebut sekarang tengah mengundang seorang pengusaha ngetop asal Inggris pemilik Virgin Group untuk memberikan lecturing, yaitu Sir Richard Branson.

Dari atas motor, saya ngomong sama temen saya, “eh, Richard Branson kan sekarang lagi di Jakarta,” kata saya. Temen saya jawab, “nah trus kenapa? Kalo dia mau modalin bisnis kita sih gak apa-apa, Di, hehehehe…” dia nyengir. Saya juga jadi ikutan nyengir, meringis. Teman saya tiba-tiba melanjutkan dialog tadi, “tuh Richard Branson kan sekolahnya gak selesai…”

Saya menanggapi dengan positif, “ya, sayangnya karena banyak success stories entrepreneur yang gak sekolah atau modal nekat, orang-orang jadi berpersepsi kalo jadi entrepreneur itu gak perlu sekolah atau kuliah. Padahal sih, jadi entrepreneur nekat sih udah gak zaman ya… Malah harus dibudayakan entrepreneur sekolahan.

Kata teman, “nah iya itu. Setuju. Zaman dulu mungkin bisa, karena gak banyak orang yang sekolah atau kuliah. Tapi sekarang? Udah banyak orang kuliah, kenapa harus DO karena mau jadi entrepreneur? If you think you are genius, ya monggo, silakan. Tapi orang-orang DO kayak Bill Gates, Richard Branson, Einstein, itu kan one in a million. Bill Gates itu nilai SAT-nya mendekati sempurna loh. Malah pinteran dia daripada dosennya. Dan pendiri Google, Sergey Brin dan Larry Page, iya memang mereka DO. Tapi kan mereka DO dari program doktornya? Hehehehehe…”

“Justru malah yang kita butuhkan tidak hanya sekedar entrepreneur, orang jadi pengusaha restoran, ternak bebek gitu. Tetapi malahan technopreneur, entrepreneur dengan menjual barang-barang inovatif, man! Yang mana itu cuma bisa tumbuh dari lingkungan kampus dan riset!” timpal saya dengan berapi-api. Untuk pembicaraan itu kami semua saling sepakat.

Nah, relevansinya dengan judul blog ini apa? Sabar, tenang dulu…


Setelah makan siang, saya dan teman mampir di kantor. Huuuhhh, kangen banget dengan tempat kerja saya dulu ini. Baru beberapa waktu lalu saya resign karena sebentar lagi saya akan cabut ke luar negeri untuk sekolah S2. Perusahaan yang turut saya rintis ini masih baik-baik saja, bahkan mereka sudah menemukan pengganti untuk mengambil alih pekerjaan saya, tetapi untuk kepemilikan saham saya, itu gak bisa diganggu-gugat, hehehehe…

Ternyata kantor saya sedang kedatangan seorang klien, seorang insinyur yang kerja di Kalimantan Selatan, namanya Pak Renaldi. Kita ketemu dan banyak cerita tentang berbagai hal. Ada cerita kalo anaknya Pak Renaldi ini tahun depan rencana masuk teknik mesin UI, cerita tentang Kalimantan Selatan yang hutannya sudah benar-benar habis (Pak Renaldi cerita bahwa kalau sekarang kita naik mobil ke sana, sinar matahari langsung jatuh tepat di atas kaca mobil karena tidak ada lagi pepohonan yang menghalangi, ditambah sekarang untuk mendapatkan air tanah paling tidak harus mengebor sampai kedalaman 100 meter), dan tentunya, hohoho, cerita klasik soal korupsi-korupsi di keuangan proyek (tapi Pak Renaldi ini orangnya jujur, saya percaya dari bagaimana beliau bicara dan bersikap).

Karena Pak Renaldi ini insinyur, tentunya obrolan kita juga menyinggung soal keadaan insinyur alias engineer di Indonesia di masa sekarang. Pak Renaldi cerita, bahwa kini Indonesia sedang krisis insinyur. Ya, kita sedang kekurangan tenaga insinyur untuk mengisi lahan-lahan pekerjaan di negara kita sendiri. Insinyur-insinyur Indonesia yang cemerlang kini dibajak oleh banyak negara, misalnya Malaysia dan Jepang. Terutama oleh Uni Emirat Arab (Dubai, Abu Dhabi), Kuwait, Qatar, yang sedang giat-giatnya membangun. Insinyur-insinyur kita dibawa ke sana, dan mereka menempatkan tenaga kerja asing sebagai manajer di sini. Orang Indonesia-nya yang gak berpendidikan dan keterampilan lah yang kepake, sebagai kuli tapi.

Namun sayangnya, insinyur-insinyur muda yang tetap stay di sini, Pak Renaldi menyoroti, mereka umumnya manja dan pemalas, ini bukan menggeneralisir loh ya… “Saya yakin kok di Indonesia ini mudah kok kalo mau cari orang-orang pintar. Cari saja untuk mengerjakan ini itu, pasti beres. Tapi coba ajak insinyur-insinyur muda itu ke lapangan, ah mereka mana mau? Suruh gotong pipa segala macem,” keluh Pak Renaldi.

Teman saya menimpali, “betul, Pak, belum lagi lulusan-lulusan fakultas teknik yang lebih memilih kerja di bank, di pasar modal…” (ehem, saya merasa tersindir loh, sedikit. Mengingat saya ini juga lulusan teknik yang hendak melanjutkan master dengan mengambil program bisnis, hehehehehe…..)

Kemudian televisi yang menyala di kantor menyiarkan berita bahwa akibat hujan deras, Jakarta banjir lagi. Dan setelah berita banjir, ditayangkan berita tentang keberhasilan Malaysia mengatasi banjir di Kuala Lumpur dengan cara membangun smart tunnel. Kemudian berita berganti mengenai solusi kemacetan di Beijing, China, menggunakan model bus tinggi, di mana kolong bus itu menyerupai terowongan sehingga dapat tetap dilalui oleh mobil-mobil. Kreatif ya?

“Tuh bisa gak tuh orang kita bikin kayak gitu? Masa mau dikata-katain Indon bodoh terus? Tuh Pak, ada blognya Pak, kalo mau baca, indonbodoh.blogspot.com,” komentar teman kantor saya yang lain.

Kawan, inilah realita yang terjadi di negara kita sekarang. Mungkin bisa jadi acuan dan renungan buat siapa saja yang hendak memasuki dunia kuliah atau sedang menapaki karier. Apapun bentuknya, memang Indonesia sedang membutuhkan banyak sekali insinyur. Baik insinyur sebagai karyawan di perusahaan, ataupun insinyur-insinyur yang kelak akan menciptakan penemuan-penemuan baru yang dapat menjadi sebuah bisnis yang menghasilkan produk yang menjual dan membuka lapangan kerja.

Lulusan teknik gak ada artinya kalo hanya sekedar teori semata, kita harus punya karya yang nyata, yang konkret, harus berani trial and error, gitu istilahnya. Dari hasil riset serta trial & error itulah yang dapat menciptakan technopreneur-technopreneur yang tangguh dan bermanfaat.

Seperti kata Bung Karno, “teori tanpa perbuatan itu mati, sedangkan perbuatan tanpa teori itu buta”, dan kutipan dari (saya lupa) entah dari sebuah buku atau dari seorang ahli ekonomi, “salah satu indikator kemajuan suatu negara adalah apabila sektor informal alias self-employment menurun, tetapi jumlah technopreneur meningkat”

Nah, bersama diakhirinya artikel ini, saya berharap untuk adik-adik yang memiliki ketertarikan terhadap bidang teknik, tekunilah, nanti kuliah kalian di jurusan teknik, kerjanya juga di jurusan teknik, ya… Syukur-syukur bisa jadi technopreneur yang bisa memajukan Indonesia kita tercinta ini. Negara ini butuh kalian loh, calon-calon insinyur cerdas masa depan!

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on September 27, 2010, in Berita Bangsaku. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: