Dulu Suit, Suit… Sekarang Twit, Twit…

Twitter

(gambar: luclatulippe.com)

Dari sejak zamannya social network, dari Friendster sampai Facebook, saya gak pernah tertarik untuk buka account Friendster atau Facebook. Biarin deh, saya dibilang norak, atau ketinggalan zaman. Apa boleh buat, saya gak tertarik untuk punya jejaring sosial. Banyak alasannya, malas ngurusnya, malas ngisi isian profil, malas upload foto, malas cari-cari teman untuk di-add. Ada yang bilang saya sombong, argumen mereka kan dengan Facebook bisa keep in touch dengan teman-teman lama. Saya sih cuma nyengir aja, toh masih ada telepon dan SMS yang saya pikir masih lebih ciamik, bahkan lebih nyata dibandingkan hanya melototin layar LCD.

Ternyata….. saya akhirnya takluk dan bertekuk lutut dengan kicauan sang burung biru, Twitter. Awalnya seperti biasa, saya cuek aja dengan adanya model social network yang baru ini. Skeptis, “ah apa sih, timbang kayak update status gitu-gitu doang, apa enaknya sih?” dan saya pun dengan mantap, tanpa ragu membuat akun Twitter, dengan nama @aldibhas (feel free to follow ya…. hehehehe)


Namun, begitu saya mengamati, ternyata memang Twitter ini punya efek gigit yang dahsyat. Memang cuma 140 karakter, yang bahkan lebih pendek dari SMS yang 160 karakter, tapi di situ kekuatan dan tantangannya. Bagaimana yang pendek dan singkat bisa mempengaruhi banyak orang. Salah satu contoh hebat dari adanya Twitter, yaitu sebuah revolusi yang terjadi di sebuah negara di sebelah tenggara Eropa bernama Moldova. Ini serius. Dengan berkoordinasi di Twitter, warga Moldova berhasil menggalang demonstrasi anti komunis. Aksi ini berlangsung setelah partai komunis yang berkuasa mendeklarasikan kemenangan pada pemilu legislatif, dua hari sebelumnya. Meyakini pemilu telah dicurangi rezim komunis yang sedang berkuasa, sekitar 20 ribu orang turun ke jalan, berdemo di depan istana Presiden Vladimir Voronin, dan bahkan menduduki gedung parlemen di Chisinau, ibu kota Moldova (sumber: Vivanews.com)

Contoh sejenis dengan di Moldova juga pernah terjadi di Indonesia. Tepat setelah kejadian bom Marriott II, sebuah gerakan nasionalisme yang diprakarsai oleh Pandji Pragiwaksono bersama beberapa rekan yang diberi nama INDONESIA UNITE pun lahir. Hal ini dilakukan untuk membangkitkan rasa kepercayaan diri bangsa Indonesia yang kecolongan bom lagi, bahwa kami tidak takut, tidak takut dengan terorisme ataupun segala ancaman yang dialamatkan kepada bangsa dan negara Indonesia. Pengaruhnya berhasil dalam benak anak-anak muda. Pandji bahkan juga merilis lagu hiphop berjudul “Kami Tidak Takut”.

Twitter juga memberikan kesempatan bagi orang-orang biasa untuk mem-follow Twitter para selebritis. Inilah hebatnya Twitter. Kalo Facebook, kita segan untuk mem-follow orang-orang terkenal, dan para orang terkenal itu juga menjaga jarak. Namun dengan Twitter, kita bisa mengintip keseharian mereka, tanpa harus mereka harus meng-approve balik. Dengan adanya sistem following-followers, membuat seseorang justru makin bangga apabila memiliki banyak followers. Berasa jadi nabi di Twitter, apapun yang kita update, bisa terlihat oleh followers kita, dan bisa dikutip alias di-retweet.

