The Dawn of First March (Bab 20)

ANAK MUSIM PANAS

Mobil merah itu melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi, seperti terburu-buru mengejar sesuatu. Di dalamnya, Changmin yang mengemudikan mobil itu terlihat cemas.

“Kamu yakin kita akan tepat waktu sampai di sana?” tanya Changmin kepada orang di sebelahnya.

“Kita hanya terlambat sedikit, Changmin, dan sekarang kau menyetir mobil ini seperti hendak balapan supaya kau tidak tenggelam karena tsunami yang ada di belakangmu. Kita pasti sampai tepat waktu kok,” tegas Jung Ah yang menumpang di dalam mobil itu.

Changmin melirik Jung Ah dengan tatapan sebal. Ia mendengus. “Ya, dan kita akan tidak akan pernah sampai kalau tiba-tiba Gunung Fuji pindah di jalanan di depan sana,” sindir Changmin.

“Dan tetap saja, walaupun kita datang tepat waktu, aku tetap harus merapikan dan menata kembali rambutku yang rusak tertiup angin karena cara menyetirmu itu,” bantah Jung Ah tidak mau kalah.

***

Read the rest of this entry

The Dawn of First March (Bab 19)

HANYA SEORANG YANG SEUNGHO

Kak Seungho yang aku rindukan,

Maaf aku baru mengirimkan surat balasan. Paman Kang sudah lama tidak menemani majikannya bertugas di Jepang, sehingga aku tidak tahu kepada siapa surat ini harus aku titipkan. Untunglah ada serombongan sarjana dari desa kita yang hendak bertolak ke Tokyo jadi aku berikan saja surat ini ke dia.

Kak, tiga bulan lalu Ibu akhirnya menikah dengan Takashi-sensei. Kami sekeluarga sekarang tinggal di rumah Takashi-sensei. Dia memperlakukan Ibu, aku, dan Youmi dengan baik. Takashi-sensei sudah pensiun dari tugasnya sebagai asisten dokter. Ternyata usia tua dan masa pensiun tidak membuat seseorang menjadi bijaksana dalam sekejap ya, Kak? Setiap ada pasien datang kepadanya untuk berobat, selalu ia layani dengan tidak sabar dan lekas menggerutu. Tetapi mau bagaimana lagi, Kak? Warga di tempat kita tidak punya pilihan, dokter tidak ada, sehingga satu-satunya pilihan adalah berobat ke Takashi-sensei.

Kak Seungho, sebelum aku lupa aku ingin berterimakasih atas kiriman uang darimu. Kali ini jumlahnya banyak sekali, berbeda dari biasanya. Aku dan Youmi sampai sempat kewalahan bagaimana agar uang sebanyak itu tidak ketahuan oleh Ibu atau Takashi-sensei.
Dengan segala hormat, apa yang Kak Seungho kerjakan sehingga menghasilkan uang sebanyak itu? Aku harap bukan suatu pekerjaan yang buruk. Apabila yang terjadi adalah sebaliknya, sebelum semuanya terlambat, maka alangkah baiknya bila Kak Seungho berhenti.

Sekian dulu surat dariku ini. Jaga dirimu baik-baik di sana, aku pun di sini akan menjaga keluarga kita baik-baik.

Dari adikmu,

Yang Ha-Eun

Read the rest of this entry

The Dawn of First March (Bab 18)

WAKTUNYA DUA HARI

Malam yang tenang dengan bulan separuh yang sedang dinikmati oleh penghuni rumah Jung Ah itu terusik dengan angin malam musim semi yang tiba-tiba datang.

“Cepat tutup jendelanya!” perintah Jung Ah kepada siapapun yang ada di dalam rumah dan yang bersedia menutup jendela. Seorang pria muda akhirnya bersukarela untuk melaksanakan perintah Jung Ah itu sebelum celoteh Jung Ah menjadi berkepanjangan.

Read the rest of this entry

The Dawn of First March (Bab 17)

MENJEMPUT

Dua orang tamu laki-laki berpakaian rapi duduk di ruang tengah rumah Jung Ah. Koper dan barang-barang bawaan mereka diletakkan begitu saja di lantai. Pria yang usianya tampak lebih muda terlihat duduk dengan gelisah dan tidak tenang, sedangkan pria satu lagi yang berusia lebih tua sesekali mencoba tertidur, ia terlihat cukup kelelahan.

“Bapak Park, silakan. Ini Nona Jung Ah, yang saya ceritakan tadi,” Francis turun dari lantai dua bersama dengan Jung Ah di sampingnya. Orang yang dipanggil Bapak Park tadi kontan berdiri, membungkukkan badan, dan menyebutkan namanya, diikuti oleh anak muda yang ikut bersamanya itu.

“Tinggal?” Francis mohon izin untuk meninggalkan Jung Ah bertiga dengan tamunya.

Jung Ah menggeleng. “Kau ikut saja duduk di di sini,” jawabnya.

“Baik,” jawab Francis manut.

Jung Ah tersenyum dan mempersilakan tamu-tamunya duduk kembali. “Selamat datang di rumah saya yang …. yah beginilah. Ini rumah kami bersama, rumah sesama perantau yang menuntut ilmu di Tokyo,” sambut Jung Ah.

“Rumah yang sangat megah sekali, Nona. Dan Anda sangat murah hati sekali bersedia membuka lebar-lebar pintu rumah Anda untuk adik-adik kita yang beruntung bisa kuliah di Tokyo,” puji Park.

Read the rest of this entry

The Dawn of First March (Bab 16)

HANA KOTOBA (BAHASA BUNGA)

Jenazah Sunye diputuskan akan dipulangkan ke Seoul besok pagi. Jung Ah sudah menyiapkan pelayaran dan segala hal-hal yang dibutuhkan. Di dalam rumah, lantunan ayat-ayat tradisional masih terdengar dan berkeranjang-keranjang bunga seruni masih teronggok di pinggiran.

Seungyeon telah kembali duduk bergabung dengan orang-orang yang sedang ikut mendoakan serta meratap. Hanya Seungyeon seorang yang tidak mengeluarkan air mata di tempat itu. Segala cara telah ia coba untuk mendesak air matanya keluar, namun gagal.

“Seungyeon…”

Read the rest of this entry

The Dawn of First March (Bab 15)

PELUKAN TERPANJANG

Beberapa hari setelah Changmin terpilih menjadi ketua Manseh, ia mengajak seluruh anggota Manseh, termasuk anggota baru seperti Seungyeon dan anak-anak seangkatannya untuk hanami (melihat bunga sakura yang bermekaran) di salah satu lokasi hanami favorit di daerah Koganei, Tokyo, di sepanjang Sungai Tamagawa.

Sungai kecil yang lebih menyerupai parit tersebut membelah dua daratan yang di sepanjang daratan tersebut ditumbuhi pohon-pohon sakura sepanjang empat kilometer. Pohon sakura pertama di sana ditanam pada tahun 1737 di dekat Jembatan Koganei.

Koganei, Tokyo, tahun 1890-an

Di bawah pohon-pohon sakura yang bermekaran, seluruh anggota Manseh berkumpul dan bercengkerama. Changmin sedang memperkenalkan pengurus Manseh kepada para anggota baru.

Read the rest of this entry

The Dawn of First March (Bab 14)

PISTOL ANAK JENDERAL

Keesokan paginya, suasana masih mendung untuk para mahasiswa Korea di Tokyo. Ada ajakan untuk mogok kuliah hingga siapa penembak sebenarnya diungkap dan diadili. Hari ini para mahasiswa Korea melakukan banyak aksi dan pergerakan menuntut keadilan kepada pihak Jepang. Aksi-aksi tersebut dipusatkan di Universitas Keio yang menjadi tempat kejadian perkara dan tuntutan diajukan kepada pihak universitas dan para mahasiswa Korea juga berencana mengajukan tuntutan kepada pemerintah Jepang di Tokyo dan juga Seoul menyusul pemberangkatan jenazah untuk dipulangkan ke pihak keluarganya di Seoul.

Read the rest of this entry

The Dawn of First March (Bab 13)

PENULIS HANTU

Sebulan sudah Seungyeon diangkat menjadi anggota baru redaksi Manseh. Belum ada pengangkatan resmi dari organisasi. Rencananya pengukuhan anggota baru akan dilakukan bersamaan dengan terpilihnya ketua Manseh yang baru.

Hari ini akan diadakan pertandingan persahabatan bisbol antara mahasiswa Korea melawan mahasiswa Jepang yang diadakan di lapangan bisbol milik Universitas Keio. Seungyeon bersama beberapa rekan redaksi Manseh, termasuk Changmin akan berada di sana untuk kepentingan liputan, juga teman-teman Korea lainnya yang turut menonton pertandingan yang cukup bergengsi itu.

Read the rest of this entry

The Dawn of First March (Bab 12)

BERLINDUNG DI BALIK MANTELNYA

Kalau tidak ada Yoobin, sudah dapat dipastikan malam itu Seungyeon sudah tertidur di atas mejanya sedari tadi. Yoobin yang tidak bergeser sedikitpun dari posisinya mengawasi Seungyeon yang harus menyelesaikan esainya malam itu sebagai syarat diterima masuk di organisasi jurnalistik mahasiswa di kampus.

“Seungyeon, kamu harus selesaikan semua,” ujar Yoobin.

Seungyeon berusaha memberikan balasan yang termanis dan mencoba melawan kantuk yang menderanya. Awalnya ia hendak menyesali idenya sendiri untuk meresensi novel Mujong karya Yi Kwang Su. Kalau Seungyeon masih tinggal di Korea, jangan berharap ia akan memperoleh novel tersebut dengan mudah. Novel berbahasa Korea diperketat peredarannya oleh pemerintah kolonial Jepang dan isinya telah melalui sensor sedemikian rupa yang membuat isinya bagaikan beras yang telah dihisap saripatinya oleh kutu.

Read the rest of this entry

The Dawn of First March (Bab 11)

BANGKU KETIGA DARI KANAN

Seungyeon menemukan hatinya di Tokyo. Kebebasan, persahabatan, persaudaraan, dan segala hal yang dapat memenuhi hasratnya ia peroleh di kota ini. Di dalam rumah Jung Ah sendiri, Seungyeon dapat merasakan sebuah spektrum kontradiktif yang menyenangkan. Tak pernah Seungyeon duga sebelumnya bahwa ia akan akrab dengan Jung Ah yang hari-harinya dipenuhi dan dikelilingi oleh buku-buku dan karya seni yang sulit dicerna oleh orang kebanyakan. Nana yang setelah pesta di rumah Jung Ah, keesokan malamnya mengajak Seungyeon dan Eunjung jalan-jalan berkeliling distrik lampu merah Yoshiwara di antara rumah-rumah pelacuran yang memajang para wanita penghibur di balik harimisu, sebuah jendela berterali kayu. Nana mungkin berpikir ia akan mendapatkan sedikit hiburan dengan melihat dua teman barunya yang menampakkan wajah polos keheranan, malu, sekaligus risih. Dan Nana harus menelan kekecewaan karena dua orang temannya terlihat tenang dan biasa-biasa saja. Jalan-jalan itu mereka akhiri dengan menenggak sake sambil bertukar cerita dan tertawa-tawa hingga hidung dan pipi mereka memerah.

Read the rest of this entry