Saya mem-follow beberapa orang terkenal di negeri ini, yang saya tau suka memberikan tweet-tweet yang menarik, misalnya @ulil (Ulil Abshar Abdalla – Jaringan Islam Liberal), @gm_gm (Goenawan Mohammad – Tempo), @faisalbasri (Faisal Basri – pengamat ekonomi), dan @deelestari (Dewi Lestari). Dari Ulil (dan beberapa orang terkenal lainnya yang juga berprofesi sebagai dosen), kita bisa menyimak tweet-tweet mereka yang dibungkus dengan hashtag (#….) tertentu, yang dinamai “kultwit” alias kuliah Twitter. Mereka membahas suatu topik-topik tertentu sesuai keahlian mereka. Ulil, kerap mengupas masalah agama Islam dan pluralisme, sementara Faisal Basri berbicara ekonomi.

Di sini sedang terjadi sebuah paradoks, dengan keterbatasan karakter justru dapat membuka wawasan kita akan pengetahuan yang justru tidak kita dapatkan di jejaring sosial lain. Hebatnya lagi, ilmu tersebut dipaparkan langsung oleh ahlinya.

Lantas, disadari atau tidak, Twitter mengajarkan kita etika. Bukan hanya sekedar etika berinternet yang lebih umum, tetapi juga etika ber-Twitter yang lebih khusus yang sangat baik pula apabila diterapkan di dunia nyata. Etika itu antara lain:

1. Etika follow back

Tentunya kita senang apabila memiliki banyak followers. Tetapi ada etika yang perlu diperhatikan dalam rangka memperbanyak jumlah followers. Sering kali banyak tweeps (pengguna Twitter) setelah mem-follow seseorang, lantas meminta orang tersebut untuk mem-follow dia pula, istilah mudahnya adalah follow back. Hal ini dirasakan agak kurang sopan, terutama apabila orang yang kita follow tersebut bukan orang yang akrab dengan kita, bahkan orang yang tidak kenal dengan kita. Ingat, apabila kita di-follow seseorang, apa yang kita update di Twitter akan dapat dilihat oleh semua followers. Iya kalo memang isi tweet kita adalah hal-hal yang berguna dan menarik, kalo tidak, tentunya akan mengganggu para followers kita. Maka, biarkanlah orang lain mem-follow kita dengan sendirinya dengan alasan mereka masing-masing.

2. Etika retweet

Twitter menyediakan sebuah fitur yang disebut retweet, dalam kehidupan sehari-hari biasa kita sebut dengan “mengutip”. Sekali kita meng-klik tombol “Retweet” maka kita sedang mengutip pernyataan seseorang, lengkap dengan siapa yang mengatakan kalimat tersebut. Retweet mengajarkan kita untuk jujur, untuk menyebutkan sumber dari sebuah kalimat atau pertanyaan, mengajarkan kita untuk tidak mencuri atau memplagiat atau mengakui suatu hal yang bukan milik kita sebagai milik kita. Ini etika penting dalam segala aspek kehidupan, tidak hanya berlaku di dunia akademisi, jurnalistik, dan seni saja.

Selain itu, dengan retweet alias mengutip, kita juga masih dapat memberikan komentar atas pernyataan yang kita retweet tersebut. Bisa berupa ungkapan persetujuan atau sanggahan. Retweet ini juga amat mendukung sebuah kultwit yang saya sebutkan di atas tadi bisa menyebar dan diketahui banyak orang. Dengan sistem ini, Twitter telah menumbuhkan sebuah iklim dan budaya diskusi yang amat baik.

Kesimpulannya, model jejaring sosial Twitter dengan 140 karakter ini adalah model yang paling sesuai karena kepraktisan dan kecepatannya menyampaikan informasi, baik untuk orang biasa, orang sibuk, sampai orang-orang terkenal. Ayo, siap untuk berkicau dan bersiul?

About asokamaurya

Big brother, son, friend, lover

Posted on September 26, 2010, in Teknologi. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: